HomeNalarResesi, Pertaruhan Sri Mulyani?

Resesi, Pertaruhan Sri Mulyani?

Sebanyak 22 negara dinyatakan terpuruk ke dalam jurang resesi imbas pandemi Covid-19. Meskipun negara tetangga terdekat sudah mengalami krisis, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani bersikeras Indonesia belum mengalami resesi. Mantan Managing Director World Bank itu bahkan optimis Indonesia masih berpeluang untuk lolos dari jerat krisis ekonomi. Benarkah demikian?


PinterPolitik.com

Dekade 1930-an, adalah titik sejarah yang kelam bagi perekonomian dunia. Pada dekade ini, dunia dilanda krisis ekonomi yang disebut-sebut terbesar sepanjang abad ke-20. Krisis ini dikenal dengan istilah The Great Depression.

Para pakar ekonomi meyakini krisis itu diawali dari anjloknya bursa perdagangan saham di Amerika Serikat (AS) pada 29 Oktober 1929, yang dikenal dengan sebutan The Black Tuesday. Jatuhnya bursa saham Wall Street ini kemudian menjadi bola salju yang menghantam perekonomian negara-negara lain di dunia.

Roger Lowenstein dalam jurnalnya yang berjudul History Repeating menyebut krisis tersebut membuat nilai produk domestik bruto (PDB) dunia anjlok hingga 15 persen. Sementara bernett Sherry menyebut The Great Depression turut berkontribusi terhadap pecahnya Perang Dunia II. 

Di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga kini, ancaman resesi kembali menghantui semua negara-negara di dunia. Para ekonom bahkan menyebut pandemi ini bisa saja menciptakan krisis terburuk sejak periode The Great Depression. Mereka bahkan mengistilahkan krisis ekonomi saat ini dengan sebutan The Great Lockdown

Sejauh ini, pandemi yang berawal dari Wuhan, Tiongkok ini, telah menjerumuskan 22 negara ke dalam jurang resesi, baik negara ekonomi maju maupun berkembang seperti AS, Inggris, Prancis, Korea Selatan, Filipina, Thailand hingga Malaysia.

Meski sejumlah negara tetangga terdekat sudah memasuki fase krisis, pemerintah, hingga kini belum menyatakan Indonesia memasuki resesi ekonomi. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani bahkan masih berharap ekonomi Indonesia akan membaik di kuartal III sehingga dapat lolos dari ancaman resesi.

Namun begitu, sejumlah pengamat ekonomi menilai sebaliknya. Mereka bahkan menyebut Indonesia, secara teknis, sudah masuk resesi.

- Advertisement -

Sikap pemerintah, terutama Sri Mulyani, yang masih meyakinkan diri Indonesia dapat lolos dari jerat resesi nyatanya membuat gerah sejumlah pihak, terutama para oposan. Yang paling vokal siapa lagi kalau bukan mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli.

Dengan lagunya yang khas, Ia menuding eks Managing Director World Bank itu berbohong karena menyebut Indonesia belum mengalami resesi.

Lantas pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya potensi Indonesia masuk dalam jurang resesi. Benarkah Sri Mulyani berbohong seperti yang dituduhkan Rizal Ramli?

Hampir Pasti Resesi?

Salah satu teori populer untuk memitigasi ancaman resesi diungkapkan oleh seorang ekonom Inggris, John Maynard Keynes. Dalam pemikirannya, Ia mengatakan resesi biasanya disebabkan oleh suatu peristiwa, termasuk bencana, yang membuat perekonomian keluar dari titik ekuilibriumnya.

Bencana ini menimbulkan ketakutan baik terhadap produsen maupun konsumen. Akibatnya, konsumen mengurangi kegiatan konsumsinya, sehingga secara otomatis, produsen meresponsnya dengan mengurangi kegiatan produksi. Pengurangan ini selanjutnya mengarah kepada pemutusan hubungan kerja (PHK).

Baca juga :  Mimpi Jokowi Bukan Mimpi Mega?

Salah satu solusi untuk permasalahan tersebut, kata Keynes, adalah melalui intervensi pemerintah. Jika konsumen dan produsen berada dalam ketakutan, maka pemerintah dapat memperbesar anggaran dan melakukan belanja lebih banyak.

Pengeluaran pemerintah yang meningkat ini akan mengimbangi pengeluaran konsumen yang berkurang, sehingga produksi tidak terus merosot dan resesi dapat dikendalikan.

Sayangnya, rapor perekonomian Indonesia khususnya di dua indikator yang disebutkan Keynes tadi kenyataannya memang tidak terlalu memuaskan. Pada Kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi hingga minus 5,32 persen. Nilai ini bahkan disebutterburuk sejak tahun 1999.

- Advertisement -

Selain pertumbuhan ekonomi, realisasi belanja pemerintah pada periode yang sama juga tak terlalu baik. Pertumbuhan belanja pegawai pemerintah tercatatminus 11,1 persen, sementara belanja barang justru terkontraksi lebih dalam lagi di angka minus 21,1 persen.

Meski begitu, Menkeu Sri Mulyani tetap menolak menyebut Indonesia sudah memasuki resesi. Menurutnya, suatu negara dapat dikatakan resesi jika pertumbuhan ekonominya terkontraksi secara year on year atau dua kuartal berturut-turut.

Lalu bagaimana dengan Kuartal III?

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah memprediksipertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2020 akan minus 3 hingga 4 persen. Meski secara nilai jauh lebih baik dari kuartal sebelumnya, namun angka pertumbuhan yang masih bercokol di zona negatif mau tak mau membuat Indonesia secara resmi akan bergabung dengan Singapura, Thailand, Filipina, dan Malaysia yang sudah lebih dulu terjerembap ke dalam resesi.

Selain pengamat, kalangan dunia usaha juga nyatanya pesimistisIndonesia bisa lari dari jerat resesi. Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menilai sulit bagi pemerintah untuk mencetak pertumbuhan ekonomi di zona positif pada kuartal III saat penanganan wabah Covid-19 belum juga membaik.

Jika memang Indonesia hampir dipastikan akan masuk jurang krisis, lalu apa yang membuat Menkeu Sri Mulyani masih berharap Indonesia dapat lari dari jerat resesi?

Manajemen Krisis?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), krisis dapat diartikan keadaan yang berbahaya, keadaan yang genting; kemelut, dan keadaan suram (tentang ekonomi, moral, dan sebagainya). Sementara upaya untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi dampak negatif dari krisis dikenal dengan istilah manajemen krisis.

W Timothy Coombs dan Sherry J Holladay dalam buku mereka yang berjudul The Handbook of Crisis Communication mengatakan manajemen krisis dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu prakrisis, respons terhadap krisis, dan pascakrisis.

Prakrisis menitikberatkan pada upaya pencegahan dan persiapan termasuk mencari cara untuk mengurangi risiko krisis. Semua upaya dalam tahapan ini dilakukan sebelum krisis benar-benar terjadi.

Pada tahap respons terhadap krisis, para pemangku kepentingan bertindak langsung untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun pada tahap sebelumnya. Sementara dalam tahap pascakrisis, perusahaan atau organisasi diharapkan tetap dapat memenuhi komitmen yang telah dibuat saat krisis terjadi.

Baca juga :  Perkenalkan, Menteri Baru!

Jika berangkat pada teori ini, maka dapat dikatakan strategi komunikasi Sri Mulyani dalam menghadapi resesi ekonomi saat ini berada di tahap prakrisis. Segala rencana dan kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi yang Ia sampaikan merupakan upaya untuk mengurangi risiko resesi.

Maka dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, apa yang disampaikan Sri Mulyani tak bisa serta merta disebut kebohongan seperti tudingan Rizal Ramli.

Optimisme yang digembar-gemborkan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) itu sebaliknya dapat dipandang sebagai upaya penanganan prakrisis. Meski mungkin secara teori Ia tahu bahwa Indonesia sudah berada di ambang pintu resesi, namun optimisme itu tetap Ia sampaikan untuk mempertahankan sentimen pasar agar tetap positif dan tidak membuat perekonomian semakin terpuruk.

Pertaruhan Sri Mulyani?

Sepak terjang Sri Mulyani yang berhasil menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi pada 2008-2009 turut melambungkan namanya hingga mendapatkan gelar the soft side of iron lady.

Iron lady sendiri merupakan gelar yang lekat dengan mantan Perdana Menteri (PM) Inggris, Margaret Thatcher. Kala itu, Thatcher memimpin ketika dinamika politik dan ekonomi Inggris dalam keadaan amburadul.

Thatcher merupakan sosok yang tegas dan tak segan-segan memangkas anggaran pemerintah. Thatcher juga terkenal dengan kebijakan-kebijakannya yang memprivatisasi banyak perusahaan pemerintah, seperti British Aerospace and Cable & Wireless, British Telecom, Britoil, British Gas, dan Jaguar.

Berkat kepemimpinannya yang tegas itu, Thatcher berhasil mengeluarkan Inggris dari resesi dan menurunkan angka inflasi dari 22 persen ke 4 persen.

Agaknya tak berlebihan jika menyebut ancaman resesi akibat Covid-19  menjadi ajang pertaruhan Sri Mulyani untuk mempertahankan gelarnya yang dikait-kaitkan dengan sosok Thatcher tersebut.

Meski secara umum para pengamat ekonomi yakin Indonesia akan menghadapi jurang resesi, namun yang terpentinng saat ini adalah bagaimana memastikan kebijakan-kebijakan yang dijalankan pemerintah mampu menahan laju resesi.

Managing Director World Bank sekaligus mantan Menteri Perdagangan RI, Mari Elka Pangestu menilai kunci untuk menahan krisis adalah dengan memastikan tiga pihak, yaitu rumah tangga, perusahaan, dan perbankan memiliki dana yang cukup.

Pemerintah diharapkan dapat konsisten memberikan bantuan ekonomi terhadap pelaku bisnis, terutama yang sektornya paling terdampak pandemi Covid-19 untuk terus bertahan dan beroperasi. Ia memprediksi ekonomi Indonesia baru akan sepenuhnya pulih pada akhir tahun 2021 mendatang.

Pada akhirnya, kita mungkin harus mengakui peluang Indonesia lolos dari jerat resesi memang kecil. Namun pemerintah masih memiliki waktu hinga akhir September 2020 untuk melihat realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III sebelum benar-benar memastikan Indonesia memang akan memasuki jurang resesi. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (F63)


Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

#Trending Article

Bukan UI, Kenapa Presiden dari UGM?

Wakil Ketua Umum PPP Arsul Sani berharap ke depannya Presiden Indonesia tidak lagi dari alumni Universitas Gadjah Mada (UGM), melainkan dari alumni Universitas Indonesia...

Kunci Wamendagri, Megawati Khawatirkan Tito?

Dalam reshuffle kabinet pada 15 Juni 2022, politisi PDIP John Wempi Wetipo digeser dari Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Wamen PUPR) menjadi...

Jenderal Dudung Panglima Selanjutnya?

Sinyal agaknya kian menguat bagi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono untuk menjadi Panglima TNI selanjutnya. Namun, jalan terjal masih ada di...

Prabowo dan Megawati Pasti Kandas?

PKB bersama Gerindra yang membentuk koalisi di pemilihan umum (Pemilu) 2024 seolah menyalip PDIP sebagai parpol yang selama ini tampak dekat dengan sang Ketua...

Muslihat Jokowi Manfaatkan Putin?

Presiden Jokowi dikabarkan akan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow. Apa ini muslihat Jokowi manfaatkan sosok Putin?

Biden Paksa Jokowi Beli Senjata?

Presiden AS Joe Biden sebut siap bela Taiwan bila diserang Tiongkok. Apakah ini bisa jadi cara Biden "paksa" Jokowi beli senjata?

Kaesang Mulus Jadi Ketum PSSI?

Beberapa hari lalu, Indonesia menorehkan prestasi dengan lolos ke putaran final Piala Asia untuk pertama kalinya sejak 15 tahun lalu. Ini bisa dibilang menjadi...

Bang Pitung “Rasuki” Anies di Pilpres?

Politik penamaan jalan agaknya tengah diperagakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan setelah kali ini memberikannya kepada beberapa tokoh Betawi. Lantas, seberapa signifikan upaya investasi...

More Stories

Dibenturkan, Nadiem Tetap Tak Terbendung?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim kembali mendapat sorotan. Kali ini draf Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 yang tak mencantumkan frasa agama dipersoalkan oleh...

Benci Produk Asing, Anomali Nasionalisme Jokowi?

Pernyataan terbaru Presiden Jokowi soal benci produk asing terus menuai polemik. Banyak pihak menilai Presiden punya standar ganda karena pemerintah sendiri masih melakukan impor...

Puan Sulit Taklukkan Ganjar?

Sejumlah analis dan pengamat memprediksi PDIP akan mengusung Prabowo-Puan dalam Pilpres 2024 mendatang. Namun prospek tersebut kini terancam dengan tingginya elektabilitas Gubernur Jawa Tengah,...