HomeNalar PolitikPolitik Sarung ala Ma’ruf Amin

Politik Sarung ala Ma’ruf Amin

Kecil Besar

Cawapres terpilih Ma’ruf Amin merupakan sosok yang identik dengan sarung. Meski sempat dipertanyakan boleh tidaknya sarung sebagai busana wapres, aturan protokol dinilai mengizinkan penggunaannya. Sebenarnya, apa makna politis di balik pakaian sarung Ma’ruf?


PinterPolitik.com

“Swag on ‘em even when you dress casual” – Robin Thicke, musisi asal Amerika Serikat

Kecintaan Ma’ruf Amin pada sarung tampaknya menemui beberapa jalan terjal. Terpilihnya sang kiai sebagai wapres yang akan mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat publik mempertanyakan kecintaan Ma’ruf dengan sarungnya.

Pertanyaan itu muncul karena Ma’ruf dinilai akan menjadi wapres pertama yang selalu tampil dengan sarung. Sebagian masyarakat menilai sarung bukanlah pakaian formal yang pantas digunakan pada berbagai kegiatan kenegaraan.

Menanggapi hal tersebut, Ma’ruf sepertinya siap akan berbagai konsekuensi yang ada, termasuk bila harus melepas kecintaannya pada sarung. Pelarian sang kiai pun tertuju pada celana.

Namun, layaknya kisah-kisah yang mengharukan, secercah harapan mulai terlihat bagi sarung Ma’ruf. Kepala Biro Protokol Sekretariat Wakil Presiden, Sapto Harjono, menjelaskan bahwa Peraturan Presiden No. 71 Tahun 2018 tentang Tata Pakaian pada Acara Kenegaraan dan Resmi mengizinkan sarung untuk tetap dikenakan oleh sang kiai ketika menjabat.

Secercah harapan ini tentunya membuka peluang bagi Ma’ruf untuk tetap mengenakan sarung dalam kesehariannya sebagai wapres nanti. Pertanyaannya, apa sebenarnya makna pakaian – seperti sarung – yang dikenakan para politisi? Kepentingan apa yang diperoleh politisi dari gaya berpakaiannya?

Gaya Berpakaian

Gaya dan cara berpakaian sebenarnya telah lama menjadi bagian dari politik. Biasanya, para politisi menggunakan pakaian-pakaian tertentu untuk memberikan pesan-pesan politik yang diinginkan.

Seorang editor fashion di The Telegraph, Charlie Gowans-Eglinton, menjelaskan bahwa gaya berpakaian para politisi memiliki makna di baliknya. Sebagai sebuah instrumen politis, cara berpakaian politisi menunjukkan kontrol, kesiapan, serta mengkomunikasikan status penggunanya – seperti usia, kekayaan, dan pendidikan.

Perdana Menteri Inggris Theresa May misalnya, lebih memilih mengenakan jas, rok, dan sepatu dengan warna yang mencolok dalam sebuah pidatonya. Pilihan pakaian May bisa jadi merupakan hal yang tepat guna menunjukkan sosoknya yang kuat setelah mengalami kekalahan dalam voting soal Brexit di parlemen Inggris.

Selain May, pemimpin-pemimpin negara lainnya juga kerap menggunakan pakaian sebagai sebuah cara untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya. Setidaknya, hal inilah yang disampaikan oleh Anne Peirson-Smith dari City University of Hong Kong dalam artikel milik Jing Zhang di South China Morning Post.

Baca juga :  Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Salah satu pemimpin dunia yang selalu tampil dengan gaya berpakaian yang unik adalah pemimpin Libya Muammar Khadafi. Dalam banyak kesempatan, Khadafi selalu mengenakan pakaian yang berbeda-beda – melambangkan pesan-pesan yang berbeda pula.

Gaya berpakaian militer Khadafi misalnya, menunjukkan kekuatan yang dimiliki oleh sang strongman. Cara berpakaian militer tersebut menunjukkan kehadiran kontrol yang dimiliki sang pemimpin.

Cara berpakaian politisi menunjukkan kontrol, kesiapan, serta mengkomunikasikan statusnya. Share on X

Selain pakaian militer, Khadafi juga beberapa kali mengenakan pakaian khas Afrika. Gaya berpakaian tersebut bisa jadi menandakan kedekatannya dengan negara-negara Afrika lainnya serta nilai-nilai pan-Afrikanisme.

Permainan politik di balik gaya berpakaian Khadafi pun tidak hanya sebatas pakaian khas Afrika. Pemimpin Libya yang tewas dibunuh oleh pemberontak tersebut juga pernah mengenakan sebuah kemeja dengan gambar pemimpin-pemimpin nasionalis Arab dari berbagai negara. Boleh jadi, pakaian tersebut menunjukkan cara Khadafi yang sempat mendukung nilai-nilai pan-Arabisme.

Lalu, bagaimana dengan sarung yang digunakan oleh Ma’ruf?

Jika berkaca pada penjelasan Gowans-Eglinton dan Peirson-Smith serta gaya-gaya berpakaian May dan Khadafi, penggunaan sarung oleh sang kiai bisa jadi turut menyampaikan pesan-pesan politik tertentu. Terlebih lagi, statusnya sebagai ulama sering kali ditonjolkan dalam kontestasi Pilpres 2019 lalu.

Dalam sejarahnya, sarung sendiri memiliki keterkaitan yang erat dengan kelompok Muslim. Dengan mengutip buku Mattiebelle Gittinger, Heide Boehlke dari University of Minnesota menjelaskan bahwa sarung diprediksi berasal dari pedagang-pedagang Muslim dari India dan Arab yang menyebar ke pesisir-pesisir nusantara.

Pertanyaannya selanjutnya adalah bagaimana penggunaan sarung tersebut turut merefleksikan dinamika politik di Indonesia?

Politik Sarung

Penggunaan sarung oleh sang kiai bisa jadi bertujuan untuk melambangkan kedekatan dirinya dengan kelompok Muslim tertentu. Boleh jadi, politik sarung ala Ma’ruf turut mencerminkan kontestasi politik di Indonesia.

Joshua I. Miller dari Lafayette College dalam tulisannya yang berjudul Fashion and Democratic Relationships menjelaskan bahwa pakaian yang dikenakan oleh politisi memiliki signifikansi politik bagi masyarakat. Bahkan, pakaian turut memainkan peran penting dalam sebuah demokrasi.

Dalam negara yang demokratis, individu biasanya akan mengevaluasi dorongan politiknya berdasarkan hubungan-hubungan yang terbangun dalam masyarakat. Gaya berpakaian menjadi penting dalam memengaruhi hubungan-hubungan politik di antara anggota-anggota masyarakat.

Menurut Miller, pakaian turut memanifestasi kesetiaan, keanggotaan, dan kehormatan bagi suatu kelompok karena gaya berpakaian merupakan bentuk ekspresi di balik konflik dan afiliasi yang hadir di masyarakat. Oleh sebab itu, pakaian turut menguatkan ikatan dalam suatu kelompok masyarakat.

Baca juga :  Jalan-jalan dengan Sepatu Roda 'Girl Power'

Penjelasan Miller tersebut pun dapat menjelaskan penggunaan politik sarung oleh Ma’ruf. Pasalnya, sarung sendiri identik dengan kelompok Muslim yang beraliran tradisionalis di Indonesia, yaitu kelompok santri dan Nahdlatul Ulama (NU).

Ma'ruf Amin siap tanggalkan ciri khasnya saat menjabat. Nantikan artikel selengkapnya di Pinterpolitik.com

Posted by Pinter Politik on Wednesday, July 10, 2019

Sarung telah menjadi identik bagi kelompok Muslim di Indonesia, terutama santri, sejak masa kolonial Belanda. Kain tersebut diperkirakan menjadi simbol perlawanan kelompok pesantren tarekat Islam sejak sekitar tahun 1800-an.

Penggunaan sarung sebagai simbol kelompok Muslim tradisionalis semakin diperkuat dengan fatwa tasyabbuh yang dikeluarkan oleh Muktamar NU kedua pada tahun 1927 di Surabaya. Fatwa tersebut mendorong anggapan bahwa pakaian ala Barat akan menjadikan individu tersebut sebagai bagian dari kelompok Belanda.

Penggunaan sarung oleh kelompok santri ini tetap bertahan setelah masa kolonial Belanda berakhir di Indonesia. Bahkan, sarung menjadi busana wajib bagi sebagian besar pesantren.

Oleh sebab itu, secara tidak langsung, dengan menggunakan sarung, Ma’ruf ingin mengatakan bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok Muslim tradisionalis. Sarung tersebut diandalkannya untuk menguatkan ikatannya dengan kelompok tersebut.

Dari ikatan politik yang kuat tersebut, Ma’ruf bisa jadi mendapatkan keuntungan politik. Apalagi, kontestasi politik yang terjadi di Indonesia juga santer melibatkan kelompok-kelompok Muslim yang saling berseberangan.

Sebagaimana diketahui, sarung kerap menjadi busana yang menjadi ciri dari kelompok Muslim  tradisional seperti NU. Sementara itu, di sisi seberang, kelompok yang lebih puritan cenderung memakai pakaian yang tampilannya sesuai dengan riwayat religius secara tekstual.

Lantas, bila diperbolehkan oleh protokol, apakah Ma’ruf tetap akan mengenakan sarung ketika menjabat?

Jika mengacu pada penjelasan Miller sebelumnya, tidak menutup kemungkinan bahwa Ma’ruf tetap akan memanfaatkan sarung sebagai bagian dari identitas dirinya. Kemungkinan untuk mempertahankan sarung tersebut bisa jadi memberikan keuntungan untuk menjaga ikatan dan hubungan politiknya dengan kelompok Muslim tradisionalis – mengingat kelompok-kelompok lainnya bisa saja tetap menjadi ancaman bagi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf di masa mendatang.

Jika benar begitu, lirik penyanyi Robin Thicke pun menjadi relevan. Meskipun tanpa mengenakan pakaian jas lengkap, Ma’ruf akan tetap tampak bersinar dengan kain sarung yang sudah biasa menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. (A43)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

More Stories

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu?