HomeHeadlineMistikus Kekuatan Dahsyat Politik Jokowi?

Mistikus Kekuatan Dahsyat Politik Jokowi?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Pertanyaan sederhana mengemuka terkait alasan sesungguhnya yang melandasi interpretasi betapa kuatnya Jokowi di panggung politik-pemerintahan Indonesia meski tak lagi berkuasa. Selain faktor “kasat mata”, satu hal lain yang bernuansa dari dimensi berbeda kiranya turut pula memengaruhi secara signifikan.


PinterPolitik.com

Meski kekuasaannya telah berakhir dan yang teranyar dipecat dari PDIP, Presiden ke-7 RI Joko Widodo dinilai masih memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam politik-pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Dua periode atau sepuluh tahun masa jabatannya dianggap benar-benar dimaksimalkan Jokowi untuk menanamkan dan membuat jejaring politik yang begitu kuat. Terlebih, Wakil Presiden saat ini, Gibran Rakabuming Raka, merupakan putra sulungnya.

Jejaring dengan elite politik kelas wahid, pembangunan infrastruktur, kepala daerah, kepala desa, militer, hingga aparat penegak hukum dirajut dalam simbiosis kuat, yang kemungkinan berlatar benefit dalam berbagai konteks.

Selain faktor-faktor tersebut, terdapat satu probabilitas faktor pendukung lain yang membuat Jokowi begitu kuat dan diperkirakan akan mempertahankan status-quo kekuatan politiknya dalam beberapa periode ke depan, yakni faktor karisma dan aspek lain yang erat dengan spiritualitas.

Raja Jawa Banget?

Predikat “Raja Jawa” yang pernah disematkan secara tersirat oleh Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, agaknya mengandung makna yang lebih dalam daripada sekadar guyonan politik.

Dalam konteks budaya Jawa, pemimpin yang kuat bukan hanya diukur dari kemampuan administrasi dan politik, tetapi juga dari kemampuan menyelaraskan diri dengan nilai-nilai filosofi dan spiritualitas lokal.

Konsep kepemimpinan Jawa berakar pada harmoni antara kekuasaan duniawi atau “lahir” dan kekuatan spiritual atau “batin”.

Interpretasi ini dapat dilacak pada era Soeharto, Presiden ke-2 RI, yang selama tiga dekade lebih berkuasa menunjukkan bagaimana budaya dan spiritualitas Jawa berperan dalam membangun kekuasaan yang kokoh.

Soeharto dikenal mengaktualisasikan filosofi kejawen, mengakar pada tradisi Hindu-Jawa, sebagai cara untuk membangun legitimasi politik dan memperkuat posisinya di tengah masyarakat Indonesia yang plural. Tradisi ini melibatkan simbolisme yang kuat, seperti penggunaan gelar, ritual, hingga strategi komunikasi yang menekankan nilai-nilai kebijaksanaan dan ketenangan.

Hal ini pun tercatat dalam buku Rudolf Oebsger-Röder berjudul The Smiling General yang menggambarkan bagaimana Soeharto menggunakan “ritual supranatural” untuk memastikan stabilitas kekuasaannya.

Baca juga :  Lapar yang Tidak Ikut Libur

Dalam tradisi Jawa, pemimpin tidak hanya dianggap sebagai administrator tetapi juga sebagai figur “penuntun” spiritual

 Filosofi ini memberikan pemimpin semacam aura sakral yang melampaui batas-batas politik formal. Ketika dikaitkan dengan Jokowi, ia terlihat menggunakan pendekatan serupa meski dalam versi modern.

Kepemimpinannya mencerminkan keterikatan pada nilai-nilai sederhana dan kedekatan dengan rakyat kecil  dengan “blusukan”, yang dalam budaya Jawa mencerminkan sikap “nguwongke” (memanusiakan orang lain). Hal ini memperkuat citra dirinya sebagai pemimpin yang tidak hanya kompeten tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam.

Korelasi antara filosofi kepemimpinan Jawa dan pengaruh Jokowi juga terlihat dalam pendekatan pragmatisnya terhadap politik.

Penggunaan jejaring yang luas, termasuk hubungan erat dengan kepala desa dan militer, menunjukkan bagaimana ia merajut kekuasaan dengan cara yang mencerminkan harmoni antara pusat (“Kraton”) dan perifer (“kuwulo”).

Jokowi seolah begitu lihai merangkul berbagai kelompok, menerjemahkan narasi budaya dan nilai-nilai lokal ke dalam lakon impresi politik sebagai instrumen untuk memperkuat stabilitas dan legitimasi kekuasaan.

Jika berkaca pada apa yang dikatakan Röderm Jokowi pun kemungkinan memiliki penasihat spiritual yang bukan kaleng-kaleng dalam menuntunnya untuk tetap berkuasa kendati secara de jure telah kehilangan kekuasaannya.

jokowis secret painting 1

Mistikus ala Tsar Nicholas II?

Selain aspek budaya dan filosofi Jawa, faktor karisma dan spiritualitas turut berperan dalam membangun kekuatan politik Jokowi.

Dalam konteks sejarah global, penguasa sering kali memanfaatkan aspek-aspek spiritual untuk memperkuat legitimasi mereka. Misalnya, dalam sejarah Rusia abad ke-20, Gregori Rasputin, seorang mistikus dan penasihat spiritual, memainkan peran penting dalam lingkaran kekuasaan Tsar Nicholas II.

Kehadiran figur seperti Rasputin mencerminkan bagaimana spiritualitas dapat digunakan sebagai alat politik untuk menciptakan kesan kekuatan yang melampaui batas manusiawi.

Karisma Jokowi dalam politik Indonesia juga tidak lepas dari narasi-narasi mistis yang berkembang di masyarakat. Dalam budaya Jawa, pemimpin yang memiliki “wahyu” atau “titisan” sering kali dianggap sebagai sosok yang diberkahi kekuatan ilahi.

Meski diskursus ini lebih sering berkembang dalam ranah informal, dampaknya terhadap persepsi publik tidak dapat diabaikan. Kini, dengan citranya yang sederhana namun kuat secara politik, apa yang terjadi di politik Indonesia serta bagaimana para aktor politik lain mengelola relasi dengan Jokowi membuka ruang interpretasi yang dikaitkan dengan nilai-nilai tersebut.

Baca juga :  Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Selain itu, adaptasi nilai-nilai spiritual Hindu-Jawa dalam gaya kepemimpinan Jokowi terlihat dalam upaya pembangunan infrastruktur yang masif selama dua periode pemerintahannya.

Masih dalam konteks filosofi, budaya, dan spiritualitas autentik Jawa, kiranya memang benar-benar turut diaktualisasikan oleh para penguasa tanah Jawa atau raja Jawa di masa lalu.

Pun dengan korelasi lanjutannya dengan turunan atau adaptasi kultur Hindu di Tanah Jawa yang cukup mendalam, ihwal yang selaras dengan aspek kuat spiritualitas serupa di Tanah India, wilayah asal ajaran Hindu di Nusantara.

Meskipun demikian, pendekatan ini bukan tanpa kritik. Sebagian pihak menilai bahwa narasi mistis dan spiritualitas yang dikaitkan dengan Jokowi cenderung mengalihkan perhatian dari isu-isu struktural seperti ketimpangan ekonomi dan korupsi.

Namun, dalam perspektif politik, narasi ini justru menjadi alat yang efektif untuk mempertahankan legitimasi di tengah kritik dan tantangan. Ihwal yang mengacu pada kerangka konstruktivis mengarah pada otoritas karismatik.

Jejak politik Joko Widodo dan interpretasinya di atas menunjukkan bagaimana jejaring, karisma, dan spiritualitas kiranya dapat digunakan secara efektif untuk membangun dan mempertahankan kekuasaan.

Dalam konteks budaya Jawa, pemimpin yang kuat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan administratif tetapi juga oleh kemampuan untuk menyelaraskan nilai-nilai budaya dan spiritual dengan praktik politik modern.

Di titik ini, interpretasi telah sampai pada postulat bahwa Jokowi berhasil memadukan pendekatan tradisional ini dengan strategi politik yang pragmatis, menciptakan warisan yang kemungkinan besar akan bertahan dalam beberapa periode ke depan.

Pengaruh Jokowi, baik melalui jejaring politik maupun narasi budaya dan spiritual, mencerminkan dinamika kompleks dalam politik Indonesia. Meski mendapatkan kritik, pendekatan ini tetap menjadi bagian integral dari strategi kepemimpinan yang melibatkan dimensi simbolis dan praktis.

Dalam konteks pemerintahan Prabowo, warisan ini memberikan tantangan sekaligus peluang untuk melanjutkan atau bahkan merekonstruksi narasi kekuasaan yang telah dibangun selama satu dekade terakhir. Hal yang sama terkait dengan aspek personal independensi dan kedaulatan Prabowo dalam menjalankan roda pemerintahan dalam lima tahun ke depan. (J61)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

More Stories

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.