HomePolitikCEGAH PEMBUNUHAN PULOMAS TERULANG, BEGINI KATA AGUS, AHOK DAN ANIES

CEGAH PEMBUNUHAN PULOMAS TERULANG, BEGINI KATA AGUS, AHOK DAN ANIES

Kecil Besar

AHY ingin agar peran RT dan RW dimaksimalkan, Ahok mengingatkan warga agar melapor ke layanan 112, sementara Anies ingin agar interaksi antarwarga makin erat.


pinterpolitik.comKamis, 29 Desember 2016.

JAKARTA – Perampokan dan pembunuhan sadis di Pulomas, Jakarta Timur yang menewaskan 6 orang mengagetkan publik. Tidak ketinggalan, para calon gubernur DKI Jakarta juga memberikan pandangannya masing-masing. Mereka punya ragam solusi demi mencegah peristiwa yang sama terulang ketika mereka memimpin ibu kota.

Tiga orang pelaku sudah ditangkap oleh polisi dan satu orang lainnya masih diburu. Demi merampok, mereka tega menyekap 11 orang dalam 1 kamar mandi. Para perampok ini kemudian mengambil jam tangan Rolex, handphone, hingga uang tunai. Pelaku yang berhasil ditangkap adalah Ramlan Butarbutar, Erwin Situmorang dan Alfins Bernius Sinaga. Karena melawan, polisi melepaskan tembakan dan salah satu dari tiga pelaku tersebut akhirnya tewas.

Untuk mengantisipasi maraknya aksi kriminal di Jakarta, Agus Yudhoyono (AHY), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan Anies Baswedan menyusun strategi. Bagaimana strategi ketiga tokoh ini demi mencegah terulangnya peristiwa ini? AHY ingin agar peran RT dan RW dimaksimalkan, Ahok mengingatkan warga agar melapor ke layanan 112, sementara Anies ingin agar interaksi antarwarga makin erat. Berikut pandangan tiga cagub tersebut secara lengkap:
AHY

AHY mengutuk pembunuhan di Pulomas. Cagub nomor urut 1 itu berkata perlu diterapkan sebuah hukuman yang tegas bagi para pelaku kriminal agar jera.

“Tentu kita tahu zaman makin lama makin gokil, kadang nggak pakai logika, tiba-tiba terjadi dengan mudahnya kejadian, satu orang atau satu keluarga dibunuh. Selain preventif terhadap tindakan kriminalitas di Ibu Kota juga upaya represif yang tegas,” kata AHY di Pasar Ular Plumpang, Koja, Jakarta Utara, Rabu (28/12/2016).

Baca juga :  Anies dan Koleksi Pion Riyadh

AHY ingin RT dan RW dimaksimalkan perannya untuk mencegah tindakan kejahatan di lingkungan masyarakat. AHY menegaskan kehadiran aparat keamanan dan penegak hukum tak serta merta melepas tanggung jawab masyarakat untuk menjaga keamanan lingkungannya. Masyarakat harus terus berperan aktif menjaga stabilitas kondisi lingkungan sekitar mereka.

“Tentu tak serta merta melepaskan kita dari tanggung jawab untuk melindungi dan menjaga diri kita. Meningkatkan sistem keamanan lingkungan dengan IT sistem sehingga segala kegiatan di Ibu Kota termonitor sehingga masyarakat aman baik di pagi, sore dan malam hari,” ujarnya.

 

AHOK

Lain AHY, lain Ahok. Ahok menilai layanan pelaporan 112 bisa mencegah aksi kriminal seperti pembunuhan sadis di Pulomas terulang. Dia berharap lebih banyak warga yang melapor melalui 112 bila ada masalah di lingkungan mereka.

“Kita sudah pasang 112. Makanya kita mau, orang kalau ada apa-apa ingatnya 112,” kata Ahok seusai blusukan di daerah Cililitan, Jakarta Timur, Rabu (28/12/2016).

Ahok menjelaskan bahwa nomor 112 bisa digunakan oleh warga tanpa harus menggunakan pulsa. Ia juga menjanjikan pelayanan yang lebih baik bagi warga yang mengadu lewat 112.

“Handphone kamu enggak ada pulsa pun bisa pakai, beda provider bisa pakai, pokoknya 112. Kucing kamu nyangkut kalau kamu ingat 112 itu petugas dateng,” papar Ahok.

Saat ini Pemprov DKI sudah bekerja sama dengan sebuah bank untuk memperbaiki kualitas pelayanan dari 112. Ahok tidak mau 112 hanya sebagai tempat laporan saja tetapi tidak ditindaklanjuti.

Selain dengan nomor 112, Pemprov DKI juga rencananya akan merampungkan 6000 CCTV yang bisa mengenali wajah di seluruh wilayah Jakarta. 6000 CCTV tersebut rencananya rampung pada akhir tahun 2016 ini.
ANIES

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Lain AHY, lain Ahok, lain pula Anies. Anies Baswedan menyebut interaksi warga di tingkat RT dan RW bisa mencegah pembunuhan di Pulomas, Jakarta Timur terulang. Dia tidak ingin interaksi antarwarga rendah.

“Sebenarnya masalah keamanan tema saya makanya, interaksi warga penting level RT. Program level RT supaya antar warga berinteraksi dekat,” kata Anies di Jalan Kalibata Timur IV No. 15, Jakarta Selatan, Rabu (28/12/2016).

Interaksi yang dekat antara warga di tingkat RT dan RW dikatakan Anies akan mudah menjaga keamanan lingkungan. Hal ini disebutnya sebagai gerakan komunitas yang menjaga keamanan.

“Menjaga keamanan pun jauh lebih mudah. Kedua kejadian kemarin kalau nggak ada tamu, kadang rumah yang pagarnya tinggi-tinggi interaksi warga rendah. Itu yang kita akan ubah sama-sama. Makanya kita ingin Jakarta, gerakan kalau sudah berubah komunitas, pengamanan komunitas menjadi keamanan,” jelasnya.

Interaksi yang tinggi antar warga dipandang Anies mudah dilakukan pada masyarakat kelas menengah Jakarta. Kaum elit dirangsang dengan berbagai kegiatan antar warga.

Anies kemudian mengambil contoh dari Amerika. Meski individualis, warga Amerika dapat membangun interaksi yang menjaga keamanan.

“Di Amerika individualis malah hidup karena interaksi bisa dibangun. Masalahnya bisa tidak dirangsang, dibangun. Mereka senang kok interaksi dengan warga. Kadang sulitnya fasilitas, makanya pemerintah merangsang itu,” ujarnya. (dtkcom/S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.