HomeCelotehMa'ruf Amin, Beban Jokowi

Ma’ruf Amin, Beban Jokowi

Kecil Besar

“Diam adalah lebih baik daripada mengucapkan kata-kata yang tanpa makna.”


PinterPolitik.com

[dropcap]A[/dropcap]pa yang terlintas dipikiran kalian jika pasangan Joimin alias Jokowi-Ma’ruf Amin keluar sebagai pemenang di Pilpres 2019 nanti? Apakah kalian memiliki pertanyaan-pertanyaan liar? Apakah kalian yakin dengan kinerja mereka?

Hmmm, apa mereka bisa merealisasikan Nawacita ilid II? Padahal Jilid I saja belum kelar, malah mau lanjut Jilid II ehehehe. Oh iya, menurut kalian apa mereka juga bisa menjawab tantangan ekonomi global, yang kabarnya saat ini sedang memasuki fase mengerikan? Duh… gimana ya.

Btw gengs, katanya, Turki baru saja mengalami krisis ekonomi dan kabarnya ini juga akan berdampak ke Indonesia loh. Nah, selain itu dolar AS juga semakin menguat terhadap rupiah nih gengs. Per hari ini saja dolar AS sudah mencapai angka Rp 14.600 rupiah. Weleh-weleh.

Apakah keputusan koalisi Jokowi tepat menyetujui Ma’ruf sebagai calon wakil presiden yang katanya merupakan cawapres paling akomodatif itu?

Tapi sih gengs, kalau menurut Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos,  Ma’ruf berpotensi menambah beban bagi realisasi slogan Nawacita pada masa pemerintahan kedua Jokowi jika terpilih lagi pada Pilpres 2019. Weleh-weleh.

Katanya lagi, terlebih dahulu Jokowi harus memastikan politik kebangsaan dan kenegaraan ada di atas politik elektoral dan kekuasaan. Pembuktian politik tersebut harus segera dilakukan oleh presiden di sisa periode pertama pemerintahannya gengs.

Nah, kalau saran dari Bonar, Jokowi juga harus terus dan segera mengakselerasi harmonisasi perundangan-undangan. Dalam konteks itu, Presiden Jokowi harus menginstruksikan pencabutan beberapa regulasi ministerial yang menjadikan fatwa MUI sebagai sumber hukum. Weleh-weleh.

Salah satunya, SKB tiga menteri tentang pelarangan Ahmadiyah yang mendeterminasi pelanggaran masif atas warga negara RI dari kelompok tersebut selama lebih dari satu dekade.

Setara Institute juga mencatat Ma’ruf sebagai aktor kunci beberapa fatwa MUI yang mendorong meluasnya intoleransi, dan memberikan energi bagi pelanggaran hak-hak konstitusional minoritas oleh kelompok-kelompok intoleran dan vigilante. Weleh-weleh.

Seperti apa yang dikatakan Bonar, kesediaan Ma’ruf untuk menjadi cawapres Jokowi harus disertai kehendak untuk berjalan seiring dengan langgam politik Jokowi dan realisasi ide-ide politik kebangsaan dalam dokumen politik Nawacita yang hingga saat ini masih jauh dari ideal. Duh, ckckck.

Jelasnya sih gengs, Ma’ruf itu harus ikut mendorong realisasi cita-cita politik Jokowi dalam pemenuhan dan pemajuan hak seluruh warga negara, terutama kelompok minoritas keagamaan dan kelompok-kelompok rentan pelanggaran HAM.

Gimana, sekarang sudah jelas kan kenapa Ma’ruf dibilang akan jadi beban Jokowi? Nah, terus gimana nih pendapat kalian mengenai Ma’aruf dan sejauh apa nih keoptimisan kalian terhadap perannya di saat ia terpilih jadi wapres? (G35)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Rocky Gerung Seng Ada Lawan?

“Cara mereka menghina saja dungu, apalagi mikir. Segaris lurus dengan sang junjungan.” ~ Rocky Gerung PinterPolitik.com Tanggal 24 Maret 2019 lalu Rocky Gerung hadir di acara kampanye...

Amplop Luhut Hina Kiai?

“Itu istilahnya bisyaroh, atau hadiah buat kiai. Hal yang lumrah itu. Malah aneh, kalau mengundang atau sowan ke kiai gak ngasih bisyaroh.” ~ Dendy...

KPK Menoleh Ke Prabowo?

“Tetapi kenyataannya, APBN kita Rp 2.000 triliun sekian. Jadi hampir separuh lebih mungkin kalau tak ada kebocoran dan bisa dimaksimalkan maka pendapatan Rp 4.000...