HomeNalar PolitikMenguak Sosok di Belakang Ari Askhara

Menguak Sosok di Belakang Ari Askhara

Kecil Besar

Diberhentikannya Direktur Utama Garuda, Ari Askhara oleh Menteri BUMN, Erick Thohir karena kasus penyelundupan onderdil motor Harley Davidson menyisakan tanda tanya. Hal ini terkait dengan pertanyaan yang berseliweran, terutama terkait mengapa pemberhentian itu tidak dilakukan ketika terjadi dugaan pemalsuan laporan keuangan Garuda pada April 2019 lalu, di mana kasus itu jauh lebih besar dari kasus hebohnya saat ini. Tak heran beberapa pihak menyebutkan bahwa hal ini mengindikasikan bahwa Ari Askhara merupakan sosok kepercayaan dari Menteri BUMN sebelumnya. Benarkah demikian?


PinterPolitik.com

Ari Askhara atau lengkapnya I Gusti Ngurah Ashkara, atau singkatnya Ari, benar-benar telah mendapat sorotan publik akhir-akhir ini. Ini tentu tidak lepas dari kasus penyelundupan onderdil motor Harley Davidson dan sepeda Brompton yang mengakibatkan dirinya dipecat oleh Menteri BUMN, Erick Thohir.

Tidak hanya terkait kasus penyelundupan onderdil motor, sederet kejanggalan kebijakan Ari selama menjadi Direktur Utama (Dirut) Garuda lantas mencuat ke publik. Mulai dari kebijakan seperti live music di pesawat, hingga soal pemalsuan data laporan keuangan, semuanya menjadi sorotan utamanya. Selain itu, beberapa pihak juga memunculkan dugaan bahwa Ari memiliki kedekatan khusus dengan Menteri BUMN sebelumnya, yakni Rini Soemarno. Hal ini benar-benar membuat konteks pembahasan seorang Ari Askhara menjadi sangat menarik dan sarat akan muatan politik.

Dugaan itu misalnya diungkapkan oleh mantan Komisaris BUMN PT Bukit Asam (PTBA), Muhammad Said Didu dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada 10 Desember 2019 lalu. Pada kesempatan tersebut, Said Didu dengan lugas menyebutkan bahwa Ari kemungkinan besar adalah “orang titipan penguasa” atau kasarnya sebagai orang yang sangat dipercaya oleh Rini selaku pihak yang mengangkatnya sebagai Dirut Garuda.

Kemudian, Said Didu juga menuturkan keheranannya kepada Ari, bahwa ia tidak pernah menemukan orang sehebat dirinya karena sejak 2014, Ari telah berulang kali berganti posisi jabatan penting di berbagai BUMN.

Lantas benarkah terdapat pertautan politis yang erat antara Ari dengan Rini, sehingga ia dapat menempati berbagai jabatan penting di berbagai BUMN?

Orang Kepercayaan Rini Soemarno?

Sebelum menjabat sebagai petinggi BUMN, Ari sebenarnya telah malang melintang di berbagai perusahaan multinasional sejak 2005, seperti Deutsche Bank sebagai Vice President, Barclays Investment Bank sebagai Director, PetroSand Indonesia sebagai Finance Director, dan ANZ Bank sebagai Head of Natural Resources Indonesia.

Karier Ari di BUMN dimulai pada Mei 2014, ketika dirinya ditunjuk sebagai Direktur Keuangan Pelindo III. Pada 2016, ia kemudian ditunjuk sebagai Direktur Human Capital dan Pengembangan Sistem PT Wijaya Karya. Lalu pada 4 Mei 2017, ia diangkat sebagai Dirut PT Pelindo III. Terakhir, pada 12 September 2018, Ari ditunjuk sebagai Dirut Garuda Indoensia. Ari sebenarnya bukanlah sosok baru di Garuda karena dirinya pernah menduduki jabatan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko di maskapai nasional tersebut pada Desember 2014 hingga April 2016.

Berulang kali berganti jabatan di berbagai BUMN, berulang kali pula Ari diangkat oleh Rini Soemarno yang memang berwenang untuk menentukan siapa sosok yang mengisi jabatan di perusahaan-perusahaan pelat merah. Atas hal ini, tentu tidak mengherankan apabila terdapat pihak yang menyebut Ari adalah orang kepercayaan Rini.

Bukti kuat yang mendukung dugaan tersebut tidak hanya terkait berbagai jabatan yang diberikan padanya, tetapi juga terkait skandal pemalsuan laporan keuangan Garuda yang terjadi pada 24 April 2019 lalu.

Bagaimana tidak, pada saat itu, Ari mengumumkan bahwa Garuda berhasil mencetak laba bersih sebesar US$ 809.840 atau sekitar Rp 11,3 miliar. Menariknya, pada 2017, maskapai pelat merah terserbut justru tengah merugi hingga US$ 216,58 juta atau sekitar Rp 3 triliun.

Sontak saja, laporan tersebut kemudian ditolak oleh dua komisaris Garuda, yakni Chairal Tanjung dan Dony Oskaria karena menganggap laporan tersebut tidak sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).

Pasalnya, dalam laporan keuangan tersebut, anehnya Garuda memasukkan keuntungan dari PT Mahata Aero Teknologi. Padahal, kerja sama Garuda dengan PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia pada saat itu diperkirakan menuai kerugian sebesar US$ 244,95 juta atau sekitar Rp 3,4 triliun.

Atas keganjilan laporan tersebut, berbagai pihak lantas menyebut Ari telah melakukan “pemolesan” atau pemalsuan data. Akan tetapi, di tengah berbagai tudingan tersebut, Rini anehnya memberikan pembelaan bahwa tidak terjadi pemalsuan dan laporan keuangan cukup diperbaiki, serta Dirut Garuda tidak perlu untuk dipecat.

Peristiwa ini juga turut disorot oleh mantan Menko Kemaritiman, Rizal Ramli yang menyebutkan bahwa tidak dipecatnya Dirut Garuda dikarenakan adanya perlindungan dari Rini.

Diktator di Garuda?

Jika memang benar bahwa Ari adalah orang kepercayaan Rini, maka sangat penting untuk merujuk pada tanggapan mantan Menteri BUMN, Tanri Abeng atas pernyataan Said Didu di acara ILC.

Tuturnya, persoalan terkait terjadinya penyalahgunaan kekuasaan atau abuse of power oleh Dirut Garuda, terjadi karena adanya kewenangan atau power yang terlalu besar.

Kewenangan yang besar ini kemungkinan besar terjadi karena Ari memiliki koneksi politik yang kuat, yang pada konteks kasus tersebut tentunya kepada Menteri BUMN selaku pihak yang berwenang untuk melakukan pengangkatan dan pemecatan pejabat BUMN.

Artinya, jika Ari mendapat perlindungan politik dari Rini, ini berarti bahwa dirinya memiliki jaminan untuk tidak dipecat.

Seperti yang diketahui, pemecatan adalah mekanisme yang diterapkan di organisasi untuk menjaga anggota organisasi agar memberikan sikap dan tindakan yang baik ataupun tidak melanggar aturan. Akan tetapi, apabila mekanisme tersebut tidak terjadi, atau tidak terdapat ancaman pemecatan, itu akan berimbas pada hilangnya motivasi seseorang untuk berperilaku baik.

Tidak hanya itu, Tanri Abeng juga menekankan bahwa kemungkinan besar telah terjadi pengurangan kontrol dan pengawasan di Garuda karena keberhasilan Emirsyah Satar yang membuat nilai Garuda dapat menyentuh angka US$ 1,6 miliar atau sekitar Rp 22 triliun pada 2011, setelah sebelumnya hanya bernilai US$ 1 atau sekitar Rp 14 ribu pada 1998.

Keberhasilan fenomenal ini juga telah ditulis oleh Profesor Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali dan Emirsyah Satar dalam buku From One Dollar To Billion Dollars Company.

Atas hal ini, Tanri Abeng menekankan bahwa menteri BUMN saat ini, yakni Erick Thohir, harus melakukan kontrol dan pengawasan yang baik agar kewenangan besar yang berpotensi besar untuk disalahgunakan tersebut tidak terulang kembali.

Pernyataan Tanri Abeng itu sendiri telah dibuktikan oleh John Antonakis dalam penelitiannya bahwa meningkatnya kekuasaan seseorang atau pemimpin berbanding lurus dengan kebijakan yang bersifat anti-sosial atau kebijakan yang otoriter. Ini kerap dikenal sebagai penyalahgunaan kekuasaan.

Menariknya, Antonakis juga melakukan survei dan menyebutkan bahwa sebagian besar peserta penelitiannya setuju pada kebijakan yang bersifat pro-sosial. Akan tetapi, ketika mereka ditempatkan di kondisi yang membuatnya memiliki kekuasaan, mereka justru cenderung memberikan kebijakan yang bersifat anti-sosial.

Penelitian Antonakis ini disebut dengan dictator game atau permainan diktator, di mana peserta penelitian akan diberikan pengikut untuk diberi perintah. Kemudian, pengikut tersebut terus ditambah untuk melihat perubahan sikap dari peserta yang dijadikan pemimpin.

Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh mantan Dirut Garuda tersebut kemungkinan besar terjadi karena adanya kewenangan yang besar dan tidak terkontrol, serta memiliki koneksi politik yang kuat ataupun terkait lemahnya kontrol dan pengawasan di maskapai pelat merah tersebut. Menarik untuk dinantikan siapa Dirut Garuda selanjutnya yang akan diangkat oleh Erick Thohir. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Mau tulisanmu terbit di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Three Kingdoms of PSI?
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...