HomeNalar PolitikPerang 3K di Media Sosial

Perang 3K di Media Sosial

Kecil Besar

Saat masyarakat disibukkan oleh 3K, kita seolah lupa hal nyata yang sesungguhnya terjadi, bahwa kesenjangan ekonomi di negara ini masih buruk.


PinterPolitik.com

“Distracted from distraction by distraction” – T.S. Eliot (1888-1965), dalam kumpulan puisi Four Quartets

[dropcap size=big]P[/dropcap]ernahkah mengalami saat bangun pagi kita menerima berbagai pesan tulisan, gambar atau video di telepon pintar kita yang berisi pesan-pesan kebaikan atau ajaran-ajaran keutamaan hidup? Beberapa pesan sering diakhiri dengan ucapan seperti ini: “Renungan ini mengintrospeksi aku agar lebih mawas diri bahwa: dulu aku ini siapa? Dan sekarang aku mau kemana?” Beberapa pesan yang lain menyajikan cerita-cerita dengan pesan moral tertentu, seperti yang berikut ini:

Sebaliknya, di lain kesempatan, kita juga sering dikirimkan berbagai pesan ujaran kebencian di media sosial. Tidak sedikit dari pesan-pesan tersebut berisi ajakan untuk memusuhi pihak tertentu. Ada juga pesan-pesan propaganda yang berisi ajakan untuk berhati-hati terhadap orang-orang dari kelompok tertentu. Media sosial seolah menjadi tempat pergumulan dua hal tersebut.

Terkait peran media sosial, abad ke-21 memang telah memasuki kejayaannya, setidaknya kalau merujuk pada ramalan Karl Marx (1818-1883) tentang bersilang-silangnya komunikasi dan transportasi di seluruh dunia. Keberadaan media sosial yang digunakan oleh hampir semua orang menandai kejayaan tersebut yang sering juga membuat orang menjadi terasing dari lingkungan sosialnya yang riil – kondisi yang oleh T.S. Eliot di awal tulisan disebut sebagai terdistraksi atau teralihkan.

Gejala masyarakat ‘yang teralihkan’ ini bisa dilihat dari sebaran-sebaran pesan lewat media sosial, baik itu pesan-pesan berisi ajaran kebaikan, maupun ujaran kebencian. Pernahkah kita bertanya, apakah pesan-pesan tersebut hanya sekedar ajakan biasa yang disebarluaskan? Atau ada maksud lain di balik pesan-pesan yang misalnya dikirimkan lewat whatsapp atau juga di laman facebook kita?

3K dan Perang di Media Sosial

Untuk memahami mengapa ada dua kutub yang berbeda di media sosial, perlu dipahami kondisi ekonomi-politik saat ini. Jika dirangkum, sesungguhnya ada 3 gerakan utama di media sosial dengan agenda yang berbeda. Gerakan-gerakan ini bisa disebut dengan 3K: Kapitalis, Khalifah dan Karma.

Bukan tanpa alasan jika orang menyebut kapitalisme sebagai paham yang sedang berjaya saat ini, mengingat paham inilah yang sangat mempengaruhi masyarakat kita dan membentuk struktur ekonomi-politik internasional. Maka, sebagai ‘K’ yang pertama, kaum Kapitalis – yang idenya berangkat dari Kristianitas – berperan sangat besar dalam berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat, termasuk dalam hal sebaran informasi di media sosial. Bahkan media sosial itu sendiri lahir dari kapitalisme pasar bebas yang menghendaki adanya kebebasan untuk berekspresi.

Meraih keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya merupakan cita-cita utama kapitalisme. Oleh karena itu, sering muncul slogan seperti ‘greed is good’‎ (serakah itu baik). Namun, seiring berjalannya waktu, kata-kata itu diperhalus dengan pesan-pesan meritokrasi – paham tentang kesamaan kesempatan – yang seolah-olah adil, tetapi sebenarnya memunculkan ketimpangan sosial. Faktanya, kapitalisme membuat orang-orang kaya bertambah kaya, dan yang miskin akan bertambah miskin. Pada saat yang sama sistem kapitalisme juga melahirkan kejenuhan di masyarakat karena hidup seolah diukur hanya dari pemenuhan materi. Selain itu, kapitalisme menyebabkan makin sering terjadi gejolak antara kaum buruh dan pemilik modal, serta mengondisikan ekonomi dengan potensi krisis.

Baca juga :  Xi Jinping, the King of Games?

Kondisi inilah yang menyebabkan lahirnya ‘K’ kedua, yaitu kaum Khalifah. Kekhalifahan atau Khalifah merujuk pada gerakan fundamentalisme yang awalnya berasal dari konsep ingin mengubah dunia – khususnya dunia Islam – menjadi satu kesatuan dengan panji kekhalifahan seperti yang ada pada zaman Nabi Muhammad SAW. Kelompok ini melawan kesenjangan ekonomi yang terjadi dan menggalang dukungan untuk mereformasi sistem dunia bentukan kaum kapitalis.

Namun, tidak jarang kelompok Khalifah ini sebetulnya dikendalikan oleh kaum Kapitalis dengan tujuan lagi-lagi untuk kekayaan. Lihat saja dalam kasus ISIS yang sesungguhnya merupakan sebuah korporasi bisnis konflik di Timur Tengah.

(Baca: Dahsyat, Ternyata ISIS Adalah Korporasi)

Dalam konteks lokal di Indonesia, perwujudan kelompok-kelompok ini bisa dilihat dalam kampanye anti Pancasila atau berbagai gerakan fundamentalisme lainnya. Kelompok-kelompok ini juga mengampanyekan gerakan anti toleransi dan anti perbedaan – walaupun pada saat yang sama, ada juga kelompok Kapitalis yang mengambil keuntungan dari konflik dan suasana kekacauan ditimbulkan kaum Khalifah ini.

Kaum kapitalis juga seringkali ‘memanfaatkan’ kelompok Khalifah untuk membuat masyarakat sibuk dengan isu-isu fundamentalisme, sehingga lupa akan kondisi riil ketimpangan ekonomi yang terjadi. Indonesia adalah negara dengan tingkat ketimpangan nomor 4 terbesar di dunia. Faktanya, jumlah harta kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia  dengan total kekayaan mencapai 25 miliar dollar, setara dengan jumlah kekayaan 100 juta orang miskin di negara ini. Ketika masyarakat sibuk dengan isu teror atas nama agama, pada saat yang sama kita menyaksikan banyak konglomerat memborong properti baru dan menyingkirkan orang-orang miskin dari wilayah yang selama ini mereka tempati di kota-kota besar. Itulah yang sesungguhnya terjadi.

Antitesa dari dua kelompok tersebut adalah kelompok ‘K’ yang ketiga, yaitu mereka yang percaya pada Karma. Kelompok ini percaya bahwa sikap hidup dan tindakan yang buruk akan melahirkan balasan yang setimpal. Dalam kapitalisme, Karma juga bisa diartikan sebagai action of discretion atau tindakan dengan kebijaksanaan. Kaum Karma mengedepankan terciptanya kondisi ekonomi dan politik yang stabil agar masyarakat menjadi aman dan damai.

Perang di Media Sosial
Contoh pesan-pesan Karma yang sering dibagikan (Foto: istimewa)

Dalam konteks yang lebih luas, kaum Karma ini menyebarkan pesan-pesan kedamaian dan kebaikan lewat media sosial dengan harapan dapat menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh kaum Kapitalis dan Khalifah. Kondisi yang aman tentu memudahkan orang untuk melakukan berbagai aktivitasnya, termasuk juga dalam bidang ekonomi. Oleh karena itu, tidak jarang orang-orang dari kelompok Kapitalis mendadak menjadi Karma-is demi melindungi kepentingan ekonominya – atau pun mengaburkan fakta riil ketimpangan ekonomi yang terjadi dalam masyarakat. Baik Kapitalis, Khalifah maupun Karma, semuanya memainkan posisinya masing-masing di dalam kondisi masyarakat dengan jarak kesenjangan ekonomi yang terus melebar.

Baca juga :  Khofifah dan Jebakan "Bebek Songkem"?

Kesadaran Palsu?

Faktanya, 3K ini sedang terlihat di Indonesia, terutama di media sosial – mungkin karena media sosial menjadi sarana yang memungkinkan bagi siapa saja untuk bisa berekspresi. Seringkali kita melihat tulisan tentang radikalisme atau ujaran kebencian tersebar di media sosial, namun tidak jarang juga kita melihat pesan-pesan Karma-is disebarkan. Saat dua pesan tersebut memperebutkan pengaruh di media sosial, kaum-kaum Kapitalis malah sibuk mencari cara untuk membeli lahan dan properti yang menjanjikan di area perkotaan.

3K ini seolah menyembunyikan kondisi ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia. Laporan tahunan “Global Wealth Report 2016” dari Credit Suisse menyebutkan ketidakmerataan ekonomi Indonesia mencapai 49,3 %. Artinya hampir setengah aset negara dikuasai satu persen kelompok terkaya di Indonesia. Tren kesenjangan ekonomi ini juga makin buruk tiap tahun – hal yang secara langsung diungkapkan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Oleh karena itu, situasi saat ini adalah Khalifah sedang dimainkan oleh Kapitalis agar orang lupa terhadap kondisi sosial-ekonomi yang sesungguhnya terjadi di masyarakat. Sementara, Karma-is seolah-olah ingin menyelesaikan masalah tanpa mengubah kondisi riil yang sedang terjadi. Selain itu, tidak jarang radikalisme agama juga dipakai sebagai alat masyarakat untuk mencari pelampiasan terhadap kondisi sosial-ekonomi yang timpang.

Potret kesenjangan ekonomi di Indonesia. (Foto: merdeka.com)

3K sedang ada dalam upaya menciptakan ‘kesadaran palsu’ – hal yang pernah disebutkan Marx ketika ia berbicara tentang ideologi. Masyarakat terdistraksi dari kondisi ekonomi yang riil dan disibukkan dengan pesan-pesan kebaikan – seolah semuanya baik-baik saja – atau mengkhawatirkan radikalisme dan fundamentalisme – seolah-olah hidup akan semakin memburuk. Masyarakat yang teralihkan ini diperparah dengan kondisi politik di tingkat pemerintahan yang terlalu sibuk dengan urusan kepentingan golongan.

Saat masyarakat disibukkan oleh 3K, kita seolah lupa hal nyata yang sesungguhnya terjadi, bahwa kesenjangan ekonomi di negara ini masih buruk. Pemerintahan yang saat ini berkuasa memang sedang mengupayakan perbaikan pemerataan kesejahteraan. Namun, jika kita selalu terdistraksi oleh isu terorisme, radikalisme, Hak Angket KPK, perdebatan politik di gedung DPR, dan lain sebagainya, maka negara ini tidak akan pernah bisa keluar dari akar persoalan ekonomi. Kita hanya akan berada di lingkaran 3K dan terus berputar di tempat yang sama. Saat negara lain sudah sibuk mempersiapkan tempat tinggal di luar angkasa, Indonesia masih sibuk dengan tetek bengek gosip artis, politisi, dan korupsi. Kapan majunya?

Pada akhirnya, sesering apa pun kita membaca Four Quartets tulisan T.S. Eliot, kita akan tetap menjadi orang-orang yang terdistraksi oleh distraksi dari kehidupan yang sudah terdistraksi. Oleh karena itu, sudah saatnya kita bangun dari kesadaran palsu yang sedang terjadi. (S13)

 

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.