HomeCelotehGolkar Bukan Anak Emas?

Golkar Bukan Anak Emas?

Kecil Besar

Kalau ada kontes partai favorit, kira-kira Pakde akan pilih siapa?


PinterPolitik.com 

[dropcap]K[/dropcap]alau bukan tegar, entah apa yang coba dilakoni oleh Partai Nasional Demokrat atau Nasdem. Apa pasal? Lihat saja, di antara partai-partai yang berkoalisi dengan Pakde, Golkar dan Hanura dapat kue spesial berupa kursi tambahan.

Kue itu adalah penambahan kursi di kabinet Presiden Jokowi. Setelah Khofifah resign, ada Idrus Marham yang menggantikan. Sebelumnya, sudah ada Airlangga Hartarto yang bercokol di Kementerian Perindustrian. Nah, keduanya adalah kader Golkar.

Selain Idrus, ada siapa lagi dijejeran kabinet baru Pakde? Betul sekali, ada Jenderal Moeldoko di sana. Sayang seribu sayang, Moeldoko pun, bukan berasal dari Nasdem, tetapi Hanura. Pasti masih ingat kan, kalau sebelumnya sudah ada kader Hanura, yakni Wiranto, yang duduk sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukan). Sudah dua tokoh Hanura berada di kursi pemerintahan.

Sementara itu, posisi Bamsoet alias Bambang Soesatyo (asal Golkar) si pencinta kendaraan mewah yang mengisi jabatan DPR RI, turut disusupi kader PDIP, sebab konon katanya, Golkar menjanjkan dua kursi tambahan untuk PDIP kalau Bamsoet duduk manis di kursi DPR RI.

Terlepas dari keabsahan berita, ada satu partai koalisi gigit jari, yakni Nasdem! Kalau Nasdem cemburu terhadap Golkar tentu saja itu wajar dan sah-sah saja, wong partai Nasdem sudah ada sejak awal bersama Presiden Jokowi, lho kok malah partai yang gabung belakangan dapat kue spesial? Tak cuma itu, Presiden juga seakan sangat memfavoritkan partai beringin hitam ini pula.

Tapi untung saja, Nasdem dewasa, nggak mau ribut, apalagi ngambek. Sekretaris Jenderal DPP Partai Nasdem, Jhonny Platte berkata jika penambahan kursi di kabinet kerja Presiden Jokowi kepada partai Golkar, tidak akan berpengaruh pada harmonisasi koalisi pendukung pemerintah.

Baca juga :  Dahsyatnya “Buahlil Fever”
Surya Paloh dan Jokowi (sumber: istimewa)

Sudah begitu, Nasdem juga sangat optimis dan positif pula menanggapi kalau pertimbangan Pakde tak ada acara lobi-lobi apalagi intervensi politik dengan partai politik. Hm, kalau tak ingin disebut polos dan unyu, sebetulnya pernyataan Nasdem ini sungguh naif sekali. Coba saja sekali-kali bertanya, masa sih betul-betul tak ada lobi-lobi dan intervensi politik sama sekali dengan Pakde? Kok ya, partai Nasdem tak masuk radar hitungan Pakde?

Kalau seperti ini caranya, barangkali memang Golkar adalah anak emas Pakde. Selain dari pembagian ‘kue’, ingat saja kalau Pakde masih membiarkan Airlangga Hartarto menduduki jabatan rangkap, yakni sebagai Ketua Umum Golkar sekaligus Menteri Perindustrian. Padahal,  Wiranto, yang pernah menjabat sebagai ketua umum Hanura harus melepaskan jabatannya, untuk menduduki kursi Menkopolhukam. Bukankah, contoh sangat kecil ini adalah pecahan bagian yang lebih besar?

Haduh, daripada terlihat ngomporin, memang sebaiknya semua partai koalisi, baik yang datang duluan dan belakangan ini, disamaratakan sebagai para pembantu presiden saja. Sehingga, tak ada tuh yang namanya anak emas, anak perak, anak kuningan, dan jenis lainnya.

Nah, kalau begitu, ada tidak ya pembantu favorit dan pembantu bukan favorit? Ihik. (Berbagai Sumber/ A27)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Jokowi si Politisi Jenius?

Profesor Kishore Mahbubani menyebut Presiden Jokowi sebagai pemimpin jenius dalam tulisan terbarunya. Berbagai kebijakan mantan Wali Kota Solo tersebut mendapat pujian. Mahbubani bahkan menilai pemerintahan Jokowi layak ditiru oleh berbagai negara. Apakah Presiden Jokowi adalah politisi jenius?

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Anies Jiplak Jokowi?

Anies Baswedan sebut hanya hasilkan "karya, karya, karya" selama jadi Gubernur DKI . Apakah Anies jiplak slogan "kerja, kerja, kerja" ala Jokowi?

Gibran Mulai Berani “Mbalelo”?

“Seng tak hapus malah (anggaran) Wali Kota dan Wakil Wali Kota kita hapus untuk mobil listrik. Timbange tuku mobil mending bangun pasar (daripada beli mobil mending...

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....