HomeCelotehHTI Kan Polos, Kenapa Dipolisikan?

HTI Kan Polos, Kenapa Dipolisikan?

Kecil Besar

“Wah bagus sekali ya perkataanmu! Sampai-sampai membuat namamu itu terdaftar di daftar pencarian orang oleh pihak kepolisian.”


PinterPolitik.com

[dropcap]V[/dropcap]ideo yang memperlihatkan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera dan mantan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto membuat pernyataan “ganti sistem” dalam gerakan #2019GantiPresiden berbuntut panjang. Keduanya akhirnya dilaporkan ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri gengs.

Nah, Ismail mengaku tidak habis pikir dirinya dilaporkan atas tuduhan makar. Ya mau gimana lagi ya, kalau doi dulunya bukan jubir HTI mungkin bicara ganti sistem gitu, orang enggak mikir ke arah makar.

Tapi ini mantan jubir HTI yang ngomong, kan orang jadi mikir: “Wah HTI nih, udah pasti dong gerakan tagar pengennya sistem khilafah yang diterapkan.” Adeh, jadi malas gengs bahasnya, mbok itu kan sudah jadi rahasia umum ya. Ahahaha.

Ismail yang polos ini sempat nanya dan enggak paham. Kata doi niat makar itu di mananya ya coba? Doi juga bilang kalau sistemnya jelek ya harus diganti dong, masa sistem jelek nggak boleh diganti?

Hmm, kalau sistemnya diganti, mau ganti jadi apa pak? Jadi khilafah ya? Adeh itu mah sama aja atuh pak. Wkwkwk. Share on X

Intinya sih gengs, menurut Ismail, Indonesia telah berkali-kali berganti sistem. Seperti sistem pemilu langsung, sistem kepartaian, hingga sistem pemilihan kepala daerah. Katannya itu semua sudah ganti, kenapa jadi sensi begitu ya? Weleh-weleh.

Bener juga sih gengs apa yang dibilang Ismail. Ya udah pak kalau gitu, kita ganti sistem aja ya. Ganti sistem jadi orde lama gitu? Atau jadi sistem ganjil genap? Wkwkwk, bercanda ya gengs.

Nah, di luar ini semua gengs, menurut kalian apakah benar Ismail bertujuan ganti sistem Indonesia bukan menjadi khilafah? Dan haruskah saat ini Indonesia mengganti sistem pemerintahannya juga? Kalau harus kita ganti sistem, yang seperti apa nih gengs?

Kalau menurut eyke sih sistem yang cocok buat Indonesia itu adaah sistem keterwakilan tanpa harus melakukan Pemilu serentak yang pernah diterapkan Soekarno gengs. Kenapa? Ya habis gimana, banyak partai banyak maling dan politik jadi transaksional, mau voting juga banyak yang golput. Sekalinya milih juga karena UUD alias ujung-ujungnya duit. Wkwkwk. Betul apa betul? (G35)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Rocky Gerung Seng Ada Lawan?

“Cara mereka menghina saja dungu, apalagi mikir. Segaris lurus dengan sang junjungan.” ~ Rocky Gerung PinterPolitik.com Tanggal 24 Maret 2019 lalu Rocky Gerung hadir di acara kampanye...

Amplop Luhut Hina Kiai?

“Itu istilahnya bisyaroh, atau hadiah buat kiai. Hal yang lumrah itu. Malah aneh, kalau mengundang atau sowan ke kiai gak ngasih bisyaroh.” ~ Dendy...

KPK Menoleh Ke Prabowo?

“Tetapi kenyataannya, APBN kita Rp 2.000 triliun sekian. Jadi hampir separuh lebih mungkin kalau tak ada kebocoran dan bisa dimaksimalkan maka pendapatan Rp 4.000...