HomeJendela PolitikMenerka Karier Politik Airin

Menerka Karier Politik Airin

Oleh Ahmad Hidayah

Nama Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany disebut-sebut berpotensi untuk menggantikan Anies Baswedan untuk menjabat sebagai Pj. Gubernur DKI Jakarta mendatang. Bagaimana perjalanan karier politik Airin selama ini?


PinterPolitik.com

Masa Jabatan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta akan berakhir pada 16 Oktober 2022 mendatang. Dikarenakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) akan diselenggarakan serentak pada tahun 2024, maka kepemimpinan di DKI Jakarta akan dipegang oleh Penjabat Kepala Daerah berdasarkan Pasal 201 ayat (9) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah. 

Sejumlah nama besar pun masuk ke dalam bursa pengganti Anies Baswedan untuk memimpin DKI Jakarta, seperti Ahmad Riza Patria ataupun Ahmad Sahroni. Namun, terdapat satu nama yang menarik perhatian publik, yaitu Airin Rachmi Diany, mantan Wali Kota Tangerang Selatan. Airin menjadi menarik untuk diperbincangkan karena namanya tidak hanya disebut oleh Partai Golkar sebagai partai yang menaunginya tetapi juga disebut oleh pengurus Partai Gerindra dan Nasdem. 

Selain itu, berbeda dengan Ahmad Sahroni yang memang lekat dengan DKI Jakarta karena terpilih sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) di DKI Jakarta, ataupun Ahmad Riza Patria yang memang sampai saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Airin tidak pernah memiliki keterkaitan dengan DKI Jakarta. Satu-satunya yang membuat namanya mencuat adalah keberhasilannya memimpin Tangerang Selatan selama dua periode. Lantas, bagaimana kepemimpinan Airin di Tangerang Selatan sehingga layak untuk memimpin DKI Jakarta? 

Tangsel di Bawah Airin

Untuk melihat apakah Airin layak untuk memimpin DKI Jakarta, maka perlu untuk melihat perkembangan Kota Tangerang Selatan selama dipimpin oleh Airin yaitu sejak tahun 2010 hingga tahun 2020. Perlu diketahui, Airin merupakan Wali Kota Tangerang Selatan pertama sejak berdirinya kota Tangerang Selatan tahun 2008.

Variabel pertama yang dilihat adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yaitu indeks yang mengukur pencapaian keseluruhan pembangunan non fisik suatu daerah. Terjadi peningkatan IPM selama kepemimpinan Airin berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), yaitu di angka 76,99 tahun 2011, menjadi 81,36 di tahun 2020. 

Kedua, jumlah penduduk miskin. Di tahun 2010, jumlah penduduk miskin di Tangerang Selatan mencapai 21.906 jiwa. Namun, jumlah ini terus meningkat hingga mencapai peningkatan tertinggi di tahun 2020 menjadi 40.990 jiwa. 

- Advertisement -

Meski demikian, jika dikaitkan dengan jumlah penduduk Kota Tangerang Selatan yang terus meningkat, secara persentase tidak terjadi perubahan terkait jumlah penduduk miskin, yaitu berada di angka 2 persen. Bahkan, angka ini dirasa cukup baik jika melihat kota-kota besar lainnya di Indonesia yang mengalami peningkatan jumlah penduduk miskin di tahun 2020 akibat pandemi COVID-19. 

Baca juga :  Menyoal Bias Privat dan Publik

Ketiga, pembangunan infrastruktur. Keberhasilan Airin dapat dilihat dari banyaknya pembangunan infrastruktur dasar warga seperti jalan, jembatan, serta trotoar. Tidak hanya itu saja, Airin juga berhasil membangun beberapa infrastruktur, seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) gedung tiga, gedung pelayanan publik, gedung inovasi center, gedung arsip, perpustakaan daerah, stadion mini Ciputat, serta community center (Prihana, 2021). 

Keempat, Pendapatan Asli Daerah (PAD). Di bawah kepemimpinan Airin, PAD Kota Tangerang Selatan mengalami lonjakan signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011 sebesar Rp.420,663 miliar, di tahun 2013 melonjak menjadi Rp. 728,965 miliar dan tahun 2020 sebesar Rp. 3,8 triliun, inipun turun 40 persen dibanding tahun 2019 karena tahun 2020 terkena dampak COVID-19 (Prihana, 2021). 

Walaupun demikian, masih terdapat beberapa hal yang perlu untuk diperbaiki oleh kepala daerah selanjutnya, seperti permasalahan sampah yang menjadi problem setiap tahunnya, sumber daya manusia (SDM) aparatur pemerintah Kota Tangerang Selatan yang belum optimal, dan penyerapan anggaran belanja daerah yang masih rendah (Prihana, 2021). Meski demikian, Airin masih dapat dikatakan sebagai kepala daerah yang berkinerja baik. 

Ke Mana Airin Selanjutnya?

Ketika masa kepemimpinan Airin Rachmi Diany berakhir tahun 2020, publik bertanya-tanya bagaimana karier politik Airin selanjutnya. Ketika nama Airin masuk dalam daftar pengganti Anies Baswedan untuk memimpin DKI Jakarta, tentu ini dapat menjadi kesempatan Airin untuk melanjutkan karier politiknya. 

Menjadi penjabat kepala daerah DKI Jakarta merupakan peningkatan bagi karier politik Airin. Pasalnya, Airin perlu next step untuk memimpin wilayah yang lebih tinggi, yaitu di tingkat provinsi. Apalagi, DKI Jakarta dapat menjadi panggung gemerlap bagi karier politik Airin untuk terus mencapai level tertinggi. 

Sebagai contoh, Joko Widodo yang hanya dua tahun memimpin DKI Jakarta tetapi bisa mendapatkan spotlight sehingga berhasil menjadi Presiden Republik Indonesia di tahun 2014. Langkah ini mungkin saja diikuti oleh Gubernur DKI Jakarta saat ini, Anies Baswedan, yang juga mendapatkan spotlight tersebut hingga masuk ke dalam bursa calon presiden di tahun 2024 mendatang. 

Baca juga :  Menyoal Pemalsuan Tanda Tangan JK

Jika pada akhirnya Airin gagal menjadi penjabat kepala daerah DKI Jakarta, mencalonkan diri di Pilkada DKI Jakarta tahun 2024 dirasa cukup rasional. Bahkan, Ketua Teritorial Pemenangan Pemilu Partai Nasdem Wilayah Jawa 1, Effendi Choirie, mengatakan bahwa Partai Nasdem akan berkomunikasi dengan Partai Golkar untuk mewujudkan duet Ahmad Sahroni dengan Airin. 

- Advertisement -

Selain DKI Jakarta, Airin juga dirasa bisa mencalonkan diri untuk menjadi calon Gubernur Banten di Pilkada tahun 2024. Namun, hal ini dirasa cukup menantang mengingat Airin akan berhadapan dengan Wahidin Halim yang menjabat sebagai Gubernur Banten saat ini dan disinyalir akan kembali maju untuk periode kedua.  Selain itu, Airin juga dirasa sulit untuk mendapatkan hati partai Golkar. Sebab, sampai saat ini Golkar lebih condong kepada kadernya yang lain, yaitu Andika Hazrumi, Wakil Gubernur Banten. 

Walaupun demikian, menjadi kepala daerah bukanlah jalan satu-satu bagi karier politik Airin. Mempersiapkan diri untuk maju di pemilu tahun 2024 sebagai calon anggota legislatif (caleg) juga dapat menjadi opsi realistis. Airin dapat maju di dapil Banten III yang meliputi Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang. Jika maju menjadi caleg, kans Airin untuk menang dirasa cukup tinggi mengingat Ia pernah menjabat sebagai Walikota Tangerang Selatan selama 10 tahun. 

Selain itu, berkarir di tingkat nasional juga bisa dilakukan Airin dengan menjadi Menteri. Namun, terdapat faktor eksternal yang mempengaruhi, seperti apakah calon presiden yang didukung oleh Partai Golkar memenangkan pemilu. Selain itu, Airin yang saat ini juga berada di struktur Dewan Perwakilan Pusat (DPP) Partai Golkar sebagai Ketua Bidang Perempuan, perlu untuk mendekatkan diri dengan Ketua Umum Partai Golkar agar dipercaya untuk mengemban posisi tersebut. 

Melihat keberhasilan Airin sebagai kepala daerah Tangerang Selatan, serta posisinya sebagai Ketua Bidang Perempuan di DPP Partai Golkar dan Ketua organisasi sayap Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG), sudah semestinya Airin melanjutkan karier politiknya. Menarik untuk menantikan langkah apa yang akan dilakukan Airin selanjutnya.  


Profil Ruang Publik - Ahmad Hidayah

Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.


Banner Ruang Publik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Jendela Politik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_img

#Trending Article

Menyoal Bias Privat dan Publik

Dengan perkembangan teknologi, konsekuensi sosial dan politik turut mengikuti. Apakah batas antara kehidupan privat dan publik masih eksis?

Mengenal Airlangga Hartarto Ketika Muda

Airlangga Hartarto yang menjabat sebagai Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian kini disebut-sebut banyak pihak berpotensi untuk maju sebagai calon presiden (capres) pada Pemilihan Presiden...

Demokrasi Indonesia Pasca-SBY (Bagian I)

Setiap bentuk kekuasaan harus bisa diawasi dan dikritik. Itu sebabnya demokrasi mengenal trias politica. Sayangnya, fungsi check and balances terhadap kekuasaan pemerintah saat ini tengah mendapat sorotan....

Stafsus Milenial dalam Pusaran Kekuasaan

Di tengah pandemi virus Corona (Covid-19), staf khusus presiden yang tergolong milenial menjadi sorotan. Mereka dianggap berada dalam pusaran kekuasaan dengan memiliki benturan kepentingan. PinterPolitik.com Berbicara...

Corona dan Absennya Negara untuk Perempuan

Di tengah pandemi virus Corona (Covid-19), pemerintah Indonesia tampaknya belum berbuat banyak untuk isu perempuan dan kesetaraan gender walaupun kerangka dan landasan aturan formal...

TikTok: Antara Eufroia (Senang) dan Injuria (Duka)

Masyarakat – khususnya kelompok muda – kini tengah berada dalam euforia (senang) dalam dunia TikTok. Namun, bisa jadi, media sosial ini juga memunculkan injuria...

“Demokrasi Kosong” dan Runtuhnya Civil Society

Di tengah-tengah cengkeraman kekuatan oligarki, “demokrasi kosong” terlihat semakin kentara eksis di Indonesia. Kekosongan ini bisa jadi disebabkan oleh runtuhnya pilar civil society yang...

Menyoal TNI-Polri di BUMN

Menteri BUMN Erick Thohir mungkin mempunyai beberapa alasan dalam menempatkan sejumlah TNI dan Polri di beberapa BUMN. Namun, bagaimanakah artinya bagi demokrasi Indonesia? PinterPolitik.com “Collective will...

More Stories

Menyoal Bias Privat dan Publik

Dengan perkembangan teknologi, konsekuensi sosial dan politik turut mengikuti. Apakah batas antara kehidupan privat dan publik masih eksis?

Keluarga Medici, The Godfather of Renaissance?

Banyak cerita soal keluarga Medici, bangsawan Italia yang hidup sejak abad ke-13. Selain dikenal sebagai penguasa Italia, keluarga Medici ternyata memiliki pengaruh besar pada...

Jika Indonesia-Malaysia Jadi Satu Negara

Sejak era Presiden Soekarno, Indonesia dan Malaysia beberapa kali terlibat ketegangan. Lantas, apa jadinya jika dua negara rumpun melayu ini menjadi satu negara? PinterPolitik.com Ganyang Malaysia....