HomeNalar PolitikKenapa PAN Nekat Incar Jawa Timur?

Kenapa PAN Nekat Incar Jawa Timur?

Kecil Besar

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan melakukan safari politik menarik dengan mengunjungi pondok pesantren Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Timur (Jatim) dan bertemu dengan Ketua PWNU Jatim. Apakah PAN tengah menyasar ceruk suara NU di Jatim? Jika benar, mampukah PAN yang pemilih tradisionalnya dari Muhammadiyah bersaing dengan PKB? 


PinterPolitik.com

“Let your plans be dark and impenetrable as night, and when you move, fall like a thunderbolt.” — Sun Tzu, ahli perang Tiongkok

Ada gestur politik menarik yang ditunjukkan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) pada 10 Desember kemarin. Mungkin untuk yang pertama kali, ia menghadiri Musyawarah Ranting (Musran) PAN di Mojokerto, Jawa Timur (Jatim). Musran ini juga terbilang menarik karena digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah asuhan Kiai Asep Saifuddin Chalim yang merupakan pondok Nahdlatul Ulama (NU). Ini menarik karena pemilih tradisional PAN adalah dari Muhammadiyah.

Sambutan Kiai Asep Saifuddin Chalim tidak kalah menarik. “Pondok kami terbuka untuk kegiatan-kegiatan yang memikirkan agenda kebangsaan. Saya siap membantu dan memfasilitasi, termasuk kegiatan-kegiatan PAN, bahkan kalau perlu kami biayai. Di sini banyak aula, ruangan dan lainnya,” ungkapnya. Benar-benar antusiasme dan dukungan yang tersurat.

Dalam rangkaian safarinya, Zulhas juga mengunjungi Ponpes Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kraksaan, Probolinggo dan Ponpes Sidogiri Pasuruan. Tidak lupa pula menyambangi tokoh NU sentral di Jatim, yakni Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar. 

“PAN dengan NU ini dekat, kecintaan Bang Zul kepada para Kiai juga tak usah diragukan. Ahlan wa sahlan, selamat datang di Ponpes Syekh Abdul Qadir Jailani, disambut oleh para Kiai dan Habaib,” ungkap KH Abdul Hafidz Aminuddin, pimpinan Ponpes Syekh Abdul Qadir Jailani.

Atas rangkaian safari yang dilakukan, khususnya ke Ponpes NU dan Ketua PWNU Jatim, berbagai pihak menaruh dugaan, apakah PAN tengah mengincar suara NU? 

Jika benar, ini sangat menarik karena PAN harus bersaing dengan PKB yang telah lama menjadikan NU sebagai lumbung suara, khususnya di Jawa Timur. Pada Pemilu 2019, misalnya, PKB memperoleh 4.198.551 suara di Jatim – hanya dilewati oleh PDIP dengan 4.319.666 suara. Dengan total meraih 13.570.097 suara, sepertiga suara PKB disumbang oleh satu provinsi.

Lebih menarik lagi, Ketua DPW PAN Jatim Ahmad Rizki Sadig mengeluarkan tagline “Jawa Timur Basis PAN”. Melihat statistik yang ada, apakah PAN terbilang nekat ingin merebut suara NU di Jawa Timur?

Kalkulasi Matematis

Jika benar PAN mengincar suara NU Jatim, maka ini adalah afirmasi atas tulisan Alexander R. Arifianto yang berjudul From ideological to political sectarianism: Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, and the state in Indonesia.

Disebutkan, saat ini politik Indonesia bukanlah soal pertarungan ideologi, melainkan soal sektarianisme atau pertarungan kelompok masyarakat. Arifianto mencontohkannya dengan Pilpres 2019. Ketika Amien Rais yang merupakan tokoh senior Muhammadiyah bersikap sebagai oposisi, pemerintah kemudian merapat ke NU. Tidak hanya terkait PKB, secara mengejutkan Ma’ruf Amin dipilih sebagai cawapres di detik-detik akhir pengumuman.

Baca juga :  Menguak The Economist

Cara kerja yang sama juga berlaku di pemilihan legislatif. Strategi perebutan suara pada dasarnya tidak bertolak pada kampanye ideologi, melainkan seberapa jauh usaha partai dalam mendekati dan beramah-tamah dengan kelompok masyarakat.

Oleh karenanya, meskipun pemilih tradisional PAN disebut dari Muhammadiyah, jika partai biru dapat melakukan pendekatan yang strategis, tepat, dan proporsional, menggaet suara dari pemilih NU merupakan suatu probabilitas yang dapat diraih.

Melihat datanya, tagline “Jawa Timur Basis PAN” sebenarnya adalah kalkulasi matematis. Pada Pemilu 2019, PAN meraih 1.209.375 suara di Jatim. Dengan perkiraan jumlah warga Muhammadiyah di Jatim sebesar 10 juta jiwa, yang mana tentunya tidak semua ke PAN, dapat dikatakan sisanya berasal dari warga NU. 

Simpulan ini misalnya dapat ditarik pada kasus Slamet Ariyadi, anggota DPR Komisi IV Fraksi PAN yang berasal dari daerah pilih (Dapil) Jawa Timur IX. Ariyadi merupakan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi kemahasiswaan yang disebut punya pertalian dengan NU. Ia juga pernah nyantri di Ponpes Nazhatut Thullab Prajjan Sampang yang merupakan pondok NU. 

Sekarang pertanyaannya, dengan background seperti itu, darimana suara Ariyadi? Tentu bukan dari warga Muhammadiyah, melainkan warga NU. Faktor penting lainnya adalah, seperti yang diungkap Menko Polhukam Mahfud MD, warga NU dibebaskan untuk menentukan partai pilihannya. 

Suara NU bukan hanya milik PKB. Ini terbukti dengan perolehan suara partai lebah yang hanya menyentuh 13.570.097 suara di Pemilu 2019. Ini jauh dari perkiraan jumlah warga NU yang disebut mencapai 60-120 juta jiwa.

Mengutip NU Online, jumlah warga NU Jatim mencapai 24.487.914 jiwa, sekitar 60 persen penduduk Jawa Timur. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat warga Muhammadiyah Jatim. Pertanyaannya, siapa yang tidak ingin mendapat suara sebanyak itu? 

Dengan berbagai perhitungan matematis tersebut, dapat dikatakan tagline “Jawa Timur Basis PAN” bukanlah mimpi di siang bolong. Lagipula, jika menyebutnya terlalu ambisius, menurut Ketua DPW PAN Jatim Ahmad Rizki Sadig, yang dimaksud bukan menguasai Jatim dalam artian riil, melainkan memiliki wakil di setiap dapil di Jawa Timur. 

Baca juga :  Jalan-jalan dengan Sepatu Roda 'Girl Power'

Di Jatim ada 11 dapil RI, 14 dapil provinsi, dan 200 dapil kab/kota. Jika dihitung, PAN sebenarnya hanya menargetkan total 225 kursi dari 1620 kursi kab/kota, 120 kursi provinsi, dan 89 kursi RI dari Jatim. 

Bergerak dalam Kegelapan

Meskipun terbilang begitu matematis, langkah terbuka Zulhas mengunjungi ponpes NU dan Ketua PWNU Jatim masih menyisakan tanda tanya. Mengacu pada ahli strategi Tiongkok, Sun Tzu dalam bukunya The Art of War, faktor kerahasiaan merupakan syarat mutlak dari keberhasilan strategi perang.

Seperti kutipan Sun Tzu di awal tulisan, serangan harus seperti petir. Ia harus mengejutkan, keras, menyambar, dan tak terhentikan. 

Pertanyaannya, bagaimana mungkin elemen kejutan itu berhasil jika strategi sudah diketahui oleh pihak musuh?

Jika PAN secara terbuka menunjukkan keinginannya merebut suara NU Jatim, bukankah ada peluang sabotase dari partai lain. Tentunya, tidak mungkin partai lain seperti PKB membiarkan PAN mengambil ceruk suaranya. Seperti kata Sun Tzu, mematahkan strategi musuh adalah cara jitu dalam memenangkan perang.

Atas keganjilan ini, kita dapat menarik satu dugaan. Besar kemungkinan kunjungan Zulhas hanyalah etalase. Ini hanyalah pertunjukan panggung dramaturgi. Dalam politik, interaksi sebenarnya lebih banyak terjadi di panggung belakang (backstage) daripada panggung depan (front stage). Pada umumnya, panggung depan hanya ditunjukkan ketika lobi panggung belakang tidak berjalan sesuai keinginan, atau ketika sudah mencapai suatu kesepakatan. 

Mungkin dapat dikatakan, PAN sudah memiliki strategi jitu dalam menggaet suara NU Jatim, sehingga perlu memainkan panggung depan. Kunjungan Zulhas sebenarnya simbol atas kemantapan PAN bergerak di Jawa Timur.

Selain sebagai dramaturgi, kita dapat memahami kunjungan terbuka Zulhas sebagai trial balloon. Ini merupakan informasi yang sengaja dilempar ke media untuk mengamati reaksi pihak lain. Politisi sering kali sengaja membocorkan informasi tentang perubahan kebijakan untuk melihat reaksi masyarakat, apakah diterima atau mendapatkan resistensi. 

Jika kunjungan Zulhas merupakan trial balloon, ini jelas merupakan bagian dari strategi. Jika mendapat respons positif, PAN akan melakukan eskalasi strategi dan semakin mengerahkan pasukan darat untuk mengetuk pintu dan simpul-simpul suara NU di Jawa Timur.

Well, kita lihat saja kelanjutan strategi PAN ini. Berhasil tidaknya tagline “Jawa Timur Basis PAN” hanya dapat dijawab oleh waktu dan perhitungan terukur yang jitu. Mari mengamati. (R53)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...