Dengarkan artikel ini:
Prabowo bisa dibilang menjadi salah satu presiden yang paling aktif dalam politik internasional. Ini kontras dengan presiden sebelumnya, Jokowi, yang tak begitu getol dalam panggung internasional kecuali jika berhubungan dengan masalah ekonomi. Pendekatan politik internasional Prabowo ini penting dalam konteks menjamin kepentingan nasional Indonesia di panggung global, namun perlu tetap dipastikan berada dalam koridor nature politik luar negeri kita yang bebas aktif.
Presiden Prabowo Subianto tampaknya tidak membuang waktu untuk memperlihatkan arah baru politik luar negeri Indonesia. Baru beberapa bulan menjabat, Prabowo sudah menjadi sorotan dalam berbagai forum internasional: dari Shangri-La Dialogue di Singapura, KTT BRICS yang kini resmi memasukkan Indonesia sebagai anggota, hingga berbagai misi diplomatik bilateral dengan negara-negara besar dunia. Dalam setiap penampilan itu, Prabowo bukan sekadar hadir, melainkan tampil dominan, artikulatif, dan membangun wacana.
Bagi banyak pengamat, gaya ini merupakan pergeseran penting dari pendekatan diplomatik sebelumnya yang lebih defensif dan berhati-hati. Di bawah Jokowi, diplomasi Indonesia condong pada kerja sama ekonomi dan perdagangan. Sementara Prabowo, dengan latar belakang militer, bahasa Inggris yang fasih, dan pemahaman geopolitik global yang kuat, ingin menjadikan Indonesia sebagai kekuatan mediasi dan stabilisasi global. Tidak heran jika banyak yang mulai menyebutnya sebagai “the peace broker of the Global South”.
Salah satu momen penting adalah ketika Prabowo menyampaikan pidato dalam Shangri-La Dialogue 2024, menekankan pentingnya dialog antar-negara besar untuk mencegah eskalasi konflik, khususnya antara Barat dan Rusia. Dalam pidatonya, Prabowo tidak berpihak, tetapi jelas ingin Indonesia berperan sebagai jembatan.
Keberhasilan diplomasi ini diperkuat lagi dengan bergabungnya Indonesia ke dalam kelompok BRICS, forum negara-negara berkembang yang dipandang sebagai kekuatan tandingan Barat. Prabowo menegaskan bahwa langkah ini bukan bentuk perlawanan, tapi bentuk keseimbangan. Ia menginginkan dunia multipolar yang lebih adil, dan Indonesia harus punya tempat terhormat di dalamnya.
Langkah-langkah aktif ini menjadi sinyal bahwa Prabowo memahami pentingnya soft power di era modern. Ia tak hanya memimpin dari dalam negeri, tapi membangun citra Indonesia sebagai negara yang vokal, rasional, dan solutif di tingkat global.
Diplomasi sebagai Modal Strategis
Langkah aktif Prabowo di panggung internasional sejalan dengan sejumlah teori dalam hubungan internasional yang menekankan pentingnya negara middle power seperti Indonesia untuk memainkan peran strategis.
Pertama, teori “middle power diplomacy” yang banyak dibahas oleh teoretikus seperti Andrew F. Cooper. Dalam karyanya, Cooper menjelaskan bahwa negara-negara yang tidak tergolong adidaya tapi memiliki kapasitas diplomatik, ekonomi, dan geopolitik signifikan dapat menjadi jembatan dalam konflik global. Prabowo tampaknya mengadopsi strategi ini dengan menyasar posisi Indonesia sebagai penengah antara kepentingan negara besar, tanpa kehilangan kedaulatan dan identitas nasional.
Kedua, pendekatan “constructivist internationalism” dari Alexander Wendt memberikan pandangan bahwa identitas dan peran suatu negara di kancah internasional dibentuk oleh tindakan-tindakan yang mereka pilih dan artikulasikan. Dalam konteks ini, Prabowo tidak hanya berpartisipasi dalam diplomasi global, tetapi sedang membentuk identitas baru Indonesia sebagai negara penyeimbang. Ia sedang menulis ulang narasi tentang siapa Indonesia di dunia internasional.
Ketiga, gagasan “soft balancing” oleh T.V. Paul dan Robert Pape menjadi relevan. Strategi ini menjelaskan bagaimana negara-negara non-adidaya bisa menyeimbangkan kekuatan besar dengan cara-cara non-militer, seperti kerja sama ekonomi, diplomasi multilateral, dan institusi global. Prabowo, yang dikenal sebagai tokoh militer, justru mengadopsi pendekatan ini. Alih-alih menunjukkan kekuatan militer, ia memanfaatkan diplomasi dan forum multilateral sebagai alat untuk mengukuhkan posisi Indonesia.
Melalui ketiga pendekatan ini, kita melihat bahwa strategi Prabowo bukan improvisasi, melainkan langkah terukur yang sesuai dengan teori dan praktik hubungan internasional kontemporer.
Menari di Dua Panggung
Namun, seiring meningkatnya aktivitas internasional Presiden Prabowo, muncul pertanyaan: mampukah ia menjaga keseimbangan antara politik luar negeri dan politik domestik? Apakah langkah aktifnya di dunia global dapat diterjemahkan menjadi dukungan politik dan kepercayaan publik di dalam negeri?
Pertama, tantangan domestik yang dihadapi Prabowo sangat kompleks. Ekonomi nasional masih menghadapi tekanan dan kesenjangan. Program-program seperti penyediaan rumah rakyat, swasembada pangan, penyediaan lapangan pekerjaan, dan reformasi pendidikan membutuhkan perhatian penuh. Jika Prabowo terlalu fokus pada luar negeri, ia bisa dicap sebagai pemimpin yang abai pada persoalan rakyat.
Kedua, politik dalam negeri pasca-pemilu masih menyimpan fragmen-fragmen konflik. Ada polarisasi antara pendukung dan oposisi, serta tantangan dalam membentuk koalisi yang solid. Jika keberhasilan luar negeri tidak dibarengi stabilitas politik domestik, maka keberhasilan itu hanya akan menjadi pencitraan, bukan kekuatan riil.
Ketiga, dunia internasional sendiri penuh jebakan. Sikap netral dalam konflik besar seperti Barat vs Rusia atau AS vs Tiongkok tidak mudah dipertahankan. Jika Prabowo tidak hati-hati, Indonesia bisa terjebak dalam konflik kepentingan, kehilangan kepercayaan dari satu blok, atau bahkan menjadi target tekanan diplomatik dan ekonomi.
Oleh karena itu, tarian politik internasional Prabowo adalah tarian yang indah namun penuh risiko. Ia menari di dua panggung sekaligus: satu global, satu domestik. Dan keduanya membutuhkan ritme yang presisi.
Namun, jika ia berhasil, maka sejarah akan mencatat Prabowo bukan hanya sebagai presiden militer pertama yang membawa Indonesia dalam politik perdamaian dunia, tetapi juga sebagai arsitek baru politik luar negeri yang berani, seimbang, dan bernas. Ia akan menegaskan bahwa Indonesia tak hanya besar karena jumlah penduduk atau sumber daya, tetapi karena kapasitas intelektual dan moral untuk menjadi suara yang menenangkan di tengah kegaduhan dunia.
Dalam dunia yang dipenuhi ketegangan dan kompetisi, Prabowo memilih berdansa. Dan sejauh ini, gerakannya cukup luwes. Tinggal menunggu: apakah publik dan elite di dalam negeri ikut menikmati musik yang sama, atau tidak. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

