HomeTerkiniAHY: Kebhinekaan Adalah Kekuatan Jakarta

AHY: Kebhinekaan Adalah Kekuatan Jakarta

Kecil Besar

“Kebhinekaan merupakan keunikan, keindahan sekaligus kekuatan Jakarta. Dan tanpa itu semua, maka tidak mungkin kita memiliki jati diri dan karakter yang seunggul ini.” Agus Harimurti Yudhoyono.


pinterpolitik.com Senin, 23 Januari 2017.

JAKARTA – Calon gubernur DKI Jakarta nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan, kebhinekaan merupakan modal utama yang membuat Jakarta memiliki jati diri dan karakter yang unggul. Bahkan, kebhinekaan tersebutlah yang menjadi keunikan, keindahan dan kekuatan Jakarta.

Agus Harimurti Yudhoyono mengaku tidak rela jika kebhinekaan yang menjadi kekuatan Jakarta, dirusak oleh satu atau dua permasalahan. Apalagi permasalahan tersebut membuat masyarakat Jakarta menjadi terpecah-belah, berselisih dan saling bermusuhan.

Agus Harimurti Yudhoyono saat menyampaikan pidato politik di Assembly Hall JCC. (Foto: www.demokrat.or.id)

“Jangan sampai karena satu-dua permasalahan, kemudian kita terpecah-pecah dan masyarakat kita menjadi berselisih paham bahkan bermusuhan,” ucap Agus di Assemby Hall JCC Senayan, Jakarta.

Dari hal tersebut, Agus berkomitmen untuk mengokohkan persatuan dan kesatuan di Jakarta ini jika dirinya terpilih menjadi gubernur. Bermodalkan 16 tahun pengalamannya sebagai prajurit TNI yang tugas utamanya menjaga kesatuan dan integritas NKRI, Agus yakin bisa melakukannya.

“Itu semua akan kami bawa jika Insya Allah saya terpilih dan mendapat amanah untuk menjadi gubernur DKI Jakarta. Komitmen kita ke depan tentu mengokohkan persatuan, hidup harmoni dan tolerasi di antara perbedaan. Ini menjadi fondasi untuk kokohnya Jakarta ke depan,” terang Agus. (nsnl.rpblk/A11)

Baca juga :  The One-Man Band
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

UMKM Motor Ekonomi Dunia

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peranan yang sangat vital di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di negara-negara berkembang seperti Indonesia...

Jembatan Udara Untuk Papua

PinterPolitik.com JAKARTA - Pemerintah akan memanfaatkan program jembatan udara untuk menjalankan rencana semen satu harga yang dikehendaki Presiden Joko Widodo. Menurut Kepala Pusat Penelitian dan...

Kekerasan Hantui Dunia Pendidikan

PinterPolitik.com Diklat, pada umumnya dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dan pembentukan wawasan kebangsaan, kepribadian serta etika kepada anggota baru. Namun kali ini, lagi-lagi Diklat disalahgunakan, disalahfungsikan, hingga...