HomeNalar PolitikYang Terjadi Jika Uni Soviet Masih Ada 

Yang Terjadi Jika Uni Soviet Masih Ada 

Kecil Besar

Bagi sebagian orang, keruntuhan Uni Soviet adalah kehilangan yang sangat besar. Lantas, akan seperti apa Uni Soviet jika mereka mampu bertahan hingga hari ini? 


PinterPolitik.com 

Entah mengapa, dunia kita seakan tidak bisa move on dari masa kejayaan Uni Soviet. Video game bertajuk Atomic Heart yang begitu populer pada awal tahun 2023 mungkin bisa menjadi contoh bagaimana begitu banyak orang di dunia sebetulnya memiliki semacam rasa “kangen” terhadap negara adidaya yang sudah tidak ada tersebut.  

Salah satu alasan yang membuat begitu banyak tertarik kepada Atomic Heart adalah karena game tersebut memiliki plot cerita yang membayangkan bagaiamana keadaan dunia bila Uni Soviet tidak pernah runtuh. Namun, semenarik apapun cerita Atomic Heart, kita semua sadar bahwa itu hanyalah karya fiksi belaka. 

Yap, pada tahun 1991, Uni Soviet mengalami keruntuhan yang menandai akhir dari salah satu kekuatan geopolitik terbesar dalam sejarah dunia. Jika Uni Soviet masih ada hingga saat ini, mungkin dunia internasional akan terlihat sangat berbeda. Isu-isu seperti Perang Dingin dan perpecahan Eropa Timur kemungkinan besar akan terus berlangsung, mempengaruhi perkembangan ekonomi, budaya, dan politik di seluruh dunia. 

Namun, pertanyaan yang lebih mendalam muncul: Bagaimana Uni Soviet akan beradaptasi dengan perubahan dunia modern, terutama dalam era teknologi informasi dan globalisasi? Bagaimana sistem politiknya akan berevolusi, dan apa dampaknya pada hak asasi manusia dan kebebasan individu? 

Lantas, secara realistis, kira-kira apa yang akan terjadi jika Uni Soviet masih ada sampai sekarang? 

image 15

Membayangkan Sang Red Giant 

Apabila kita membayangkan Uni Soviet bertahan hingga saat ini, beberapa aspek kunci muncul sebagai poin-poin argumen yang menarik dan perlu diperhatikan. Inilah beberapa hal yang dapat kita pertimbangkan: 

Pertama, wilayah terluas. Uni Soviet akan menjadi negara paling besar di dunia, yakni seluas 22,402,200 kilometer persegi. Angka ini hanya sedikit lebih kecil dari seluruh wilayah Amerika Utara, yakni 24,709,000 kilometer persegi. Ini tentunya memiliki implikasi geopolitik yang signifikan, terutama dalam hal sumber daya alam, seperti energi, pertanian, dan hutan. Kontrol atas wilayah ini dapat memberikan keunggulan strategis dan ekonomi yang luar biasa bagi Uni Soviet. 

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Kedua, produsen energi terbesar. Selain memiliki wilayah luas, Uni Soviet juga memiliki cadangan minyak yang sangat besar, produksi minyak mereka bahkan pernah tercatat melebihi AS dan Arab Saudi. Kehadiran mereka di pasar minyak global akan mempengaruhi harga dan pasokan minyak dunia. Hal ini bisa membuat mereka memiliki kekuatan ekonomi dan geopolitik yang luar biasa. 

Ketiga, kekuatan nuklir terbesar. Uni Soviet, pada masa kejayaannya, memiliki arsenal nuklir terbesar di dunia, mencapai 40.000 hulu ledak nuklir, jauh lebih banyak dari AS yang memiliki 30.000 hulu ledak nuklir ketika masa Perang Dingin dulu. Jika masih ada, kehadiran nuklir yang kuat ini akan menjadi faktor penentu dalam politik dunia dan menjadikan Uni Soviet sebagai pemain kunci dalam perundingan internasional dan perlucutan senjata nuklir. 

Keempat, dan ini mungkin yang paling menarik, yakni teknologi otoritarian akan lebih fantastis. Uni Soviet terkenal karena pengawasan ketat pemerintah terhadap masyarakatnya. Mereka juga adalah negara yang sangat berdedikasi dalam ilmu pengetahuan dan sains. Karena itu, jika Soviet masih berdiri, mungkin saja mereka akan berhasil menciptakan teknologi pengawasan maha canggih seperti “Kollektiv”, yang bisa memantau pikiran manusia, seperti yang dibayangkan dalam video game Atomic Heart.

Hal semacam ini tidak terlalu imajinatif untuk diasumsikan karena ketika masa pandemi Covid kemarin saja Tiongkok berhasil menginovasikan teknologi-teknologi pengawasan yang begitu canggih. Jika benar demikian, well, sudah bisa dipastikan itu akan memunculkan pertanyaan tentang privasi, kebebasan individu, dan etika dalam penggunaan teknologi untuk tujuan pengawasan. 

Namun, meskipun menarik untuk membayangkan kehebatan Uni Soviet bila mereka masih ada, terdapat beberapa aspek menarik lain yang perlu kita renungkan. 

image 16

The Limping Giant? 

Terdapat dua aspek penting yang harus diperhatikan dalam konteks ini. 

Aspek pertama adalah stabilitas ekonomi. Meskipun Uni Soviet dapat memiliki wilayah yang luas dan sumber daya alam yang melimpah, tantangan utamanya adalah bagaimana mereka mengelola ekonomi mereka. Sejarah menunjukkan bahwa sistem ekonomi mereka memiliki kelemahan yang serius, terutama dalam hal pertumbuhan dan efisiensi. 

Baca juga :  Nadiem dan Senjata Karet UU Tipikor?

Sebagai catatan menarik, menurut perhitungan dari Foreign Affairs, populasi Uni Soviet jika masih berdiri pada tahun 2021 hanya berjumlah 294 juta orang, yang hanya bertambah satu juta sejak tahun 1991. Hal ini tentu dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat di sana. 

Aspek kedua, yang memiliki dampak global yang signifikan, adalah polarisasi politik. Periode Perang Dingin adalah saat ketegangan besar antara negara-negara di seluruh dunia. Bila Uni Soviet masih ada, kita bisa mengharapkan bahwa jumlah konflik proksi besar akan meningkat secara signifikan dan mungkin menjadi lebih berbahaya. 

Dengan skenario ini dan dengan asumsi bahwa Uni Soviet akan memiliki kekuatan geopolitik yang signifikan jika bertahan hingga sekarang, kemungkinan besar akan ada skenario yang mengikuti teori Thucydides Trap

Thucydides Trap, yang dipopulerkan oleh Graham T. Allison, menggambarkan perseteruan antara dua kekuatan besar yang jarang terselesaikan secara damai. Dengan keseimbangan kekuatan, masing-masing negara cenderung mencari keunggulan. Perselisihan semacam itu, menurut Allison, biasanya hanya bisa diselesaikan melalui “benturan keras”, yang umumnya berupa peperangan. 

Oleh karena itu, kita mungkin bisa membayangkan bahwa kehidupan kita sebagai warga Indonesia, jika Uni Soviet masih ada, mungkin tidak akan seaman yang kita nikmati hari ini. Setiap hari, dunia, termasuk Indonesia, akan selalu dihantui oleh ancaman perang besar, bahkan perang nuklir, yang peluang terjadinya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan realitas yang kita alami sekarang. 

Namun, perlu diingat bahwa semua pandangan ini hanyalah asumsi. Uni Soviet tidak akan bangkit kembali, dan kita harus fokus pada masa kini dan masa depan yang lebih terkini. Seiring berjalannya waktu, semua mata tertuju pada Tiongkok, yang mungkin mengikuti jejak Uni Soviet. Kita hanya bisa menunggu dan melihat apakah asumsi semacam itu akan terwujud di masa depan. (D74) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan “ijazah birokrat” otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing