HomeHeadlinePartai Ummat Bukan Tandingan PAN?

Partai Ummat Bukan Tandingan PAN?

Kecil Besar

Ketua Umum Partai Ummat Ridho Rahmadi sesumbar mengatakan bahwa partainya akan melebihi perolehan suara PAN di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024. Dengan basis massa yang sama, apakah partai yang didirikan Amien Rais itu akan merebut suara PAN? Atau justru Partai Ummat masih terlalu kecil untuk menjadi saingan PAN?


PinterPolitik.com

Selepas “tersisih” dari PAN, Amien Rais sekiranya belum habis. Pada 28 April 2021, Amien mendirikan Partai Ummat dan langsung tancap gas untuk bertarung di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024. Kendati awalnya tidak lolos verifikasi KPU, Partai Ummat resmi menjadi peserta ke-18 Pileg 2024.

Menariknya, meski hampir tidak menjadi peserta pemilu, Partai Ummat sesumbar mengatakan perolehan suaranya akan melebihi PAN. “Enggak, nggak (gerus suara PAN). Kita berjuang untuk lebih besar dari itu,” ungkap Ketua Umum Partai Ummat Ridho Rahmadi (01/01/23).

Sedikit melakukan komparasi, narasi “kanibalisme suara” juga terlihat ketika Anis Matta dan Fahri Hamzah membentuk Partai Gelora. Sama dengan PKS dan Gelora yang merebut ceruk suara yang sama, PAN dan Partai Ummat juga akan menunjukkan hal serupa.

Kembali pada pernyataan Ridho Rahmadi. Apakah Partai Ummat menjadi momok menakutkan bagi PAN di Pileg 2024?

partai ummat mampu kalahkan pan

Apa Brand Partai Ummat?

Pertama-tama, tentu perlu dipertegas bahwa jawaban pasti pertanyaan itu hanya dapat diperoleh setelah KPU mengumumkan perhitungan suara resmi. Namun, apabila melakukan analisis di atas kertas, kita dapat menggunakan pisau bedah marketing politik.

Pada dasarnya, aktivitas partai politik dapat kita samakan dengan praktik jual-beli. Dalam pemilu, semua partai politik berlomba untuk dibeli (dicoblos) oleh pemilih. Atas kepentingan itu, partai membutuhkan brand untuk meningkatkan potensi keterpilihannya. Dalam literatur politik kita mengenal brand sebagai identitas atau ideologi partai.

Baca juga :  BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

Radu Dandu dalam tulisannya What Is Branding and Why Is It Important for Your Business?, menjelaskan branding tidak hanya bertujuan untuk membuat konsumen mengingat produk, melainkan juga untuk meletakkan harapan pada produk tersebut.

Sebagai contoh, jika Partai X berhasil melakukan branding sebagai partai Islam yang progresif dan modern, itu akan membuat pemilih menaruh harapannya atas aspirasi modernitas keislaman pada Partai X. Dengan demikian, branding adalah cara untuk membedakan diri dari pesaing dan sebagai penegas kenapa kita adalah pilihan yang lebih baik.

Sekarang, kita akan melihat branding Partai Ummat. Suka atau tidak, sejauh ini belum terlihat upaya branding yang mumpuni. Branding Partai Ummat bersifat umum dan masih berkutat pada narasi sebagai partai Islam. Selaku partai baru yang berambisi memperoleh suara melebihi PAN, Partai Ummat membutuhkan brand yang lebih spesifik.

Sebagai contoh kasus, kita dapat melihat kegagalan PSI di Pileg 2019. Pada awalnya berbagai pihak menaruh ekspektasi bahwa PSI akan membawa perubahan dan penyegaran narasi. Tagline-nya sebagai partai anak muda sangat menarik. Namun, langkah tidak konsisten dalam menerapkan tagline itu membuat masyarakat menilai PSI sama saja dengan partai kebanyakan.

Pada kasus PSI, mereka sebenarnya sudah berhasil menciptakan branding yang spesifik, unik, dan menarik. Namun, mereka gagal di langkah kedua, yakni menunjukkan ke pemilih bahwa brand mereka dapat dijadikan tempat menaruh harapan.

Pada kasus Partai Ummat, sekiranya partai besutan Amien Rais tersebut masih berkutat pada tahap satu. Jangankan pada tahap untuk membuktikan brand-nya, Partai Ummat bahkan belum memiliki brand yang bersifat spesifik, unik, dan menarik.

PAN Dua Langkah di Depan?

Di sisi lain, yakni PAN, mereka terlihat sudah melakukan dua langkah di depan. Dalam artikel PinterPolitik yang berjudul Apakah Muhammadiyah Kunci Suara PAN? pada 25 Januari 2022, telah diurai bahwa PAN telah melebarkan ceruk suaranya. PAN tidak lagi berkutat pada simpul-simpul suara Muhammadiyah, melainkan juga mengincar simpul-simpul suara Nahdlatul Ulama (NU).

Baca juga :  Jebakan Rindu Soeharto?

Helen Jackson dalam tulisannya How To Do Competitor Analysis For Brands, menjelaskan bahwa mengetahui siapa pesaing kita tidaklah cukup. Untuk menang dalam perlombaan marketing, kita perlu menganalisis apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka melakukannya, dan kemudian mencari tahu bagaimana agar produk kita menonjol di samping kompetitor.

Tegas Jackson, konsumen memiliki begitu banyak pilihan. Untuk memenangkan pangsa pasar, kita harus melakukan analisis terhadap kompetitor. Konteks yang sama juga terjadi pada pemilu. Dengan banyaknya pilihan partai politik, pemilih perlu melihat sesuatu yang menonjol. Partai Ummat tidak cukup dengan menjadikan PAN sebagai kompetitor, melainkan juga harus menganalisis strategi branding-nya.

Kembali pada pernyataan Ketua Umum Partai Ummat Ridho Rahmadi. Pernyataannya mungkin dapat ditafsirkan sebagai perang psikologi semata. Pasalnya, berbeda dengan kompetitor mereka, yakni PAN, Partai Ummat belum menunjukkan diri sebagai entitas politik yang menonjol sehingga lebih menarik bagi pemilih.

Well, sebagai penutup, peluang Partai Ummat untuk menggerus suara PAN, atau bahkan melampauinya tentu belum tertutup. Partai besutan Amien Rais itu masih memiliki waktu untuk menciptakan branding-nya. Kita lihat saja ke depannya. (R53)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...