HomeNalar PolitikSatu-satunya Jalan Agar Prabowo Menang?

Satu-satunya Jalan Agar Prabowo Menang?

Kecil Besar

Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyebutkan bahwa Prabowo Subianto bisa menang dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 bila lolos ke putaran kedua. Mungkinkah ini sudah menjadi strategi Prabowo dalam jangka panjang?


PinterPolitik.com

“Let the monsters kill each other. We will deal with whatever is left” – Cersei Lannister, Game of Thrones (2011-2019)

Zhao Yun, Guan Yu, Zhou Yu, Zhuge Liang, Cao Cao, dan Xu Zhu mungkin adalah nama-nama yang tidak asing bagi mereka yang tumbuh di tahun 2000-an. Nama-nama itu adalah karakter-karakter yang bisa dimainkan dalam game serial dengan judul Dynasty Warriors dari Koei Tecmo.

Alur cerita yang dimainkan pun bisa dibilang menarik karena setiap karakter yang dimainkan juga memiliki peran masing-masing dalam storyline – seakan-akan mempelajari langsung kisah sejarah Tiongkok pada tahun 220-280 M.

Pada era itu, Tiongkok secara garis besar terbagi menjadi tiga negara, yakni Shu, Wu, dan Wei. Ketiganya ini saling berperang untuk memperebutkan wilayah, sumber daya, hingga pengaruh di daratan Tiongkok.

Hmm, mungkin, perang antara tiga pihak ini juga terjadi di masa kini, yakni Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 di Indonesia. Meskipun tidak sama persis, Kisah Tiga Negara ala Tiongkok ini juga terjadi antara tiga pihak.

Dalam Pilpres 2024, persaingan juga terjadi antara tiga pihak, yakni Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan. Tiga pihak inipun memperebutkan hal yang sama, yakni suara para pemilih.

Layaknya Kisah Tiga Negara yang memperebutkan satu Tiongkok, Pilpres 2024 juga hanya membutuhkan satu pemenang. Pemenang utama inilah yang nantinya menjadi presiden bagi Republik Indonesia (RI) selama lima tahun ke depan.

Karena diikuti oleh tiga pihak, Pilpres 2024 ini kemungkinan akan melalui dua putaran. Pasalnya, syarat bagi pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) agar bisa menang adalah dengan memperoleh lebih dari 50 persen dari jumlah pemilik suara – yang mana sulit didapat dalam permainan tiga aktor.

Didukung Gelora Prabowo Tak Dikultuskan

Menariknya, dalam survei skenario yang dibuat oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), Prabowo disebut akan menang bila lolos ke putaran kedua. Siapapun yang dilawan – baik Ganjar maupun Anies, Prabowo diprediksi akan unggul di putaran kedua.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkinkah ini strategi jangka panjang yang telah disiapkan oleh Prabowo untuk menghadapi lawan-lawannya di Pilpres 2024?

Baca juga :  MBG dan Runtuhnya 'Republik Tepung'

Prabowo Hadapi Dua Musuh

Dalam perebutan antara tiga pihak, permainan yang taktikal perlu dijalankan. Dan, bukan tidak mungkin, ada satu tahap yang perlu dipenuhi terlebih dahulu, yakni meniadakan satu pihak agar bisa permainan bisa terjadi antara dua pihak.

Persaingan antara tiga pihak ini bisa dijelaskan menggunakan teori permainan (game theory). Setidaknya, dalam teori ini, pemain-pemain akan saling merebutkan sesuatu.

Ketika satu pemain diuntungkan, pemain lain akan dirugikan. Namun, bagaimana perhitungannya bila jumlah pemain lebih dari dua?

Pertanyaan itulah yang kemudian dijawab oleh William P. Fox dalam tulisannya yang berjudul Solving the Three Person Game in Game Theory Using Excel. Mengacu ke tulisan tersebut, dalam permainan yang berisikan tiga peserta, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menjadikan permainan berisikan dua pemain.

Terdapat dua cara yang bisa dilakukan, yakni dengan membangun koalisi dengan salah satu pemain atau membinasakan satu pemain terlebih dahulu. Strategi-strategi inilah yang akhirnya digunakan dalam kisah Tiga Negara di Tiongkok dan kisah perang di GoT.

Dalam kisah Tiga Negara, misalnya, Wu dan Shu pun sempat berkoalisi untuk melawan Wei. Salah satunya terjadi dalam Pertempuran Chibi (208 SM) di Sungai Yangtze di Chang Jiang. 

Pasukan Cao Cao yang begitu masif dan kuat akhirnya kalah dengan pasukan Sun Quan dan Liu Bei. Padahal, pasukan Sun Quan dan Liu Bei kalah jauh dalam hal jumlah pasukan dan kapal yang digunakan.

Ada Upaya Jegal Prabowo

Sementara, dalam GoT, keluarga Targaryen pun berkoalisi dengan keluarga Stark untuk melawan keluarga Lannister.

Tidak hanya dengan berkoalisi, cara yang kedua juga digunakan oleh Wei. Dalam kisah Tiga Negara, Wei pun melakukan serangan ke Shu yang akhirnya membuat kerajaan itu tunduk pada Wei.

Lantas, cara yang bagaimana yang perlu diambil oleh Prabowo? Bagaimana caranya agar Prabowo bisa membuat permainan tiga pihak menjadi dua pihak dalam Pilpres 2024?

Ganjar vs Anies Untungkan Prabowo? 

Tentu, dalam permainan tiga pihak, strategi jangka panjang perlu diambil. Inipun juga berlaku bagi siapa saja yang bermain dalam Pilpres 2023 – termasuk Prabowo.

Mungkin, cara yang perlu dicontoh oleh Prabowo adalah cara yang diambil oleh Cersei Lannister. Seperti kutipan pada awal tulisan, Cersei pun membiarkan Stark-Targaryen melawan pasukan zombie yang begitu kuat di wilayah utara – dengan harapan agar Stark-Targaryen kehabisan daya perang akibat pertempuran tersebut.

Baca juga :  Bahaya yang Dibawa Perdamaian

Cara yang sama sebenarnya bisa dicontoh oleh Prabowo. Prosesnya adalah dengan membuat kedua pihak menjalin persaingan yang sengit – semacam rivalitas.

Langkah pertama mungkin sudah dilakukan oleh Prabowo, yakni dengan menjadi “the bigger man” di antara Ganjar dan Anies. Seperti yang dijelaskan dalam tulisan PinterPolitik.com yang berjudul ‘Prabowo’ Sekarang Bukan ‘Prabowo’ Dulu?, Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra itu bisa menjangkau pemilih yang berada di dua kubu berbeda tersebut.

Politik Sharingan ala Ganjar Prabowo

Nah, langkah kedua yang mungkin bisa menguntungkan Prabowo adalah membiarkan persaingan Anies dan Ganjar memanas. Seperti yang diketahui, kedua kubu pendukung ini saling tidak menyukai satu sama lain – mungkin akibat polarisasi politik yang terbawa dari Pilpres 2014 dan 2019.

Ini akhirnya bisa dimanfaatkan oleh Prabowo. Ini sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Robert J. Aumann – profesor dari Hebrew University of Jerusalem yang memenangkan Nobel dalam bidang ekonomi pada tahun 2005 – dengan konsepnya yang disebut sebagai game engineering. Konsep inipun sebenarnya sederhana, yakni dengan melakukan rekayasa (engineering) terhadap sistem dan interaksi yang ada dalam permainan.

Aumann – dalam kuliahnya di Koźmiński University di Warsawa, Polandia, pada 14 Mei 2008 – pun mencontohkannya dengan pemilihan umum (Pemilu) yang berisikan tiga pemain – dengan membedakan pada pemain pada spektrum linear kiri-tengah-kanan. Biasanya, dalam permainan seperti ini, pihak yang ada di tengah akan mendapatkan jumlah suara yang paling sedikit.

Lantas, bagaimana caranya agar Prabowo – sebagai pemain di tengah – bisa merekayasa permainan Pilpres 2024 ini?

Aumann pun menjelaskan permainan bisa berubah apabila terdapat dua ekstrem, yakni antara pihak di kanan dan kiri. Dengan begitu, dalam pemilu yang terdiri atas dua putaran, pemilih akan lebih nyaman untuk memilih pihak di tengah.

Namun, untuk menciptakan dua ekstrem tersebut, pemain perlu saling memusuhkan dua pemain kanan dan kiri ini. Bukan tidak mungkin, cara inilah yang akhirnya memenangkan pemain tengah.

Maka dari itu, berdasarkan skenario Pilpres 2024 yang dibuat LSI yang disebutkan di awal tulisan, Prabowo bisa saja menggunakan strategi game engineering seperti yang dijelaskan oleh Aumann. 

Mungkinkah Prabowo menggunakan strategi untuk saling memusuhkan Anies dan Ganjar? Menarik untuk diamati kelanjutannya. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?