HomePolitik & FigureLagi lagi Fahri Hamzah!

Lagi lagi Fahri Hamzah!

Kecil Besar

Fahri Hamzah – yang kalau mau bisa disebut sebagai ‘fenomena Fahri Hamzah’ – merupakan salah satu ‘warna’ tersendiri dalam politik nasional kita.


PinterPolitik.com

“They muddy the water to make it looks deeper”.

[dropcap size=big]K[/dropcap]ata-kata ini diucapkan oleh Friedrich Nietzsche (1844-1900) – filsuf nyentrik berkebangsaan Jerman. ‘Kadang kala orang membuat air itu semakin keruh untuk membuatnya terlihat lebih dalam’.

Dalam kaitannya dengan dunia politik, saat ini banyak politisi yang cocok untuk digambarkan dengan ungkapan tersebut. Apakah ungkapan tersebut juga cocok untuk seorang Fahri Hamzah – salah satu wakil ketua DPR RI saat ini? Sedalam apakah Fahri Hamzah?

Tidak dipungkiri lagi, Fahri Hamzah adalah salah satu politisi paling kontroversial di Indonesia saat ini. Kasus terbaru yang menjeratnya adalah penyebutan nama Fahri Hamzah, Fadli Zon dan penyanyi Syahrini dalam sidang kasus suap Ditjen Pajak pada Maret 2017 lalu. Fahri Hamzah diduga terlibat dalam kasus pajak.

Kita juga masih ingat segudang pernyataan kontroversi yang penah dikeluarkan oleh Fahri Hamzah terkait KPK, TKI dan lain sebagainya. Banyak pihak yang menilai negatif setiap pernyataan yang dikeluarkan oleh Fahri Hamzah, khususnya yang berhubungan dengan KPK.

Hal lain yang menarik dari sepak terjang Fahri Hamzah adalah saat ini ia sudah dipecat dari keanggotaannya sebagai kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Fahri diberhentikan sebagai kader PKS karena dianggap membela ketua DPR Setya Novanto dalam kasus pencatutan nama untuk meminta saham Freeport atas nama Presiden dan Wakil Presiden pada akhir tahun 2015 lalu.

Namun, posisinya sebagai pimpinan DPR tidak tersentuh – menjadi sebuah fenomena yang cukup menarik, mengingat DPR sebagai lembaga legislatif adalah lembaga yang berisi wakil-wakil rakyat dari partai-partai politik.

Fahri Hamzah – yang kalau mau bisa disebut sebagai ‘fenomena Fahri Hamzah’ – merupakan salah satu ‘warna’ tersendiri dalam politik nasional kita. Lalu, apa saja yang bisa didalami dari sosok politisi yang satu ini?

Politik Fahri Hamzah

Fahri Hamzah adalah salah satu dari sekian banyak aktivis reformasi 1998 yang saat ini duduk di gedung DPR RI. Setelah sukses menggulirkan reformasi melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Malang – Fahri menjabat sebagai ketua organisasi ini antara tahun 1998 sampai 1999 – Fahri terjun ke dunia politik dengan menjadi staf ahli di MPR dan membantu proses amandemen UUD 1945 antara tahun 1999-2002. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini kemudian menjadi anggota DPR dari partai PKS mewakili daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat sejak tahun 2004 hingga saat ini.

Politisi kelahiran 10 Oktober 1971 ini adalah sosok yang vokal dalam setiap aksi politik yang dilakukannya. Publik tentu ingat bagaimana Fahri Hamzah dituduh terlibat dalam gerakan makar ketika ia ikut serta dalam aksi demonstrasi besar pada November dan Desember 2016 lalu.

Fahri Hamzah juga menjadi bahan pergunjingan ketika mengomentari masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) lagi-lagi lewat cuitannya di twitter. Fahri mungkin bermaksud mengomentari fenomena membanjirnya pekerja asing yang masuk dan bekerja di Indonesia, namun bahasanya yang menyebut TKI sebagai ‘pengemis’ membuatnya dikecam oleh banyak pihak, bahkan perwakilan TKI sampai membuat laporan khusus ke DPR terkait pernyataan Fahri tersebut.

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?
Cuitan Fahri Hamzah tentang TKI (Sumber: Twitter)

Bukan hanya pemerintah, Fahri juga seringkali melayangkan kritik pada sesama anggota DPR RI. Kasus terakhir adalah ketika ia menyebut anggota DPR dengan sebutan ‘bloon’ atau kurang cerdas. Fahri menyatakan banyak orang menjadi wakil rakyat yang kurang cerdas atau ‘rada-rada bloon’.

Pernyataan itu disampaikan oleh Fahri dalam diskusi di Metro TV yang mengangkat tema tujuh proyek baru di DPR. Pernyataan kontroversial Fahri menjadi viral setelah video rekaman dari acara tersebut diunggah ke youtube. Pernyataan kontroversial itu berakhir di Mahkamah Kehormatan DPR (MKD). Namun, MKD hanya memberikan sanksi ringan berupa teguran lisan agar Fahri lebih berhati-hati dalam menyampaikan setiap opini.

Fahri Hamzah juga dikenal kerap mengeluarkan kritik terhadap pemerintahan Presiden Jokowi. Lewat akun Twitter pribadinya, pada Kamis 27 Juni 2014 misalnya, Fahri mengatakan janji Jokowi bahwa 1 Muharam akan dijadikan sebagai Hari Santri Nasional jika terpilih menjadi presiden, tidak masuk akal. Menurutnya hal itu hanya janji-janji kampanye.

“Jokowi janji 1 Muharam hari Santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!” kicau Fahri. Akibatnya, Fahri dilaporkan oleh tim kampanye Jokowi-JK ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Pada Senin 1 September 2014, Fahri juga menyebut kata-kata ‘bodoh’ saat mengritik kebijakan Presiden Jokowi terkait pengurangan subsidi BBM. “Katanya ada revolusi mental. Coba bikin sesuatu hebat dong. Kalau cuma cabut subsidi itu mah bukan revolusi mental,” ucap Fahri di Gedung DPR, Jakarta. Fahri juga pernah menyebut pemerintahan Jokowi sebagai pemerintahan yang ‘lemah dan bodoh’.

Balada Fahri Hamzah vs KPK

Selain pernyataan-pernyataan kontroversialnya yang menyerang semua orang, Fahri Hamzah juga terkenal dengan pernyataan-pernyataan dan aksi-aksi kontroversialnya saat berhadapan dengan KPK. Berikut ini adalah beberapa aksi dan pernyataan kontroversial yang dikeluarkan oleh Fahri Hamzah tentang KPK.

Fahri Hamzah versus KPK

Berbagai pernyataan yang dikeluarkan oleh Fahri Hamzah terhadap KPK tersebut membuatnya kerap dianggap sebagai salah satu politisi yang ingin melemahkan KPK. Fahri dianggap sebagai politisi yang tidak ingin ada pemberantasan korupsi. Balada Fahri Hamzah vs KPK mungkin akan menjadi semacam lagu yang akan terus diputar ulang.

Semua kontroversi dan ucapannya tersebut membuat fenomena Fahri Hamzah ini menjadi sesuatu yang unik. Dalam sebuah sistem demokrasi, keberadaan politisi dengan karakter seperti Fahri Hamzah tentu akan membuat wajah politik menjadi semakin menarik. Hal yang perlu dicatat adalah walaupun dikecam dan seringkali dianggap menghina, sering pula mendapat teguran dan cacian, karakter Fahri Hamzah tidak pernah berubah. Fahri akan tetap dikenal sebagai politisi yang vokal. Fahri akan tetap menjadi Fahri. Lalu, apa yang membuat Fahri Hamzah menjadi tokoh politik yang tahan banting?

Political Personality

Ada sebuah konsep pemikiran yang disebut sebagai the concept of political personality. Konsep ini menempatkan karakter sebagai titik utama analisis prilaku politik seseorang. Namun, karakter politik seseorang sangat dipengaruhi bukan hanya dari latar belakang psikologisnya saja, tetapi juga dari kepentingan politik, dan strategi yang dipakai untuk mencapainya.

Ada pun personality itu sendiri berasal dari kata ‘persona’ dalam bahasa Latin, yang selain berarti ‘orang’, bisa pula diartikan sebagai ‘topeng’. Dalam bahasa Indonesia sendiri, personality diartikan sebagai ‘kepribadian’ atau pun ‘watak’. Political personality seseorang bisa dipakai bukan hanya untuk menampilkan dirinya saja, tetapi juga seringkali menjadi topeng untuk menyembunyikan hal lain di baliknya.

Baca juga :  Strategi “Gajah” Kaesang masuk Pesantren ?

Menurut David Rosen, ada 6 tipe political personality, yakni narcissist (suka menarik perhatian dan cenderung suka mencari kambing hitam jika terjadi persoalan), obsessive compulsive (pekerja keras, bagus dalam membuat kebijakan, namun buruk dalam kepemimpinan), Machiavellian (sangat baik menilai kelemahan dan kelebihan lawan dan memanipulasinya untuk keuntungannya), otoritarian (menghargai ketangguhan, superioritas, konservatif, dan keras), paranoid (selalu menaruh curiga kepada setiap kejadian dan fenomena politik), dan totalitarian (tipe politisi yang kuat dan menggunakan kekuasaannya dalam bentuk teror).

Fahri Hamzah bisa dikategorikan sebagai politisi yang otoritarian: konservatif, namun juga menjunjung tinggi ketangguhan dan superioritas. Fahri punya karakter politik yang kuat – hal yang membuatnya kokoh walaupun kerap dikritik dan dicerca. Kalau ada kesempatan, ia juga pasti akan menyerang balik. Kalau tidak punya karakter yang kuat, tentu tidak mungkin saat ini Fahri Hamzah masih menjadi salah satu pimpinan di DPR. Politisi otoritarian bisa juga dilihat dalam diri Presiden Amerika Serikat saat ini, Donald Trump.

Political personality yang dimiliki oleh Fahri Hamzah memampukan Fahri Hamzah dengan segala ceplas-ceplos-nya menyebut Presiden ‘sinting’ dan ‘bodoh’, atau menyebut sesama anggota DPR dengan kata ‘bloon’, atau menyerang KPK dengan segala ‘bahasa planet’ dan ‘kebun binatang’ yang ingin diucapkannya. Walaupun dikritik, Fahri akan tetap maju terus memperjuangkan apa yang ia percayai.

Tentu pertanyaannya adalah apakah hanya dengan karakter politik saja cukup? Banyak juga yang menganalisis keberadaan tokoh-tokoh elit politik lain di belakang Fahri Hamzah – hal yang membuatnya berani melawan apa yang menurutnya tidak benar. Yang jelas, Fahri tetaplah Fahri.

Fahri Hamzah dan Warna Politik Indonesia

Terlepas ada atau tidaknya pihak-pihak di belakang Fahri Hamzah, yang jelas Fahri adalah politisi dengan karakter yang sangat kuat. Ia akan menjadi warna dalam setiap pemberitaan politik yang ada. Bahkan ada selentingan yang mengatakan bahwa keberadaan tokoh-tokoh kontroversial dalam dunia politik Indonesia akan membuat dunia politik kita menjadi menarik untuk diperbincangkan.

Fahri Hamzah – dalam segala cara pandangnya terhadap politik dan dunia – adalah bintang dalam pemberitaan politik. Tanpa kicauan-kicauan nyeleneh-nya tentu koran-koran dan media-media pemberitaan akan menjadi sepi. Fahri adalah politisi yang memberikan warna pada dunia politik Indonesia, membuat isu politik menjadi tidak basi untuk diperdebatkan. Sebagai politisi dengan latar belakang aktivis tentu Fahri Hamzah tidak bisa dianggap sebagai ‘air dangkal’. Latar belakangnya yang pernah ikut terlibat dalam amandemen UUD 1945 juga menggambarkan seperti apa Fahri Hamzah.

Aristophanes (446-386 SM) – yang dijuluki ‘Bapak Komedian’ dari Yunani – pernah mengatakan:

“Under every stone lurks a politician”.

‘Di bawah setiap batu, ada politisi yang sedang bersenang-senang’. Politisi tentu akan mencari ‘batu-batu’ untuk berlindung, entah itu dengan menggunakan persona (baca: topeng) atau berlindung pada orang lain: semuanya tergantung pada kepentingan yang ingin dicapai. Selama masih banyak ‘batu-batu’ di negara ini, maka politik – dengan politisi seperti Fahri Hamzah misalnya – akan tetap menarik untuk diperbincangkan. (S13)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.