HomeHeadlinePrabowo dan Jalan One Piece

Prabowo dan Jalan One Piece

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Viralnya bendera One Piece tahun ini memicu reaksi pemerintah dan perdebatan publik. Tapi, mungkinkah pemerintahan Prabowo justru bisa memanfaatkan semangat “nakama” ini?


PinterPolitik.com

“お前は俺の仲間だ!” – Monkey D. Luffy

Cupin terkejut melihat pemandangan Agustus tahun ini. Di antara lautan merah putih, berkibar juga bendera tengkorak bertopi jerami, Jolly Roger dari One Piece.

Fenomena ini datang tiba-tiba tanpa tanda-tanda dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam hitungan hari, gambar tengkorak tersenyum itu menjadi perbincangan di warung kopi, kantor, hingga forum daring.

Ajakan mengibarkan bendera ini bersamaan dengan merah putih menyebar cepat di media sosial. Sebagian melihatnya sebagai bentuk kreativitas, sementara yang lain menilai itu pelecehan terhadap simbol negara.

Bahkan, aparat turun tangan melakukan razia terhadap warga yang mengibarkan bendera ini. Tindakan itu memicu pro dan kontra yang semakin membesar.

One Piece memiliki basis penggemar yang sangat kuat di Indonesia. Karakter Luffy dengan semangat nakamanya, sahabat seperjuangan yang siap berkorban, mudah diadopsi anak muda untuk mengekspresikan kebersamaan dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Cupin melihat, ini bukan sekadar tren hiburan yang datang dan pergi. Ada nilai yang tertanam dari kisah ini, yang membuatnya mampu menembus dunia politik, bahkan menjadi bahan gimmick bagi sebagian tokoh publik.

Lalu, jika ini hanya ekspresi budaya pop, mengapa sampai memicu respons keras negara? Apakah yang sebenarnya ditakuti, benderanya atau pesan solidaritas yang dibawanya?

Hero’s Journey dalam One Piece

Cupin teringat konsep “hero’s journey” yang dipopulerkan Joseph Campbell dalam buku The Hero with a Thousand Faces (1949). Ia menjelaskan pola universal perjalanan pahlawan, dari panggilan petualangan, ujian berat, hingga pulang membawa perubahan.

One Piece karya Eiichiro Oda adalah salah satu contoh modern yang mencerminkan pola ini. John G. Cawelti dalam Adventure, Mystery, and Romance: Formula Stories as Art and Popular Culture menegaskan, kisah petualangan seperti ini menginspirasi pembacanya lewat perpaduan keberanian, kecerdikan, dan loyalitas.

Luffy memulai petualangannya dengan tujuan sederhana, yaitu menjadi Raja Bajak Laut. Namun, ia tidak melangkah sendirian karena ia mengumpulkan kru dari berbagai latar belakang yang sama-sama memiliki luka masa lalu.

Solidaritas antaranggota kru terbentuk di tengah berbagai tantangan. Mereka menghadapi musuh kuat, intrik politik, hingga sistem represif Pemerintah Dunia yang menghalangi jalan mereka.

Cupin selalu terkesan pada momen ketika mereka jatuh, tetapi kembali bangkit lebih kuat. Dalam titik-titik krisis inilah, rasa percaya dan pengorbanan menjadi perekat tim Topi Jerami.

Makna “nakama” di dunia One Piece jauh melampaui arti teman. Mereka adalah keluarga pilihan yang tumbuh bersama melewati suka duka perjalanan.

Cawelti menekankan bahwa kekuatan pahlawan tidak hanya datang dari fisik atau strategi, tetapi juga dari hubungan yang dibangun di sepanjang perjalanan. Nilai inilah yang membuat kisah One Piece relevan bagi banyak orang, termasuk di luar konteks fiksi.

Cupin lalu mulai bertanya, mungkinkah prinsip yang sama berlaku di dunia nyata? Apakah ada pemimpin yang menempuh perjalanan serupa dengan Luffy dan krunya?

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)

Prabowo Sebenarnya Juga “Nakama”?

Bagi Cupin, perjalanan Prabowo Subianto punya kemiripan mengejutkan dengan kerangka hero’s journey. Lahir di keluarga nasionalis, meniti karier di militer, lalu terjun ke politik dengan dua kali kalah dalam Pilpres sebelum akhirnya menang.

Setiap fase hidupnya berisi tantangan besar. Ada masa ketika ia harus menghadapi kritik tajam dan keraguan publik yang menuntut perubahan dan adaptasi.

Dalam beberapa kebijakannya, Prabowo membangun citra sebagai pemimpin yang berpihak pada rakyat. Ia membatalkan rencana kenaikan pajak, mengucurkan dana pribadi untuk program makan bergizi gratis, dan menegaskan bahwa ia ingin berjalan bersama rakyat, bukan memerintah dari menara gading.

Seperti Luffy, Prabowo membentuk “kru” politik yang berisi beragam latar belakang, bahkan mantan lawan politiknya. Rekonsiliasi ini mencerminkan tahap penyatuan kekuatan dalam hero’s journey.

Zeno E. Franco dalam jurnal Heroism Research: A Review of Theories, Methods, Challenges, and Trends menjelaskan bahwa pahlawan sejati tidak berjalan sendirian, melainkan tumbuh bersama komunitasnya. Cupin melihat, inilah narasi yang bisa diperkuat, pemimpin sebagai bagian dari rakyat, bukan sosok yang berdiri di atasnya.

Fenomena bendera One Piece memberikan pemerintah peluang unik untuk merangkul generasi muda. Alih-alih memusuhinya, semangat “nakama” bisa diintegrasikan dalam kampanye persatuan nasional.

Bendera itu, bagi sebagian orang, hanyalah simbol hiburan. Namun, bagi banyak anak muda, ia adalah representasi mimpi, persahabatan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan, nilai yang justru sejalan dengan visi negara yang ingin kuat dan bersatu.

Cupin membayangkan, jika pemerintah mau membuka dialog, bendera One Piece bisa menjadi jembatan komunikasi antara negara dan generasi yang tumbuh bersama budaya pop global. Ini bukan tentang mengganti merah putih, tetapi menambah makna di baliknya.

Pada akhirnya, fenomena ini seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman. Bangsa yang besar bukan yang menutup diri dari simbol-simbol baru, melainkan yang mampu merangkulnya, mengelola energinya, dan menjadikannya kekuatan bersama untuk melangkah maju.

Seperti Luffy dan krunya yang terus berlayar melewati badai, Indonesia pun bisa melangkah dengan semangat “nakama”. Bukan untuk menggantikan simbol kebangsaan, tetapi untuk memperkaya maknanya dan membuatnya lebih hidup di hati rakyat. (A43)


Baca juga :  “Mixed Feelings” ala Megawati Berlanjut?
spot_imgspot_img

#Trending Article

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa? 

Bongkar Deep State Dapur MBG?

Kepala BGN yang baru, Nanik Sudaryati Deyang krianya mewarisi lebih dari sekadar jabatan, mulai dari ekosistem kepentingan yang telah mengakar hingga probabilitas deep state di balik dapur MBG. Mengapa demikian?

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Jika Ahok jadi Ketua KPK

Andai jika orang yang suka bicara dengan tajam dan blak-blakan diminta untuk menjadi ketua KPK. Apa yang sebenarnya akan berubah, dan apa yang justru tidak bisa berubah sama sekali?

Khofifah dan Jebakan “Bebek Songkem”?

Khofifah pimpin Jatim nyaris tanpa sorotan, beda jauh dari gubernur Jawa lain yang ramai. Sengaja merunduk atau memang melemah? 

Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian "agak baik" untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.

More Stories

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa? 

Khofifah dan Jebakan “Bebek Songkem”?

Khofifah pimpin Jatim nyaris tanpa sorotan, beda jauh dari gubernur Jawa lain yang ramai. Sengaja merunduk atau memang melemah? 

BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

Prabowo tunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN baru. Mampukah sentuhan perempuan menyembuhkan dapur 60 juta porsi yang sedang sakit?