HomeRuang PublikMungkinkah Amerika dan China “Bersatu”?

Mungkinkah Amerika dan China “Bersatu”?

Oleh : Adrian

Kecil Besar

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden Republik Rakyat China (RRC) Xi Jinping kerap dianggap sebagai teman karena kedekatan mereka di masa lampau. Mungkinkah Amerika Serikat (AS) dan China “bersatu” di bawah kepemimpinan mereka?


PinterPolitik.com

“Amerika Serikat siap bekerja sama dengan bangsa mana pun yang mau melangkah maju dan mengejar resolusi damai atas tantangan bersama, meski kita punya perbedaan besar dibidang lain” – Joe Biden, Presiden Amerika Serikat (AS)

Situasi dan kondisi dunia internasional tidak terlepas dari peran serta pengaruh dari Amerika Serikat (AS) dan China. Jika diibaratkan, AS dan China bagai sutradara yang mengatur jalan cerita dalam sebuah film. Sementara, negara-negara lainnya merupakan aktor-aktor yang memerankan filmnya. Begitulah gambaran betapa besar peran dan pengaruh AS-China dalam dunia internasional.

Permusuhan antara AS-China telah memberikan dampak negatif dan kerugian bagi banyak negara, serta semakin memperburuk situasi dan kondisi dunia internasional. Hal ini dapat kita lihat dalam banyak kasus seperti perang dagang AS-China, sengketa Laut China Selatan (LCS), dan, terbaru, persoalan pandemi Covid-19 yang mana AS dan China saling tuduh menuduh tentang siapa dalang dari penyebab terjadinya pandemi Covid-19. Lantas mungkinkah AS-China akan bersatu dalam mewujudkan dunia internasional lebih baik kedepannya?

Beberapa kali, Joe Biden memperlihatkan keakrabannya dengan Presiden China Xi Jinping – seolah kedua negara ini bersahabat tanpa memiliki perselisihan dan perseteruan. Misalnya saja, Joe Biden beberapa kali menelepon Xi.

Pada Februari 2021 Joe Biden memberikan ucapan Imlek kepada Xi melalui via telepon. Kemudian, pada 9 September lalu, Biden kembali menelepon Xi dan membicarakan hubungan bilateral serta isu-isu strategis yang menjadi perhatian kedua negara.

Tidak hanya itu, Biden pun dikabarkan telah diagendakan untuk bertemu dengan Xi di KTT G20 yang akan dilaksanakan pada akhir Oktober mendatang. Selain itu, Biden kerap memberikan pernyataan bahwa AS di bawah kepemimpinannya siap melakukan kerja sama dan bersatu dengan negara-negara yang ingin mewujudkan perdamaian dan menciptakan dunia agar lebih baik ke depannya, meskipun negara tersebut memiliki perbedaan ideologi dengan AS. Apakah hal ini mengindikasikan AS-China akan “bersatu”?

Jika kita melihat tindakan yang dilakukan AS kepada China dan sebaliknya, tentu berbanding terbalik dengan pernyataan dan keakraban yang diperlihatkan oleh Biden dan Xi – di mana China misalnya terus berusaha memperluas hegemoninya di dunia internasional untuk menyaingi dan “menyerang” AS dengan memperlihatkan kegagalan-kegagalan AS sebagai negara adidaya dalam menciptakan dunia internasional yang damai dan lebih baik.

Begitu pun dengan tindakan AS kepada China, di mana AS hingga kini terus berusaha untuk melumpuhkan hegemoni China di dunia internasional, khususnya di kawasan Indo-Pasifik. Misalnya saja, hingga kini, AS terus menuduh China bahwa negara itu merupakan biang dari penyebab terjadinya pandemi Covid-19 dan menuntut China agar bertanggung jawab terhadap kerugian dan korban jiwa yang mati akibat pandemi Covid-19.

Kemudian, AS berusaha untuk menyaingi dan membendung hegemoni China di Asia khususnya Asia Tenggara dengan memberikan bantuan militer, membangun pangkalan militer, dan menggelar latihan militer bersama dengan beberapa negara Asia. Terbaru, AS membentuk aliansi pertahanan Indo-Pasifik dengan Inggris dan Australia yang tidak lain bertujuan untuk menandingi kekuatan China di kawasan Indo-Pasifik.

Pernyataan Biden yang mengindikasikan AS dapat menerima dan bersatu dengan negara yang berbeda ideologi dengannya seperti China nyatanya jauh panggang dari api dengan tindakan yang dilakukan oleh AS. AS dan China ibarat anjing dan kucing yang akan terus bermusuhan, tidak akan pernah bisa “bersatu”.

AS tidak akan rela apabila China lebih unggul darinya sehingga segala macam cara akan dilakukan oleh AS untuk menandingi dan melumpuhkan kekuatan China di dunia internasional. Begitu pun dengan China akan terus berusaha agar bisa lebih unggul dari AS dan akan melakukan segala macam cara untuk menjatuhkan dan mengalahkan AS.

Kedekatan dan keakraban yang ditunjukkan oleh kedua negara adalah “persahabatan semu” yang sebenarnya kedua negara sedang mempersiapkan strategi masing-masing untuk saling menghancurkan satu dengan yang lainnya. Meminjam pendapat dari tokoh realisme yakni, Edward Hallet Carr, sebenarnya kerja sama yang terjalin antar negara adalah “kerja sama semu” yang sebenarnya setiap negara sedang mempersiapkan cara untuk saling menjatuhkan dan mengalahkan satu dengan yang lainnya.

Selain itu, dalam pandangan kaum realis, negara akan cenderung melakukan kerja sama atau bersatu apabila mereka memiliki kepentingan dan ideologi yang sama. Dan sebaliknya, negara tidak akan melakukan kerja sama atau bersatu apabila mereka bertentangan satu dengan yang lainnya.

Dalam konteks AS-China, di mana kedua negara itu memiliki kepentingan dan ideologi yang berbeda bahkan bertentangan satu dengan yang lainnya sehingga hal ini akan membuat AS-China akan sulit untuk dapat bersatu.


Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.


Profil Ruang Publik - Adrian

Banner Ruang Publik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Ebook Promo Web Banner
spot_imgspot_img

#Trending Article

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

More Stories

Ini Strategi Putin Meraih Stabilisasi?

Oleh: Muhammad Ferdiansyah, Shafanissa Arisanti Prawidya, Yoseph Januar Tedi PinterPolitik.com Dalam dua dekade terakhir, nama Vladimir Putin telah identik dengan perpolitikan di Rusia. Sejak periode awal...

Pesta Demokrasi? Mengkritisi Pandangan Pemilu

Oleh: Noki Dwi Nugroho PinterPolitik.com Sejak kemerdekaannya pada Agustus 1945, pendiri bangsa Indonesia berkonsensus untuk menjadikan wilayah bekas jajahan Kerajaan Belanda yang bernama Hindia Belanda ini...

Meretas Riwayat Beasiswa Supersemar

Beasiswa Supersemar sukses mencetak ribuan alumni cemerlang. Mereka terdiri atas lulusan S1, S2, S3, bahkan di antaranya ada yang telah menjadi guru besar. Tidak...