HomeNalar PolitikPremanisme, Indonesia's Economic Cerberus?

Premanisme, Indonesia’s Economic Cerberus?

Kecil Besar

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI.

Persoalan premanisme di Indonesia dipercaya rugikan perekonomian hingga ribuan triliun rupiah. Bagaimana cara mengatasi masalah pelik ini?


PinterPolitik.com

Premanisme di Indonesia kembali menjadi sorotan. Isu ini menyeruak setelah muncul laporan bahwa dua raksasa otomotif asal Asia, VinFast dan BYD, sempat mengalami pemerasan saat memulai pembangunan pabrik mereka di Subang, Jawa Barat.

Dugaan adanya organisasi preman yang terlibat dalam pemalakan terhadap investasi asing itu mengindikasikan bahwa premanisme bukan hanya perkara kriminal jalanan, tetapi telah masuk ke ranah strategis: mengganggu investasi dan keamanan nasional.

Sayangnya, kasus ini bukan kejadian yang berdiri sendiri. Premanisme seakan menjadi bagian dari lanskap sosial dan ekonomi Indonesia. Hal ini ditegaskan oleh pernyataan ilmuwan INDEF, Andry Satrio Nugroho, yang mengungkap bahwa berdasarkan data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), shadow economy Indonesiaโ€”yang mencakup aktivitas ilegal seperti pungli dan pemalakanโ€”menggerus sekitar Rp2.200 triliun atau sekitar 8โ€“10 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Angka yang fantastis ini menandakan bahwa premanisme telah menjadi penyakit sistemik dalam struktur ekonomi negara.

Premanisme tidak hanya merugikan sektor ekonomi dan investasi, tapi juga menciptakan ketakutan, melemahkan hukum, dan menggerogoti kepercayaan terhadap negara. Ia hidup di ruang-ruang yang semestinya diisi oleh negaraโ€”dari terminal hingga kawasan industri.

Namun, dengan akar masalah yang begitu dalam dan kompleks, pertanyaan penting pun mengemuka: mungkinkah premanisme di Indonesia benar-benar bisa diberantas?

17459418486337185752346342017603

Premanisme yang Bernama “Cerberus”

Premanisme bukan sekadar urusan kriminal jalanan, melainkan struktur sosial yang memiliki dinamika kekuasaan tersendiri. Ia bisa dianalogikan dengan Cerberus dalam mitologi Yunaniโ€”anjing penjaga dunia bawah tanah yang ganas, namun patuh pada tuannya. Premanisme, dalam konteks ini, hidup dan berkembang karena ada relasi kekuasaan yang memungkinkan keberlangsungannya.

Baca juga :  Balada Negeri Ormek

Secara teori, fenomena ini dapat dijelaskan melalui pendekatan informal institution theory. Dalam teori ini, premanisme muncul sebagai bentuk institusi non-formal yang berkembang karena adanya kebutuhan sosial tertentu, seperti โ€œkeamananโ€ instan, mediasi konflik, atau kontrol sosial di tingkat lokal.

Ketika sistem formal belum sepenuhnya menjangkau atau memenuhi ekspektasi masyarakat dalam konteks tertentu, institusi informal dapat tumbuh sebagai pelengkap, meskipun tidak selalu sah secara hukum.

Selain itu, pendekatan rational choice theory juga bisa digunakan untuk memahami kenapa premanisme tetap eksis. Individu atau kelompok yang terlibat dalam praktik ini kerap kali bertindak berdasarkan kalkulasi untung-rugi.

Selama aktivitas premanisme masih dianggap memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi pelakunya, serta tidak menimbulkan risiko besar, maka praktik ini akan terus berlangsung. Dengan kata lain, keberadaan premanisme tidak selalu semata-mata karena lemahnya penegakan hukum, melainkan juga karena struktur insentif yang belum sepenuhnya mendorong pelaku keluar dari zona abu-abu tersebut.

Teori clientelism juga tetap relevan. Dalam beberapa konteks, preman dapat terlibat dalam hubungan patron-klien, di mana mereka memberikan โ€œjasaโ€ tertentu kepada tokoh masyarakat atau kelompok tertentu, dan sebagai imbalannya mendapat perlindungan atau akses terhadap sumber daya. Ini membuat premanisme bertahan sebagai aktor lokal yang memiliki fungsi sosial tersendiri, terutama di wilayah-wilayah padat dan urban yang kompleks.

Dengan memahami dinamika ini secara lebih mendalam, pendekatan terhadap premanisme bisa dilakukan secara lebih konstruktif. Bukan semata-mata melihatnya sebagai ancaman, tetapi sebagai gejala sosial yang membutuhkan pendekatan multi-disiplinโ€”dari ekonomi, hukum, hingga sosiologi.

17459419518053887808562446023316

Belajar dari Augustus: Tiga Pilar Penanganan Premanisme

Sejarah memberikan banyak pelajaran dalam menghadapi kekacauan sosial. Salah satunya adalah langkah-langkah yang diambil oleh Kaisar Augustus di awal berdirinya Kekaisaran Romawi. Pada masa itu, Roma penuh dengan kelompok-kelompok kekerasan yang meresahkan. Augustus menerapkan strategi yang menyentuh tiga aspek utama: politik, ekonomi, dan hukum.

Baca juga :  Jalan-jalan dengan Sepatu Roda 'Girl Power'

Pertama, penataan sistem administrasi publik. Augustus menyadari pentingnya struktur pemerintahan yang tertib dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Penataan ini menciptakan rasa aman dan kepercayaan terhadap sistem yang berlaku. Dalam konteks kita, penguatan tata kelola di tingkat lokal dapat membantu menutup celah bagi munculnya aktor non-formal seperti preman.

Kedua, penyusunan kebijakan ekonomi yang inklusif. Augustus menata ulang distribusi kekayaan dan mendorong partisipasi ekonomi yang lebih luas, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak peluang dalam sistem formal. Prinsip ini dapat dijadikan inspirasi untuk memperluas akses terhadap ekonomi yang adil dan produktif, sehingga tekanan sosial yang mendorong individu ke ekonomi bayangan bisa berkurang.

Ketiga, penguatan sistem hukum yang berintegritas. Augustus memperkuat institusi hukum agar mampu memberikan perlindungan yang merata. Dalam sistem modern, pendekatan ini bisa diwujudkan dengan upaya kolaboratif antara lembaga hukum, masyarakat sipil, dan sektor privat dalam menciptakan rasa aman yang inklusif dan konsisten.

Tentu, pendekatan Augustus tidak bisa seluruhnya diterapkan dalam konteks demokrasi seperti Indonesia. Namun, semangat yang ia bawaโ€”yakni menciptakan tatanan sosial yang stabil melalui keadilan, pemerataan, dan keterlibatan semua pihakโ€”tetap relevan.

Maka dari itu, dalam menghadapi premanisme, diperlukan kerja sama lintas sektor dengan strategi jangka panjang. Memahami akar sosiologis, menata insentif ekonomi, serta memperkuat norma sosial dan hukum menjadi langkah strategis yang dapat kita tempuh bersama. Dengan cara ini, kita tidak hanya menghadapi gejalanya, tetapi juga menyentuh akarnya. (D74)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje โ€” apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari โ€” dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing