HomeCelotehKorupsi dan Rupa

Korupsi dan Rupa

Kecil Besar

Cerita ini bagaikan episode sinetron yang tidak ada habisnya.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]I[/dropcap]ni bukan kisah tentang Leonarda Emilia – ‘Robin Hood’ perempuan dari Meksiko yang membagi-bagikan rampokannya untuk orang miskin, atau Prometheus, sang pencuri api dari dewa yang diberikan untuk manusia. Ini tentang mereka-mereka yang mengambil bagian yang bukan menjadi haknya untuk memperkaya dirinya sendiri.

Banyak yang bilang, prilaku korupsi yang dilakukan oleh politisi dan kepala daerah sangat berkaitan dengan gaya hidup. Semakin mewah gaya hidup seseorang, maka semakin tinggi kecenderungan untuk korupsi.

Gaya hidup selalu berkaitan dengan bagaimana seseorang ingin dilihat oleh orang lain. Ada gengsi dan ada kebanggaan berlebihan.

Dalam fisika, ada teori yang mengatakan bahwa semakin besar gaya, maka akan semakin besar pula tekanan yang terjadi. Teori ini juga terjadi dalam politik dan pemerintahan terutama dalam hubungan dengan prilaku korupsi.

Saya teringat kata-kata seorang driver ojek daring yang beberapa bulan lalu mengantarkan saya ke stasiun Pasar Senen.

“Pemimpin yang baik adalah mereka-mereka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri”, demikian kata-katanya waktu itu ketika kami berdiskusi tentang situasi politik nasioal belakangan ini. Saya sempat lama memikirkan kata-kata itu.

Mungkin ini ya yang bikin banyak koruptor perempuan belakangan makin cantik-cantik saja! Eh, awas bias gender, Dul!

Lalu, saya sadar bahwa masyarakat saat ini memang semakin cerdas melihat pemimpinnya. Jika seorang pemimpin belum selesai dengan dirinya sendiri, maka ia masih akan terus berusaha untuk memperkaya diri, atau memperkuat kekuasaan, atau bahkan mempertampan dan mempercantik dirinya – seringkali tanpa mempedulikan kondisi masyarakat.

Baca juga :  Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Faktanya, ketampanan dan kecantikan saat ini telah menjadi ‘komoditas perdagangan’ yang tidak murah loh. Tanyakan pada sales-sales produk kecantikan di mall-mall!

Untuk menjadi tampan – apalagi cantik – butuh biaya yang tidak sedikit, berikut embel-embel ketajiran, misal mobil mewah, kaca mata mahal, perhiasan, tas, dan lain sebagainya. Gengsi dan harga diri seolah jatuh jika sekelas pemimpin daerah menggunakan barang murah. Memang masyarakat kita adalah masyarakat korban iklan!

Lihat kasus First Travel. Uang ratusan miliar yang seharusnya digunakan untuk pembiayaan ibadah orang banyak, malah dipakai seenaknya untuk bermewah-mewah. Ini bukan korupsi tentunya, tetapi kasus ini membuktikan bahwa gaya hidup telah menjadi batu sandungan bagi banyak orang.

Yang disayangkan adalah jika uang rakyat dikorupsi untuk sekedar pemenuhan gaya hidup tersebut. Alamak, wajah cantik atau tampanmu tidak kau bawa mati, tapi perilaku dan tindak-tandukmu, itulah yang jadi bukti.

“Puitis kali kau, Dul. Kayak sastrawan-sastrawan pujangga baru – alias pujangga baru kemarin sore”.

Ah, mengapa tulisan ini akhirnya menjadi tidak lucu? Mungkin kau lelah, Dul, dan ini sudah weekend. Yang penting berdakwah. Merdeka! (S13)

 

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.