HomeNalar PolitikCak Imin Jegal Khofifah

Cak Imin Jegal Khofifah

Kecil Besar

Sudah sejak lama Khofifah Indar Parawansa disebut-sebut akan maju di Pilgub Jatim. Namun ketika dirinya merasa siap dan mulai dilirik partai besar, niatnya itu malah dihalang-halangi Cak Imin. Mengapa?


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]M[/dropcap]enteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa berniat mengumumkan keputusannya maju dalam pencalonan sebagai calon gubernur (cagub) di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur 2018 mendatang. Kabarnya, deklarasi ini akan ia lakukan paling lambat sebelum pendaftaran Komisi Pemilihan Umum (KPU) dibuka pada Desember mendatang.

“Iya, ibu (Khofifah) sendiri yang nanti bakal mendeklarasikan pencalonan di Pilgub Jatim,” kata seorang sumber di gedung Parlemen, Rabu (12/7) malam. Menurutnya, gerakan Khofifah memang perlahan namun pasti. “Sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU, ibu mulai membuka diri,” katanya lagi. Apalagi, saat ini Khofifah juga dikabarkan tengah melihat kondisi di lapangan terkait rencananya tersebut.

Namun saat ditanya mengenai dukungan politik yang akan mengusung Khofifah, sumber itu masih merahasiakannya. “Nantilah (soal partai pengusung). Kan beliau masih check sound. Pokoknya begitu deh,” kelitnya. Sumber tersebut memastikan kalau komunikasi politik dengan sejumlah partai terus dilakukan hingga saat ini. “Dengan pimpinan-pimpinan partai itu sering kita bertemu. Mereka juga pasti tanya-tanya (tentang Pilgub Jatim),” lanjutnya.

Sementara itu, kabarnya Golkar tengah mempertimbangkan Khofifah sebagai cagub yang akan mereka usung di Pilgub Jatim. Menurut Ketua Korwil Jatim DPP Golkar Yahya Zaini, ada permintaan dari beberapa kader partai tersebut untuk memajukan Khofifah di Pilgub Jatim. Selain Khofifah, nama Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sedang dipertimbangkan secara serius oleh Golkar. “Ada dua kandidat yang disebut-sebut yang memungkinkan untuk dicalonkan, yaitu Gus Ipul dan Khofifah,” kata Yahya, Selasa (11/7).


Yahya mengatakan, partainya saat ini sedang melakukan survei internal untuk mengukur kekuatan kedua tokoh tersebut. Khofifah, lanjut Yahya, memiliki nilai lebih tersendiri karena merupakan Ketum PP Muslimat NU 2016-2021. Namun, untuk menentukan siapa yang akan diusung Golkar dalam Pilgub Jatim, baru akan diketahui bulan depan. “Ada kalangan dari internal yang ingin Golkar mengusung Khofifah. Khofifah juga kan punya massa sendiri, apalagi dia merupakan Ketum Muslimat NU. Itu jadi poin lebih.”

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Di sisi lain, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebelumnya telah mengatakan harapannya agar Nahdlatul Ulama (NU) bersatu mendukung satu calon dalam pemilihan gubernur Jawa Timur 2018, yakni Gus Ipul. Oleh karena itu, dia meminta agar Khofifah Indar Parawansa sebagai kader NU tidak ikut maju dalam Pilgub Jatim dan tetap konsentrasi dengan jabatannya saat ini.

“Kami serius mendorong keluarga besar NU untuk bersatu, termasuk bu Khofifah. Kami meminta bu Khofifah agar tetap melanjutkan karya-karya cemerlangnya di Kementerian Sosial,” kata Cak Imin, Senin (10/7). Menurutnya, Khofifah merupakan salah satu kader NU yang paling dibanggakan warga Nahdliyin. “Tugas berat membutuhkan NU yang kompak, NU yang solid, yang umatnya saling percaya. Menguatkan NU berarti mengokohkan NKRI,” tambahnya.

Ketakutan Cak Imin akan terbelahnya warga NU di Jatim sangat beralasan, sebab sebelumnya PKB memang telah mendeklarasikan akan mengusung Gus Ipul, apalagi wakil gubernur Jatim tersebut juga telah mendapatkan restu dari para Kyai Sepuh NU. Apalagi berdasarkan Surabaya Survei Center (SSC), popularitas Khofifah terus naik menjelang Pilkada Jatim 2018.

Survei tersebut mencatat, popularitas Mensos menyentuh angka 90 persen. Sementara Gus Ipul yang sudah lebih dulu mendeklarasikan maju Pilkada Jatim hanya meraih 84,60 persen, disusul Tri Rismaharini dengan 79,8 persen. Di peringkat keempat ada artis yang juga politisi PAN asal Jember, Anang Hermansyah dengan 67,3 persen. “Popularitas banyak didorong oleh publisitas media, tidak heran kalau Anang Hermansyah ada di peringkat keempat,” kata Direktur SSC, Mochtar W Oetomo, Rabu (12/7).

Baca juga :  Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Survei yang digelar Juni di 38 kabupaten dan kota dengan 800 responden calon pemilih itu, Risma memimpin perolehan survei figur paling disukai atau akseptabilitas dengan perolehan 75,8 persen dukungan. Sementara Gus Ipul mendapat 75,5 persen dukungan, disusul Khofifah dengan 67,9 persen dukungan. Adapun dalam hal elektabilitas atau keterpilihan, Gus Ipul tertinggi dengan 26,6 persen, Risma 24,1 persen, dan Khofifah 16,8 persen. (Suara Pembaruan)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...