HomeHeadlineNasib Indonesia Ditentukan Debat Capres Ketiga 

Nasib Indonesia Ditentukan Debat Capres Ketiga 

Kecil Besar

Debat calon presiden (capres) ketiga diprediksi akan jadi debat terpenting dalam Pemilihan Presiden 2024 (Pilpres 2024). Mengapa bisa demikian? 

International politics, like all politics, is a struggle for power” – Hans J. Morgenthau 


PinterPolitik.com 

Pukul 19.00 malam nanti (7/1/2024), Indonesia akan menggelar debat calon presiden (capres)-nya yang ketiga. Dengan temanya yang bertajuk “Pertahanan, Keamanan, Hubungan Internasional, Globalisasi, Geopolitik dan Politik Luar Negeri”, debat yang satu ini diprediksi akan menjadi debat yang sangat, bahkan mungkin paling krusial, dalam konteks Pemilihan Presiden 2024 (Pilpres 2024). 

Bagaimana tidak, topik-topik yang akan dibahas oleh Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo nanti ini sangat merepresentasikan kebutuhan yang sangat urgent bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika politik internasional 2024.  

Bagi yang belum mengetahui, pada tahun 2024 ini Indonesia bukan satu-satunya negara yang akan menggelar “pesta demokrasi”, tetapi juga terdapat lebih dari 50 negara yang juga akan menentukkan siapa pemimpin terbaru mereka. Selain Indonesia, negara-negara “penting” yang juga menyelenggarakan Pemilu hari ini adalah Amerika Serikat (AS), Rusia, Taiwan, dan India. 

Yup, kalau mau dijumlah, sebanyak kurang lebih dua miliar penduduk dunia akan memiliki kepala negara dan atau kepala pemerintahan yang baru pada tahun ini. 

Karena itu, kalau kata Maria Ressa, CEO Rappler, 2024 akan menjadi momentum untuk menentukkan apakah “demokrasi akan tetap hidup atau mati”. Lantas, bagaimana kita mencocokkan kekhawatiran ini dengan debat capres ketiga nanti? 

image 2

2024 Adalah Tahunnya Realisme? 

Pinelopi Koujianou Goldberg, mantan Chief Economist di Bank Dunia dalam tulisannya Protectionism started the geopolitical fire, pernah mencoba menyadarkan kita tentang potensi bahaya geopolitik masa depan dengan menyoroti fenomena proteksionisme global yang kini terlihat mulai terjadi di hampir seluruh negara di dunia. 

Pinelopi menyadari bahwa pada awalnya, banyak yang menilai narasi proteksionisme ini sebagai usaha untuk menarik perhatian massa dengan pendekatan populis. Namun, seiring berjalannya waktu, narasi ini mulai mendapat dukungan, dan ketika COVID-19 menyerang, argumen yang mendukung perlindungan ekonomi mendadak menjadi mainstream.  

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Yup, tiba-tiba saja semua negara seakan sepakat bahwa masalah rantai pasok terkait merupakan “benalu” akibat dari perdagangan internasional dan semua negara hampir tidak punya otonomi yang bebas untuk mengatur takdir ekonomi mereka sendiri. 

Lalu, ekonomi dunia semakin dibuat kacau dengan serangan Rusia ke Ukraina. Menariknya, tidak hanya menyoroti tentang dampak ekonomi yang muncul akibat ambisi geopolitik Rusia, Pinelopi juga memberi sindiran, sekaligus penyadaran, bahwa “kekacauan” ekonomi (khususnya pangan dan energi) yang terjadi pada tahun 2022 sampai 2023 bisa terjadi “hanya” karena Rusia yang menyerang.  

Pertanyaan menariknya, bagaimana jika Tiongkok -negara yang jauh lebih kuat secara ekonomi dari Rusia- yang kini melakukan agresi militer baru? Tentu, dampaknya tidak terbayang. 

Dan ketakutan atas agresi militer Tiongkok pun tidak hanya fantasi belaka. Selain dengan adanya tensi yang terus terjadi antara Tiongkok dan Taiwan, Semenanjung Taiwan pun belakangan mulai memanas. Kalau nantinya Korea Utara –yang merupakan salah satu “konco” terdekat Tiongkok- berani merubah status quo di Semenanjung Korea, bukan tidak mungkin Tiongkok pun bisa ikut terseret. 

Atas dasar itu, bila kita ingin mengambil kekhawatiran di atas kepada kepentingan geopolitik Indonesia, ada baiknya dalam menyambut debat Pilpres yang ketiga nanti malam kita pun mengingat salah satu pesan terpenting yang ilmuwan politik realis, Hans J. Morgenthau. Dalam bukunya yang berjudul Politics Among Nations, Morgenthau pernah mengatakan bahwa politik internasional, dan juga geopolitik, tidak lain adalah seperti politik pada umumnya. Dan layaknya politik di manapun, segala aktivitasnya sangat ditentukan oleh kelihaian dalam bermain kekuatan. 

Karena itu, bila kita ingin Indonesia selamat dari badai geopolitik yang kemungkinan akan segera datang pada tahun 2024 ini, maka nasibnya sangat ditentukan oleh kelihaian presiden baru kita pasca Pilpres 2024. 

Lantas, kualitas seperti apa yang perlu kita cari dalam para kandidat yang akan bertanding di debat malam ini? 

Baca juga :  Danantara OTW Beli Chelsea?
image 3

Semua Ada di Latar Belakang? 

Di dalam studi hubungan internasional, terdapat juga sebuah kajian tentang peran idiosinkrasi dalam arah kebijakan internasional sebuah negara. Dr Muhammad Umer Hayat, dalam tulisannya Idiosyncrasy in Foreign Policy Decision Making Situational, misalnya, meyakini bahwa personalitas seorang pemimpin sangatlah berpengaruh ke penciptakan arah politik internasional negaranya. 

Dan, kalau kita lihat kenyataannya, mungkin hal tersebut ada benarnya. Presiden Jokowi contohnya, seperti yang pernah diungkapkan Mohamad Rosyidin dalam tulisannya Gaya Diplomasi Jokowi dan Arah Politik Luar Negeri RI, memiliki arah kebijakan luar negeri yang cenderung berfokus kepada investasi dan perdagangan. Hal ini, asumsinya, juga sedikit dipengaruhi oleh latar belakang Jokowi yang merupakan seorang pebisnis. 

Atas dasar itu, mungkin ada baiknya juga bagi kita untuk menentukkan presiden yang paling tepat untuk atmosfer geopolitik 2024 berdasarkan latar belakangnya. Bila kita ingin asumsikan secara kritis, mungkin calon yang secara sekilas terlihat memiliki latar belakang “paling pas” untuk kondisi geopolitik terkini adalah calon presiden (capres) nomor urut 2 dan nomor urut 1.  

Nomor urut 2 karena Prabowo adalah sosok militer yang sangat familiar dengan dinamika geopolitik, dan nomor urut 1 karena Anies adalah sosok yang kerap melibatkan dirinya dalam aktivitas diplomasi, sekaligus akademisi bidang politik, yang juga secara konsekuensial menyentuh persoalan politik internasional. 

Namun, penting untuk dipahami bahwa capres nomor urut 3 pun bila ditelaah secara seksama sesungguhnya memiliki peluang yang cukup besar untuk menyajikan dirinya sebagai sosok yang siap menghadapi gejolak geopolitik terkini. Hal ini karena Ganjar pun sebetulnya adalah seorang politisi yang dibangun “dari nol”, dan seperti kata Morgenthau, politik internasional, layaknya politik domestik, memiliki prinsip yang sama. 

Well, bagaimana pun juga, debat capres ketiga yang akan kita saksikan bersama malam ini akan jadi penentu yang sangat penting. (D74) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

More Stories

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

PAL-PINDAD-PTDI: Trinitas Industrialisasi RI?

Ketika tiga BUMN pertahanan Indonesia mencetak rekor laba di momen bersamaan, pertanyaannya bukan lagi soal alutsista — melainkan apakah Indonesia akhirnya menemukan jalan industrialisasinya sendiri. 

Danantara OTW Beli Chelsea?

SWF dunia kini berbondong-bondong masuk industri olahraga. Akankah Indonesia ikut bermain?