HomeNalar PolitikKwik Kian Gie & Patriotisme Orba

Kwik Kian Gie & Patriotisme Orba

Kecil Besar

Audio ini dibuat dengan teknologi AI.

Ekonom senior Kwik Kian Gie meninggal di usia 90 tahun. Kepergiannya jadi sorotan menarik soal eksistensi ekonom kritis produk era Orde Baru.


PinterPolitik.com 

Berita duka menyelimuti Indonesia pada Senin, 28 Juli 2025. Kwik Kian Gie, salah satu ekonom paling berani dan berintegritas yang pernah dimiliki negeri ini, tutup usia di usia 90 tahun. Nama Kwik tak hanya dikenal dalam dunia ekonomi, tetapi juga dalam politik, akademisi, dan ruang publik yang lebih luas.  

Ia pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Indonesia di masa Presiden Abdurrahman Wahid, dan sempat menjadi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Namun kontribusinya tidak terbatas pada jabatan formal. Kwik adalah salah satu dari sedikit ekonom Indonesia yang tidak pernah ragu mengkritik kebijakan pemerintah, termasuk ketika ia berada di dalam lingkaran kekuasaan. 

Yang membuat Kwik Kian Gie begitu dikenang adalah perpaduan langka antara keberanian moral, kejernihan analisis ekonomi, dan keberpihakan terhadap rakyat. Ia kerap mengkritik ketergantungan Indonesia pada lembaga-lembaga keuangan internasional, serta keberpihakan pemerintah terhadap kepentingan korporasi dibandingkan kesejahteraan masyarakat. Dalam banyak hal, ia bisa dilihat sebagai “ekonom patriot”โ€”seseorang yang berpikir secara strategis demi kepentingan nasional, bukan hanya mengikuti arus globalisasi ekonomi. 

Kepergian Kwik menyisakan kekosongan, bukan hanya dalam diskursus ekonomi nasional, tetapi juga dalam ekosistem intelektual Indonesia. Ia adalah simbol dari sebuah generasi intelektual yang tidak hanya cerdas, tapi juga berani dan memiliki keberpihakan yang jelas. Di tengah era ketika banyak ekonom lebih memilih posisi aman dan teknokratis, kemunculan figur seperti Kwik terasa makin langka. Pertanyaannya, mungkinkah akan ada sosok seperti Kwik Kian Gie lagi di masa depan? 

image

Ketajaman Ekonom Era Orde Baru? 

Kepergian Kwik Kian Gie mengundang refleksi lebih luas mengenai keberadaan para ekonom generasi Orde Baru. Bukan hanya Kwik, tapi juga tokoh-tokoh seperti Rizal Ramli, Faisal Basri, hingga Emil Salimโ€”semuanya dikenal tidak hanya cakap secara teknokratis, tapi juga berani menyuarakan kritik, bahkan saat berada di dalam sistem kekuasaan. 

Baca juga :  Pramono Adalah Jokowi 2.0?

Ada asumsi menarik yang dapat dikembangkan: mengapa banyak ekonom dari era Orde Baru terlihat begitu tajam dalam berpikir dan tak segan bersuara keras, dibandingkan dengan sebagian ekonom generasi sesudahnya yang lebih teknokratis dan berhati-hati?

Well, para ekonom yang tumbuh di masa itu bukan tidak tahu batasan, tapi justru hidup berdampingan dengan batasan, dan karena itu belajar menajamkan pikiran dan memilih momen untuk berbicara. Dalam iklim seperti itu, hanya yang benar-benar memiliki kapasitas intelektual dan keberanian yang bisa menonjol. Maka mereka yang bertahan dan bersinar bukan hanya karena kepintaran, tapi juga tangguh.ย 

Selain itu, di era tersebut juga Presiden Soeharto justru terlihat sangat merangkul para ekonom intelektual. Kita bisa lihat ke belakang bagaimana ide-ide revolusioner dari Emil Salim, Widjojo Nitisastro, dan Soemitro Djojohadikusumo diakomodir untuk membenahi Indonesia yang sedang di masa perbaikan ekonomi. Kita juga bisa melihat bagaimana pembangunan saat itu didasari prinsip-prinsip ekonomi yang akademis.

Faktor lain adalah medan pendidikan tinggi dan pemikiran publik pada abad ke-20. Di era itu, situasi Perang Dingin dan perkembangan pesat perbankan membuka celah bagi pembentukan intelektual yang berwawasan luas. Banyak dari ekonom Indonesia pun belajar ke luar negeri dengan beasiswa negara, mengalami kontak langsung dengan teori-teori kritis, dan menyaksikan bagaimana pembangunan ekonomi dibahas secara politis, bukan hanya teknis. Saat kembali, mereka membawa semangat perubahan, yang tak selalu bisa ditampung dalam sistem birokrasi yang stagnan.  

Oleh karena itu, penajaman ini tidak hanya dibentuk oleh kecerdasan individual, tapi oleh sebuah situasi zaman yang mendukung: ketika kondisi dunia sedang tidak baik-baik saja, maka nilai kritik justru menjadi lebih penting. Di sinilah relevansi teori Pierre Bourdieu tentang “habitus” muncul. Habitus adalah struktur mental yang terbentuk dari pengalaman sosial dan historis seseorang. 

Para ekonom Orde Baru memiliki habitus yang dibentuk oleh interaksi antara represi politik dan kompleksitas pembangunan nasional. Mereka tumbuh dalam ruang intelektual yang sedang dalam masa eksperimental dan cukup terkontrol, tapi justru karena itulah kemampuan navigasi mereka terhadap kuasa, ideologi, dan keberpihakan pada negara menjadi sangat terasah. 

Baca juga :  Habibie: Varian 'Dinasti Teknokrat'?
image

Refleksi dari Sebuah Kepergian? 

Kematian Kwik Kian Gie adalah titik refleksi penting untuk menilai ulang relasi antara ilmu, politik, dan posisi intelektual dalam masyarakat. Di tengah hegemoni data, krisis global, dan desakan ketepatan kebijakan, kehadiran sosok seperti Kwik justru akan semakin penting. 

Kwik dikenal bukan karena retorikanya yang flamboyan atau ambisi kekuasaannya, melainkan karena konsistensinya dalam mempertanyakan hal-hal yang dianggap sudah sepatutnya ditanya oleh seorang intelektual. Ia tidak memposisikan diri sebagai lawan kekuasaan, tapi juga tidak larut dalam kenyamanan sebagai bagian dari sistem. Ia ada di posisi yang langka: seorang intelektual independen yang bersedia mengambil posisi tidak populer demi kebenaran versi akal sehat dan empatinya. 

Dalam teori Jรผrgen Habermas tentang public sphere, suara seperti Kwik berperan sebagai bagian dari ruang diskursif yang memungkinkan masyarakat mempertanyakan kekuasaan melalui rasionalitas komunikatif, bukan kekerasan atau manipulasi. Dalam masyarakat demokratis yang sehat, ruang seperti ini tidak boleh hilang. Dan sosok seperti Kwik adalah contoh nyata bahwa ilmu dan moralitas bisa berjalan beriringan tanpa menjadi alat kekuasaan. 

Mungkin kita tidak akan menemukan sosok yang persis seperti Kwik Kian Gie dalam waktu dekat. Tapi bukan itu poin utamanya. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat dan dunia akademik mempertahankan etos berpikir kritis, keberanian bersuara, dan keberpihakan pada keadilan sosial. Warisan Kwik bukan terletak pada kebijakan apa yang ia hasilkan, melainkan pada nilai-nilai yang ia pegang: kejujuran intelektual, tanggung jawab moral, dan keberanian bertanya. 

Kini, setelah ia berpulang, tugas kita bukan hanya mengenangnya, tapi juga memastikan bahwa ruang bagi intelektual seperti dia tetap terbuka. Dan bahwa keberanian untuk berpikir berbeda tetap menjadi bagian dari identitas publik kita. (D74) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jika Ahok jadi Ketua KPK

Andai jika orang yang suka bicara dengan tajam dan blak-blakan diminta untuk menjadi ketua KPK. Apa yang sebenarnya akan berubah, dan apa yang justru tidak bisa berubah sama sekali?

Khofifah dan Jebakan “Bebek Songkem”?

Khofifah pimpin Jatim nyaris tanpa sorotan, beda jauh dari gubernur Jawa lain yang ramai. Sengaja merunduk atau memang melemah?ย 

Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian "agak baik" untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, โ€œrayapโ€ tidak takut pada menterinya.

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari โ€” dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing

BGN and the โ€˜Nurturingโ€™ Nanik

Prabowo tunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN baru. Mampukah sentuhan perempuan menyembuhkan dapur 60 juta porsi yang sedang sakit?ย 

Driver Ojol Sang Marhaen Modern

Simbolisme Marhaen kini bergeser ke kisah Fatimah Iryanti. Seratus tahun lalu, Soekarno menemukan wajah kemiskinan di sawah yang kering. Hari ini, wajah itu duduk di jok motor, menanggung terik kota, mengantar pesanan demi pesanan yang surplusnya tidak pernah benar-benar sampai ke tangannya.

Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara โ€œsenyapโ€.

More Stories

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari โ€” dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing

Balada Negeri Ormek

Indonesia memiliki satu keunikan politik: banyak politisi dan pejabatnya lahir dari organisasi mahasiswa. Mengapa kondisi ini bisa terjadi?

Indonesia: “Lone Wolf” Penyelamat Iklim?

Ketika seorang presiden berlatar militer menerbitkan regulasi kehutanan yang paling ambisius dalam sejarah Indonesia, pertanyaannya bukan sekadar soal hutan โ€” melainkan soal siapa yang akan menentukan nasib iklim bumi.