HomeHeadlinePKS , “Tim Hore” Aja Cukup?

PKS , “Tim Hore” Aja Cukup?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Seolah dicap sebagai “tim hore” PKS mungkin perlu berbenah dan harus menafsirkan apresiasi Presiden Prabowo sebagai refleksi perbaikan partai untuk menjadi “tim inti” di kontestasi elektoral berikutnya.


PinterPolitik.com

Dalam sambutannya pada penutupan Munas VI PKS pada hari Senin, 29 September 2025, Prabowo menyatakan kesan positif terhadap PKS yang menyodorkan nama teknokrat, Yassierli, untuk masuk kabinet.

Sebuah sinyal yang mungkin tampak bahwa PKS memilih menawarkan figur berkompeten daripada sekadar “tokoh populer”. Kejadian ini kiranya bukan sekadar anekdot, di mana bisa saja membuka pintu analitis untuk menilai ulang strategi PKS antara retorika populer (performansi) dan kredibilitas kebijakan (substansi).

Apresiasi Presiden Prabowo kiranya tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga potensial berimplikasi nyata pada distribusi kekuasaan dalam pemerintahan. Dengan kata lain, langkah PKS menyodorkan nama teknokrat memperlihatkan bagaimana partai ini mencoba keluar dari citra lama sebagai partai yang sekadar mengandalkan basis identitas atau retorika moral.

Lalu, apakah yang dapat dimaknai dari pujian dan manuver PKS saat ini di pemerintahan?

Taktik Performatif PKS?

Langkah dan positioning politik PKS mengusulkan Yassierli dapat dibaca sebagai upaya memperoleh legitimasi substantif. Jika selama ini PKS lebih sering diasosiasikan dengan retorika moral dan komunikasi yang kaku, kehadiran figur teknokrat menunjukkan pergeseran ke arah bukti kompetensi.

Dalam kacamata teori legitimasi, PKS sedang berusaha melampaui sekadar performansi, yakni citra partai religius dengan komunikasi ringan dan gaya populer—untuk menunjukkan bahwa mereka juga memiliki jejaring yang bisa memperkuat jalannya pemerintahan.

Pujian Presiden Prabowo menjadi validasi bahwa pergeseran itu diapresiasi oleh pusat kekuasaan.

Namun, seperti diingatkan teori adaptasi partai, keberhasilan tidak hanya bergantung pada satu momen, melainkan pada konsistensi kelembagaan.

Baca juga :  Adu Nasib Rusdi-Sandi

Katz & Mair menulis tentang “partai kartel” yang cenderung bertahan lewat akses ke negara, bukan sekadar dukungan basis. Jika PKS hanya berhenti pada pengusulan satu nama teknokrat, maka ia berisiko tetap dilihat sebagai partai kartel yang posisinya bergantung pada kemurahan hati presiden.

Legitimasi substantif agaknya hanya bisa dicapai bila PKS menyiapkan infrastruktur kaderisasi yang melahirkan teknokrat dan politisi berkapasitas secara sistematis. Tanpa itu, impresi “tim hore” bukan tidak mungkin akan terpatri terhadap PKS.

diam diam aja nih! apa kabar pksartboard 1 2

Dari “Tim Hore” Menuju “Tim Inti”?

Perjalanan PKS untuk mengubah impresi dari “tim hore” menuju “tim inti” dalam arena politik nasional dapat dipahami melalui dua kerangka, yakni legitimasi substantif dan adaptasi kelembagaan.

Untuk masuk ke tim inti, PKS harus memastikan kehadiran kader atau teknokrat dalam pos kementerian strategis yang memungkinkan transfer legitimasi langsung kepada masyarakat.

Bukan lagi sekadar “hore” yang bersifat performatif atau broker teknokrat, tetapi “substansi” yang terwujud dalam kebijakan konkret via manuver orisinil mereka, misalnya reformasi pendidikan, infrastruktur sosial, atau tata kelola ekonomi yang inklusif.

Panebianco menekankan bahwa sebuah partai hanya bisa bertransformasi bila memiliki kapasitas diferensiasi organisasi. PKS dengan basis kader dakwah yang solid sebenarnya sudah punya fondasi kuat, tetapi itu harus diperluas menjadi pipeline profesional.

Dari sini, “tim inti” lahir, bukan hanya relawan hore di luar ring, melainkan teknokrat hingga profesional muda yang berstatus politisi PKS berintegritas yang siap mengeksekusi kebijakan di pusat kekuasaan.

Proses diferensiasi ini tidak hanya memperluas daya tarik partai, tetapi juga mengokohkan legitimasi substantifnya di mata publik dan elite negara.

Lebih jauh, teori bargaining partai menunjukkan bahwa posisi inti dalam koalisi hanya mungkin jika PKS mampu menegosiasikan portofolio yang relevan. Tidak cukup menjadi pelengkap atau sekadar simbol keberagaman koalisi, di mana PKS harus memperjuangkan ruang kerja yang memungkinkan mereka menunjukkan performa nyata.

Baca juga :  Negara yang Akhirnya Belajar Melihat

Dalam konteks ini, usulan nama Yassierli yang diapresiasi Presiden Prabowo bisa menjadi batu loncatan. Bila PKS menindaklanjutinya dengan konsistensi kaderisasi, maka ia akan naik kelas dari tim hore yang sekadar meramaikan panggung, menjadi tim inti yang menentukan arah permainan.

Transformasi ini juga menuntut reartikulasi identitas ideologis. PKS harus mampu mengemas nilai religius sebagai prinsip tata kelola modern yang inklusif.

Di sinilah post-Islamisme relevan, yakni keberlanjutan partai Islam tidak datang dari retorika simbolik semata, tetapi dari kemampuan meramu nilai agama ke dalam bahasa universal seperti transparansi, keadilan sosial, dan integritas publik. Jika hal ini berhasil, maka strategi “hore” tidak akan hilang, melainkan berevolusi menjadi medium komunikasi dari sebuah substansi yang lebih kokoh.

Dengan demikian, jalan dari “tim hore” ke “tim inti” menuntut integrasi antara gaya dan isi. Tanpa diferensiasi organisasi, kaderisasi teknokratik, citra Islam, dan negosiasi portofolio strategis, PKS mungkin hanya akan berputar pada orbit hiburan politik. (J61)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Tiga dekade ia berderap melawan setiap kekuasaan. Ibaratkan pedang, Fahri Hamzah menggunakan mulutnya seperti pedang yang tajam. Begitu ia masuk ke dalamnya, pedang itu nampak seperti pedang yang “karatan”

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Di tengah pemerintahan yang pamornya meredup, satu figur justru rajin turun ke jalan. Kebetulan, atau ada yang sedang ia kumpulkan?

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Bambang Pacul menyebutnya mentalitet korea: watak orang yang pernah melarat lalu nekat melenting dan sampai ke pucuk kekuasaan politik. Bahlil membawanya ke Senayan, dan jenis nyali itu ternyata tidak bisa diwariskan.

Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

Dari membeli lukisan siswi SMP hingga mendengar langsung aspirasi mahasiswa, Dudung Abdurachman seolah menampilkan wajah baru KSP. Apakah ini sekadar pencitraan, atau tanda lahirnya paradigma baru komunikasi institusi dan seorang purnawirawan jenderal di saat bersamaan?

Lapar yang Tidak Ikut Libur

Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #43PinterPolitik.com Tiga hari lagi, pada 22 Juni 2026,...

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk — tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

Danantara OTW Beli Chelsea?

SWF dunia kini berbondong-bondong masuk industri olahraga. Akankah Indonesia ikut bermain?

More Stories

Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

Dari membeli lukisan siswi SMP hingga mendengar langsung aspirasi mahasiswa, Dudung Abdurachman seolah menampilkan wajah baru KSP. Apakah ini sekadar pencitraan, atau tanda lahirnya paradigma baru komunikasi institusi dan seorang purnawirawan jenderal di saat bersamaan?

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan “ijazah birokrat” otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai