Audio ini dibuat dengan teknologi AI.
Ketika batu bara mulai ditinggalkan, pasir silika justru naik daun jadi primadona baru ekspor India. Siapakan yang akan jadi aktor penting babak industri pertambangan berikutnya?
Peta kekuatan energi Indonesia tengah mengalami pergeseran penting. Seiring merosotnya ekspor batu bara ke Tiongkok—pasar ekspor terbesar kedua Indonesia—satu komoditas lain justru menunjukkan potensi strategis luar biasa: pasir silika.
Sejak 2020, Indonesia mulai mengekspor silika ke Tiongkok dan langsung menunjukkan pertumbuhan tajam. Pada 2021, volume ekspor mencapai 1,19 juta ton, dan data terbaru pada 2025 mencatat angka sekitar 1 juta ton, hanya dari satu wilayah: Natuna. Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas besar untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global komoditas ini.
Kebutuhan Tiongkok terhadap pasir silika melonjak seiring ekspansi industri semikonduktor, panel surya, dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Bank Dunia bahkan menyebut Tiongkok sebagai pengimpor pasir silika terbesar di dunia pada 2023, sementara Indonesia dan Australia menjadi dua eksportir utama. Permintaan silika di negeri tirai bambu itu diproyeksikan tumbuh 20% setiap tahunnya—sebuah angka yang menggambarkan posisi vital komoditas ini di masa depan.
Cadangan Indonesia pun sangat besar. Data Kementerian ESDM menyebut bahwa Indonesia menyimpan potensi cadangan pasir silika hingga 25 miliar ton, menjadikan komoditas ini bukan sekadar substitusi, tetapi peluang baru dalam membangun kekuatan ekonomi nasional. Yang lebih penting lagi, sekitar 90-100% ekspor pasir silika Indonesia hanya dikirim ke Tiongkok—menciptakan ketergantungan yang sebanding dengan relasi batu bara pada masa lalu.

Industri Baru, Tokoh Baru?
Lonjakan minat terhadap pasir silika tidak hanya berdampak pada ekspor dan neraca dagang, tetapi juga berpotensi mengguncang konfigurasi kekuasaan ekonomi Indonesia. Di sinilah muncul dua nama besar: Prajogo Pangestu dan Garibaldi Thohir. Keduanya mewakili dua spektrum berbeda dalam lanskap bisnis tambang: Pangestu sebagai pionir yang inisiatif masuk ke silika, sementara Thohir sebagai tokoh lama yang masih erat dengan batu bara.
Prajogo melalui PT Prima Mineral Investindo, tercatat mengakuisisi 85% saham PT Silika Salut Jaya pada 2023, sebuah langkah strategis untuk mengamankan pengaruh di komoditas baru ini. Namun, nama-nama besar lain dalam industri energi seperti Garibaldi Thohir (Boy Thohir), yang selama ini mendominasi sektor batu bara lewat PT Alamtri Resources Indonesia, belum terdeteksi memperluas lini bisnisnya ke sektor silika.
Dari sudut pandang teori elite politik Pareto, ini merupakan bentuk nyata dari sirkulasi ekonomi: ketika sumber daya strategis berganti, pengusaha yang tidak beradaptasi berpotensi tergeser oleh mereka yang lebih lentur dan visioner. Pangestu bisa dilihat sebagai pengusaha yang “comeback” dalam sektor energi, bukan karena ia baru dalam bisnis, tetapi karena ia mengambil posisi dominan dalam komoditas baru.
Secara teoritis, fenomena ini juga bisa dibaca melalui kerangka hegemoni Gramsci. Pangestu tidak hanya mengambil start dalam sumber daya fisik (pasir silika), tapi juga mencoba jadi yang pertama dalam narasi masa depan—tentang energi bersih, ekonomi berkelanjutan, dan transformasi industri. Jika ia berhasil, maka hegemon batu bara seperti Thohir bisa kehilangan bukan hanya komoditas, tetapi juga pengaruh ekonomi-politiknya.
Tak kalah penting, konteks pasar Tiongkok perlu digarisbawahi. Negara itu kini menjadi pemicu utama transformasi ini. Permintaan masif terhadap pasir silika dari Tiongkok menunjukkan bahwa negara dengan kendali permintaan global bisa menentukan arah koalisi ekonomi di negara-negara penghasil. Artinya, siapa yang bisa memasok kebutuhan Tiongkok, dia yang akan menjadi pemenang berikutnya—dan itu bukan lagi batu bara.
Di sinilah potensi gesekan kepentingan bisa terjadi. Pemain besar yang selama ini nyaman dengan status quo batu bara, bisa merasa terancam dengan masuknya pemain baru ke sektor silika. Konflik ini bisa menjelma menjadi perebutan konsesi tambang, izin ekspor, hingga penetrasi ke kebijakan energi nasional. Kondisi ini membuka ruang terjadinya perebutan pengaruh oleh dua poros: kelompok batu bara dan kelompok silika.

Bagaimanapun, Kesempatan Emas?
Di tengah perubahan arah ekonomi global, lonjakan permintaan pasir silika—khususnya dari Tiongkok—sejatinya menandai babak baru dalam dinamika geopolitik sumber daya. Terlepas dari siapa yang kelak mendominasi industri silika di Indonesia—baik pemain lama seperti Prajogo Pangestu maupun tokoh besar energi lain—yang jauh lebih penting adalah bagaimana negara ini mampu membaca arah angin dan meresponsnya secara strategis.
Pasir silika bukan sekadar komoditas biasa. Ia menjadi bahan baku vital bagi berbagai sektor masa depan: semikonduktor, panel surya, hingga kecerdasan buatan. Di era di mana kompetisi global semakin ditentukan oleh penguasaan teknologi dan sumber daya pendukungnya, posisi Indonesia sebagai salah satu pemilik cadangan silika terbesar dunia adalah aset strategis yang tak boleh disia-siakan.
Dengan ekspor silika yang kini hampir sepenuhnya terserap oleh Tiongkok, dan potensi pasokan domestik yang sangat besar, Indonesia berada pada titik krusial untuk mendefinisikan ulang perannya dalam rantai pasok global. Permintaan yang diprediksi tumbuh 20% per tahun di Tiongkok saja sudah cukup jadi alarm bagi pembuat kebijakan—bahwa infrastruktur industri, regulasi ekspor, dan pengelolaan nilai tambah perlu dipersiapkan sejak sekarang.
Persaingan antar pengusaha industri boleh saja berlangsung di balik layar. Namun negara tak boleh hanya menjadi penonton. Justru momentum inilah yang seharusnya digunakan untuk menyusun kebijakan strategis demi menjadikan Indonesia bukan hanya eksportir bahan mentah, tetapi juga aktor penting dalam rantai produksi global, tentunya dengan tetap mengupayakan hilirisasi pasir silika itu sendiri.
Pasir silika adalah peluang, bukan hanya komoditas. Ia bisa jadi batu loncatan bagi Indonesia untuk melangkah dari era ketergantungan ekspor batu bara menuju babak baru: sebagai penentu peta industri teknologi dan energi masa depan dunia. (D74)


