<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Kemdikbudristek &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/kemdikbudristek/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 03 Oct 2022 00:32:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Kemdikbudristek &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Nadiem and the Shadow Organization</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/nadiem-and-the-shadow-organization/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2022 00:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Kemdikbud]]></category>
		<category><![CDATA[Kemdikbudristek]]></category>
		<category><![CDATA[Kemendikbud]]></category>
		<category><![CDATA[Mendikbud]]></category>
		<category><![CDATA[Mendikbudristek]]></category>
		<category><![CDATA[Nadiem]]></category>
		<category><![CDATA[Nadiem Anwar Makarim]]></category>
		<category><![CDATA[Nadiem Makarim]]></category>
		<category><![CDATA[Organisasi Bayangan]]></category>
		<category><![CDATA[Shadow Organization]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=116787</guid>

					<description><![CDATA[Penjelasan Mendikbudristek Nadiem Makarim soal shadow organization tuai polemik. Ada apa di balik organisasi bayangan Kemdikbudristek ini?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menteri Pendidikan, Kebudayan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menjadi sorotan publik setelah menjelaskan sebuah “organisasi bayangan” (</strong><strong><em>shadow organization</em></strong><strong>) yang ada di kementeriannya. Siapa mereka yang ada di dalam </strong><strong><em>shadow organization</em></strong><strong> ini?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>“Shadows, shadows, in the world we living on” – Nidji “Shadows” (2007)</p></blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Ada sebuah fakta menarik dari umat manusia. Banyak kebudayaan dan peradaban manusia selalu mengontraskan dua hal, yakni cahaya dan kegelapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam agama, misalnya, kebenaran akan Tuhan selalu dianggap sebagai cahaya petunjuk bagi umat manusia. Kata <em>nur</em> dalam agama Islam, contohnya, juga memiliki makna sebagai cahaya yang merupakan petunjuk Allah – konsep lawan dari <em>dzulumat</em> (kegelapan).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya agama Islam, konotasi positif dari cahaya juga eksis dalam agama Kristen dan Katolik. Yesus dilihat sebagai cahaya dunia dan kehidupan bagi mereka yang merupakan orang percaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hmm</em>, tapi, kenapa kita manusia begitu suka dengan cahaya dan begitu takut dengan kegelapan? Bahkan, seakan-akan, kegelapan merupakan simbol dari keadaan kehilangan, tersesat, kejahatan, dan kedangkalan hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rupanya, para ilmuwan – salah satunya Martin Antony (profesor psikologi di Ryerson University) – menilai bahwa sifat ketakutan kita pada kegelapan merupakan warisan evolusi yang kita dapatkan dari manusia-manusia prasejarah. Ya, <em>gimana nggak</em>? Dalam kegelapan, risiko untuk diserang predator menjadi jauh lebih signifikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, inilah mengapa segala sesuatu yang bergerak dalam kegelapan kerap dianggap sebagai ancaman yang – bisa saja – tak terduga datangnya. Wajar saja bila istilah-istilah seperti <em>shadow organization</em> (organisasi bayangan) menjadi terdengar menyeramkan dan mencurigakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hydra dalam film <em>Captain America: The Winter Soldier </em>(2014), misalnya, menjadi organisasi bayangan yang berhasil menyusupi lembaga S.H.I.E.L.D. Ini membuat lembaga rahasia tersebut menjadi kehilangan arah dan merepotkan Captain America alias Steve Rogers dkk.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nggak</em> hanya Hydra dalam film-film Marvel, organisasi bayangan juga muncul sebagai ancaman di <em>franchise</em> film <em>Mission Impossible</em>. Ethan Hunt dan Impossible Missions Force (IMF) akhirnya harus menghalau organisasi The Syndicate yang bergerak secara rahasia di komunitas intelijen Amerika Serikat (AS).</p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.instagram.com/p/Ci3lwvrhVPi/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><img decoding="async" src="https://lh6.googleusercontent.com/ZSGl1b17r12ztoZD0VSfx1zX9Y4DKhLeRB72zvRP5X_J3d_VBnZDGNuDoCCMU5fu7vkC4Z2309dpcE-zzNBEiupObDAbfito3Wpn0vYbPpexWXi1uMERwu2MkjNuZT3atE_2wgKfs8H2B46kWvXPVhE7TynUI1XjgzRvs8F4TznIzvhu7-WGUn32e6IBPLlxY2luNQ" alt="Kuasa Organisasi Bayangan Shadow Organization Nadiem Makarim"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, <em>nggak</em> semua yang bergerak dalam bayangan dan kegelapan itu buruk <em>kok</em>. Bisa jadi, itu hanya insting kita sebagai manusia yang terbiasa menjadi mangsa hewan-hewan predator.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Batman, misalnya, justru menjadi pahlawan sekaligus <em>vigilante</em> yang berusaha menyelamatkan Kota Gotham dari tingkat kriminalitas yang begitu tinggi. Bruce Wayne – sosok di balik topeng Batman – mungkin sadar bahwa bergerak di bawah cahaya merupakan hal yang sulit untuk menyelamatkan kota tercintanya itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hmm</em>, kenapa ya Batman hanya percaya dengan Komisioner Gordon di Kepolisian Gotham (GCPD)? Salah satu alasannya adalah bagaiman GCPD sendiri sudah masuk dalam lingkaran korupsi politik – membuat kondisi menjadi sulit bagi Wayne untuk bergerak secara terang-terangan <em>tuh</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini mungkin menggambarkan bagaimana, di situasi yang begitu pelik, cara-cara non-konvensional menjadi cara yang paling memungkinkan untuk dijalani. Boleh jadi, atas dasar inilah, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim akhirnya menceritakan bagaimana terdapat sebuah “<em>shadow organization</em>” dalam membuat kebijakan di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam dunia pemerintahan dan pengambilan kebijakan, birokrasi yang sifatnya politis bisa <em>aja</em> jadi hambatan dan tantangan bagi Nadiem untuk merumuskan kebijakan yang lebih efisien dan efektif. Apalagi, sebagai pebisnis di bidang teknologi, Mas Menteri – begitu sapaan akrab Nadiem – punya perspektif yang berbeda dalam mencapai efisiensi dan efektivitas tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengacu pada tulisan Donald Grunewald yang berjudul <em>Businessmen Must Get Active in Politics</em>, efektivitas dan kualitas pemerintahan bisa dicapai dengan orang-orang yang tepat. Dalam hal ini, pebisnis seperti Nadiem bisa jadi memberikan sumbangsih yang dibutuhkan untuk mencapai itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendapat yang sejalan juga diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Application and Cyber Watch (ACW) Imad Aziz. Menurut Imad, apa yang dipaparkan oleh Mas Mendikbudristek di forum internasional terkait <em>shadow organization</em> hanyalah gambaran sinergisitas yang terjadi antara Kemdikbudristek dan <em>vendor</em>&#8211;<em>vendor</em>-nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Justru, menurut Imad, banyak hasil dan karya yang sudah berdampak di dunia pendidikan Indonesia. Nadiem merupakan <em>disruptor</em> di dunia bisnis dan bakal menjadi <em>disruptor</em> di dunia pendidikan guna mereformasi sistem pendidikan Indonesia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari itu, Imad menilai menjadi wajar apabila banyak perdebatan kemudian muncul. Layaknya Batman yang bergerak di kegelapan sebagai <em>vigilante</em> – atau mungkin <em>disruptor</em> –<em> </em>di Gotham, apapun yang tidak konvensional memunculkan ketakutan atas dasar ketidaktahuan. Bukan begitu? (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="f-U5oNnukNs"><iframe title="Kelas Revolusi Baru, Jalan Nadiem Menuju Pilpres" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/f-U5oNnukNs?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/Nadiem-and-the-Shadow-Organization-1-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kuasa ‘Organisasi Bayangan’ Nadiem?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/kuasa-organisasi-bayangan-nadiem/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R55]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2022 04:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Kemdikbudristek]]></category>
		<category><![CDATA[Nadiem]]></category>
		<category><![CDATA[Oraganisasi Bayangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=116448</guid>

					<description><![CDATA[Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengungkapkan bahwa terdapat sebuah organisasi bayangan (shadow government) yang melekat pada Kemdikbudristek. Organisasi ini berisikan 400 orang yang terdiri atas product manager, software engineer, dan data scientist. Sejumlah pihak pun mempertanyakan kehadiran organisasi bayangan ini. Pasalnya, mereka ditempatkan pada posisi yang hampir setingkat dengan direktur jenderal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="851" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/09/infografis-Kuasa-‘Organisasi-Bayangan-Nadiem-851x1024.jpg" alt="infografis kuasa ‘organisasi bayangan nadiem" class="wp-image-116450" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/09/infografis-Kuasa-‘Organisasi-Bayangan-Nadiem-851x1024.jpg 851w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/09/infografis-Kuasa-‘Organisasi-Bayangan-Nadiem-249x300.jpg 249w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/09/infografis-Kuasa-‘Organisasi-Bayangan-Nadiem-125x150.jpg 125w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/09/infografis-Kuasa-‘Organisasi-Bayangan-Nadiem-768x924.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/09/infografis-Kuasa-‘Organisasi-Bayangan-Nadiem-696x838.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/09/infografis-Kuasa-‘Organisasi-Bayangan-Nadiem-1068x1286.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/09/infografis-Kuasa-‘Organisasi-Bayangan-Nadiem-349x420.jpg 349w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/09/infografis-Kuasa-‘Organisasi-Bayangan-Nadiem.jpg 1080w" sizes="(max-width: 851px) 100vw, 851px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengungkapkan bahwa terdapat sebuah organisasi bayangan (<em>shadow government</em>) yang melekat pada Kemdikbudristek. Organisasi ini berisikan 400 orang yang terdiri atas <em>product manager</em>, <em>software engineer</em>, dan <em>data scientist</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejumlah pihak pun mempertanyakan kehadiran organisasi bayangan ini. Pasalnya, mereka ditempatkan pada posisi yang hampir setingkat dengan direktur jenderal (dirjen) di Kemdikbudristek.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/09/infografis-Kuasa-‘Organisasi-Bayangan-Nadiem-851x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Saatnya Jokowi “Gebrak” Festival Film?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/saatnya-jokowi-gebrak-festival-film/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2021 23:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Indonesia (FFI)]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[industri film]]></category>
		<category><![CDATA[Kemdikbudristek]]></category>
		<category><![CDATA[Kemenparekraf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=95908</guid>

					<description><![CDATA[Festival Film Indonesia (FFI) 2021 akan digelar pada awal November 2021. Mengapa FFI memiliki tantangan tertentu dalam promosikan perfilman Indoensia?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Industri film Indonesia pada November nanti bakal diramaikan oleh Festival Film Indonesia (FFI) 2021 yang secara rutin memberikan hadiah Piala Citra para kreator film. Namun, berbagai kegiatan&nbsp;</strong><strong><em>awards</em></strong><strong>&nbsp;seperti ini sebenarnya mempunyai implikasi lebih luas dalam dunia sosio-politik.&nbsp;</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/"><strong>PinterPolitik.com</strong></a><strong>&nbsp;</strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Masa-masa sekolah mungkin menjadi bagian dari perjalanan hidup yang paling mengesankan bagi banyak orang. Tidak jarang, banyak kisah-kisah unik yang tersimpan di bingkai-bingkai memori di pikiran kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu masa-masa sekolah yang saya ingat adalah keseruan teman-teman sekelas saya yang dulu mengadakan angket kelas. Cara kerjanya dengan mengumpulkan secarik kertas yang berisikan kolom-kolom seperti terganteng, tercantik, terbaik, terjudes, dan sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, mungkin, ini bisa membantu anak-anak di kelas itu dalam mengenal dan mengakrabkan satu sama lain. Dalam formulir ala kadarnya itu, saya diminta untuk mengisikan nama teman-teman saya sesuai kategori yang telah disediakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, nama-nama itu nantinya dibacakan di depan kelas – semacam sebuah&nbsp;<em>voting</em>&nbsp;untuk menentukan siapa yang berhak dijuluki sebagai terganteng, tercantik, terbaik, hingga terjudes. Tentunya, kertas yang dikumpulkan sifatnya anonim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bak membacakan kertas-kertas yang kertas suara di tempat pemungutan suara (TPS) di sore hari, satu persatu kertas memberikan angka pada nama-nama tertentu. Ya, barang kali, ini juga bisa menjadi latihan dini dalam berdemokrasi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain mirip dengan pemungutan suara, terbesit di pikiran saya bahwa ada satu perhelatan lain yang bisa dibilang sebelas-dua belas dengan keseruan angket kelas ini, yakni&nbsp;<em>awards</em>&nbsp;atau acara penganugerahan. Bagaimana tidak? Nama-nama tertentu akhirnya dinobatkan menjadi yang ter-, ter-, dan ter-.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga:&nbsp;</strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/celoteh/nobar-film-rasa-pemilu"><strong>Nobar Film Rasa Pemilu</strong></a></p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/OYMWHKv19xRj4_Ux-H95A6GgnHNH6tztYJedCwsPuOs8NXoCCrfai3JUU5NXmUKu6XgxnAdEeSwc6yIMwEvoC5SWGExqmtX_FJNOZE6xyfw9fpAQ9KofUz76bW6NeA=s1600" alt="Bantuan Jokowi untuk Produksi Film"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Biasanya, penobatan seperti ini juga terjadi di festival-festival film. Mari kita ambil Festival Film Indonesia (FFI) sebagai salah satu contohnya. Festival film satu ini secara rutin diadakan untuk memberikan Piala Citra bagi bakat-bakat film terbaik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tahun ini, FFI rencananya bakal dilaksanakan pada 10 November 2021 mendatang. Sejumlah nominasi pun telah diumumkan sehubungan dengan pagelaran acara tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, apa kalian tahu bahwa festival film seperti ini sebenarnya memiliki manfaat yang lebih luas dari sekadar memberikan penghargaan? Biasanya, terdapat banyak pihak berkepentingan (<em>stakeholder</em>) yang turut berkecimpung di dalam perhelatan seperti ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa sebenarnya fungsi dan implikasi dari festival film seperti FFI – khususnya dalam dinamika sosial dan politik serta terhadap perkembangan industri film? Kemudian, apa tantangan yang dihadapi oleh FFI untuk bisa mengembangkan industri film Indonesia?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Politik di Festival Film</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak dari kita pasti sudah pernah mendengar festival atau acara penganugerahan seperti Academy Awards dan FFI. Meski begitu, tidak banyak yang tahu bahwa festival film memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan dimensi politik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua dimulai pada tahun 1932 ketika Benito Mussolini memimpin di Italia yang berada di bawah kekuasaan Partai Fasis Nasional. Kala itu, festival film di Italia merupakan bagian dari organisasi kesenian Venice Biennale – menjadi cikal bakal bagi salah satu festival film paling populer di dunia, yakni&nbsp;<em>Venice Film Festival</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keterkaitan ideologi dan festival film seperti ini pernah dijelaskan oleh Steven Ricci dalam tulisannya yang berjudul&nbsp;<em>Cinema &amp; Fascism</em>. Kala itu, sejumlah film Italia dinilai jatuh dalam kategori propaganda – di mana sejumlah film menarasikan peristiwa-peristiwa tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, Mussolini pun beberapa kali memerintahkan pemotongan sejumlah adegan yang mengandung hal-hal yang tidak cocok dengan pemerintahannya, seperti protes masyarakat (<em>popular unrest</em>). Terdapat juga beberapa film seperti&nbsp;<em>Luciano Serra pilota</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>Olympia</em>&nbsp;– sebuah film yang menceritakan tentang supremasi bangsa Arya di kompetisi olahraga Olimpiade – yang berhasil memenangkan Mussolini Cup di&nbsp;<em>Venice Film Festival</em>&nbsp;pada tahun 1938.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Uniknya, festival film tidak hanya berkembang di Blok Poros, melainkan juga di Blok Sekutu – di mana banyak para insan film merasa kecewa dengan campur tangan politik Mussolini dan Hitler di&nbsp;<em>Venice Film Festival</em>. Festival film ini dikenal sebagai&nbsp;<em>Le Festival International du Film</em>&nbsp;(cikal bakal dari&nbsp;<em>Cannes Film Festival</em>) yang dilaksanakan pada tahun 1939 dan sempat berakhir akibat memburuknya situasi Perang Dunia II.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga: </strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/modi-jokowi-dan-politik-film"><strong>Modi, Jokowi dan Politik Film</strong></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">https://platform.twitter.com/embed/Tweet.html?creatorScreenName=pinterpolitik&#038;dnt=false&#038;embedId=twitter-widget-1&#038;features=eyJ0ZndfZXhwZXJpbWVudHNfY29va2llX2V4cGlyYXRpb24iOnsiYnVja2V0IjoxMjA5NjAwLCJ2ZXJzaW9uIjpudWxsfSwidGZ3X2hvcml6b25fdHdlZXRfZW1iZWRfOTU1NSI6eyJidWNrZXQiOiJodGUiLCJ2ZXJzaW9uIjpudWxsfSwidGZ3X3NwYWNlX2NhcmQiOnsiYnVja2V0Ijoib2ZmIiwidmVyc2lvbiI6bnVsbH19&#038;frame=false&#038;hideCard=false&#038;hideThread=false&#038;id=1381618403396313099&#038;lang=id&#038;origin=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fsaatnya-jokowi-gebrak-festival-film&#038;sessionId=9195600adaedba87fbec8ea565e03d2db5b3bbcc&#038;siteScreenName=pinterpolitik&#038;theme=light&#038;widgetsVersion=2582c61%3A1645036219416&#038;width=550px</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlibatnya dimensi politik dalam film tidak berhenti pada era Perang Dunia II saja. Pada era Perang Dingin, misalnya, ideologi turut memiliki peran penting di balik kelahiran&nbsp;<em>Berlin Film Festival</em>&nbsp;pada tahun 1951 – bertujuan untuk menunjukkan supremasi film Blok Barat dibandingkan Blok Timur yang didominasi oleh Moskow.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, kompetisi festival film seperti ini tidak hanya terjadi pada dimensi politik, melainkan juga kompetisi ekonomi dan pasar film yang didominasi Hollywood (AS).&nbsp; Marijke de Valck dari Uttrecht University dalam bukunya yang berjudul&nbsp;<em>Film Festivals: From European Geopolitics to Global Cinephilia&nbsp;</em>menjelaskan bahwa festival-festival film seperti&nbsp;<em>the Big Three&nbsp;</em>(Cannes, Berlin, dan Venice) menjadi jalan pintas bagi film-film Eropa yang terhambat oleh dominasi rantai distribusi AS – menjadikan festival film seperti ini sebagai medium untuk menunjukkan film-film baru mereka lewat&nbsp;<em>screening</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila festival film seperti ini bisa menjadi medium yang berarti dalam dimensi ekonomi dan politik bagi negara-negara di Eropa, bagaimana dengan Indonesia? Apakah festival-festival film kita – seperti FFI – telah memenuhi fungsi festival film seperti ini?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Perlu Gebrakan?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari dimensi politik dan dimensi ekonomi yang ada di dalamnya, festival-festival film juga menjalankan fungsi yang mungkin bisa saja mendukung unsur ekonomi dan politik tadi. Fungsi tersebut adalah fungsi pengakuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini bisa dipahami dari teori festival film yang dibangun oleh de Valck dalam bukunya yang berjudul&nbsp;<em>Film Festivals: History, Theory, Method, Praxis</em>. Dengan menggunakan konsep modal simbolis (<em>symbolic capital</em>) dari filsuf Prancis yang bernama Pierre Bourdieu, de Valck menyebutkan festival film dapat menjadi&nbsp;<em>field</em>&nbsp;(lapangan) di mana banyak pihak saling berjuang dan bersaing.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Field</em>&nbsp;dalam dunia produk budaya dinilai terbagi menjadi dua, yakni&nbsp;<em>field</em>&nbsp;di mana dipenuhi oleh permintaan komersial dan pasar; dan&nbsp;<em>field</em>&nbsp;yang diisi oleh orang-orang dengan norma khusus. Komunitas film, misalnya, memiliki sejumlah pihak yang berusaha mempertahankan norma yang dimiliki – festival-festival film.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam&nbsp;<em>field</em>&nbsp;inilah, para pembuat film saling berusaha mendapatkan modal simbolis yang menurut de Valck merupakan pengakuan dari rekan-rekan insan film lainnya. Modal ini didapatkan melalui pengakuan yang timbul dari festival film.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, upaya untuk mewujudkan modal simbolis inilah yang sulit terwujud pada FFI. Pasalnya, meski Badan Perfilman Indonesia (BPI) – sebuah badan non-pemerintahan yang berada di bawah supervisi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) – menyelenggarakan FFI, perhelatan acara tersebut dinilai tidak benar-benar menjalankan fungsi layaknya sebuah festival film.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setidaknya, pandangan ini diungkapkan oleh Rininta Irientantya dalam tesis pascasarjananya di Erasmus School of History, Culture, and Communication yang berjudul&nbsp;<em>Where Does the Festival Go?</em>. Irientantya menyebutkan FFI cenderung lebih meniru model&nbsp;<em>awards</em>&nbsp;ala Oscar yang hanya mengedepankan sisi komersial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga:&nbsp;</strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/celoteh/mahfud-kagum-pada-film-pki"><strong>Mahfud Kagum Pada Film PKI?</strong></a></p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><img decoding="async" src="https://lh6.googleusercontent.com/FGs7XDzt7ttKCNLvtljS9OH1m2oOmTMr7V_EGAbSqlF3ghj5wLCf1jIcx1zUaG3_fofNeQpQckyfYljbVquru-IJcqQJPjZospMi4G5Uu74wxkRhnfrDW20xXF3Pkg=s1600" alt="Radikal Radikul di Film Kartun"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara, festival film memiliki beberapa unsur yang berbeda dari sekadar penganugerahan. Dalam festival-festival film pada umumnya, para pembuat film – termasuk yang baru – dapat memperoleh modal simbolis dengan menayangkan film-film mereka – sesuatu yang sulit terwujud dalam persaingan pasar film. Apalagi, pasar film Indonesia banyak dibanjiri oleh film-film buatan asing seperti Hollywood.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita ambil&nbsp;<em>Sundance Film Festival</em>&nbsp;sebagai contohnya. Festival film yang digelar di Park City, Utah, AS, ini biasa melakukan&nbsp;<em>screening</em>&nbsp;film bagi mereka yang berada di luar kelompok&nbsp;<em>mainstream</em>&nbsp;di pasar film – menghasilkan insan-insan film berbakat seperti Wes Anderson dan Richard Linklater.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Irientantya pun menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan hal ini. Salah satunya adalah persoalan yang terjadi antara&nbsp;<em>principal</em>&nbsp;(pemerintah) dan&nbsp;<em>agent</em>&nbsp;(FFI dan insan film Indonesia).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Persoalan mencuat ketika tidak ada sinergi antara&nbsp;<em>principal&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>agent</em>. Kesamaan visi belum terbentuk dengan baik – di mana campur tangan pemerintah kerap dilihat sebagai “ancaman”. Belum lagi, perubahan kebijakan dan pemangkunya sekaligus – seperti kementerian atau lembaga mana yang menaungi antara Kemdikbudristek dan Kemenparekraf – membuat sinergi menjadi lebih sulit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, pemerintah bisa belajar dari negara-negara lain yang memiliki rencana panjang dalam menyinergikan kebijakan filmnya. Mari kita ambil Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebagai contohnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tahun 1993-2003, pemerintah Tiongkok memiliki gagasan kebijakan film yang disebut sebagai&nbsp;<em>going-out policy</em>&nbsp;– memperkenalkan industri film Tiongkok ke luar negeri. Gagasan ini bahkan tertuang dalam Rencana Lima Tahunan (<em>Five-Year Plan</em>) Tiongkok pada 2006-2010 dan 2011-2015.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu poin penting dalam gagasan&nbsp;<em>going-out policy</em>&nbsp;adalah pengadaan festival-festival film – seperti&nbsp;<em>Beijing International Film Festival</em>&nbsp;(BIFF). Kebijakan ini pun disebut oleh Yanling Yang dalam tulisannya&nbsp;<em>Film Policy, the Chinese Government and Soft Power</em>&nbsp;sebagai salah satu langkah yang berkontribusi bagi kekuatan lunak (<em>soft power</em>) – pengaruh bagiamana satu pihak membuat pihak lain memiliki kemauan yang sama – dari Tiongkok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Boleh jadi, bila Indonesia benar berambisi untuk menguatkan industri filmnya hingga dikenal di panggung internasional, sinergi dan penyusunan rencana yang tertata perlu mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait – baik itu pemerintah atau insan film Indonesia. Tentunya, ini menjadi mimpi semua pihak di mana festival film dapat mewadahi keuntungan komersial dan kultural yang menghasilkan pembuat-pembuat film baru yang berbakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila festival film kita hanya berakhir sebagai ajang penganugerahan, mungkin industri film kita juga akan berakhir seperti hak angket yang hanya didasarkan pada&nbsp;<em>judgment</em>&nbsp;belaka tanpa mengetahui lebih dalam makna dari kategori-kategori angket yang ada. Kapankah Indonesia akan meraih gelar ter-, ter-, dan ter- lainnya di kancah internasional? (A43)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga:&nbsp;</strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/saatnya-sandiaga-bangkitkan-film-indonesia"><strong>Saatnya Sandiaga Bangkitkan Film Indonesia</strong></a></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-embed-handler wp-block-embed-embed-handler wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="9U_dY4pZUfM"><iframe title="Mimpi Industri Film di Bali: Ini Alasan Indonesia Tak Bisa Seperti Korea" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/9U_dY4pZUfM?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.youtube.com/c/PinterPolitik/featured"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com:8000/photos/shares/ytb%20membership-03.jpg" alt=""/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://linktr.ee/PinterPublishing"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com:8000/photos/shares/2021/3/ebook-promo-web-banner.jpg" alt=""/></a></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Saatnya-Jokowi-Gebrak-Festival-Film-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mengintip Ruang Kerja Nadiem</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/mengintip-ruang-kerja-nadiem/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Sep 2021 23:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Kemdikbudristek]]></category>
		<category><![CDATA[Nadiem Makarim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=96496</guid>

					<description><![CDATA[Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim disebut akan memiliki ruang kerja baru dengan rencana renovasi yang bakal dilakukan terhadap sejumlah ruangan di kantor Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek).</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk Jo Ko-wi,</p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Aku mengirim surat ini hendak mengabarkan soal bagaimana suasana kerjaku selama menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) – dan sekarang sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek). Mungkin, aku ingin sedikit menjelaskan suka dan dukaku – seperti yang biasa orang lakukan ketika bertemu Jo Ko-wi kala&nbsp;<em>blusukan</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika kubangun setiap paginya, aku bersemangat untuk menciptakan inspirasi dan kebijakan untuk siswa-siswi hingga mahasiswa/i Indonesia tercinta. Mimpiku sama seperti Ko-wi, yakni untuk menciptakan sumber daya yang mumpuni agar terwujud sebuah&nbsp;<em>link</em>&#8211;<em>and</em>&#8211;<em>match</em>&nbsp;– bukan hanya&nbsp;<em>match</em>&nbsp;lantas berujung&nbsp;<em>ghosting</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, semua itu ternyata tidak mudah untuk diwujudkan. Mimpiku untuk menjadi seperti Han Ji-pyeong yang bisa mencetak&nbsp;<em>start-up</em>&nbsp;baru dengan Sandbox, misalnya, harus menemui banyak hambatan ketika Kemdikbudristek mengadakan sejumlah mata kuliah&nbsp;<em>start-up</em>&nbsp;di sejumlah kampus – salah satunya adalah karena pandemi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belum lagi, aku harus menghadapi suasana kerja yang tidak nyaman. Betapa tidak, kerap kebijakan-kebijakan yang disusun olehku harus bocor ke luar – entah siapa yang membocorkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga:&nbsp;<a href="https://www.pinterpolitik.com/celoteh/mas-nadiem-kuat-bekingan">Mas Nadiem Kuat Bekingan?</a></strong></p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.instagram.com/p/CT0yGZNhV3s/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com:8000/photos/shares/Infografis%202020/infografis%20Saat%20Nadiem%20Nginap%20di%20Rumah%20Guru.jpg" alt="Nadiem Nginap di Rumah Guru"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Draf susunan kurikulum hingga draf peraturan pemerintah (PP) adalah beberapa rencana kebijakan yang sempat&nbsp;<em>leaked</em>&nbsp;ke publik. Bahkan, ada juga sejumlah kebocoran yang harus menyeret drama dengan sejumlah organisasi besar, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, seandainya saja ruang kerja Kemdikbudristek bisa secanggih ruang-ruang kerja bak milik Tony Stark yang dilengkapi kecerdasan buatan (<em>artificial intelligence</em>&nbsp;atau AI) yang bernama Jarvis – atau juga seperti tempat tinggal Ji-pyeong yang pun disertai AI, pasti kebocoran informasi seperti ini bisa dicegah dan dilacak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari itu, menjadi masuk akal kalau misalnya Kemdikbudristek dapat merombak dan merenovasi total ruang-ruang kerjanya – ya setidaknya ruangan-ruangan yang berada di lantai 2 Gedung A, di mana bakal menjadi ruang kerja Mendikbudristek dan sejumlah petinggi lainnya. Paling tidak, biayanya bakal memakan sekitar Rp 5 miliar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tahu kalau masih banyak siswa-siswi di luar sana kesulitan untuk mendapatkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang laik. Namun, aku sadar kalau&nbsp;<em>workplace</em>-ku yang&nbsp;<em>toxic</em>&nbsp;bisa juga memengaruhi kinerjaku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kuharap, Pak Ko-wi bisa mendengarkanku. Demikian maksud suratku untuk Ko-wi. Terima kasih atas sejuta kesempatan yang kau berikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Na Diem-san.</p>



<p class="wp-block-paragraph">(A43)</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga: <a href="https://www.pinterpolitik.com/celoteh/mas-nadiem-close-the-door">Mas Nadiem Close The Door</a></strong></p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-embed-handler wp-block-embed-embed-handler wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="yyEOb_N_gdk"><iframe loading="lazy" title="Bisnis Perang di Balik Taliban?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/yyEOb_N_gdk?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.youtube.com/c/PinterPolitik/featured"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com:8000/photos/shares/ytb%20membership-03.jpg" alt=""/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://linktr.ee/PinterPublishing"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com:8000/photos/shares/2021/3/ebook-promo-web-banner.jpg" alt=""/></a></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Mengintip-Ruang-Kerja-Nadiem.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
