HomeNalar PolitikJokowi Takut dengan Anies?

Jokowi Takut dengan Anies?

Kecil Besar

Partai NasDem menjadi satu-satunya partai koalisi yang tidak diundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Istana pada 2 Mei 2023. Menteri Investasi Bahlil Lahadalia juga mengingatkan soal kandidat yang ingin menjadi antitesa Jokowi. Ini kah sinyal Jokowi sedang ketakutan?


PinterPolitik.com

Lagi, secara kentara Presiden Jokowi menunjukkan keretakan hubungan dengan Partai NasDem. Ketika mengumpulkan parpol koalisi di Istana Merdeka pada Selasa malam, 2 Mei 2023, NasDem menjadi satu-satunya partai yang tidak diundang.

Presiden Jokowi bahkan secara terbuka mengakui tidak mengundang NasDem. “Ya memang enggak diundang,” ungkapnya pada 4 Mei 2023.

Menurut pengamat politik Ujang Komarudin, tidak diundangnya NasDem bukan lagi tanda-tanda atau sinyalemen, melainkan pesan yang sangat jelas bahwa NasDem bukan lagi bagian dari parpol pendukung pemerintah.

“Anies dianggap antitesa Jokowi, dianggap musuh Jokowi, makanya NasDem yang mengusung Anies dianggap pihak lawan dan oposisi,” ungkap Ujang pada 3 Mei 2023.

Menariknya, pernyataan Ujang tersebut berkorelasi kuat dengan pernyataan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia.

“Bagi capres-capres yang mau menang, maka baik-baiklah kalian dengan Bapak Presiden Jokowi, tapi kalau capres yang mau bikin antitesa dengan Pak Jokowi, ya silahkan, hasilnya juga akan ketahuan,” ungkap Bahlil pada 3 Mei 2023.

Kesimpulan itu ditarik Bahlil berdasarkan survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada April 2023 yang menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Presiden Jokowi mencapai 82 persen. Dalam data LSI, angka itu adalah yang tertinggi dalam sejarah.

image 10

Bukan Lagi Perang Simbol

Menariknya, apa yang ditunjukkan Presiden Jokowi terlihat keluar dari habituasinya selama ini. Kimly Ngoun dalam tulisannya What Southeast Asian Leaders Can Learn from Jokowi, menyebutkan bahwa Presiden Jokowi memang terkenal sering memainkan simbol-simbol dalam tiap kesempatan.

Baca juga :  Jalan-jalan dengan Sepatu Roda 'Girl Power'

Ia berpendapat, mantan Gubernur DKI Jakarta itu memiliki kemampuan untuk mengonstruksi seperangkat simbol yang membedakan dirinya dengan pemimpin-pemimpin lain di Asia Tenggara.

Ngoun menilai cara Jokowi menumbuhkan kekuatan politiknya merupakan fenomena yang menarik untuk diamati. Menurutnya, strategi yang dipakai Jokowi tidak hanya membawa perspektif baru ke dalam kehidupan politik Indonesia, tetapi juga menantang pemahaman yang ada tentang kekuatan politik di Asia Tenggara.

Sejak awal kemunculannya, Jokowi dinilai sudah mahir memainkan politik simbol. Misalnya memakai pakaian sederhana dalam beberapa kesempatan, hingga rutin mengunjungi kelompok masyarakat kelas bawah dan mendengarkan langsung masalah mereka.

Politisi PDIP Panda Nababan dalam bukunya Panda Nababan Lahir sebagai Petarung juga secara gamblang menjelaskan bagaimana mahirnya Jokowi memainkan politik simbol. Panda bahkan mengatakan bahwa politik simbol adalah hal yang perlu dipelajarinya dari Jokowi.

Pertanyaannya, pada kasus NasDem, kenapa komunikasi politik Jokowi tiba-tiba menjadi begitu terbuka? Kenapa Jokowi tidak lagi memainkan politik simbol seperti yang selama ini dilakukannya?

image 11

Jokowi Ketakutan?

Guru Besar Hukum Tata Negara Denny Indrayana dalam tulisannya Bagaimana Jokowi mendukung Ganjar, Mencadangkan Prabowo, dan Menolak Anies, secara terang-terangan menjabarkan bahwa Presiden Jokowi mendukung majunya Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, namun menolak Anies Baswedan.

Menurut Denny, ada kekhawatiran kuat bahwa Anies akan menjadi tsunami kerugian bisnis. Ada sederet kepentingan bisnis dan megaproyek yang dipertaruhkan. Jika menyebut satu diantaranya, mungkin itu adalah Ibu Kota Negara (IKN).

Jika yang dikatakan Denny tepat, bukan tidak mungkin Presiden Jokowi sedang “takut” saat ini. Yang mana, itu membuatnya tidak lagi memainkan politik simbol, melainkan politik terbuka seperti sekarang.

Menurut jurnalis Adam Curtis, politisi menggunakan perasaan ketakutannya untuk meningkatkan pengaruh dan kontrolnya terhadap masyarakat. Ketika perasaan takut menghantui, politisi seolah merasa memiliki justifikasi untuk meningkatkan pengaruh politiknya.

Baca juga :  Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Menariknya, penjabaran Curtis sekiranya cukup tergambar dari pernyataan Presiden Jokowi. “Tolonglah mengerti bahwa kita ini juga politisi, tapi juga pejabat publik,” ungkapnya pada 3 Mei 2024.

Pernyataan itu dikeluarkan ketika menanggapi pertanyaan apakah dirinya cawe-cawe soal capres-cawapres di Pilpres 2024. Menurut Jokowi, keputusannya mengumpulkan parpol koalisi di Istana bukan cawe-cawe, melainkan diskusi semata.

Well, singkatnya, seperti kata Ujang Komarudin, jika manuver politik Jokowi sangat jelas seperti sekarang, sulit mencegah berbagai pihak untuk tidak menyimpulkan terdapat kekhawatiran tertentu terhadap Anies.

Terlepas dari kekhawatiran itu tepat atau tidak, Anies mungkin sudah terlanjur dipersepsikan akan mengubah warisan politik Presiden Jokowi jika nantinya menjabat. (R53)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...