HomeCelotehJabatan (Memang) Butuh Uang

Jabatan (Memang) Butuh Uang

Jelang pelaksanaan Pilkada Serentak, beberapa parpol mulai digoyang kadernya mengenai mahar politik. Apakah benar sistem pemilu kita mahal?


PinterPolitik.com

“Ketika partai tidak punya uang, iuran anggota tidak berjalan, hidup dari simpatisan, akhirnya dia butuh dana. Ya kemudian karena dia tidak punya uang, dia menarik orang luar, dan minta duit.” ~ Pengamat politik Universitas Indonesia, Cecep Hidayat

[dropcap]G[/dropcap]eger berita mengenai pengakuan La Nyalla Mattaliti yang dimintai mahar politik oleh Prabowo Subianto, memang sudah disanggah oleh para elit Partai Gerindra. Dan sontak saja, permasalahan mahar politik ini kembali jadi bahan perbincangan.

Para politikus berbagai partai pun mulai angkat suara, seperti PKS dan Hanura yang sampai kisruh saling pecat pecatan. Bagi para calon kandidat, permintaan parpol yang jumlahnya bisa sampai miliaran itu, sangat tidak masuk akal.

Gimana enggak pusing, uang miliaran dimintanya di awal pencalonan. Emang uang dari mana? Iya kalau menang di Pilkada, nah kalau enggak? Udah kalah, uang miliaran juga melayang. Kalau yang otaknya sehat mah mending ga usah aja ya, sayang uangnya.

Tapi orang parpol juga enggak mau disalah-salahin, buat mereka, uang itu konsekuensi yang enggak bisa dihilangkan. Emangnya buat nyiapin kampanye, baliho, dan para saksi di pemungutan suara nantinya itu uang dari mana? Kan enggak cukup cuma di kasih nasi bungkus, emangnya demo di jalanan?

Jadi begitulah, masing-masing pihak jadi main lempar-lemparan. Dan biar adil, pemerintah pun ikut kena lemparannya. Tapi Mendagri dan KPU bisa ngeles, soalnya mereka juga udah ngasih dana bantuan untuk partai. Ga cukup? Ya itu “derita lo” lah!

Baca juga :  Musra Alat Jokowi Untuk Ganjar?
- Advertisement -

Nah, karena enggak ada yang mau kena salah. Maka yang paling gampang adalah menyalahkan sistemnya. Iya, gara-gara harus dipilih langsung, parpol dan calon kandidat harus keluarin uang banyak buat “baik-baikin” rakyat, supaya mereka mau ngasih suaranya buat si calon. Tuhkan yang kena rakyat juga akhirnya.

Gara-gara biaya Pilkada yang mahal ini juga, para pejabat dan parpol bilang kegiatan suap dan korupsi, merupakan efek dari Pilkada langsung. Gimana enggak mau nilep, uang miliaran yang dihabiskan buat ‘beli’ pencalonan di parpol kan harus balik. Modal sendiri aja pinginnya bisa balik lagi, apalagi yang modal utang? Hmm, rumit deh.

Jadi kesimpulannya, lain kali kalau enggak punya atau dipilih partai politik, mending enggak usah mimpilah jadi kepala daerah. Daripada kalau ditagih uang miliaran ngamuk-ngamuk, kan mending terima keadaan aja. Kalau punya elektabilitas dan popularitas yang menggiurkan, tanpa mahar pun, parpol pasti bakal datang mengetuk pintu kok. Engga percaya? Tanya aja sama Pak Gatot Nurmantyo. (R24)

spot_img

#Trending Article

Ma’ruf Amin Apes di Pilkada 2020

"Kami menyatakan permohonan maaf kepada masyarakat Tangsel karena belum dapat memenangkan harapan perubahan. Hasil penghitungan suara kami tidak banyak dibandingkan paslon lain". - Siti...

Anies Taklukkan Indonesia Timur?

“Alhamdulillah, tujuh kabupaten (di Maluku) yang sudah terbentuk kepengurusan siap mendeklarasi Anies Presiden” – Sulaiman Wasahua, Ketua Relawan Sobat Anies Maluku PinterPolitik.com Manuver politik Gubernur DKI Jakarta...

Misteri Teror Kominfo

“Teror bagaimana? Saya baru tahu teror, Kominfo diteror kali,” – Johnny G. Plate, Menkominfo PinterPolitik.com #BlokirKominfo menjadi trending di Twitter, banyak warganet yang melontarkan kritik terhadap kontroversi kebijakan Penyelenggara Sistem...

Anies-AHY Kawin Paksa?

“Tentu proses membangun chemistry antara satu dan yang lain penting, bukan kawin paksa,” - Willy Aditya, Ketua DPP Partai NasDem PinterPolitik.com Siapa yang tidak kenal dengan Siti...

Janji Surga ala Ma’ruf Amin?

“Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang memeluk Islam terbanyak di dunia. Siapa yang berkata la ilaha illallah dakholal jannah masuk surga. Berarti penduduk surga itu kebanyakan...

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Hadi dan Seragam “Militer” ATR/BPN

Menteri ATR/BPN Hadi Tjahjanto buat seragam baru bagi ASN dan PNS Kementerian ATR/BPN. Mengapa pergantian seragam ini jadi penting?

Drama Maming Resahkan PDIP-PBNU?

“Kalau saya, koruptor jangan dicekal ke luar negeri tapi dicekik. Harusnya dicekal untuk balik ke Indonesia, biar korupsi di luar negeri,” Cak Lontong, Komedian Indonesia PinterPolitik.com Masyarakat...

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...