HomeNalar PolitikRizieq Di Madinah, Kapan Pulang?

Rizieq Di Madinah, Kapan Pulang?

Kecil Besar

Pasca Pilkada DKI Jakarta, Rizieq Shihab seolah hilang dari pemberitaan. Kabar terbaru, dirinya saat ini sedang berada di Madinah, Arab Saudi.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]B[/dropcap]ukan namanya Rizieq Shihab jika tidak melahirkan kontroversi. Setelah untuk beberapa saat menghilang pasca kemenangan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang didukungnya, Rizieq dikabarkan berada di Madinah, Arab Saudi. Rizieq dikabarkan pergi bersama keluarganya untuk menunaikan ibadah Umroh. Ada juga kabar burung yang mengatakan bahwa dia tidak akan kembali karena takut diadili terkait kasus hukumnya di  Indonesia. Benarkah demikian?

Kabar lain juga menyebutkan bahwa Rizieq berangkat ke Arab Saudi atas undangan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud. Setidaknya hal itulah yang ditulis di akun twitter @RizieqSyihabFPI, yang ditengarai merupakan akun resmi miliknya.

Beberapa isu lain yang dianggap fundamental, misalnya terkait dugaan bahwa Rizieq seakan mundur dari radikalisme yang telah membuat namanya melejit. Hal ini juga diiringi dengan beredarnya sebuah video berisi ceramah Rizieq di Madinah.

Dalam ceramah tersebut Rizieq menjelaskan secara panjang lebar berbagai kondisi yang dihadapi dalam kurun 6 bulan terakhir, khususnya terkait aksi-aksi Bela Islam dan Pilkada Jakarta. Ia juga menyinggung peran media yang sering menyudutkan kaum fundamentalis Islam. Berikut ini cuplikan lengkap video Rizieq tersebut.

Beberapa pihak menilai ceramah Rizieq ini memecah belah bangsa. Berbagai selentingan juga muncul terkait tujuan Rizieq ke Madinah. Ada yang menyebutkan bahwa Rizieq seolah menghindar dari berbagai kasus hukum yang saat ini menjerat dirinya di dalam negeri. Beberapa yang lain menyebutkan bahwa Rizieq datang atas undangan Raja Salman sebagai hoax.

Dalam ceramahnya tersebut, Rizieq bahkan mengatakan bahwa dirinya merupakan salah satu ulama yang dikriminalisasi. Apa benar?

Empat Golongan

Dalam ceramah di hadapan simpatisan FPI tersebut, Rizieq menjelaskan secara panjang lebar berbagai situasi kebangsaan yang menurutnya saat ini sedang dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Menurut Rizieq, umat muslim di Indonesia saat ini terpecah ke dalam 4 golongan.

Golongan pertama adalah kaum fundamentalis yang ingin mengembalikan ajaran agama Islam kepada inti ajaran utama, yakni Al-Quran dan Al-Sunnah. Golongan ini disebutnya anti terhadap negara-negara Barat. Menurut Rizieq, golongan ini mendapat perlakuan yang paling memprihatinkan dan diwaspadai. Menurutnya banyak Kiai dan Ulama fundamentalis yang dikriminalisasi, diterorisasi (disangkutpautkan dengan ISIS atau kelompok teroris), dilemahkan pengaruhnya dan dilecehkan. Menurutnya media-media mainstream berperan dalam berbagai aksi tersebut. Rizieq juga menyinggung soal pemakaian gelar akademis dan kehormatan yang dihilangkan dari ulama-ulama golongan ini – hal yang mungkin menunjuk pada dirinya sendiri.

Golongan kedua adalah kaum modernis. Golongan ini dianggap aman dan oleh karena itu selalu dirangkul oleh pemerintah. Media-media juga memberitakan hal-hal yang positif tentangnya. Rizieq menyebut golongan ini sebagai kawan negara-negara Barat. Selanjutnya, golongan ketiga adalah kaum liberalis yang disebut Rizieq sebagai antek-antek Barat. Golongan ini disebut Rizieq selalu luput dari pemberitaan yang buruk. Semua yang ada dari kelompok ini adalah hal yang positif.

Baca juga :  Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Sedangkan, golongan terakhir disebutnya sebagai kaum tradisionalis. Golongan ini menurut Rizieq memiliki kesepahaman dengan kaum fundamentalis. Golongan ini berpegang teguh pada tradisi Islam di Indonesia. Menurut Rizieq, pemerintah takut kalau dua kelompok ini bersatu karena menurutnya jika golongan fundamentalis dan tradisionalis duduk bersama, keduanya bisa menjadi satu gerakan masif. Apalagi menurut Rizieq, dua golongan ini merupakan kelompok yang paling besar di Indonesia.

Faktanya, jika mau dikritisi, apa yang dikatakan oleh Rizieq ini seolah mengadu domba komunitas-komunitas umat Islam di Indonesia. Kaum modernis tentu saja menunjuk pada golongan Muhammadiyah, kaum tradisionalis menunjuk pada Nahdatul Ulama (NU), kaum fundamentalis menunjuk pada gerakan semisal Ikhwanul Muslimin Indonesia (PKS, FPI, dan lain-lain), sementara liberalis menunjuk pada umat muslim yang tidak termasuk tiga golongan tersebut. Perkataan Rizieq ini bisa jadi akan memecah belah persatuan umat muslim Indonesia. Padahal persatuan umat muslim Indonesia merupakan hal yang oleh Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, dianggap sebagai inti semangat kaum muslim Indonesia.

Kabar terbaru, salah satu gerakan fundamentalisme di Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dikabarkan akan dibubarkan oleh pemerintah. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Menko Polhukam, Wiranto. Wiranto mengatakan pembubaran HTI tetap menggunakan jalur hukum. Hal itu dilakukan agar proses pembubaran menjadi fair.

Berbagai selentingan kemudian muncul, apakah sikap pemerintah ini berlebihan dan terkesan untuk melindungi ormas-ormas Islam lain misalnya FPI? Ataukah pembubaran HTI merupakan upaya untuk melindungi FPI?

Dari Tuduhan Kriminalisasi Hingga Laskar Cyber Muslim

Dalam ceramahnya, Rizieq juga menceritakan bagaimana dirinya dan gerakan yang digalangnya digembosi oleh pemerintah. Kiai-kiai dan para ulama juga dikriminalisasi, diancam, dituduh teroris, dan sebagainya. Kalau mau dikritisi, pernyataan Rizieq tersebut tentu agak berlebihan, mengingat pihak kepolisian tidak mungkin menetapkan seseorang sebagai tersangka atau menyelidiki kasus tertentu jika tidak ada yang melapor, tidak ada bukti, atau tidak ada saksi.

Beberapa pihak bahkan menyebut apa yang selama ini dilakukan oleh Rizieq dan FPI seringkali bertentangan dengan ajaran-ajaran yang digariskan oleh pemuka-pemuka agama yang dihormati di Indonesia, misalnya dari Muhammadiyah dan NU.

Rizieq juga menyebutkan mengenai Laskar Cyber Muslim yang disebutnya sebagai gerakan di media sosial yang bergerak menangkal segala macam pemberitaan miring mengenai Ulama-ulama yang selama ini diserang, termasuk juga dirinya. Rizieq mengklaim ada 2 juta akun yang menjadi anggota laskar tersebut. Akun-akun itulah yang menyerang balik berbagai pemberitaan yang menyerang Ulama-ulama.

Rizieq bahkan menyebutkan bahwa laskar inilah yang berjasa menggalang umat muslim Indonesia dalam berbagai aksi besar yang terjadi, baik 411 maupun 212. Rizieq melabelinya sebagai kelompok yang ‘berjasa besar’. Apakah itu berarti kelompok inilah yang sebenarnya mengacaukan situasi kebangsaan beberapa waktu terakhir? Kalau saja video yang diedit dan diunggah oleh Buni Yani tidak tersebar, tentu saja tidak akan ada gerakan masa dalam jumlah besar. Namun, karena ‘jasa besar’ Laskar Cyber Muslim, maka massa dengan jumlah besar bisa terkumpul.

Baca juga :  "Termul" Pensiun, AI Ambil Alih

Secara garis besar, hal yang bisa disimpulkan dari video rekaman ceramah berdurasi 21 menit tersebut adalah bahwa gerakan masif yang selama ini terjadi memang di satu sisi bertujuan untuk membela ajaran Islam yang dilecehkan, namun di sisi lain juga punya tujuan politik di Pilkada Jakarta. Rizieq juga secara langsung menyebut hal itu sebagai kemenangan yang diperjuangkan oleh pihaknya. Bahkan, tujuan politiknya jauh lebih terasa ketimbah tujuan agama.

Kasus Hukum Rizieq dan Akhir Politik Jalanan?

Saat ini, Rizieq sedang dihadapkan dengan banyak kasus hukum di dalam negeri. Setidaknya ada 8 kasus yang dilaporkan ke polisi oleh berbagai kelompok masyarakat.

Kasus-Kasus Rizieq Shihab-01(2)

Salah satu kasus yang cukup menghebohkan adalah pesan aplikasi chatting whatsapp yang berisi percakapannya dengan perempuan bernama Firza Husein. Kasus ini menjadi pergunjingan hangat beberapa waktu lalu dan sempat membuat Rizieq menghilang dari pemberitaan. Rizieq juga tidak menghadiri pemeriksaan kasus tersebut beberapa waktu lalu. Banyak pihak menilai beberapa waktu terakhir Rizieq semakin jarang muncul di hadapan media juga terkait hal tersebut.

Tentu pertanyaan-pertanyaan baru terus muncul terkait kiprah Rizieq dan FPI pasca Pilkada Jakarta. Akan seperti apa FPI? Akankah masih ada aksi-aksi politik di jalan yang selama ini menghiasi pemberitaan-pemberitaan media massa? Setidaknya aksi-aksi tersebut masih akan terus berlangsung, mungkin sampai Ahok masuk penjara atau dihukum seberat-beratnya untuk kasus yang dituduhkan kepadanya.

Terkait kabar pembubaran HTI, hal ini di satu sisi dapat menjadi preseden hukum bahwa ormas-ormas yang anti Pancasila memang tidak cocok berdiri di negeri ini. Rizieq dan FPI sepertinya tahu betul tentang hal itu – bisa dilihat dari akun twitter @RizieqSyihabFPI yang menyertakan lambang negara ‘Burung Garuda’ sebagai gambar header akun twitter tersebut. Apalagi Rizieq juga terjerat kasus penghinaan lambang negara dan Pancasila.

Jika HTI yang anti Pancasila saja bisa dibubarkan, tentu kasus yang menjerat Rizieq yang menghina lambang negara dan Pancasila bisa jadi akan mendapat hukuman yang setara. Tentu kita masih perlu menunggu proses persidangan terhadap HTI. Namun, jika hukum positif masih dijunjung tinggi di negeri ini, maka kasus HTI ini dapat berakibat juga pada FPI.

Ceramah Rizieq di Madinah bukan hanya menjelaskan berbagai gerakan politik yang selama 6 bulan terakhir ini terjadi, tetapi juga tujuan politiknya, dan konteks sosial umat muslim di Indonesia dalam versi Rizieq. Tentu menarik untuk menanti kiprah Rizieq pasca Pilkada Jakarta. Apakah ia akan makin sering turun ke jalan atau tidak. Tentu pertanyaan yang paling utama adalah: kapan pulang ke Indonesia? Kalau tidak pulang ke Indonesia, tentu kita tidak bisa menyaksikan aksi-aksi Rizieq lagi.

Pada akhirnya, mengutip novelis dan esais terkenal asal Inggris, Salman Rushdie:

“Fundamentalism isn’t about religion, it’s about power”.

Apakah itu tujuan utama gerakan Rizieq dan FPI? Hanya waktu yang bisa menjawab. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.