HomeProfilHarapan di Tanganmu, Jenderal Doni

Harapan di Tanganmu, Jenderal Doni

Kecil Besar

Nama Doni Monardo jadi pusat pemberitaan beberapa waktu terakhir. Sebagai Ketua BNPB, tanggung jawab penanganan kasus Covid-19 kini ada di pundaknya. Dalam gerilya kesehatan melawan virus berbahaya, ia seperti Jenderal Besar Sudirman yang harus memastikan musuh – dalam hal ini virus corona – tidak dapat berbuat banyak dalam “Perang Besar Kesehatan Abad ke-21” ini.


PinterPolitik.com

Mayoritas publik mungkin tak banyak yang tahu bahwa Letnan Jenderal TNI Doni Monardo adalah Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat ini. Bukan tanpa alasan, sebelum Kepala Pusat Data dan Informasi (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia 7 Juli 2019 lalu, lembaga tersebut sangat identik dengan Pak Topo – demikian panggilan akrabnya. Jabatan Kepala BNPB seolah tertutupi oleh pamor Sutopo.

Segala macam bencana pasti akan dijawab dan dijelaskan oleh Sutopo di setiap konferensi pers yang digelar. Gempa Lombok, Tsunami Palu, dan bencana-bencana lainnya akan selalu di-update informasinya oleh Sutopo.

Tak heran, ketika Doni Monardo diangkat oleh Presiden Jokowi sebagai Kepala BNPB pada Januari 2019, tak banyak riuh antusiasme yang muncul. Semuanya kalah dengan ikhtiar Sutopo bertemu penyanyi kondang Raisa, atau kegigihan bawahan Doni itu melawan kanker sembari tetap melaksanakan tugas-tugasnya di BNPB.

Namun, kini setelah tak ada lagi Sutopo, Doni harus tampil ke depan dan menegaskan posisinya sebagai orang nomor satu di BNPB. Latar belakangnya sebagai jenderal bintang tiga dari baret merah alias Kopassus memang bukan hal yang bisa dipandang sebelah mata.

Doni memang pernah menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus – salah satu kesatuan elite di TNI yang punya sejarah panjang dan nama besar. Jabatan itu membuatnya sejajar dengan nama-nama besar jenderal baret merah macam Sarwo Edhie Wibowo, Wismoyo Arismunandar, Agum Gumelar, hingga Prabowo Subianto.

Lahir di Cimahi, Jawa Barat pada 10 Mei 1963, Doni Monardo menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Padang, Sumatra Barat pada tahun 1981. Setelah lulus, ia lantas melanjutkan pendidikan di Akademi Militer (Akmil) pada tahun 1985.

Ia kembali melanjutkan pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD) pada tahun 1999, sebelum kemudian melanjutkan pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) pada tahun 2012 lalu.

Doni dikenal sebagai salah satu perwira TNI AD dengan karir cemerlang. Ia langsung bergabung dengan Kopassus begitu lulus. Ia sempat bertugas di wilayah konflik Timor Timur dan Aceh, sebelum akhirnya bergabung dengan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Pada tahun 2008, Doni dipromosikan menjadi Komandan Grup A Paspampres ketika Marciano Norman menjabat sebagai Komandan Paspampres. Setelah itu, ia menempati posisi teritorial sebagai Danrem 061/Surya Kencana antara tahun 2010 sampai 2011.

Publik mungkin tak banyak yang tahu bahwa Doni Monardo juga menjadi wakil komandan satuan tugas antiteror pembebasan MV Sinar Kudus yang dibajak pemberontak Somalia. Ya, aksi penyanderaan itu merupakan salah satu kisah yang menghiasi pemberitaan di tahun 2011.

Ia lalu dipromosikan sebagai Wakil Komandan Kopassus dan meraih bintang satu di pundaknya. Karir Doni Monardo makin melejit, dia diangkat menjadi Komandan Paspampres tahun 2012-2014 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Doni kemudian kembali ke korps baret merah dan menjadi Danjen Kopassus pada 2014. Saat memimpin Kopassus, ia disebut membuat tentaranya menjadi lebih ramah pada masyarakat, misalnya dengan mewajibkan prajurit Kopassus untuk “Senyum, Sapa, Salam” jika berhadapan dengan rakyat.

Setahun memimpin Kopassus, Doni Monardo digeser menjadi Panglima Kodam (Pangdam) XVI Pattimura di Ambon antara tahun 2015 sampai 2017, kemudian Pangdam III Siliwangi di Jawa Barat tahun 2017-2018.

Ia kemudian mendapatkan bintang tiga di pundaknya saat diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Sesjen Wantamnas) – lembaga yang langsung berada di bawah kendali presiden – sebelum kemudian menjabat sebagai Kepala BNPB.

Kini, tantangan terbesar Doni tengah menghadang: Covid-19. Bencana kesehatan ini mungkin bukan perang lapangan, katakanlah seperti di Timor Timur dan Aceh. Namun, Doni sudah lebih dari cukup untuk tahu betapa mencekamnya kondisi yang ditimbulkan oleh virus berbahaya tersebut.

Sang jenderal yang dikenal jago bela diri dan menembak ini harus berhadapan dengan musuh dalam level yang berbeda – kekacauan biologis.

Doni memang hebat. Di usianya yang kala itu menginjak kepala lima saat menjabat sebagai Pangdam Pattimura, ia masih menjadi juara Aquathlon di Salahutu setelah berlari lima kilometer disambung berenang dua kilometer.

Kini masyarakat berharap padamu, Jenderal! SMS dari BNPB tiap hari yang minta masyarakat untuk menjauhi kerumunan dan memakai masker jika sakit misalnya, sudah cukup membuat masyarakat merasakan kehadiran negara dalam bentuk yang paling minimal.

Semoga Pak Doni sehat selalu dan bisa memimpin “Operasi Pembebasan Indonesia dari Covid-19” dengan hasil yang maksimal. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa? 

Bongkar Deep State Dapur MBG?

Kepala BGN yang baru, Nanik Sudaryati Deyang krianya mewarisi lebih dari sekadar jabatan, mulai dari ekosistem kepentingan yang telah mengakar hingga probabilitas deep state di balik dapur MBG. Mengapa demikian?

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Jika Ahok jadi Ketua KPK

Andai jika orang yang suka bicara dengan tajam dan blak-blakan diminta untuk menjadi ketua KPK. Apa yang sebenarnya akan berubah, dan apa yang justru tidak bisa berubah sama sekali?

More Stories

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.

Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Pertemuan Megawati dan Sultan Hamengku Buwono X beberapa hari lalu terlihat seperti silaturahmi biasa — kangen-kangenan setelah lama tak berjumpa. Namun di balik hangatnya obrolan itu, banyak pihak membaca makna lebih dalam: Sultan sekali lagi berdiri di persimpangan politik Indonesia, menjadi titik temu yang tak bisa diabaikan.

Prabowo’s Coffee Theory

Di Rapat Paripurna DPR/MPR, 20 Mei 2026, Prabowo spontan berkelakar mencari kopi saat berpidato – sebuah bahasa politik yang menarik bagi banyak pihak. Bagi seorang presiden, momen itu bukan sekadar kantuk. Itu adalah sinyal politik: bahwa kekuasaan pun butuh jeda, dan kenyamanan tak harus mewah. Kopi adalah simpul sejarah, politik dan kekuasaan Indonesia.