HomeNalar PolitikJakarta Mencari Pemimpin

Jakarta Mencari Pemimpin

Kecil Besar

Kedua pasangan calon beradu argumen mengenai realisasi program Pemprov DKI Jakarta di masa pemerintahan Ahok, mulai dari permasalahan kesehatan, transportasi, pendidikan, hingga program layanan sosial ekonomi.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]B[/dropcap]asuki Tjahaja Purnama alias Ahok akhirnya dipertemukan kembali dengan Anies Rasyid Baswedan untuk beradu argumen dalam sebuah forum debat, ini merupakan pertemuan pertama kali keduanya dalam putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017. Debat keduanya tersaji eksklusif dalam program Mata Najwa bertajuk: Babak Final Pilkada Jakarta, pada Senin (27/3) lalu.

Debat ini agak berbeda dengan debat-debat pemilihan pejabat publik di Indonesia sebelumnya, dimana biasanya debat yang selama ini dibuat berlangsung dalam format yang kaku dan cenderung searah dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh panelis atau moderator. Jawaban dan pertanyaan dalam debat tersebut pun dibatasi sehingga terasa membosankan. Namun dalam debat di Mata Najwa, keduanya diadu dengan konsep diskusi terbuka, sehingga euforia debat menjadi lebih cair dan seakan “memaksa” kedua kandidat untuk beradu argumen dari topik yang ditentukan oleh moderator.

Keduanya pun beradu argumen mengenai realisasi program Pemprov DKI Jakarta di masa pemerintahan Ahok, mulai dari permasalahan kesehatan, transportasi, pendidikan, hingga program layanan sosial ekonomi. Dalam debat tersebut perang kritik dan aksi saling sindir pun meluncur dengan mulusnya, sehingga membuat suasana debat menjadi lebih hidup.

Sindir – Menyindir Dalam Debat Pilgub DKI Jakarta

Aksi saling sindir – menyindir memang sangat mewarnai keberlangsungan Pilgub DKI Jakarta 2017 ini. Berbagai isu dilemparkan ke permukaan, hingga tidak sedikit juga yang menjadi bibit permasalahan dari kegaduhan masyarakat di ibu kota DKI Jakarta ini.

Satu hal yang menarik dari rangkaian debat tersebut, di mana dalam satu sesi Najwa memberikan pertanyaan kepada Ahok dan Anies tentang pelayanan publik dan birokrasi. Ahok dan Anies pun menjawab sesuai persepsi dan karakter masing – masing kedua calon.

“Persepsi Pak Basuki ceplas-ceplos, suka memecat anak buah, Pak Anies persepsinya santun tapi tidak mungkin berani memecat anak buah. Tepatkah persepsi itu?,” kata Najwa.

Ahok pun menjawab bahwa walaupun ia ceplas – ceplos dalam berbicara namun ia mengaku tidak pernah memecat anak buah sesuai keputusan pribadinya, melainkan melalui keputusan tim dalam forum. Berbeda lagi dengan jawaban Anies dalam menjawab pertanyaan yang sama, jawaban Anies malam itu cukup mengejutkan, Anies yang terkenal santun pun menjawab pertanyaan Najwa dengan sindiran kepada Ahok.

“Sekarang saja saya sedang berusaha memberhentikan Pak Basuki dari Gubernur,” kata Anies berkelakar, yang langsung disambut riuh para penonton.

Mendengar hal tersebut, Ahok pun membalas pernyataan Anies. Menurut Ahok, Anies memang berhak memecat dirinya tapi dalam kapasitas dirinya sebagai masyarakat DKI Jakarta bukan sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.

“Kalau saya bukan tergantung Pak Anies tapi tergantung warga Jakarta. Karena kontrak saya sampai Oktober. Saya sekarang juga pelayan Pak Anies, karena saya pelayan warga Jakarta,” kata Ahok.

Baca juga :  The Grand Banten Model, Dinasti-Prosperity

Lalu mengenai sosok figur seorang Gubernur DKI Jakarta yang ideal, Ahok yang mendapat giliran pertama mengatakan bahwa sebagai seorang Gubernur harus menjadi contoh bagi masyarakatnya. Ahok pun mengaku sudah berusaha berperilaku bersih, transparan dan memegang prinsip melayani publik dengan empati.

Anies, yang menerima giliran berikutnya, memulai deskripsinya mengenai kepemimpinan ideal dengan kalimat, “Kepemimpinan harus efektif, bisa merumuskan masalah dan target dengan benar sehingga ukuran jelas, hasilnya jelas, birokrasi jalan baik.”

Adu program pun berlanjut ke permasalahan pendidikan bagi warga DKI Jakarta, seperti yang diketahui bahwa kedua calon pemimpin DKI Jakarta ini sama – sama mempunyai program kartu pendidikan yang bernama kartu Jakarta Pintar (KJP). Jika dilihat dari masalah waktu, ide KJP tersebut adalah miliknya saat masih mendampingi Jokowi dahulu. Namun, Anies mengklaim bahwa program yang ditawarkan berbeda satu sama lainnya.

Ahok bersikukuh bahwa ia  tidak akan mengubah ketentuan KJP. Program KJP hanya untuk mereka yang mengenyam pendidikan di sekolah, sementara bagi anak-anak yang putus sekolah nantinya akan ada paket sendiri.

Sedangkan program KJP yang ditambahkan tanda “+” (plus) yang dicanangkan Anies Baswedan justru mencakup anak yang juga di luar sekolah formal. Maksud plus disini menurut Anies adalah karena pemerintah bertanggung jawab memberikan pendidikan bukan hanya untuk mereka yang mengenyam pendidikan saja melainkan mereka yang putus sekolah juga akan dapat.

Untuk permasalahan transportasi di DKI Jakarta, keduanya adu gagasan mengenai angkutan umum sebagai sarana transportasi warga. Anies pun berjanji akan mengintegrasikan antar angkutan umum, seperti transportasi bus dan angkutan kota (angkot). Anies mengaku sudah punya program Ok On Trip sebagai upaya integrasi sistem transportasi untuk menggandeng angkot di Jakarta.

“Kita membayangkan sistem transportasi tersambung dari bis kecil, bis sedang, BRT, LRT, MRT sebagai core terintegrasi, tersambung dalam satu sistem,” kata Anies

Menurut Anies, gagasannya ini ternyata sedang diterapkan oleh Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta. Anies dengan wajah sumringah menyindir Ahok yang sempat menganggap angkot tak masuk dalam ketentuan UU transportasi, tapi pada akhirnya dirangkul oleh PT TransJakarta.

Debat pun berlanjut membahas permasalahan rumah untuk rakyat. Anies mengklaim Hanya 51% warga yg memiliki rumah sendiri. Sisanya 49% tidak memiliki rumah, bahkan 2,8 juta kaum milenial terancam tidak bisa memiliki rumah. Menurutnya, dalam pembelian rumah hal paling berat adalah uang muka, oleh karena itu ia menawarkan program pembelian rumah dengan uang muka 0 persen.

“Warga memiliki kesempatan memiliki rumah mereka. Kami memberikan bantuan pembiayaan rumah. Rumah dengan angka Rp350 juta itu banyak, bukan hanya di pinggiran kota, di tengah kota banyak. Pemerintah harus menyelesaikan supply and demand,” terang Anies.

Baca juga :  Kebangkitan Kedua

Ahok pun sepakat dengan pernyataan Anies tersebut mengenai pemerintah seharusnya menjadi jembatan dari masalah mengenai kesenjangan harga rumah dan kemampuan warga untuk membeli rumah di Jakarta. Namun ia menyanggah mengenai angka RP350 juta tersebut, menurutnya itu tidak realistis.

Jakarta Mencari Pemimpin

“Tadi kan bilang orang mau jual rumah Rp300 juta, pemerintah mau nolong dia. Nah, untuk sediakan 100 rumah dengan harga Rp300 juta ya perlu Rp300 miliar. Uang dari mana itu?,” tegas Ahok.

Dalam debat yang penuh aksi saling sindir ini terlihat bahwa Anies sangat agresif menyerang Ahok, sementara Ahok menanggapi serangan tersebut dengan santai dan sesekali disertai guyonan tanpa merasa terbebani sama sekali.

Perbedaan gaya bicara keduanya semakin menunjukan bagaimana retorika keduanya dalam mengambil hati warga DKI Jakarta. Menurut Socrates, pentingnya retorika adalah sebagai metode pendidikan dalam rangka mencapai kedudukan dalam pemerintahan dan dalam rangka upaya mempengaruhi rakyat. Jadi, retorika penting sebagai persiapan seseorang untuk menjadi pemimpin.

Apa Kata Netizen?

Melihat debat perdana kedua calon Gubernur di putaran kedua tersebut tidak luput dari pantauan para masyarakat dunia maya. Bagaimana komentar mereka setelah melihat debat?

Candidate @aniesbaswedan is speaking like Candidate @realDonaldTrump – playing blue collar populism. #MataNajwaDebatJakarta – @EricssenWen


“Debat kmrn kok aneh bgt.. Ahok bahas jakarta….Anis malah bahas Ahok.. #MataNajwaDebatJakarta #313BukanKita”@gandy_koz


#MataNajwaDebatJakarta mau tanya apa seorang berstatus terdakwa tetap bebas jadi gubernur yah? Kenapa tdk skalian ambil dari lapas”@pebripewali02


https://twitter.com/DeasyKonsultan/status/846861740449001472

“#MataNajwaDebatJakarta Bpk terdakwa Penista Agama,terlihat gugup dan tak bergeming dlm debat. Kalah kelas,muka merah menahan esmosi..” – @DeasyKonsultan

Debat Pilgub DKI Dengan Cita Rasa Pilpres AS

Melihat gaya menyerang Anies Baswedan terhadap Ahok, seakan mengingatkan kembali seperti panasnya persaingan Donald Trump dan Hillary Clinton pada saat pemilihan presiden AS tahun lalu, perjalanan keduanya demi merebut kursi pemimpin disertai dengan aksi saling sindir menyindir baik itu dalam debat maupun dalam kampanye keduanya.

Jadi, dari debat perdana Pilgub DKI Jakarta putaran kedua tersebut, walaupun bukan debat resmi dari KPU akan tetapi masyarakat DKI Jakarta kurang lebih dapat melihat siapakah yang lebih pantas dipilih untuk memimpin ibu kota DKI Jakarta, apakah Anies Baswedan atau kah Basuki T. Purnama alias Ahok? Berikan Pendapatmu. (A15)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Bukti Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”

PinterPolitik.com mengucapkan Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia ke 72 Tahun, mari kita usung kerja bersama untuk memajukan bangsa ini  

Sejarah Mega Korupsi BLBI

KPK kembali membuka kasus BLBI yang merugikan negara sebanyak 640 Triliun Rupiah setelah lama tidak terdengar kabarnya. Lalu, bagaimana sebetulnya awal mula kasus BLBI...

Mempertanyakan Komnas HAM?

Komnas HAM akan berusia 24 tahun pada bulan Juli 2017. Namun, kinerja lembaga ini masih sangat jauh dari harapan. Bahkan desakan untuk membubarkan lembaga...