HomeHeadlineImin-Khofifah-Yenny Penentu Pilpres 2024?

Imin-Khofifah-Yenny Penentu Pilpres 2024?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini :

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Suara Nahdlatul Ulama (NU) seakan terbelah saat belakangan tiga tokoh prominen mereka di panggung depan atau front stage politik nasional telah menentukan sikap di Pilpres 2024. Kendati Ketum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya telah menegaskan netralitas organisasinya, tetap saja NU tampak dapat menjadi penentu hasil akhir Pilpres 2024 dengan tiga pasang kandidat.


PinterPolitik.com

Atmosfer berbeda sedikit terasa di acara Harlah ke-78 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) hari ini saat Khofifah Indar Parawansa memberikan pernyataan terkait Muhaimin Iskandar (Cak Imin) plus gestur khusus kepada Yenny Wahid. Tentu yang terkait dengan Pilpres 2024.

Sebagaimana diketahui, kendati sesama tokoh NU berasal atau berakar dari partai yang sama, yakni PKB, ketiganya berbeda haluan dukungan. Cak Imin menjadi cawapres Anies Baswedan, Khofifah memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, sementara Yenny berada di barisan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

Di acara tersebut, Khofifah menyinggung kembali soal ke-Nu-an dirinya yang sempat diragukan Cak Imin dan menjadi percakapan masyarakat.

Khofifah menyebut dirinya tidak bisa menilai secara personal. Namun, Khofifah sempat mengutip pernyataan Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf dan Sekretaris Jenderal NU Saifullah Yusuf alias Gus Ipul soal ke-NU-an dirinya.

Selain itu, Khofifah juga memberikan gestur khusus dengan tak secara khusus menyapa Yenny Wahid, namun memberikan penghormatan kepada sang Ibunda Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Yenny pun tampak hanya melempar senyum ketika nama ibunya disebut oleh Khofifah.

Terlepas dari dinamika tersebut, tokoh prominen NU memang cukup banyak yang telah memberikan dukungannya ke tiga pasang kandidat di Pilpres 2024.

cak imin jualan gus dur

Di kubu nomor urut 1, selain Cak Imin yang menjadi cawapres Anies, terdapat nama mantan Ketum PBNU K.H. Said Aqil Siradj dan Maksum Faqih yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban.

Sementara tokoh penyokong Prabowo-Gibran selain Khofifah, terdapat sejumlah nama tokoh karismatik NU lain, di antaranya Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dan Irfan Yusuf Hasyim (Cucu K.H. Hasyim Asyari).

Di kubu nomor urut 3, selain Yenny, terdapat nama Mahfud MD yang menjadi cawapres Ganjar serta Arwani Thomafi yang merupakan putra K.H. Arwani Thoifur.

Baca juga :  Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Keberpihakan ketiganya dinilai akan memecah suara NU secara organisasi dan akan menjadi sangat menarik jika nantinya Pilpres 2024 berlangsung dua putaran.

Lalu, seperti apa proyeksi persaingan di antara ketiga tokoh, yakni Cak Imin, Khofifah, dan Yenny dan distribusi suara kader dan warga NU nantinya di Pilpres 2024?

Lomba Siapa Paling NU?

Sebelum menyelami lebih dalam ke arah mana kecondongan suara kader dan warga NU dengan perbedaan sejumlah tokoh karismatik dan elite mereka seperti Cak Imin, Khofifah, maupun Yenny, memahami jumlah suara warga NU kiranya dapat menjadi pintu masuk yang tepat.

Secara keseluruhan, Gus Yahya sempat menyebut bahwa mereka yang mengaku NU kemungkinan berjumlah separuh dari jumlah populasi Muslim di Indonesia.

Dalam hal ini, mereka yang mengafiliasikan diri atau pengikut NU terbagi dalam dua kategori.

Pertama, yang disebut sebagai NU Struktural, yakni pengikut NU yang mempunyai afiliasi ke-NU-an karena terlibat dan menjadi bagian dari struktur NU secara organisasi. 

Yang kedua adalah NU kultural, yakni mereka yang menjadikan NU sebagai bagian dari realitas tradisi keagamaan. Ikatan kultur yang menjadikan terdapat keterikatan ke-NU-an dalam kehidupan sosial maupun politik mereka

Jika mengacu pada dikotomi tersebut, maka kita akan melihat adanya opsi-opsi yang mungkin terjadi โ€“ bukan opsi linear yang meyakini warga NU mempunyai preferensi politik dengan PBNU secara struktural.

Penyebabnya, kemungkinan karena adanya multiple identity yang akan dihadapkan pada pilihan politik seorang warga NU. 

Penjelasan ini ingin menggambarkan bahwa sebenarnya tidak ada konsep yang tunggal atau linear dalam melihat realitas politik, tapi memiliki dimensi lain, yaitu dimensi multiple identity

Filsuf asal India, Amartya Sen menyebut konsep ini sebagai plural identity atau identitas majemuk, di mana individu dalam sebuah masyarakat yang kompleks tidak hanya mempunyai satu identitas. Dalam dirinya, terdapat kemajemukan identitas yang berlapis dan menyatu dalam dirinya.

Oleh karena itu, dalam retorika siapa yang paling NU yang terkait dinamika proses politik 2024, baik Cak Imin, Khofifah, maupun Yenny kiranya tak serta merta dapat membawa panji NU sebagai kekuatan tunggal dukungan mereka untuk menarik massa.

Baca juga :  The Grand Banten Model, Dinasti-Prosperity

Di dalamnya terdapat variabel lain, seperti derajat kedekatan mereka dengan karakteristik pemilih NU yang lebih spesifik, seperti misalnya, kedekatan dengan jejaring kiai dan pondok pesantren NU, loyalis Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, maupun jejaring sosial kemasyarakatan akar rumput NU.

Di titik ini, hipotesis bahwa suara NU adalah penentu suara di Pilpres 2024 kiranya tidak sepenuhnya dapat menemui relevansinya.

ngaku nu bisa jadi pejabat

Khofifah-Yenny Bersatu?

Karena diikuti tiga paslon dan kemungkinan akan berlangsung dua putaran, re-konsolidasi dukungan kiranya akan terjadi di antara Cak Imin, Khofifah, maupun Yenny di Pilpres 2024.

Jika mengacu pada riwayat dan pasang surut relasi di antara ketiganya plus skenario berdasarkan proyeksi elektabilitas, kemungkinan Khofifah dan Yenny akan bersatu nantinya jauh lebih besar dibandingkan pergerakan dukungan poros Cak Imin. Tentu, ketika berbicara mengenai konteks personal.

Namun, sekali lagi, arah dukungan tokoh karismatik NU tak serta merta dapat menjadi penentu hasil akhir Pilpres 2024 saat berkaca pada interpretasi di bagian sebelumnya.

Pertama, simpatisan NU tidak terpolarisasi secara kental dalam konteks kecondongan pilihan politik. Mereka lebih bersifat cair dan tidak mengikuti komando pusat. Artinya, mereka bisa saja dapat dikategorikan sebagai swing voters.

Kedua, dalam konteks one man, one vote dalam sebuah pemilu, yang dapat disebut sebagai suara NU adalah mereka yang tergolong dalam NU struktural dan mereka yang memiliki afiliasi dengan pesantren-pesantren NU.

Alasannya sederhana, karena NU struktural umumnya akan mengikuti komando pemimpin kepengurusan dan para kiai karismatik.

Jika melakukan pendekatan yang tepat, aktor politik tidak harus berlatar belakang NU โ€œtulenโ€ untuk mendapat simpati atau dukungan. Sampel Erick Thohir menjadi salah satunya.

Bagaimanapun, tetap akan sangat menarik untuk melihat dinamika persaingan politik, khususnya, di antara mereka yang kerap terlibat dalam diskursus โ€œsiapa yang paling NUโ€, yakni Cak Imin, Khofifah, serta Yenny Wahid yang kebetulan berada di tiga poros berbeda. (J61)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

More Stories

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?