HomeNalar PolitikPenyebar Baladacintarizieq di Amerika?

Penyebar Baladacintarizieq di Amerika?

Kecil Besar

Hingga saat ini, kepolisian masih kesulitan mencari sumber yang menyebarkan chat mesum Rizieq Shihab. Pihak Polda menduga, dalangnya adalah hacker terkenal, Anonymous yang berada di Amerika.


PinterPolitik.com

“Itu dari luar, dari Amerika, Anonymous. Kami sedang lakukan penyelidikan.”

[dropcap size=big]K[/dropcap]apolda Metro Jaya Irjen M Iriawan mengatakan, penyebar konten chat seks tersangka Rizieq Shihab dan Firza Husein berasal dari kelompok peretas atau hacker yang mengatasnamakan diri sebagai Anonymous. Berdasarkan penelusuran penyidik pula, diketahui domisili penyebar awal konten mesum itu di Amerika Serikat.

Karena itulah, Iriawan mengaku kesulitan untuk menangkap pelakunya. “Karena dari luar, enggak gampang. Kalau di dalam negeri enak, kami bisa langsung. Kalau luar kan kami mesti koordinasi dengan pihak Amerika,” kata Iriawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (8/6).

Menurutnya, penyidik juga belum bisa memastikan adanya penyadapan terhadap telepon genggam milik Rizieq dan Firza dari kelompok Anonymous. Yang jelas, koordinasi antar-negara punya mekanisme tertentu dan jangan seenaknya dianggap mudah. “Ini mesti koordinasi dengan pemerintah setempat. Tak segampang itu. Yang jelas kami lakukan terus,” tegasnya.

Lantaran server pengunggah chat berada di Amerika, penyidik tidak leluasa mencari penyebar percakapan tersebut. Namun hingga saat ini sudah ada enam ahli yang diterjunkan dalam upaya pelacakan server situs dan penyebar konten dugaan percakapan tersebut.  “Kalau ahli yang terkait konten itu ada beberapa ahli telematika dan IT,”  tambahnya.

Siapa Anonymous

Anonymous merupakan peretas terkenal karena memiliki reputasi menghebohkan tingkat dunia. Peretas ini biasanya menggunakan topeng Guy Fawkes untuk menyamarkan dirinya. Sebagai jejaring kelompok aktivis peretas internasional, mereka mengklaim bertanggung jawab atas banyak serangan siber terhadap pemerintah, korporasi, dan situs religius selama belasan tahun terakhir ini.

Baca juga :  Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Sejak serangan maut ISIS terhadap surat kabar mingguan satir Prancis, Charlie Hebdo, pada awal 2015 terjadi, aktivis Anonymous telah melakukan perusakan daring (online) dan membuat akun-akun Twitter pendukung ISIS menjadi mati. Anonymous menyatakan telah mengidentifikasi lebih dari 39 ribu profil terduga ISIS dan melaporkannya ke Twitter. Mereka juga mengklaim telah menghentikan sementara 25 ribu akun.

Lalu siapa sih Anonymous? Siapa pun bisa mengklaim dirinya sebagai Anonymous. Itu dikatakan Chief Security Expert Kaspersky Alexander Gostev. Menurutnya, tanpa perlu mendaftar atau memenuhi standar apa pun, siapa saja bisa mengklaim dirinya sebagai Anonymous. “Siapa pun bisa menjadi Anonymous, meski cuma punya skill sekadarnya,” terang Gostev di Jakarta, pada 27 November 2015.

Perkembangan akun Anonymous di Indonesia meningkat sejak masa Pilkada 2017. Gontok-gontokan di dunia maya menjadi intens karena hajatan politik itu. Hal ini pernah dikatakan Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri Kombes Fadil Imran. “Perkembangan Anonymous di dunia maya semakin tinggi, akun-akun telur juga marak bermunculan ketika pilkada,” terang Fadil di Jakarta, 27 Februari lalu.

Dipertanyakan FPI

Menanggapi hal itu, kuasa hukum Rizieq Shihab, Sugito Atmo Prawiro mengaku heran. Padahal sebelumnya dari pihak Anonymous telah menyatakan tidak melakukan hal itu. “Dulu kan ada bantahan dari Anonymous. Itu kan yang diviralkan juga. Kok tahu dari Amerika. Itu tahu dari mana mereka?” tutur Sugito di Jakarta, Kamis (8/6).

Sugito masih berkeras ingin mendapatkan kejelasan mengapa kepolisian sudah menetapkan Rizieq sebagai tersangka, bahkan telah menjadikannya sebagai DPO. Padahal, jika memang hal itu terjadi, tetap masuknya ranah pribadi dan tidak bisa dijatuhkan pidana.

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

“Jadi harus dibedakan mana domain privat mana domain publik. Kalau itu domain publik itu artinya fungsinya jadi dua. Untuk disebarkan, diperbanyak dan semua orang untuk menonton jadi bisa kena pidana,” jelasnya.

“Kalau itu berdasarkan Undang-Undang ITE itu ditahan berarti (terjerat) Pasal 27 ayat 1. Itu kan yang membuat, memproduksi, mempertontonkan, dan menyebarkan. Nah kalau Pasal 27 ayat 1 ini tidak terpenuhi siapa yang meng-upload, jadi siapa saja boleh misalnya punya pacar ada chat pribadi meminta foto-foto pribadi kemudian disebarkan (oleh orang lain), menjadi tersangka begitu?” lanjut Sugito. (Berbagai sumber/R24)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...