HomeNalar PolitikJusuf Kalla Belum Habis!

Jusuf Kalla Belum Habis!

Kecil Besar

Kisruh yang terjadi di Partai Golkar akibat kasus hukum yang menjerat Setya Novanto membuat Jusuf Kalla (JK) turun tangan. Bahkan, JK disebut sebagai salah satu tokoh yang ada di belakang layar terkait munculnya wacana pergantian Ketua Umum Golkar.


PinterPolitik.com

“Pekerjaan yang baik tanpa perencanaan hanya akan jadi sulit. Perencanaan yang baik tanpa pelaksaan hanya akan jadi arsip.” – Jusuf Kalla

[dropcap]B[/dropcap]ukan tanpa alasan harian Singapura The Strait Times pernah menyematkan julukan ‘The King Maker’ pada JK. Gonjang-ganjing kasus KTP elektronik, serta drama penuh aksi yang melibatkan Ketua Umum Golkar sekaligus Ketua DPR RI Setya Novanto dipercaya juga melibatkan JK. Apalagi, pasca muncul wacana untuk mengganti pucuk pimpinan partai beringin tersebut, geliat politik nasional menjadi semakin tidak rekendali.

Masih kuatnya peran JK di Golkar tentu menjadi hal yang menarik untuk diamati. Dua periode menjabat sebagai wakil presiden – pada zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan kini di zaman Presiden Joko Widodo (Jokowi) – seolah menjadi waktu yang berarti bagi pria yang juga dikenal dengan nama ‘Daeng Ucu’ ini. Dengan jalan politiknya yang cepat dan taktis, JK mungkin menjadi satu dari sedikit saja politisi yang tidak berbelit-belit dalam bertutur dan bertindak.

Dalam kasus Setya Novanto, beberapa pihak menyebut JK mengalami benturan kepentingan dengan elit politik di tingkat nasional, termasuk dengan Presiden Jokowi.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti menyebut persoalan yang melibatkan Setnov melibatkan persinggungan kepentingan antara JK, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, serta yang paling ketat tentu saja dengan Jokowi. Namun, menurut Ray, titik temu di antara kepentingan-kepentingan tersebut akan dapat tercapai.

Masih kuatnya posisi politik JK tentu menimbulkan pertanyaan terkait kiprah pria yang akan berusia 77 tahun pada 2019 nanti. Dengan membawa gerbong faksi di Partai Golkar, JK merupakan salah satu alasan mengapa Jokowi bisa memenangkan pertarungan melawan Prabowo Subianto di 2014.

Seiring waktu, friksi di antara keduanya serta artikulasi ambisi menjadi orang nomor satu di Indonesia menimbulkan pertanyaan terkait jalan politik JK. Akan kemanakah Daeng Ucu pasca selesai masa jabatan di 2019? Masih adakah ambisi menjadi orang nomor satu di sisa masa kekuasaannya sebagai Wakil Presiden, atau this is just the end of Pak JK?

Daeng Ucu: Dari Gurita Bisnis Hingga Ambisi Politik

Nama Kalla identik dengan sebuah grup bisnis besar yang menguasai beberapa sektor bisnis terutama di Indonesia bagian tengah dan timur: Kalla Group. JK tercatat menjadi tokoh utama dalam grup bisnis yang didirikan oleh orang tuanya tersebut.

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Hal inilah yang membuat ia tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Kini, jabatan utama di Kalla Grup telah diberikan ke  adiknya Fatimah Kalla setelah JK memutuskan untuk fokus dalam urusan politik.

Rilis laporan kekayaan di KPU menjelang Pilpres 2014 lalu menyebut total kekayaan JK mencapai Rp 465 miliar ditambah USD 1 juta. Ini merupakan data laporan kekayaan yang dilakukan sebagai syarat pencalonan dirinya dan Jokowi pada Pilpres 2014 lalu.

Jusuf Kalla Belum Habis!

Namun, dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia versi majalah Jakarta Globe yang dirilis tahun 2013, total kekayaan Daeng Ucu disebut mencapai lebih dari USD 550 juta atau sekitar Rp 7,4 triliun. Tanpa kerugian usaha yang berarti, jumlah tersebut tentu jauh lebih besar saat ini. Total kekayaan itu menempatkan JK di urutan 70 dalam daftar orang terkaya di Indonesia.

Bisnis keluarga JK melalui Kalla Group bergerak di beberapa bidang, mulai dari otomotif, konstruksi, properti dan perhotelan, transportasi dan logistik, energi, agroindustri, hingga ke bidang pendidikan melalui Sekolah Islam Athirah. Jika ditotal, Kalla Group memiliki hingga 24 sub-unit bisnis.

Kalla Group juga menjadi agen tunggal pemasaran mobil Toyota untuk daerah Sulawesi Selatan, Tengah dan Tenggara dengan market share yang paling tinggi di Indonesia. Berkat prestasi yang dicapainya dalam penjualan kendaraan penumpang dan komersial, perusahaan ini sering memperoleh Triple Crown Award, dari Toyota Corporation, Jepang. Di samping otomotif, Kalla Group juga bergerak di bidang pertambangan dan kelistrikan.

Terkait lini bisnis, selentingan muncul tentang posisi JK sebagai Wapres yang ikut mengamankan kepentingan bisnisnya, termasuk yang berhubungan dengan pembangkit listrik. Bahkan, perbincangan terkait proyek listrik mangkrak yang dikerjakan oleh kerajaan bisnis JK – dan disebut merugikan negara – menjadi topik utama di warung-warung kopi. Walaupun demikian, belum ada satu pun bukti yang muncul ke permukaan.

Banyak pihak yang mengatakan satu-satunya mimpi JK yang belum tercapai adalah menjadi Presiden RI. Hal inilah yang sempat memanaskan hubungan Jokowi dan JK, terutama di sekitaran aksi 411 dan 212 hingga di sepanjang gelaran Pilgub Jakarta lalu. (Baca Juga: Ada Apa Dengan Jokowi-JK?)

Jusuf Kalla Belum Habis!

Bahkan, fakta bahwa JK mendukung pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno pada Pilgub DKI Jakarta beberapa waktu lalu, sementara Jokowi mendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menunjukkan friksi yang oleh The Strait Times disebut sebagai rift atau retakan di antara keduanya.

Secara politis, sebagai salah satu patron politik di Partai Golkar, pengaruh JK juga sangat mungkin bertabrakan dengan kepentingan Jokowi atas partai beringin tersebut yang menjadi parpol paling awal pendukung pria asal Solo itu untuk Pilpres 2019.

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Selain itu, Golkar adalah partai yang sangat penting bagi Jokowi dan koalisi pemerintah. Golkar-lah yang menjadi kunci pemerintah membalikan kedudukan dukungan koalisi-oposisi di parlemen, sehingga persentase dukungannya kini mencapai 62 persen untuk koalisi pemerintah. Dukungan ini penting bagi Jokowi untuk menyukseskan program-program yang direncanakannya termasuk juga terkait APBN.

Oleh karena itu, memutar kuasa di pucuk Golkar akan sangat berpengaruh bagi Jokowi, termasuk terkait dukungan di parlemen. Golkar juga sangat mungkin menjadi tiket Jokowi untuk kembali maju pada Pilpres 2019 jika PDIP ‘kapok’ mengusung petugas partai yang mbalelo ini. (Baca Juga: PDIP: Good Bye Jokowi?)

Dalam dua tahun sisa kekuasaan Jokowi dan JK, segala sesuatu masih sangat mungkin terjadi. Jika Jokowi ambruk di tengah jalan, maka JK mungkin akan mencapai mimpinya menjadi RI 1. Pertanyaanya adalah apakah ambisi serupa masih tetap ada?

What’s Next, Pak JK?

JK dikenal sebagai politisi dengan kemampuan lobi yang handal dan tajam. Kemampuan politiknya ini diperkuat oleh jaringan dan skill bisnis yang mumpuni, menjadikan JK satu dari sedikit politisi yang masih lincah di usia lanjut – lincah secara fisik dan secara politik. Jadi, usia 77 tahun di 2019 mungkin menjadi saat yang tepat untuk pensiun.

Terkait wacana berpasangan kembali dengan Jokowi, JK juga tidak mungkin lagi menjadi Wakil Presiden karena aturan dalam UUD 1945 menyebut Presiden dan Wakil Presiden hanya boleh memimpin dalam dua periode untuk jabatan yang sama. Daeng Ucu telah 2 periode menjabat sebagai Wakil Presiden.

Namun, walaupun pensiun, pengaruh JK masih akan terasa. Apalagi, situasi di pemerintahan Jokowi jauh lebih rumit dari pada yang terlihat. Patron-patron kekuasaan di dalam kabinet misalnya masih sangat saling mempengaruhi satu sama lain.

Jusuf Kalla Belum Habis!
Patron-patron politik dalam pemerintahan Jokowi-JK masih akan menentukan perjalanan politik negara ini hingga Pilpres 2019. (Foto: Kapan Lagi)

Hubungan JK dengan oligark politik lain, misalnya dengan Megawati Soekarnoputri juga terlihat kian membaik. Bukan tanpa alasan kader PDIP sekelas Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo melempar wacana untuk menjadikan JK sebagai tim sukses Jokowi di 2019 jika bukan karena hubungan yang membaik di antara Megawati dan JK. Makin membaiknya hubungan itu sangat mungkin terjadi pasca pertemuan keduanya di Belgia beberapa waktu lalu, yang sepertinya luput dari pemberitaan. Who knows.

Semua itu memungkinkan dinamika politik penuh gairah terjadi di 2018 dan 2019. Semuanya juga tergantung pada Jokowi dan kebijakan politiknya di sisa pemerintahan, terutama yang berhubungan dengan sektor bisnis JK.

Yang jelas, sebagai politisi, Daeng Ucu belumlah habis. Oleh karena itu, menarik untuk ditunggu ‘perencanaan dan pelaksanaan’ apa yang akan dilakukan JK dan Golkar dalam beberapa minggu ke depan. (S13)

 

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.