HomeNalar PolitikJokowi dan Nadir Kejatuhan Peradaban Barat

Jokowi dan Nadir Kejatuhan Peradaban Barat

Kecil Besar
Seri Pemikiran Kishore Mahbubani #21

Hasil Pilpres Amerika Serikat (AS) 2020 memang belum sampai titik final. Saga gegap gempita yang mempertemukan sang petahana Donald Trump dan penantangnya Joe Biden mencuri perhatian seluruh dunia. Bukan tanpa alasan, AS adalah sentral politik dan ekonomi dunia. Sehingga segala sesuatu yang terjadi pada negeri tersebut punya dampak yang sangat besar terhadap dunia secara keseluruhan.


PinterPolitik.com

โ€œA very senior Western figure told me: โ€˜Kishore, if Donald Trump is re-elected, itโ€™s the end of the West โ€” the Western alliance would crashโ€™โ€.

::Kishore Mahbubani, akademisi dan mantan diplomat asal Singapura::

Hingga tulisan ini diturunkan, Joe Biden masih unggul atas Trump, sekalipun belum ada keputusan final. Masing-masing kandidat juga telah saling mengklaim kemenangan โ€“ hal yang cukup jarang terjadi di AS dalam gelaran-gelaran kontestasi elektoral sebelum-sebelumnya.

Dari angka-angka yang sudah ada โ€“ setidaknya berdasarkan grafik pemungutan suara yang dikutip dari The Guardian โ€“ Joe Biden berpeluang lebih besar untuk merebut kemenangan kali ini. Pasalnya, di beberapa negara bagian yang sebelumnya memenangkan Trump dan Partai Republik pada Pemilu 2016 lalu, kini suaranya diambil alih oleh Biden dan Partai Demokrat.

Arizona, Michigan dan Wisconsin adalah tiga negara bagian yang disebut mengalami flip atau perubahan dukungan politik tersebut. Artinya, kemenangan Donald Trump memang akan sulit terjadi, kecuali ada perubahan di beberapa negara bagian lain yang suaranya belum final dihitung hingga saat ini.

Konteks ini menarik untuk dilihat dari perspektif yang lebih luas karena beberapa hari lalu, muncul perbincangan di antara para scholar dan akademisi internasional terkait apa yang akan terjadi jika Biden yang menang, demikianpun apa yang terjadi jika Trump yang menang.

Salah satu yang ikut dalam perbincangan tersebut adalah akademisi dan mantan diplomat asal Singapura, Kishore Mahbubani. Mahbubani menyebutkan bahwa dua kandidat ini punya dampak yang sama-sama baik dan buruk, tetapi dalam jangka waktu yang berbeda โ€“ terutama dalam hubungannya dengan negara seperti Tiongkok.

Ia juga menyebutkan bahwa jika Trump kembali memenangkan kontestasi elektoral ini, maka kekuatan Barat akan terpecah-pecah, terutama untuk menghadapi kebangkitan negara seperti Tiongkok. Lalu, seperti apa hitung-hitungan politik ini akan berdampak untuk Indonesia?

Di Lingkaran Donald Trump

Mahbubani menyebutkan bahwa dalam konteks hubungannya dengan Tiongkok misalnya, jika Biden yang menang, maka hal tersebut akan menjadi kondisi yang positif dalam jangka pendek. Pasalnya Biden dipercaya akan berusaha mengambil jalan tengah dalam ketegangan yang timbul akibat Perang Dagang. Tensi politik yang timbul akan diredakan. Dalam jangka pendek, hal ini akan menguntungkan Tiongkok.

Namun, dalam jangka panjang, kondisi ini justru akan merugikan negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping tersebut karena Biden dipercaya akan kembali menyatukan kekuatan Barat dan sekutu-sekutunya, sehingga akan menjadi pembendung kebangkitan dominasi Tiongkok yang saat ini sedang mendapatkan bentuknya.

Baca juga :  Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Sebaliknya, jika Trump yang menang, maka dalam jangka pendek, kondisi ini cenderung negatif untuk Tiongkok. Perang Dagang dan segala jenis kebijakan keras yang dibuat Trump akan terus berlanjut yang nota bene akan merugikan Tiongkok juga.

Namun, dalam jangka panjang, kondisi ini justru akan menguntungkan Tiongkok. Suara Barat dan sekutu dianggap akan terpecah dalam konteks politik internasional. Sementara dalam konteks politik domestik AS, Trump dan segala kontroversinya serta benturannya dengan media akan membuat negara itu sibuk dengan dirinya sendiri. Hal ini akan membuat Tiongkok lebih leluasa memainkan perimbangan internasional, termasuk dalam usaha merebut dominasi AS.

Di satu sisi, pandangan Mahbubani ini memang bisa dibilang punya stand point yang kuat. Namun, ada pertanyaan lanjutan yang juga kemudian lahir, yakni apakah dampak katakanlah jika Trump kembali menang, hanya dirasakan oleh Barat sebagai entitas politik internasional, atau Barat sebagai sebuah peradaban?

Pertanyaan ini menjadi menarik karena kalau bicara soal peradaban, maka yang terbersit di pikiran kita adalah sebuah isu kompleks terkait masyarakat pada suatu wilayah atau regional tertentu dengan bangunan nilai, budaya dan karakter sosio-politik-ekonomi tertentu. Persoalan ini penting untuk dilihat, mengingat AS bisa dibilang menjadi jantung dari peradaban Barat itu sendiri. Artinya, jika ada perubahan besar atau guncangan yang terjadi pada negara tersebut, maka sangat mungkin dampaknya akan terasa pada keseluruhan peradaban.

Shivaji Lokam dalam bukunya The Fall of Western Civilization menyebutkan bahwa peradaban Barat pada dasarnya telah menyimpan krisis pada dirinya sendiri. Barat terjebak dalam apa yang disebut sebagai self-destruction mode atau mode penghancuran diri sendiri. Ini bisa dilihat dalam 100 tahun terakhir, di mana Perang Dunia I dan Perang Dunia II menjadi momok utamanya.

Lalu, berbagai kekacauan politik dalam tajuk Perang Dingin, krisis ekonomi, politik identitas dan lain sebagainya, telah membangkitkan memori kehancuran seperti yang terjadi di masa lalu. Konteks ekonomi ini juga makin menarik untuk dilihat saat ini, apalagi di tengah krisis yang diakibatkan oleh Covid-19.

Ekonom politik Benjamin Friedman pernah menggambarkan peradaban Barat sebagai sebuah sepeda yang dikayuh secara stabil oleh pertumbuhan ekonomi. Jika kayuhan itu mulai melambat atau bahkan berhenti, maka pilar peradaban Barat โ€“ yang umumnya terdiri atas demokrasi, kebebasan individu, toleransi sosial dan lain sebagainya โ€“ dengan sendirinya akan ikut goyah. Disebutkan pula bahwa peradaban manapun โ€“ tak peduli seberapa besar dan hebatnya โ€“ tak pernah imun akan kehancuran.

Dalam konteks yang terjadi dengan AS dan Pemilu kali ini, memang cukup jauh untuk melihatnya sebagai sebuah indikasi kehancuran peradaban. Namun, jika kandidat yang memenangkan pertarungan ini tak mampu menjaga pilar-pilar peradaban Barat itu tetap terkendali, maka akan ada riak-riak yang bisa muncul dan menantang tatanan peradaban itu sendiri.

Baca juga :  Strategi โ€œGajahโ€ Kaesang masuk Pesantren ?

Apa yang kini terjadi pada Presiden Prancis Emmanuel Macron misalnya, adalah salah satu contoh riak yang โ€œmenantangโ€ peradaban Barat itu. Barat yang identik dengan sekularisme kini dipertanyakan ulang eksistensi kekuatan salah satu pilarnya โ€“ yakni toleransi sosial โ€“ ketika sekularisme itu ternyata punya bentuk ekstremnya tersendiri.

Dalam konteks yang berbeda, hal ini juga sangat mungkin akan terjadi pada AS. Jika Biden terpilih, maka kekuatan Barat akan lebih mudah disatukan dan membuatnya menjadi lebih kebal terhadap riak dan ancaman dari luar. Namun, jika pada akhirnya Trump-lah yang kembali menang, maka Barat akan sulit bersatu menghadapi berbagai tantangan dari luar.

Periode pertama kekuasaan Trump sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan bagaimana hubungan sang presiden dengan sekutu-sekutunya sering ada pada level yang penuh riak.

Lalu, apa dampak persoalan ini bagi Indonesia?

Makna Untuk Indonesia

Siapa yang akan menang di AS kali ini memang akan menjadi pertaruhan untuk arah politik Indonesia. Pasalnya, di periode pertama pemerintahan Presiden Jokowi, Indonesia cenderung melihat kebangkitan Tiongkok sebagai salah satu faktor utama yang bisa mendorong kemajuan negara ini. Akhirnya, segala macam kerja sama ekonomi dilakukan dan Indonesia akhirnya punya banyak โ€œkemewahanโ€ yang didapatkan dari hubungan tersebut.

Di periode yang sama pula Trump juga tak begitu โ€œmemperhatikanโ€ Indonesia. Baru di akhir-akhir kekuasaannya โ€“ seiring meningkatnya ketegangan dalam Perang Dagang dengan Tiongkok โ€“ Indonesia dilirik sebagai โ€œpijakanโ€ katakanlah jika pertentangan yang terjadi mengarah pada konflik militer terbuka. Posisi Indonesia yang strategis dekat Laut China Selatan memang menjadi alasan utamanya.

Artinya, jika Trump kembali berkuasa dan ketegangan politik dengan Tiongkok benar-benar terjadi, maka Indonesia bisa terseret dalam perang perebutan pengaruh. Kunjungan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo beberapa waktu lalu adalah salah satu indikasi yang bisa menimbulkan pertanyaan lanjutan yang lebih besar terkait kepentingan pemerintahan Trump atas Indonesia.

Sementara, jika Biden yang menang, maka ketegangan politik itu akan bisa lebih berkurang, sekalipun dalam konteks perebutan pengaruh, hal tersebut tetap saja akan terjadi. Semuanya juga akan tergantung pada bagaimana Presiden Jokowi menetapkan arah politik luar negerinya.

Yang jelas, konteks kejatuhan peradaban Barat โ€“ jika memang benar demikian terjadi โ€“ akan menjadi fenomena yang besar dampaknya bagi Indonesia. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)


Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik diย bit.ly/ruang-publikย untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

PAL-PINDAD-PTDI: Trinitas Industrialisasi RI?

Ketika tiga BUMN pertahanan Indonesia mencetak rekor laba di momen bersamaan, pertanyaannya bukan lagi soal alutsista โ€” melainkan apakah Indonesia akhirnya menemukan jalan industrialisasinya sendiri.ย 

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi โ€” Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme โ€” melainkan soal desain.

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Tiga dekade ia berderap melawan setiap kekuasaan. Ibaratkan pedang, Fahri Hamzah menggunakan mulutnya seperti pedang yang tajam. Begitu ia masuk ke dalamnya, pedang itu nampak seperti pedang yang โ€œkaratanโ€

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Di tengah pemerintahan yang pamornya meredup, satu figur justru rajin turun ke jalan. Kebetulan, atau ada yang sedang ia kumpulkan?

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Bambang Pacul menyebutnya mentalitet korea: watak orang yang pernah melarat lalu nekat melenting dan sampai ke pucuk kekuasaan politik. Bahlil membawanya ke Senayan, dan jenis nyali itu ternyata tidak bisa diwariskan.

Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

Dari membeli lukisan siswi SMP hingga mendengar langsung aspirasi mahasiswa, Dudung Abdurachman seolah menampilkan wajah baru KSP. Apakah ini sekadar pencitraan, atau tanda lahirnya paradigma baru komunikasi institusi dan seorang purnawirawan jenderal di saat bersamaan?

Lapar yang Tidak Ikut Libur

Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #43PinterPolitik.com Tiga hari lagi, pada 22 Juni 2026,...

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk โ€” tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

More Stories

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi โ€” Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme โ€” melainkan soal desain.

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk โ€” tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...