HomeHeadlinePAN PAN PAN, Paling Prabowo-Gibran?

PAN PAN PAN, Paling Prabowo-Gibran?

Kecil Besar

PAN dinilai sukses dalam mengubah citranya menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 dengan konten-konten kampanyenya. Mungkinkah ini strategi jangka panjang PAN untuk Prabowo-Gibran?


PinterPolitik.com

“PAN PAN PAN~” 

Nama partai politik (parpol) dalam kutipan di atas mungkin menjadi salah satu nama parpol yang paling banyak disebutkan di media sosial (medsos).

Bagaimana tidak? Akhir-akhir ini, lagu ini muncul di banyak media – mulai dari media televisi hingga media-media lain di internet.

Lagu “PAN PAN PAN” ini disebut menjadi salah satu lagu kampanye yang paling diingat oleh sebagian besar masyarakat. Meski tidak jarang jadi bulan-bulanan, lirik lagu ini memang banyak dibicarakan di medsos.

Kampanye dengan lagu, artis, dan joget ala TikTok dari PAN ini bukan tidak mungkin telah menbuahkan hasil. Dalam survei yang dilakukan oleh Indonesia Political Opinion pada 10-17 November 2023, elektabilitas PAN meningkat sebesar 6,4 persen.

Padahal, PAN bisa dibilang sebelumnya dikenal sebagai parpol yang identik dengan Muhammadiyah – salah satu organisasi Islam terbesar yang identik dengan intelektualitas dan pendidikan.

Namun, kini, PAN justru menyuguhkan citra yang lebih luwes. Ini terlihat dari lagu “PAN PAN PAN” yang lebih menekankan pada repetisi lirik agar lebih mudah diingat. Belum lagi, PAN juga makin rajin di medsos seperti TikTok.

Perubahan PAN ini tentu menimbulkan tanya. Mengapa PAN yang identik dengan nilai-nilai agama dan pendidikan kini berubah menjadi parpol yang lebih dikenal di medsos? Mungkinkah ini strategi jangka panjang yang disiapkan oleh PAN?

Politik yang Fun ala PAN?

Siapapun pemilih yang sah tentu dibutuhkan oleh para entitas politik – khususnya menjelang musim pemilihan umum (pemilu). Namun, tidak bisa dipungkiri juga bahwa tidak semua tertarik dengan dunia politik.

Setidaknya, hal inilah yang dijelaskan oleh Staffan Kumlin dalam tulisannya yang berjudul The Personal and the Political. Mudahnya, terdapat dua jenis pemilih di masyarakat, yakni pemilih personal dan pemilih political.

Pemilih yang political adalah mereka yang memahami dan mengikuti dengan baik dinamika politik yang ada. Oleh sebab itu, mereka memiliki pengetahuan politik yang lebih menyeluruh.

Baca juga :  Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Sementara, pemilih personal adalah mereka yang merasa bahwa dunia politik adalah dunia yang sangat jauh dan tidak bisa diakses secara langsung. Alhasil, mereka lebih berfokus pada kehidupan mereka sehari-hari – membuat mereka tidak memiliki pengetahuan politik sedalam para pemilih political.

Bukan tidak mungkin, para pemilih personal inilah yang kini menjadi target para aktor politik di Pemilu 2024. Namun, bagaimana caranya aktor-aktor politik ini – seperti PAN – bisa menjangkau para pemilih personal ini.

Jawabannya adalah dengan berbicara menggunakan bahasa personal, yakni dengan budaya populer (popular culture). Jawaban ini juga yang mungkin akhirnya disajikan oleh Glenn W. Richardson Jr. dalam tulisannya yang berjudul Pulp Politics: Popular Culture and Political Advertising.  

Mengacu ke tulisan itu, Richardson Jr, menjelaskan bahwa ini bisa dilakukan melalui iklan politik (political advertising). Iklan-iklan politik ini bisa melibatkan bentuk-bentuk familia dari budaya populer.

Lagu dengan lirik repetitif, misalnya, menjadi elemen budaya populer yang umum. Tidak dipungkiri bahwa terdapat banyak lagu terkenal – baik dari dalam negeri maupun luar negeri – menggunakan pola-pola repetitif.

Tidak hanya lagu, PAN juga memanfaatkan platform-platform medsos yang banyak digunakan, Salah satunya adalah TikTok.

Bukan tidak mungkin, dengan menggunakan cara-cara ini, PAN akhirnya menjadi lebih dikenal di masyarakat luas – khususnya mereka yang merupakan pemilih pemula. Merekalah pemilih-pemilih yang belum memiliki pilihan secara pasti.

Namun, apakah efek dari penggunaan bahasa dan cara personal hanyalah tingkat keterpilihan yang tinggi? Mungkinkah ada siasat yang lebih jauh dari PAN?

Paling Prabowo-Gibran?

Adanya eksposur yang tinggi membuat parpol ini bisa saja mendapatkan efek lain. Salah satunya adalah efek ekor jas (coattail effect).

Baca juga :  The One-Man Band

Mengacu ke tulisan Djayadi Hanan dan Deni Irvani yang berjudul The Coattail Effect in Multiparty Presidential Elections: Evidence from Indonesia, efek ekor jas dapat dipahami sebagai kondisi yang mana kandidat dalam pemilihan presiden (pilpres) mempengaruhi perolehan suara parpol yang mendukungnya di pemilihan legislatif (pileg).

Partai Gerindra, misalnya, dinilai mendapatkan efek ekor jas dari Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 silam. Popularitas Prabowo turut mengangkat perolehan suara Gerindra kala itu.

Nah, bukan tidak mungkin, hal yang sama juga akan dialami oleh PAN – mengingat PAN kini menjadi salah satu parpol yang paling getol menarasikan Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka di medsos dalam kontestasi Pilpres 2024.

Soal konten dan joget gemoy, misalnya, PAN menjadi salah satu parpol pertama yang membuat tren joget demikian di TikTok. Bahkan, PAN juga telah membuat konten joget bersama Prabowo langsung.

Setidaknya, dengan menjadi parpol yang terdepan dalam menarasikan Prabowo-Gibran, PAN bisa saja langsung diasosiasikan menjadi parpol yang paling dekat dengan Prabowo-Gibran. Ini disebut sebagai propaganda transfer oleh  Magedah E. Shabo dalam bukunya yang berjudul Techniques of Propaganda and Persuasion.

Dengan terus mengaitkan diri dengan Prabowo-Gibran, publik akan menilai bahwa nilai-nilai yang ada di Prabowo-Gibran sama dengan nilai-nilai yang dibawa PAN. Ujungnya, efek ekor jaslah yang terbangun.

Pada akhirnya, PAN mampu menggunakan gaya-gaya personal melalui medsos dengan mempopulerkan partai mereka sendiri. Namun, dalam jangka panjangnya, adanya Prabowo-Gibran juga bukan tidak mungkin memberikan efek ekor jas pada mereka dengan eksposur yang tinggi di media. Bukan begitu? (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

More Stories

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

Di Balik Mekarnya Citra Habibie

Tanggal 25 Juni dikenang sebagai hari lahir Habibie. Citranya kian harum meski telah tiada. Apa rahasia di balik reputasi yang tak pernah layu itu?