Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Menguak Manuver Cerdik Ridwan Kamil

Menguak Manuver Cerdik Ridwan Kamil


R53 - Tuesday, August 25, 2020 17:00
Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (Foto: Liputan 6)

0 min read

Baru-baru ini, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjelaskan alasannya bersedia sebagai relawan vaksin Covid-19. Tegasnya, ini adalah cara untuk menepis hoaks seputar vaksin. Terkait hal ini, benarkah Ridwan Kamil begitu memahami kognisi Homo Sapiens sehingga memutuskan menjadi relawan vaksin?


PinterPolitik.com

Manusia mengendalikan dunia karena mereka dapat bekerja sama lebih baik daripada hewan lain, dan mereka dapat bekerja sama dengan baik karena mereka percaya fiksi” – Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century

Tentu kita paham, kebebasan berpendapat adalah salah satu ciri khas utama dalam politik demokrasi. Akan tetapi, sepertinya kita jarang membahas, sejauh mana kebebasan berpendapat itu harus ditegakkan. Terkhusus perihal pandemi Covid-19, kebebasan berpendapat yang dinilai sebagai norma paripurna tersebut justru menjadi bumerang tersendiri.

Pada Mei lalu, dalam survei yang dilakukan oleh School of Journalism, Carleton University, dalam 2.000 warga Kanada yang menjadi responden, 46 persen percaya pada setidaknya satu dari empat teori konspirasi Covid-19. Di bulan yang sama, studi dari Universitas Oxford juga menemukan, dari 2.500 warga Inggris yang menjadi responden, ternyata 21 persen percaya bahwa Covid-19 adalah suatu kebohongan.

Sementara di Amerika Serikat (AS), berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh YouGov dan Yahoo News, 28 persen warga AS ternyata percaya bahwa vaksin Covid-19 adalah agenda Bill Gates untuk menanamkan mikrocip di tubuh manusia.

Diakui atau tidak, dibiarkannya tebaran teori konspirasi atas dalih kebebasan berpendapat telah menjadi penghambat penanganan pandemi Covid-19. Mulai dari berbagai demonstrasi penolakan lockdown dan penggunaan masker, hingga pada tidak dipercayanya keberadaan Covid-19.

Di Indonesia, dampak buruk teori konspirasi juga tampak terasa pengaruhnya. Bagaimana tidak, atas berbagai narasi konspiratif yang beredar, tidak sedikit masyarakat yang tidak percaya pada keberadaan Covid-19. Imbasnya, tentu saja protokol kesehatan dari pemerintah tidak diikuti.

Terlebih persoalan vaksin, dengan ramainya narasi vaksin sebagai agenda Bill Gates untuk menanamkan mikrocip ataupun sebagai komoditi bisnis semata, kedatangan vaksin Sinovac di Indonesia justru dihujani pandangan sinis dari berbagai pihak.

Menariknya, dalam jawabannya baru-baru ini perihal alasan menjadi relawan vaksin Covid-19, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (RK) tampaknya sangat menyadari tebaran persepsi negatif tersebut. Tegasnya, “kalau saya tidak melakukan keputusan itu (menjadi relawan), saya khawatir berkepanjangan spekulasi, berita bohong, hoaks, bahwa rakyat dikorbankan jadi kelinci percobaan. Justru kalau begini agak reda, saya menjadi saksi kalau berhasil, kalau gagal seperti apa”.

Pernyataan itu dengan jelas menunjukkan bagaimana RK memahami psikologi publik. Lantas, mungkinkah RK memahami betul bagaimana cara kerja kognisi manusia?

Memahami Homo Sapiens

Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia, memaparkan penuturan menarik perihal mengapa manusia modern yang kerap kita sebut sebagai Homo Sapiens mengembangkan kemampuan sosial yang sampai saat ini disebut sebagai ciri khas dan keunggulan manusia dari organisme lainnya.

Menurut Harari, salah satu keunikan Homo Sapiens dari Homo lainnya adalah mereka berjalan tegak dengan dua kaki. Perubahan evolusi ini nyatanya mendatangkan dampak buruk tersendiri seperti peningkatan beban pada kerangka yang menyebabkan manusia modern kerap mengalami sakit punggung dan leher yang kaku.  

Terkhusus perempuan, dengan tulang pinggul yang mengecil dan menyempitnya saluran peranakan, itu menjadi siksaan tersendiri ketika melahirkan, menimbang pada besarnya volume otak Homo Sapiens.

Berbeda dengan organisme lain seperti kuda ataupun rusa yang dapat langsung berdiri tidak lama setelah dilahirkan, anak Homo Sapiens sangatlah lemah. Ini membuat Homo Sapiens harus membangun kemampuan sosial, seperti kerja sama keluarga yang bahkan melibatkan satu suku untuk membesarkan anak-anak mereka.

Namun, dengan volume otak yang besar, manusia mampu berimajinasi dan membuat fiksi yang membuatnya mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, seperti bahasa dan teknologi. Dalam bukunya Homo Deus: A Brief History of Tomorrow dan 21 Lessons for the 21st Century, Harari menyinggung salah satu imajinasi dan fiksi terbesar Homo Sapiens yakni percaya akan kebebasan atau free will.

Fiksi Kebebasan

Menariknya, Harari tanpa ragu menyebutkan bahwa kepercayaan atas kebebasan tersebut adalah fiksi atau bohong adanya. Tidak hanya soal hambatan luar seperti aturan hukum ataupun norma sosial, dalam diri manusia, yakni kognisinya, nyatanya juga mengalami determinasi.

David McRaney dalam bukunya YOU are NOT so SMART ataupun Rolf Dobelli dalam bukunya The Art of Thinking Clearly, dengan gamblang mengumpulkan berbagai temuan studi psikologi kognitif yang menemukan kognisi manusia ternyata penuh dengan bias.

Artinya, kepercayaan kita selama ini bahwa manusia bebas atas pikirannya sendiri ternyata salah total. Faktanya, cara berpikir dan penarikan kesimpulan kita begitu dideterminasi dengan bias-bias kognitif yang ada.

McRaney dan Dobelli misalnya menyoroti salah satu bias yang paling sering ditemukan, yakni authority bias atau bias otoritas. Ini adalah bias yang membuat manusia memiliki tendensi untuk lebih percaya pada otoritas, seperti pejabat pemerintahan, dosen, ataupun kepala suku.

Seperti yang disinggung Harari, kendati dengan volume otaknya yang besar manusia dapat menciptakan kemampuan sosial yang begitu berguna, kemampuan tersebut juga berdampak pada terciptanya masalah-masalah sosial yang unik.

Mengaitkan dengan McRaney dan Dobelli, masalah sosial tersebut tampaknya berakar pada bias-bias kognitif. Pasalnya, dengan adanya bias kognitif, seperti in-group dan out-group bias, ini berkonsekuensi pada politik identitas hingga peperangan.

Setelah memahami kemampuan sosial dan bias kognitif Homo Sapiens, ini akan membantu kita memahami rasionalisasi dari bergabungnya RK menjadi relawan vaksin Covid-19.

Kecerdasan yang Mumpuni?

Dalam jawabannya perihal alasan menjadi relawan vaksin, RK terlihat jelas memiliki pengamatan yang baik dengan menyebutkan itu demi menepis tudingan bahwa rakyat dijadikan kelinci percobaan vaksin. Pertanyaannya, bukankah terdapat ratusan warga lainnya yang menjadi relawan vaksin, apakah itu tidak dapat menepis tudingan tersebut?

Untuk menjawabnya, kita perlu menengok kembali pemaparan McRaney dan Dobelli perihal bias otoritas. Dengan adanya bias ini, RK yang merupakan pejabat publik alias pihak yang memiliki otoritas akan menjadi corong perhatian masyarakat. Dengan kata lain, jika pejabat publik penting seperti RK saja menjadi relawan vaksin Covid-19, itu dapat menepis, atau setidaknya dapat menurunkan tensi persepsi di tengah publik bahwa rakyat dijadikan kelinci percobaan karena vaksin Covid-19 dari Sinovac, Tiongkok berbahaya.

Sebelumnya, perlu untuk ditegaskan, kendati bias-bias kognitif kerap dikonotasikan negatif, seperti memahaminya sebagai kebodohan, bias kognitif sebenarnya bermakna netral. Suka atau tidak, bias kognitif adalah kondisi alamiah manusia, di mana setiap manusia pasti mengalaminya. Bahkan, tanpa adanya bias kognitif, sistem sosial seperti keluarga ataupun negara, mungkin tidak akan dapat terbentuk.

Dengan demikian, melihat pada jawaban RK, kita dapat menyimpulkan bahwa alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tampaknya memahami betul bias kognitif, di mana masyarakat memiliki tendensi untuk melihat otoritas seperti pejabat publik. Terlebih lagi, RK merupakan pejabat publik yang begitu terkenal dan kerap diproyeksikan sebagai kandidat di gelaran Pilpres 2024.

Tentunya, kemampuan dalam memahami bias kognitif, atau kita sebut saja dengan psikologi publik ini akan berkonsekuensi pada kemampuan komunikasi publik yang mumpuni. Dan tampaknya terbukti, dalam survei yang dilakukan oleh Indikator Politik, RK memiliki skor komunikasi publik dalam menangani pandemi Covid-19 sebesar 73,4 atau yang tertinggi dibandingkan dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang masing-masing hanya memiliki skor 73,2 dan 72,1.

Pada akhirnya, kita mungkin dapat menyimpulkan bahwa dengan kemampuan komunikasi publik yang baik, besar kemungkinan RK memang memahami betul bagaimana kognisi manusia bekerja sehingga mampu menelurkan strategi komunikasi yang baik.

Di luar itu semua, tentu kita berharap bahwa vaksin Covid-19 yang aman dan efektif dapat segera diproduksi agar pandemi Covid-19 segera berakhir. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait