HomeHeadline“Politik Dinasti” Sebenarnya Formula Terbaik? 

“Politik Dinasti” Sebenarnya Formula Terbaik? 

Kecil Besar

Jika dilihat secara komprehensif, praktik politik dinasti nyatanya terjadi hampir di tiap daerah di Indonesia. Suka atau tidak, hal itu tampaknya juga menjadi formula paling ideal jika berkaca pada ekosistem sosiopolitik Indonesia. Mengapa demikian? 


PinterPolitik.com

Di tengah sorotan kurang positif terhadap terminologi “politik dinasti”, pada praktiknya, hal itu seakan menjadi formula kepemimpinan yang paling logis konteks politik Indonesia. 

Politik dinasti sendiri belakangan ini menjadi diskursus panas setelah pencawapresan Gibran Rakabuming Raka. Bahkan, Gibran telah disorot sejak mengikut Pilwalkot Solo 2020. 

Praktik politik dinasti sendiri dinilai membawa dampak negatif karena sejumlah hal, seperti konsentrasi kekuasaan, tendensi nepotisme, monopoli politik, hingga stigma ketidakadilan politik. 

Akan tetapi, pada faktanya, politik dinasti telah dipraktikkan di berbagai wilayah Indonesia sejak lama. 

Di Pulau Sumatera, misalnya, dinasti Herman Deru seolah menggantikan dinasti trah Alex Noerdin di Sumatera Selatan. 

Sementara bergeser sedikit ke Jawa, trah Ratu Atut dan keluarga Jayabaya juga mewarnai politik tanah Banten sejak lama. 

survei mayoritas rakyat legowo politik dinasti

Di Kalimantan Timur, dinasti politik yang berawal dari sosok Isran Noor juga tampaknya mulai terbentuk. Di Sulawesi Selatan, terdapat trah Limpo yang serupa tapi tak sama dengan trah Atut di Banten. 

Lalu, di Maluku Utara, terdapat trah keluarga Abdul Ghani Kasuba yang membentuk trah Kasuba di Halmahera. 

Dengan kata lain, terdapat satu hal konstruktif secara politik dari praktik politik dinasti yang membuat para pemimpin daerah itu berhasil terpilih. Termasuk proyeksinya dalam kepemimpinan yang lebih tinggi, yakni pencawapresan Gibran. Mengapa demikian? 

Nahkoda Politik Ideal? 

Sebuah catatan menarik disuguhkan peneliti politik alumni Northwestern University Amerika Serikat (AS) Yoes Kenawas yang kerap menyoroti dan mengkritisi politik dinasti. 

Setidaknya, terdapat 202 individu terkait “dinasti” yang ikut dalam tiga pilkada terakhir di Indonesia (2015-2018). Para kandidat memiliki kedekatan dengan politisi atau petahana yang pernah atau sedang memangku jabatan publik, baik kepala daerah maupun anggota legislatif. 

Baca juga :  Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Menariknya, 117 dari 202 kandidat tersebut berhasil memenangkan kontestasi elektoral daerah. 

Kendati kritik menyebut demokrasi tak berjalan dengan semestinya akibat politik dinasti, tempat kelahiran politik dan demokrasi sendiri, yakni Yunani Kuno, sebenarnya justru erat dengan tendensi tersebut. 

Di negara-negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, terdapat kecenderungan politik dinasti dalam bentuk aristokrasi. 

Sebagai contohnya adalah apa yang terjadi di Athena pada abad ke-4 SM saat Athena berperang melawan Kekaisaran Persia.   

Dalam buku berjudul A Companion to Greek Studies, Leonard Whibley menyebut bahwa sebelum perang itu, Athena adalah negara-kota yang sangat mengutamakan suara politik penduduknya dalam mengambil sebuah keputusan kebijakan. 

Namun, segalanya berubah drastis setelah Persia menyerang. Sebuah kesadaran kolektif muncul bahwa demi eksistensi negara-kota Athena yang bisa lebih terjamin, mereka perlu memiliki sebuah sistem di mana pengambilan keputusan politik dilakukan oleh orang-orang yang sudah dididik dan dibesarkan dalam lingkungan politik dan militer. 

Hal itu dilakukan agar saat sebuah konflik atau krisis muncul, modal yang dimiliki orang-orang tersebut bisa digunakan secara maksimal.  

Akibatnya, Athena kembali mengadopsi sedikit nilai aristokrasi dalam memilih orang-orang yang berasal dari keluarga bangsawan untuk memegang posisi politik strategis dan krusial. 

Inilah yang menjadi pemantik kemunculan para pemimpin muda yang energetik di sistem politik Athena dan negara-kota sekitarnya. 

Tendensi itu juga tampaknya memiliki kemiripan dengan analogi “kapal demokrasi” filsuf Yunani, Plato, yang mengatakan sebuah kapal akan jauh lebih baik memiliki nahkoda yang familiar dengan kondisi laut dibandingkan orang yang mengetahui lautan hanya dari cerita-cerita belaka. 

Bisa dikatakan, konteks familiar tersebut tampaknya memiliki benang merah dengan fenomena aristokrasi-demokrasi yang terjadi dalam politik Athena masa lalu. 

Lalu, mengapa dalam konteks Indonesia fenomena politik dinasti pun bisa saja lebih logis dan ideal dalam kepemimpinan? 

Baca juga :  Rame “Ke-trigger” PDIP, PAN Chill

Dinasti Adalah Kunci? 

Telah disebutkan sebelumnya, di era Athena, Yunani Kuno politik dinasti dipraktikkan dalam bentuk aristokrasi-demokrasi untuk mengantisipasi konflik dan krisis. Di era ini, hal itu agaknya stabilitas politik. Tentu saat berbicara dari konteks yang “bebas nilai”, atau terlepas dari baik dan buruknya impelentasi politik kekuasaan itu. 

Saat berbicara politik kekuasaan Indonesia, praktik yang benar-benar ideal kiranya hampir mustahil untuk dijalankan. 

Dalam konteks politik lokal maupun nasional, selain rakyat sebagai prioritas utama, begitu banyak aktor yang perlu dikelola dan diakomodasi demi stabilitas politik dan kemaslahatan yang lebih besar. 

Hal itu tentu membutuhkan sosok pemimpin yang benar-benar memahami medan, familiar, serta mewarisi akses dan cara mengelola situasi tersebut. 

Saat dielaborasikan, terdapat beberapa esensi yang menjadikan politik dinasti sebagai formula terbaik. 

Pertama, terkait kontinuitas kepemimpinan. Dengan “tradisi keluarga” yang telah terjun dalam politik, terdapat kemungkinan kesinambungan visi dan kebijakan jangka panjang. 

Kedua, dukungan basis elektoral yang solid. Hal ini menjadi penting saat basisi elektoral akar rumput hingga local strongmen dapat berkontribusi terhadap stabilitas politik. 

Ketiga, terkait dengan familiaritas di mana anggota dinasti politik tumbuh dalam lingkungan politik kekuasaan, termasuk birokrasinya. 

Hal itu dapat menjadi modal pengalaman dan keterampilan yang berguna dalam pelayanan publik dan interaksinya dengan berbagai situasi politik dan pemerintahan yang begitu dinamis. 

Terakhir, terkait dengan akses terhadap sumber daya. Trah politik yang berpengaruh tentu memiliki akses yang lebih besar ke sumber daya dan jejaring sosiopolitik. 

Dalam situasi yang konstruktif, akses tersebut dapat membantu mereka untuk mewujudkan program-program yang mendukung konstituennya. 

Untuk mengantisipasi penyalahgunaan kekuasaan pun, rakyat masih dapat tetap mengawasi para trah tersebut di era keterbukaan informasi seperti saat ini. (J61) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.