HomeDuniaGiliran Jaksa Agung Sessions Diminta Mundur

Giliran Jaksa Agung Sessions Diminta Mundur

Kecil Besar
Sessions tidak mengakui adanya pertemuan  di rumahnya pada saat menjalani sidang konfirmasi di Senat, Januari lalu. Sessions menegaskan, dia tidak pernah bertemu pejabat Rusia manapun untuk membahas isu-isu kampanye.

pinterpolitik.com

JAKARTA – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali digoyang. Kali ini, Jaksa Agung Jeff Sessions, didesak mundur gara-gara diketahui bertemu dengan Duta Besar Rusia untuk AS, pada saat negara Paman Sam itu tengah diramaikan isu peretasan tahapan pemilihan presiden.

Ini kasus kedua pejabat tinggi AS yang disorot oleh publiknya dalam tuduhan  sejenis, yakni bertemu Dubes Rusia. Yang pertama menimpa Penasihat Keamanan Nasional, Michael Flynn, yang kemudian mundur. Baik Sessions maupun Flynn disebut-sebut dekat dengan Trump.

Soal utama di balik dugaan pertemuan dengan Dubes Rusia itu tampaknya menyangkut ketidakterusterangan Sessions, yang tidak mengakui bertemu dengan diplomat senior Rusia. Padahal, dia disebut-sebut menjadi tuan rumah, sebab pertemuan berlangsung di kediamannya.

Merujuk berita media, Gedung Putih sudah mengakui bahwa Jeff Sessions, yang ketika itu masih Senator, dua kali bertemu dengan Duta Besar Rusia Sergei Kislyak selama kampanye presiden Donald Trump, tahun lalu. Namun, Sessions  tidak mengakui adanya pertemuan  di rumahnya pada saat menjalani sidang konfirmasi di Senat, Januari lalu. Sessions menegaskan, dia tidak pernah bertemu pejabat Rusia manapun untuk membahas isu-isu kampanye.

Ketidakterusterangan Sessions membuat pemimpin minoritas di parlemen, Nancy Pelosi, geram. Ia menuduh Sessions telah “berbohong di bawah sumpah” dan oleh karena itu, menuntutnya mundur.

Politikus Demokrat lainnya meminta Sessions menarik diri dari proses penyelidikan oleh FBI terhadap dugaan peretasan Rusia pada saat proses pemilihan presiden. Sesuai sistem pemerintahan AS, Jaksa Agung bertugas menyupervisi penyelidikan itu.

Foto: G18 & Y14

 

Informasi Awal

Bagaimana sampai pertemuan diam-diam itu terungkap? Menurut kabar, informasi tentang pertemuan kontroversial ini terungkap setelah suatu  komite Kongres menyetujui diadakannya penyelidikan atas dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu.

Berkaitan dengan itu, suatu komisi penyelidikan parlemen akan meneliti hubungan antara tim kampanye presiden Donald Trump dan Moskow. Tetapi, Gedung Putih membantah adanya perilaku tidak patut selama kampanye pemilu dan belum memberikan komenter mengenai perkembangan terbaru.

Baca juga :  Hormuz, dan Pena yang Berpindah Tangan

Departemen Kehakiman AS menyebutkan Sessions dua kali bertemu dengan Dubes Sergei Kislyak sebagai anggota Komite Pertahanan Senat. Sesuai dengan tugasnya, memang Sessions sering bertemu dengan duta besar. Pada 2016 dia  bertemu dengan lebih dari 25 duta besar.

Saat sidang konfirmasi di Senat, Sessions ditanya apa yang akan dilakukannya jika ada bukti bahwa anggota tim kampanye Trump  mengadakan kontak dengan Rusia? Sessions menjawab, dia “tidak  mengetahui adanya aktivitas semacam itu.”

Dalam pernyataan terbaru, Rabu (1/3/2017), Sessions berkata: “Saya tidak pernah berjumpa dengan pejabat Rusia manapun untuk membicarakan masalah yang terkait dengan kampanye. Saya tak tahu apa maksud tuduhan ini. Itu keliru.”

Juru Bicara Departemen Kehakiman Sarah Isgur Flores mengatakan, sama sekali tak ada yang keliru dengan jawaban-jawabannya. Ia ditanyakan tentang adanya komunikasi antara Rusia dan tim kampanye Trump, bukan pertemuan yang dilakukannya sebagai anggota Senat, katanya.

Anggota Komite Inteljen Kongres dari Partai Demokrat, Adam Schiff, mengatakan, jika laporan itu akurat, Sessions mesti menarik diri dari penyelidikan yang sedang dilakukan FBI.

Siapa Jeff Sessions? Ia Senator senior, yang dipilih menjadi Jaksa Agung AS  menggantikan Pelaksana Tugas Jaksa Agung, Sally Yates, karena  dinilai berseberangan dengan kebijakan Presiden Donald Trump. Hasil pemilihan Senat di Washington, DC., Rabu waktu setempat (Kamis, 9/2/2017), memastikan Jeff Sessions (Sesi), kelahiran 24 Desember 1946, sebagai Jaksa Agung AS.

Jeff Sessions, dari Alabama, memulai karier sebagai anggota Senat pada 1996. Kemudian, anggota Partai Republik itu menempati urutan ke-15 senioritas di Senat AS. Sebelumnya, dari 1981 sampai 1993, dia menjabat Jaksa AS untuk Distrik Selatan Alabama.

Ia pernah dinominasikan sebagai hakim untuk Distrik Selatan Alabama, namun pencalonannya gagal karena tuduhan dia melontarkan  komentar rasial sensitif dan kritik atas rekornya pada hak-hak sipil.

Senator asal Alabama ini dikenal bersikap keras dalam penegakan imigrasi dan menjadi salah satu pendukung awal Donald Trump. Presiden Trump menominasikan nama Jeff Sessions setelah sebelumnya mencopot Sally Yates, yang diangkat pendahulunya, Barack Obama.

Baca juga :  Hormuz, dan Pena yang Berpindah Tangan

 

Kasus Michael Flynn

Sebelumnya, bulan lalu, Penasihat Keamanan Nasional, Michael Flynn, dipecat setelah terungkap dia tidak berterus terang kepada Gedung Putih mengenai  percakapannya dengan Dubes Rusia, yang diduga membahas sanksi terhadap Moskow terkait dengan peretasan.

Komisi Intelijen Parlemen mengatakan, ketua mereka, politikus Republik, Devin Nunes, dan Schiff, anggota Kongres, menyetujui diselidikinya keterlibatan Rusia dalam pemilihan presiden AS. Namun, para senator Republik selalu enggan  menyetujui tuntutan yang diajukan para politikus Demokrat.

Dugaan peretasan itu memang “menghangatkan” hubungan AS – Rusia. Presiden Barack Obama (ketika itu) memerintahkan evaluasi menyeluruh terkait dugaan peretasan dalam proses pemilihan presiden. Pernyataan ini disampaikan Gedung Putih, Jumat (9/12/2016).

Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih, Eric Schultz, mengatakan, kami berkomitmen untuk memastikan integritas pemilihan presiden negara ini. “Kami akan mencari pola aktivitas siber jahat di masa pilpres, memperkuat kemampuan defensif kami, dan mengambil pelajaran untuk laporan kami kepada Kongres dan para stakeholders,” kata Schultz.

Salah satu dugaan keterlibatan Rusia adalah bocornya surat elektronik dari Komite Nasional Demokrat dan John Podesta, Penasihat Hillary Clinton. Surat-surat rahasia itu secara berkala diterbitkan Wikileaks beberapa bulan sebelum pilpres. Sebulan sebelum pemilihan presiden, Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Direktur Intelijen Nasional mengumumkan dugaan intervensi Rusia.

“Peretasan ini dilakukan untuk memengaruhi proses pemilihan presiden AS,” demikian pernyataan tersebut.

Terkait dengan tuduhan peretasan tersebut, Pemerintah AS memulangkan 35 diplomat Rusia. Sejauh itu, Moskow tetap menolak melakukan peretasan.

Ramainya perbincangan masalah pertemuan pejabat tinggi dengan Dubes Rusia hingga desakan agar Jaksa Agung Jeff Sessions mundur menandakan bahwa publik Amerika selalu peka terhadap dugaan pelanggaran dalam sistem pemerintahan di tengah situasi di dalam negeri yang masih “tergetar” oleh kebijakan-kebijakan Presiden Trump yang dinilai kontroversial.

Ini juga dapat mengindikasikan adanya resistensi terhadap orang-prang tertentu di kabinet Trump. Kita pun menunggu apa yang akan dilakukan oleh Trump terhadap salah seorang pendukungnya itu. (Berbagai sumber/E19)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Infrastruktur Ala Jokowi

Presiden juga menjelaskan mengenai pembangunan tol. Mengapa dibangun?. Supaya nanti logistic cost, transportation cost bisa turun, karena lalu lintas sudah  bebas hambatan. Pada akhirnya,...

Banjir, Bencana Laten Ibukota

Menurut pengamat tata ruang, Yayat Supriatna, banjir di Jakarta disebabkan  semakin berkurangnya wilayah resapan air. Banyak bangunan yang menutup tempat resapan air, sehingga memaksa...

E-KTP, Dampaknya pada Politik

Wiranto mengatakan, kegaduhan pasti ada, hanya skalanya jangan sampai berlebihan, sehingga mengganggu aktivitas kita sebagai bangsa. Jangan juga mengganggu mekanisme kerja yang  sudah terjalin...