HomeNalar PolitikMessi-Ronaldo adalah Eksperimen Politik?

Messi-Ronaldo adalah Eksperimen Politik?

Kecil Besar

Dengarkan artikel berikut.

Audio ini dibuat dengan teknologi AI.

Pilih Messi atau Ronaldo — dan kamu mungkin baru saja membocorkan identitasmu dengan tanpa sadar.


PinterPolitik.com

Setiap gelaran Piala Dunia selalu punya ritual yang sama: linimasa terbelah dua. Bukan cuma soal siapa yang akan juara, tapi soal siapa yang lebih layak disebut GOAT — Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Perdebatan ini sudah berjalan lebih dari satu dekade, dan anehnya, semakin lama semakin tidak terlihat seperti obrolan bola biasa. Ada nada emosional di dalamnya yang jauh melampaui statistik gol atau trofi. Orang membela pemain pilihannya dengan intensitas yang mirip membela partai politik atau calon presiden.

Selama ini kita menganggap itu wajar — namanya juga fanatisme olahraga. Tapi belakangan, sebuah riset akademik internasional justru menunjukkan bahwa kecenderungan ini bukan sekadar selera personal yang acak. Ada pola ideologis di baliknya. Dan kalau pola itu benar, maka pertanyaannya menjadi lebih serius: jangan-jangan preferensi Messi-Ronaldo bukan cuma cermin selera bola, tapi juga instrumen yang bisa dibaca — dan bahkan dimanfaatkan — oleh siapa saja yang punya kepentingan memetakan cara berpikir publik.

Ideologi Tersembunyi di Balik Rivalitas

Riset yang dimaksud dipimpin Saifuddin Ahmed dari Nanyang Technological University Singapura, bersama Kokil Jaidka, Muhammad Ehab Rasul, dan Teresa Gil-López dari Universidad Carlos III de Madrid. Mereka mensurvei 10.661 responden di 26 negara — termasuk Indonesia — dan menggunakan model statistik hierarkis dua tingkat untuk menguji apa yang benar-benar memprediksi preferensi seseorang terhadap Messi atau Ronaldo.

Hasilnya konsisten di hampir semua negara: ideologi politik adalah prediktor individu paling kuat, bahkan setelah faktor demografi, kebiasaan media, kepribadian, dan gaya berpikir dikontrol secara statistik. Responden yang mengidentifikasi diri lebih liberal cenderung memilih Messi. Yang lebih konservatif cenderung memilih Ronaldo. Efek ini paling kuat pada generasi muda, dan melemah drastis pada kelompok usia tua — mengindikasikan bahwa sorting ideologis lewat budaya pop adalah fenomena yang relatif baru, lahir bersamaan dengan makin dalamnya polarisasi politik generasi digital.

Yang menarik, penelitian ini juga menemukan bahwa konsumen berita lewat platform video pendek seperti TikTok dan Instagram condong lebih menyukai Ronaldo, dan orang dengan tingkat kepercayaan diri (self-esteem) tinggi juga lebih menyukainya — konsisten dengan riset self-affirmation yang menyebut orang percaya diri tertarik pada figur dominan dan aspiratif. Sebaliknya, citra Messi yang lebih pendiam, berorientasi tim, dan menghindari sorotan personal, resonan dengan nilai komunitarian yang lebih dekat dengan orientasi liberal.

Baca juga :  Bahlil, Loid Forger-nya Indonesia?

Di titik ini, kerangka Pierre Bourdieu soal distinction dan habitus jadi sangat relevan. Bourdieu berargumen bahwa selera — mulai dari makanan, musik, sampai gaya berpakaian — bukan preferensi netral, melainkan penanda posisi sosial yang direproduksi lewat kebiasaan dan lingkungan. Riset Messi-Ronaldo pada dasarnya membuktikan versi terbaru dari argumen itu: bahkan pilihan terhadap atlet, yang secara nalar sama sekali tidak politis, ternyata berfungsi sebagai penanda identitas ideologis.

Lilliana Mason, ilmuwan politik yang meneliti fenomena social sorting di Amerika Serikat, menyebut proses ini sebagai pembentukan “mega-identitas” — ketika identitas politik menyerap dan menyelaraskan identitas-identitas lain (agama, ras, gaya hidup, bahkan selera hiburan) menjadi satu paket yang saling menguatkan. Messi-Ronaldo, dalam kerangka ini, bukan sebab polarisasi, melainkan gejalanya — bukti bahwa sorting ideologis sudah menembus ruang budaya yang paling jauh dari politik sekalipun.

Justru di sinilah letak bahaya sekaligus peluangnya. Kalau preferensi terhadap dua pesepakbola bisa dipetakan ke ideologi politik, maka secara teknis, preferensi budaya-populer apa pun berpotensi menjadi proxy variable — sinyal tidak langsung yang bisa dipakai untuk menebak orientasi politik seseorang tanpa harus bertanya secara eksplisit. Ini bukan skenario fiksi. Kita sudah pernah menyaksikannya dalam skandal Cambridge Analytica pada 2018, ketika data ribuan “like” Facebook — termasuk halaman-halaman yang sepenuhnya non-politis seperti musik, film, atau olahraga — diolah menjadi model psikografis (model kepribadian OCEAN yang dikembangkan Michal Kosinski) untuk memprediksi kerentanan politik pemilih dan menyasar mereka dengan pesan kampanye yang dipersonalisasi.

Satu sinyal seperti preferensi Messi-Ronaldo memang hanya menjelaskan sebagian kecil variasi — dalam studi ini sekitar 3 persen — tapi begitu ditumpuk dengan lusinan sinyal serupa (musik yang didengarkan, konten yang disukai, bahkan cara seseorang mengonsumsi berita di media sosial), akumulasinya bisa membentuk profil ideologis yang cukup presisi untuk keperluan microtargeting, baik oleh partai politik, konsultan kampanye, maupun brand komersial yang ingin menyasar audiens dengan nilai tertentu.

Baca juga :  Fathimah Azzahra dan Warisan STOVIA

Dengan kata lain, perdebatan siapa GOAT di kolom komentar bukan cuma hiburan yang kita konsumsi secara pasif — ia sekaligus data yang dikonsumsi oleh sistem lain: algoritma platform, mesin rekomendasi, dan siapa pun yang punya kepentingan membaca peta ideologis publik lewat cara yang tidak pernah kita sadari sedang diawasi.

Ketika Selera “Jadi Senjata”?

Yang membuat temuan ini terasa mengganggu bukan semata soal privasi data atau potensi manipulasi politik — meski itu penting. Yang lebih mendasar adalah pertanyaan filosofis tentang sejauh mana ruang privat kita, termasuk hal paling remeh seperti siapa pesepakbola favorit, masih benar-benar milik kita sendiri, bebas dari pembacaan ideologis.

Guy Debord, dalam gagasannya tentang society of the spectacle, pernah memperingatkan bahwa dalam masyarakat modern, hubungan sosial semakin dimediasi oleh citra dan tontonan, bukan pengalaman langsung. Messi dan Ronaldo, dalam kerangka ini, bukan lagi sekadar atlet — mereka adalah simbol, layar tempat kita memproyeksikan nilai yang kita anut tanpa pernah benar-benar mengartikulasikannya sebagai posisi politik.

Kita tidak memilih Messi karena membaca manifesto liberalisme, dan tidak memilih Ronaldo karena mengafirmasi konservatisme secara sadar. Tapi sistem — baik algoritma media sosial maupun mesin kampanye politik — bisa membaca pilihan itu seolah-olah kita sedang mengisi kuesioner ideologi tanpa sadar sedang diisi.

Ini yang membuat riset semacam ini penting dibaca bukan hanya sebagai trivia menarik, melainkan sebagai peringatan dini. Polarisasi hari ini tidak lagi hanya soal pilihan presiden atau partai. Ia telah menyusup ke selera musik, gaya konsumsi, bahkan siapa yang kita sorakkan di layar televisi saat menonton bola.

Pertanyaannya bukan lagi “Messi atau Ronaldo?”, tapi lebih jauh dari itu: seberapa banyak hal dalam hidup kita yang masih murni personal, dan seberapa banyak yang diam-diam sudah menjadi data — dibaca, dipetakan, dan pada akhirnya, dimanfaatkan oleh kepentingan yang jauh lebih besar dari sekadar rivalitas dua bintang lapangan hijau. (D74)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Indonesia, Si Paling ‘Negara Potensi’?

Selalu berpotensi, tak pernah berhasil. Dari Fairchild sampai Lokananta, kenapa Indonesia betah berhenti di ambang? Apakah ini Kutukan Ambang?

Dody di Tengah Rashomon Effect?

Kebenaran soal siapa yang benar tak lagi penting — yang lebih menentukan justru siapa paling diuntungkan dari ambiguitas.

Arifah Mustahil Se-level Khofifah?

Arifah Fauzi secara teknis dan filosofis adalah suksesor Khofifah di pucuk Muslimat NU dan elite nasional. Namun, bisakah ia menyamai pengaruh politik sang pendahulu? Di antara perbedaan ambisi, jejaring kekuasaan, dan gaya komunikasi, tersimpan pertanyaan lebih besar, yakni apakah Arifah sedang membangun penerus Khofifah, atau menciptakan jalannya sendiri?

Kasus Febrie dan Doktrin Kambing Hitam

Nama Febrie Adriansyah kini beririsan dengan sosok perempuan di medsos. Siapa sebenarnya yang sedang kita hakimi dalam kasus ini? 

Wasit FIFA & Oknumisme Politik-Hukum?

Wasit FIFA bukan hanya pengadil lapangan — mereka adalah wajah yang paling mudah disalahkan dari ketidaksempurnaan sebuah sistem.

PDIP-Golkar, Drama Minerba Warisan Orba?

Sengkarut satir "bolu ketan" antara kubu PDIP dan Golkar di sektor ESDM tampaknya bukanlah sekadar adu mulut elite biasa. Ini adalah kelanjutan perang klasik dua titan dalam diskursus sumber daya sejak era Orba. Tentang menjadi si paling bersih di industri ekstraktif yang inheren kotor ini, Benarkah demikian? 

Kuasa Lepas Jokowifikasi

Wajah Jokowi kini muncul di meme, karakter fiksi, penyanyi Jepang, sampai kursi gaming. Siapa sebenarnya yang memegang kuasa atas wajah itu? 

Romain Molina, “Dagdigdug” Erick Thohir?

Balasan dua kata Romain Molina di media sosial memicu perbincangan publik soal sorotan yang selama ini menyelimuti sepak bola Indonesia, sekaligus membuka ruang refleksi soal betapa krusialnya tata kelola sepak bola menjelang mimpi besar Piala Dunia 2030.

More Stories

Dody di Tengah Rashomon Effect?

Kebenaran soal siapa yang benar tak lagi penting — yang lebih menentukan justru siapa paling diuntungkan dari ambiguitas.

Wasit FIFA & Oknumisme Politik-Hukum?

Wasit FIFA bukan hanya pengadil lapangan — mereka adalah wajah yang paling mudah disalahkan dari ketidaksempurnaan sebuah sistem.

Romain Molina, “Dagdigdug” Erick Thohir?

Balasan dua kata Romain Molina di media sosial memicu perbincangan publik soal sorotan yang selama ini menyelimuti sepak bola Indonesia, sekaligus membuka ruang refleksi soal betapa krusialnya tata kelola sepak bola menjelang mimpi besar Piala Dunia 2030.