HomeNalar PolitikTito Berpeluang di Pilpres 2024?

Tito Berpeluang di Pilpres 2024?

Kecil Besar

Keberhasilan Polisi menangani kerusuhan di demo 22 Mei menaikkan nama Tito Karnavian sang Kapolri. Namanya masuk di radar Pilpres 2024, akankah Tito berhasil membidik kursi Presiden?


PinterPolitik.com

Demo Pilpres 2019 di depan Bawaslu berbuntut kericuhan, polisi bertindak sigap, dan berhasil memadamkan kericuhan semenjak tengah malam di pagi hari, dari keriuhan menjadi kericuhan. Perkantoran yang sebelumnya ditutup bisa beroperasi kembali di sekitar lokasi meski belum maksimal, jalanan bersih kembali.

Polisi mendulang apresiasi dari masyarakat yang mampu menangani ini semua dengan baik, Kapolri Tito Karnavian adalah sosok yang paling mendapatkan sorot tersebut. Tito cukup cerdik dalam bermain strategi, sehingga ricuh demo pasca pemilu bisa dihadapi dengan mulus, semenjak seruan โ€˜people powerโ€™ begitu menggema dan kericuhan itu menjadi nyata. Pujian semacam ini dilakukan misalnya oleh situs berita asal Hong Kong, South China Morning Post.

Langkah-langkah mula sudah dilakukan Tito dengan melarang pasukan menggunakan peluru tajam, dan hanya peluru karet saja. Taktik ini digunakan agar polisi tidak menjadi sasaran amuk dari masyarakat. Keputusan ini adalah langkah mitigasi jika terjadi apa-apa, agar selaras dengan upaya penegakan HAM pasca reformasi.

Intelijen di belakang Tito mempersembahkan data yang valid sehingga Kapolri bisa membuat keputusan tepat, sebab diduga kuat akan ada permainan martir, skenario di mana beberapa warga sipil akan ditembak, dan benar 8 orang korban demo dikabarkan meninggal dengan luka tembak.

Keunggulan Tito terletak pada pemahaman dia soal strategi, sang jagoan lapangan, sehingga mampu mengkoordinasikan pos-pos yang ada. Koordinasi ini yang menjadikan dia unggul dibandingkan dengan demo by design tersebut.

Di Kamis pagi kondisi sudah terkendali, 200 orang luka-luka. Polisi mengatakan korban meninggal tidak disebabkan oleh aparat. Segala tindakan aparat sudah proporsional menangani kerusuhan. Tantangan pihak aparat saat itu adalah tetap bisa memberikan ruang gerak bagi massa demo yang murni mengemukakan pendapatnya, di sisi lain mencegah kericuhan bertambah.

Jika ruang berdemo sipil ditekan, dipastikan akan menjadi bumerang bagi pihak berwajib sendiri, dengan demikian tidak akan menuai simpati dari massa demo. Bahkan kabarnya polisi bekerja sama dengan FPI untuk menghalau datangnya beberapa rombongan provokator.

Baca juga :  Habibie: Varian 'Dinasti Teknokrat'?

Negosisasi nampak ditekankan sebagai ujung tombak kerja polisi malam itu, berkali-kali massa dijajaki agar suasana tetap sejuk, polisi berhasil kendalikan amarah massa sehingga aparat tidak bertindak brutal seperti yang dibayangkan. Sebab bisa saja massa yang awalnya berdemo secara tulus berubah brutal dan tersulut oleh provokator sebab penangan yang tidak tepat.

Kebakaran dan kericuhan akhirnya tidak melebar, hanya di 3 titik berdekatan saja, yaitu Petamburan, Slipi dan Tanah Abang. Ritel-ritel yang ada di sekitar juga aman, hanya ada satu toko kelontong yang dijarah oleh para peserta demo yang disinyalir bayaran.

Media sosial pun ramai dengan beragam potret yang memuji langkah-langkah kepolisian. Secara tidak langsung, potret-potret itu ikut melambungkan nama Tito sebagai orang nomor satu di korps tersebut.

Reputasi Tito Karnavian

Banyak pengamat menganggap  Tito memang adalah orang yang memiliki kualitas dan kompetensi menjadi Kapolri.

Tito menjadi Kepala Polisi Republik Indonesia termuda sepanjang sejarah, di umur 54 di 2016 lalu. Berdasarkan urutan angkatan, dia melompati 4 jenjang senior di atasnya yang seharusnya menjadi Kapolri, sekarang adalah jatah angkatan Budi Gunawan, lulusan 1983. Sementara Tito sendiri adalah lulusan Akpol angkatan 1987.

Tito juga adalah mantan Kepala Densus 88. Kasus besar pernah dia tangani, mulai dari Jemaah Islamiah, juga Bom Bali II di 2002 dan jejaringnya dengan Al-Qaeda. Tito dan timnya berhasil membekuk Dr Azhari saat itu. Lebih lagi, Tito mampu membongkar jaringan teroris Nurdin M. Top yang menjadikannya Kepala Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri.

Setelah itu, di umur 47 Tito diangkat menjadi Kapolda Papua. Di 2015, dia diangkat menjadi Kapolda Metro Jaya, episentrum Indonesia sebab ada di ibu kota. Kasus bom Sarinah di 2016 juga ditangani ketika dia menjabat. Peristiwa tersebut berhasil dilumpuhkan dalam tempo 5 jam saja. Kasus kopi sianida Mirna juga ditangani di masa dirinya menjabat.

Selain itu, penanganan teror di beberapa gereja Surabaya dengan langsung menemukan talian dan profil sang pengantin dalam beberapa jam saja juga diapresiasi banyak pihak.

Keberhasilan Tito yang juga tak kalah hebat adalah mampu menangkap Tommy Soeharto yang kabur sebelum dijebloskan ke penjara di 2001. Investigasi sebelumnya tidak membuahkan hasil, sampai kemudian Tito datang. Kasus buron Bulog, Soewondo juga ditangkap oleh Tito dan timnya.

Baca juga :  Reinkarnasi Ahmad Sahroni?

Dari segi akademis, ia adalah Lulusan terbaik di akademi kepolisian 1987, penerima bintang Adho Makayasa. Selain itu, Tito mendapatkan beasiswa bergengsi dari Inggris, yaitu Chevening dan mampu menggondol gelar master dari Universitas Exeter di Police Studies.

Tito kemudian melanjutkan ke Nanyang Technological University di Singapura dengan spesifikasi pada Ilmu Strategi. Dia juga adalah profesor dan guru besar studi strategis kajian kontra terorisme oleh Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2017.

Jembatan ke 2024

Tito memang bukan orang main-main, reputasinya dan naiknya namanya akhir-akhir ini menjadi satu pertanda penting pada etape kehidupannya, momen ini bisa digunakan Tito untuk maju di 2024 nanti. Terlebih memang sudah berembus kabar bahwa Tito akan dijagokan oleh parpol tertentu.

Keamanan adalah faktor penting dalam bernegera, dia bersifat elementer. Masyarakat bersepakat berkelompok, dan membuat negara adalah demi mendapatkan rasa aman.

Dalam konsepsi teoritisnya, berserikat demi mendapatkan rasa aman ini digambarkan oleh filsuf kawakan di bidang politik, Thomas Hobbes. Di mana Hobbes menggambarkan sosok Leviathan yang mengambil seluruh senjata yang dimiliki oleh masyarakat demi tidak terjadinya kekerasan. Sehingga mereka yang bisa memberikan rasa aman adalah mereka yang biasanya dijadikan sebagai pemimpin.

Kebutuhan akan rasa aman ini yang mampu ditunjukkan secara heroik oleh Tito Karnavian. Sikap heroik ini dapat menjadi salah satu yang penting di dalam penting, sebagaimana diungkapkan oleh Amy Fried di dalam Is Political Action Heroic?: Heroism and American Political Culture.

Fried menggambarkan bagaimana tindakan heroik ini bisa dimanfaatkan orang untuk meningkatkan popularitas, memberikan pengaruh, memenangkan suatu pemilihan, atau mendorong serangkaian nilai dan juga kebijakan. Merujuk pada kondisi ini, tindakan heroik Tito membuat ia punya modal khusus jika benar-benar melaju di Pilpres 2024.

Meski memiliki modal cukup baik dari penangangan peristiwa 22 Mei, sebenarnya saat ini Tito tetap punya PR yang harus dijawab. Perkara korban-korban tewas yang jatuh di peristiwa tersebut merupakan hal yang bisa menjadi salah satu ganjalan dalam kariernya. Selain itu, kabar tentang perusakan ambulans di lokasi kerusuhan juga menjadi hal lain yang perlu dijelaskan agar tak mencemarkan namanya.

Jika ia bisa menjelaskan dan melewati perkara-perkara tersebut dengan mulus, maka tindakan heroiknya di 22 Mei tidak akan terdistorsi. Dengan begitu, ia punya kans cukup besar pada Pilpres 2024. Pertanyaan berikutnya, adalah mungkinkah Tito akan melaju di gelaran tersebut? (N45)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

More Stories

Politik Kebahagiaan Sandiaga Uno

Sandiaga Uno kerap menampilkan aktivitas politik yang menyenangkan, penuh dengan canda tawa, penuh dengan energi positif. Sandiaga membangun narasi politik kebahagiaan dalam dirinya. PinterPolitik.com Sedari...

Demo 22 Mei, Proyek Demokrasi Bayaran?

Demo 22 Mei di Bawaslu berakhir ricuh, banyak yang menduga disusupi provokator. Polisi menangkap 257 tersangka dengan barang bukti uang, batu, bom Molotov, serta...

Jokowi dan Fenomena Outsider Politik

Kemenangan Jokowi di Pemilu 2019 menjadi etape baru dalam politik Indonesia. Politisi yang hadir bukan dari elite politik. Fenomena kemunculan Jokowi juga berlangsung di...