HomeHeadlineKIM Plus, Penentuan Nasib Imin?

KIM Plus, Penentuan Nasib Imin?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

PKB pada akhirnya menentukan posisi untuk bersama dengan Partai Gerindra di Pilkada Jakarta 2024 nanti. Ini menyusul berbagai wacana untuk membangun koalisi lebih besar, yakni Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus.


PinterPolitik.com

“Given the circumstances, my lord, I believe extreme measures are warranted” – Lord Varys, Game of Thrones (2011-2019)

Situasi yang buruk biasanya memang membutuhkan cara-cara ekstrem juga untuk menyelesaikannya. Setidaknya, itulah yang diyakini oleh Varys, seorang kasim di serial Game of Thrones (2011-2019).

Penilaian ini diungkapkan Varys saat bertemu dengan Tyrion Lannister yang kala itu menjabat sebagai tangan kanan bagi sang raja Westeros, Joffrey Baratheon. Varys memuji penurunan kasus pencurian yang terjadi di King’s Landing.

Terkejut atas fakta ini, Tyrion-pun menanyakan persoalan ini kepada Bronn, bawahannya yang bertugas sebagai pemimpin satuan pengaman kota. Bronn-pun menyatakan bahwa dirinya menggunakan cara-cara ekstrem seperti mengepung para gerombolan pencuri.

Terlepas dari patut atau tidaknya cara-cara yang digunakan Bronn, King’s Landing-pun selamat dari ancaman kebangkrutan akibat kriminalitas yang tinggi. Rakyat juga bisa lebih aman dalam berdagang dan menjalankan aktivitas ekonomi.

Inilah mengapa terkadang cara ekstrem dinilai diperlukan di kondisi-kondisi sulit. Kebijaksanaan seperti inilah yang mungkin juga diyakini oleh Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.

Di tengah dinamika politik yang tidak menentu, PKB menghadapi sejumlah ancaman. Salah satu ancaman terbesar datang dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

PBNU yang kini dipimpin oleh Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya disebut berencana untuk mengambil alih PKB dari kepengurusan saat ini. PKB kini dianggap telah tidak sejalan dengan tujuan Nahdlatul Ulama (NU).

Tidak hanya itu, muncul wacana bahwa PBNU akan menggelar Muktamar Luar Biasa PKB. Padahal, PKB yang dipimpin Cak Imin berencana untuk menggelar muktamar di Bali pada 24-25 Agustus 2024.

Di tengah ancaman dualisme PKB, Cak Imin bisa saja mengambil cara ekstrem untuk mempertahankan PKB-nya. Mengapa cara ini diperlukan? Kemudian, apa dinamika lanjutan yang dapat terjadi di masa mendatang?

Cak Imin Cari Teman?

Sebenarnya, dalam sejarahnya, dalam keadaan sulit dan terhimpit, sudah biasa manusia akan mencari bantuan. Lagipula, seperti yang sudah diajarkan sejak bangku sekolah, manusia adalah makhluk sosial.

Baca juga :  Gas, Rem, dan Harga Kekuasaan

Artinya, manusia akan membutuhkan satu sama lain. Kebutuhan akan manusia lainnya ini akan menjadi semakin mendesak bila situasi terhimpit itu tiba.

Ketika membutuhkan uang, tidak jarang teman adalah yang didatangi pertama. Mulanya, merasa agak sungkan, permohonan untuk meminjam uangpun diajukan kepada teman yang baik hati.

Well, tidak hanya soal kebutuhan uang saja hal ini berlaku. Saat ancaman tiba, kebutuhan akan adanya sekutu juga muncul, seperti yang dialami oleh keluarga bangsawan Stark saat menghadapi keluarga Lannister yang begitu kuat di King’s Landing.

Untungnya, dalam kisah Game of Thrones, Stark ternyata memiliki sekutu yang menjanjikan, yakni dinasti Targaryen yang tiba-tiba muncul dan bangkit dari Essos.

Targaryen inipun sangat kuat. Daenerys kala itu memiliki tiga naga besar yang siap menghabisi lawannya dengan semburan apinya. Sementara, dinasti lainnya hanya memiliki senjata berupa pedang, tombak, tameng, panah, dan berbagai senjata sejenisnya.

Apa yang dilakukan oleh Stark dan Targaryen ini sebenarnya bisa dijelaskan dengan konsep balancing dalam studi Hubungan Internasional (HI). Mengacu ke buku John J. Mearsheimer yang berjudul The Tragedy of Great Power Politics, entitas yang merasa lemah akan mencari cara untuk merasa aman, salah satunya dengan bersekutu sengan entitas yang lebih kuat.

Ini mengapa akhirnya Stark yang semakin terhimpit oleh strategi Lannister memutuskan untuk beraliansi dengan Targaryen, yang mana dalam posisi ini memiliki kekuatan politik yang lebih kuat karena memiliki naga.

Bukan tidak mungkin, dengan cara bandwagoning seperti yang dilakukan Stark-Targaryen, Cak Imin juga memiliki cara yang sama. Lantas, siapakah yang dianggap sebagai sekutu yang pas?

Bukan ‘Kim Jong-un’, Tapi KIM-Imin?

“Tidak ada KIM, tidak ada Jong-un, Jong-ul ndak ada, tidak ada kimchi, nggak ada,” begitu ujar Cak Imin pada Selasa, 6 Agustus 2024, silam. Pernyataan bernada humor ini menunjukkan bahwa Cak Imin ingin menjadi bagian dari KIM di Pilkada, khususnya Pilkada Jakarta. 

Baca juga :  Mendayung di Antara Dua Kecerdasan

Well, keputusan Cak Imin untuk bergabung dengan KIM Plus di Pilkada Jakarta ini bisa jadi penting. Pasalnya, Pilkada Jakarta sendiri kerap menjadi pintu masuk bagi dinamika politik di panggung nasional.

Dengan bergabung dengan KIM Plus, bukan tidak mungkin PKB akan menjadi bagian dari pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Ini bisa menguntungkan bagi Cak Imin.

KIM sendiri bisa dibilang menjadi kekuatan terbesar saat ini. Selain menjadi bagian dari pemerintah, KIM juga memiliki jumlah kursi terbanyak di DPR bila dijumlahkan.

Bukan tidak mungkin, KIM adalah entitas besar seperti yang disebutkan oleh Mearsheimer di atas. Ini menjadi upaya bandwagoning PKB, yakni dengan bergantung pada kekuatan yang lebih besar.

Bila Cak Imin mampu meyakinkan KIM bahwa dirinya adalah pemegang bidak PKB yang terbaik, bisa saja posisinya akan menjadi lebih aman. Katakanlah, Cak Imin bisa memiliki daya tawar yang lebih tinggi di PKB dan NU.

Apalagi, selama ini, Cak Imin memang menggunakan pola politik patron-klien untuk menjaga pengaruhnya di PKB dan NU. Seperti yang dituliskan oleh Greag Fealy dalam tulisannya yang berjudul “Nahdlatul Ulama and the Politics Trap” di New Mandala, Cak Imin memang menyalurkan sejumlah sumber untuk menjaga loyalitas para kiai NU.

Dengan menjadi bagian dari pemerintah, PKB secara tidak langsung memiliki akses terhadap sumber yang ada di pemerintahan. Dengan begitu, Cak Imin bisa menjalankan apa yang dijelaskan Fealy dalam tulisannya.

Bukan tidak mungkin, dengan menjaga loyalitas di kalangan NU, posisi Cak Imin akan menjadi lebih aman, mengingat kompetisi antara Cak Imin dan PBNU terletak di kalangan Nahdliyin sendiri. Menarik untuk diamati kelanjutannya. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?