HomeNalar PolitikMungkinkah Pilpres Hanya Satu Putaran? 

Mungkinkah Pilpres Hanya Satu Putaran? 

Kecil Besar

Dengarkan Artikel Ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Hasil survei beberapa lembaga menjelaskan jika mayoritas pemilih menginginkan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 hanya berlangsung satu putaran. Namun, dengan adanya tiga kandidat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), mungkinkah keinginan para pemilih itu benar-benar akan terwujud? Serta mengapa mayoritas masyarakat menginginkan itu? 


PinterPolitik.com 

Beberapa lembaga survei merilis hasil survei yang menyatakan jika mayoritas pemilih menginginkan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 hanya berlangsung satu putaran. 

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA melakukan survei pada 16-24 Januari 2024 terhadap publik pendukung tiga pasangan calon (paslon) calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang hasilnya 84 persen ingin pilpres hanya berlangsung satu putaran. 

Selain itu, lembaga Polling Institute juga merilis survei terbaru pada 15-16 Januari 2024 terkait hal serupa, yang mana hasilnya juga mayoritas dari masyarakat menginginkan pilpres dapat berlangsung satu putaran saja agar dapat menghemat anggaran negara. 

Sedangkan, lembaga Populi Center yang mengadakan survei pada 29 Oktober-5 November 2023 juga menghasilkan 64,9 persen pemilih menginginkan pilpres hanya berlangsung satu putaran. 

Namun, dengan adanya tiga paslon yang akan bertarung dalam Pilpres 2024 kali ini, banyak juga yang meragukan hal itu akan terjadi. 

mission possible satu putaran

Berdasarkan Undang-Undang (UU) Pemilihan Umum nomor 7 tahun 2017 dalam pasal 416 ayat 1 diatur pasangan capres dan cawapres akan otomatis memenangkan Pilpres 2024 jika mereka dapat mengumpulkan suara lebih dari 50 persen. 

Tidak hanya itu, komposisi suara yang diperoleh juga harus terdiri dari sedikitnya 20 persen suara di separuh total provinsi yang ada. 

Dengan kenyataan bahwa Pilpres 2024 diikuti oleh tiga paslon, maka kemungkinan besar perolehan suara akan terpecah. Sulit untuk ketiga paslon mengamankan perolehan suara lebih dari 50 persen. 

Maka dari itu, tak berlebihan kiranya jika banyak yang menilai jika Pilpres 2024 hanya akan berlangsung satu putaran. Hal itu juga bisa dilihat dari hasil sejumlah survei elektabilitas para paslon. 

Meskipun, pada survei terbaru Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyatakan jika pasangan Prabowo-Gibran telah memperoleh elektabilitas 50,7 persen. 

Tapi, untuk kubu Prabowo-Gibran mewujudkan survei itu menjadi kenyataan dinilai masih sulit. Hal ini mengingat tren elektabilitas ketiga paslon masih fluktuatif. 

Lantas, sejauh mana sebenarnya hasrat satu putaran ini bisa benar-benar terwujud? 

Floating Mass adalah Kunci? 

Pemilihan presiden satu putaran telah menjadi topik hangat dalam debat politik belakangan ini, dengan hasil survei terbaru menunjukkan mayoritas pemilih mendukung konsep ini. 

Baca juga :  BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

Salah satu argumen utama yang mendukung pemilihan presiden satu putaran adalah penghematan anggaran, yang merupakan aspek krusial dalam pengelolaan sumber daya publik. 

Menurut hasil survei, mayoritas pemilih percaya bahwa sistem satu putaran dapat menghemat anggaran KPU sebesar Rp17 triliun. 

Angka yang cukup signifikan ini memperlihatkan bahwa perubahan sistem pemilihan memiliki potensi dampak finansial yang besar pada lembaga penyelenggara pemilu. 

Pemilihan presiden satu putaran juga dianggap dapat mencegah terjadinya instabilitas politik. Dalam sistem dua putaran, terdapat kemungkinan munculnya ketegangan politik yang dapat memengaruhi stabilitas negara. 

Dengan satu putaran, proses pemilihan presiden menjadi lebih cepat dan efisien, mengurangi potensi ketidakpastian politik yang dapat merugikan stabilitas negara. 

Dampak politik terhadap perekonomian seringkali menjadi perhatian utama bagi banyak pemilih dan pengamat ekonomi. 

Mayoritas pemilih yang mendukung pemilihan presiden satu putaran percaya bahwa sistem ini dapat mencegah mandeknya investasi dan perekonomian nasional. 

Ketidakpastian politik yang terkait dengan pemilihan presiden dapat menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan dan menghambat pertumbuhan ekonomi. 

Dengan adanya kepastian mengenai hasil pemilihan presiden dalam satu putaran, diharapkan dapat meminimalkan gangguan terhadap investasi dan perekonomian nasional. 

Terakhir, tetapi tidak kalah pentingnya, adalah pemberian kepastian hukum. Pemilihan presiden satu putaran dianggap dapat memberikan kepastian hukum yang diperlukan bagi berbagai aspek kehidupan masyarakat. 

Dalam konteks politik, kepastian hukum mengenai proses pemilihan presiden dapat membantu mengurangi potensi konflik dan ketidakpuasan yang mungkin timbul akibat ketidakjelasan aturan atau prosedur pemilihan. 

Namun, untuk mewujudkan hal itu ketiga paslon harus dapat merebut suara pemilih yang masih “mengambang” atau floating mass

Floating mass atau massa mengambang adalah istilah dalam teori politik yang pertama kali diperkenalkan oleh tokoh politik dan filsuf Prancis Alexis de Tocqueville, dalam bukunya yang berjudul Democracy in America.  

Tocqueville menjelaskan konsep floating mass untuk menggambarkan mayoritas masyarakat yang cenderung pasif secara politik, tidak terlibat secara aktif dalam urusan politik, dan cenderung mengikuti arus mayoritas tanpa pertimbangan kritis yang mendalam. 

Floating mass juga bisa mengacu pada kerumunan yang dapat dengan mudah dipengaruhi oleh propaganda atau retorika politik. 

Berkaca dari hal tersebut, floating mass kiranya akan menjadi kunci dalam mewujudkan Pilpres 2024 berlangsung satu putaran. 

Baca juga :  Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Dengan jumlah yang belum dapat terpetakan secara pasti namun kerap dinilai signifikan, mereka pula yang kiranya belum memberikan suara, termasuk apakah menginginkan satu atau dua putaran.  

Lalu, pertanyaan berikutnya, jika benar pilpres berlangsung satu putaran, siapakah yang akan diuntungkan? 

bukan demokrasi tapi buzzer krasi

Siapa Paling Diuntungkan? 

Dengan floating mass yang tampaknya akan menjadi kunci, penting kiranya bagi ketiga paslon untuk memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan para floating mass itu. 

Harold D. Lasswell dalam bukunya yang berjudul Politics: Who Gets What, When, How menjelaskan pentingnya memahami motivasi psikologis individu dan kelompok dalam konteks politik. 

Lasswell menekankan pentingnya memahami keinginan publik dan cara pandang mereka terhadap proses politik. 

Lasswell menyarankan bahwa preferensi politik individu dipengaruhi oleh kebutuhan dasar, keinginan, dan nilai-nilai yang melekat pada mereka. 

Dalam konteks pemilihan presiden dalam satu putaran, teori ini dapat membantu dalam memahami faktor-faktor psikologis yang memengaruhi keputusan pemilih. 

Misalnya, pemilih mungkin cenderung memilih kandidat yang menjanjikan pemenuhan kebutuhan dasar mereka atau kandidat yang mereka anggap mampu memastikan keamanan dan kesejahteraan mereka. 

Jika kita melihat lagi janji ketiga paslon, pasangan Anies-Cak Imin (AMIN) yang mengusung tema perubahan tampaknya kurang memenuhi keinginan para float mass. Kelompok ini kiranya membutuhkan adanya keamanan dalam transisi kepemimpinan. 

Dengan tema perubahan yang diusung pasangan AMIN, tampaknya hanya akan membuat float mass ini khawatir adanya gejolak saat transisi kepemimpinan. 

Kemudian pasangan Prabowo-Gibran yang berjanji melanjutkan program pemerintahan saat ini kiranya dapat membuat adanya rasa aman atas kebutuhan dasar dan kesejahteraan kelompok float mass. 

Terakhir, pasangan Ganjar-Mahfud yang tampaknya belum terlihat jelas arah politik yang akan diusung nantinya jika terpilih membuat kelompok float mass ini sedikit khawatir akan jaminan rasa aman. 

Dengan melihat janji ketiga paslon, Prabowo-Gibran tampaknya lebih berpeluang untuk dapat berpeluang merebut hati float mass dan pada akhirnya berpeluang besar untuk memenangkan pilpres satu putaran. 

Tanda-tanda itu semakin terlihat ketika elektabilitas paslon nomor urut dua itu terus alami kenaikan menjelang hari pencoblosan. 

Meskipun begitu, stabilitas nasional dalam hal yang lebih penting dibandingkan dengan satu putaran atau dua putaran. Menarik untuk ditunggu apakah Pilpres 2024 ini berlangsung satu atau dua putaran. (S83)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

More Stories

Ketua DPR, Golkar Lebih Pantas? 

Persaingan dua partai politik (parpol) legendaris di antara Partai Golkar dan PDIP dalam memperebutkan kursi Ketua DPR RI mulai “memanas”. Meskipun secara aturan PDIP paling berhak, tapi beberapa pihak menilai Partai Golkar lebih pantas untuk posisi itu. Mengapa demikian?

Anies “Alat” PKS Kuasai Jakarta?

Diusulkannya nama Anies Baswedan sebagai calon gubernur (cagub) DKI Jakarta oleh PKS memunculkan spekulasi jika calon presiden (capres) nomor urut satu ini hanya menjadi “alat” untuk PKS mendominasi Jakarta. Benarkah demikian?

Pemilu 2024, Netralitas Jokowi “Diusik” PBB? 

Dalam sidang Komite Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, anggota komite Bacre Waly Ndiaye mempertanyakan netralitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait lolosnya Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden (cawapres) dari Prabowo Subianto. Lalu, apa yang bisa dimaknai dari hal itu?