HomeNalarIKN Nusantara, Simbol Romantisisme Sejarah?

IKN Nusantara, Simbol Romantisisme Sejarah?

Nusantara dipilih menjadi nama dari ibu kota baru Indonesia. Pemilihan nama Nusantara tidak lepas dari istilah Nusantara itu sendiri yang pernah hadir berabad-abad silam dalam lintas sejarah Indonesia. Lantas, apakah penamaan Ibu Kota Negara (IKN) menjadi Nusantara adalah sebuah simbol romantisisme sejarah?


PinterPolitik.com

Akhirnya Ibu Kota Negara (IKN) yang selama ini menjadi narasi politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) melangkah ke titik yang lebih terang. Hal ini terlihat saat RUU IKN disahkan oleh Ketua DPR Puan Maharani, pada Selasa, 18 Januari 2022 setelah mendapat persetujuan secara aklamasi oleh para anggota rapat paripurna ke-13 DPR RI.

Ahmad Doli Kurnia, Ketua Panitia Khusus (Pansus) RUU IKN, mengatakan, dalam sebuah rapat kerja dengan pemerintah, telah disepakati bersama bahwa IKN yang baru diberi nama Nusantara.

Presiden Jokowi telah memilih Nusantara sebagai nama IKN Baru di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Hampir semua dari sembilan fraksi di DPR menyetujui pengesahan RUU IKN menjadi undang-undang, kecuali fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Suharso Monoarfa, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) dalam sebuah Rapat Kerja (Raker) Pansus RUU IKN di Gedung DPR RI, menjelaskan, bahwa alasan dipilihnya Nusantara sebagai nama IKN Baru yaitu selain mudah diucapkan juga sangat menggambarkan realitas masyarakat Indonesia.

Menurutnya, Nusantara merupakan sebuah konseptualisasi atas wilayah geografis sebuah negara di mana konstituennya adalah pulau-pulau yang disatukan oleh lautan. Nusantara adalah sebutan nama bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia.

Nama Nusantara berakar dari kata “nusa” yang artinya pulau, dan “antara” yang berarti luar atau seberang. Kata Nusantara sudah digunakan sejak era Majapahit pada abad 13-15 yang dikenal sebagai penguasa besar pada masanya.

- Advertisement -

Nusantara dimaknai sebagai istilah yang telah lama hadir dalam narasi politik di Indonesia, tapi belum mempunyai tempat yang layak. Sebagian orang menilai penggunaan nama Nusantara erat kaitanya dengan corak berpikir romantisisme sejarah, yaitu upaya untuk mengagungkan masa lalu yang gemilang.

Romantisisme pesona sejarah secara umum telah menghipnotis pemikiran banyak orang. Lantas, seperti apa kita memahami romantisme sejarah ini dan kaitanya dengan penamaan Nusantara? 

Baca juga: Bang Bro Out, IKN Gugur?

Romantisisme dan Cita-cita

Romantisisme atau gerakan romantik berasal dari akhir abad ke-18 di Eropa Barat. Gerakan artistik romantik adalah aliran seni yang berawal dari sastra dan berpengaruh ke seni rupa, hingga ke gerakan intelektual secara umum pada saat itu.

Romantisisme menjadi tolakan kritik filsuf Jean-Jacques Rousseau terhadap perilaku manusia modern. Menurutnya, manusia modern adalah manusia rasional, manusia rasional pasti positivistik dan manusia positivistik hanya mempercayai segala sesuatu yang bisa dibuktikan secara empiris dengan panca indera.

Baca juga :  Jika Indonesia-Malaysia Jadi Satu Negara

Faktor-faktor non-materiil berupa perasaan dan emosi mengalami pengikisan yang berakibat manusia seolah-olah hanya bergerak menurut rasionya saja. Dari sini muncul kontra pemikiran rasional, yaitu aliran romantisisme yang mengedepankan unsur emosi dengan cara penggambaran suatu konsep dan pembangunan citra yang dramatis, teatrikal, dan memiliki suasana seperti dalam mimpi (dream-like).

Jika ditelusuri, aliran Romantisisme diambil dari kata dasar “Roman”. Romantisisme berarti hal yang ke-roman-roman-an. Roman adalah sastra klasik yang bercerita tentang kehebatan manusia, pencapaian manusia, penaklukan bangsa asing (penjajah) yang disajikan secara dramatis. Di bidang sastra Indonesia, aliran ini juga biasa disebut dengan aliran romantik, untuk membedakannya dari istilah romantis.

Sudiyantoro dalam tulisannya Membentuk Karakter Bangsa Melalui Romantisisme Sejarah, mengatakan, romantisisme sejarah tidak hanya menjadi catatan sejarah di masa silam, melainkan juga bisa menjadi batu pijakan dalam menjadi pribadi yang santun dan maju.

- Advertisement -

Melalui romantisisme kita diajak untuk selalu mengingat perjalanan sejarah Indonesia yang penuh lika-liku hingga menjadi bangsa yang aman dan tenang sekarang ini. Yang kemudian sejarah ini, menjadi bahan ajar dalam menghadapi tantangan hidup.

Romantisisme sejarah sebagai modal untuk membangun karakter bangsa Indonesia menuju tantangan kemajuan zaman. Selain itu juga menjadi modal penting untuk mengenalkan kenangan-kenangan perjuangan pahlawan yang rela mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk kebebasan bangsa Indonesia.

Selain mampu membangun karakter bangsa, rupanya romantisisme sejarah juga dapat memicu konflik. Hal ini terlihat dari gerakan masyarakat yang sering muncul belakangan ini, mereka mendorong agar kejayaan masa lalu tentang bangsa haruslah dihadirkan kembali.

Hendri Satrio, analis komunikasi politik dari Universitas Paramadina, mengatakan bahwa gejala kerinduan kejayaan masa lalu dengan kembali ke identitas primordial seperti suku, kerajaan yang pernah jaya, bahkan agama serta ras seperti white supremacy di Amerika, supremasi Hindu di India, dan gerakan Neo Nazi di Eropa, merupakan reaksi atas kekecewaan masyarakat. Mereka protes terhadap modernisasi dan globalisasi yang tak kunjung menyejahterakan rakyat.

Jika ditarik pada konteks penamaan ibu kota baru, istilah Nusantara yang merujuk pada kekuasaan era Majapahit dibagi menjadi tiga dengan konsep Raja-Dewa, yaitu Negara Agung dimaknai sebagai daerah di sekeliling ibu kota tempat raja memerintah.

Kemudian, Mancanegara yaitu daerah-daerah di Pulau Jawa dan sekitar yang budayanya mirip dengan Negara Agung, tetapi sudah berada di daerah perbatasan. Dan yang terakhir, Nusantara yang berarti pulau lain di luar Jawa. Nusantara merupakan daerah di luar pengaruh budaya Jawa namun masih diklaim sebagai daerah taklukan.

Baca juga :  Polarisasi Masyarakat Hanya Mitos?

Romantisisme nama nusantara berakar dari kisah masa lampau yang ingin menggabungkan gugusan pulau-pulau dalam satu otoritas politik. Meski pada akhirnya gagasan politik ini hanya menjadi cita-cita sampai saat ini, romantisisme Nusantara akhirnya hanya melahirkan political of hope.

Baca juga: Corona, Ibu Kota Baru Batal?

Bukan Soal Nama

Pada akhirnya, antara nama dan gambaran personalitas tentang sesuatu seolah bergandengan. Konsep ini berangkat dari sebuah adagium Latin yang sangat mendalam, lahir dari perenungan yang inspiratif yaitu “Nomen Est Omen” yang artinya nama adalah tanda.

Hal ini sebenarnya adalah sebuah pesan untuk memahami hal esensial sekaligus substansial. Jangan hanya karena kepentingan dan niat tertentu lalu dengan gegabah memberikan nama pada sebuah tempat yang pada dasarnya mengandung nilai sejarah yang unik.

Baca juga: Jokowi dan Perangkap Ibu Kota Baru

Harapan besar kita akan romantisisme sejarah tentang Nusantara, menggerakkan kita untuk  menjadikannya sebagai nama ibu kota baru. Jangan sampai upaya itu hanya hadir pada ruang yang kosong, dan tidak mempunyai dampak konkrit bagi kehidupan manusia.

Hal seperti ini, mengumpamakan bahwa kita terjebak pada sindrom psikologis yang disebut dengan nominatif determinisme, yaitu sebuah hipotesis bahwa orang cenderung untuk tertarik kepada sesuatu yang sesuai dengan nomenklatur atau punya asosiasi  dengan nama tertentu.

Seharusnya, perdebatan tentang ibu kota baru bukan terletak pada nama yang disematkan, tapi bagaimana ibu kota baru dapat menghadapi tantangan global, perubahan geopolitik yang punya pengaruh terhadap kepentingan negara, dan juga dampak domestik bagi masyarakat luas, di mana masyarakat dapat merasakan langsung terhadap perubahan ibu kota.

Fernando Nunes da Silva, President of INTA (International Urban Development Association), menjelaskan, bahwa membangun sebuah kota tidak cukup hanya dengan membangun gedung-gedung maupun infrastruktur dan sebagainya. Melainkan juga harus membangun fungsi dan manfaat dari kota itu bagi penduduknya. Hal ini terbukti dari beberapa kota di dunia yang pernah memindahkan ibu kota lamanya ke wilayah baru dan akhirnya justru berakhir dengan kegagalan.

Pada akhirnya, tidak terlalu penting memperdebatkan nama Nusantara, yang terpenting adalah, ibu kota baru ini menghadirkan dampak luas bagi masyarakat Indonesia. Meminjam  pernyataan seorang sastrawan Inggris William Shakespeare, yang mengatakan apalah arti sebuah nama, jika mawar akan tetap harum meski namanya digantikan dengan yang lain. (I76)

Baca juga: Ibu Kota Baru, Penentuan Jokowi


#Trending Article

Perang! IMF Lebih Kejam Dari Tiongkok?

Krisis ekonomi Sri Lanka membuat banyak pihak memprediksi negara itu akan menjadi negara hancur. Banyak yang menduga bahwa utangnya pada Tiongkok yang menjadi pemicunya. Benarkah demikian?

Ini Alasan Anies Kalahkan Prabowo

Sekitar 23 ribu jemaat menghadiri Sholat Idul Fitri di Kawasan Jakarta International Stadium (JIS) sepekan yang lalu. Sebagai stadion yang dibangun di era kekuasaan...

Video Call, Blusukan Baru Jokowi?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghubungi seorang dokter, perawat, dan guru melalui video call dan saling berbagi kisah mengenai kehidupan profesional yang dilalui dalam menghadapi pandemi Covid-19....

Tradisi Politik Baru ala Jokowi?

Peristiwa ketika Presiden Jokowi menanyakan para menterinya yang ingin maju di pilpres ditafsirkan sebagai tekad RI-1 untuk membawa kultur baru dalam suksesi kepemimpinan nasional 2024. Lantas,...

Elon Musk: The New “Bill Gates”?

Nama CEO SpaceX dan Tesla Elon Musk disorot media usai beli penuh Twitter. Kini, Musk baru saja bertemu Jokowi. Apakah Musk "Bill Gates" baru?

Wajah Lain PSI Untuk Anies?

Terlihat aneh jika Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memberikan komentar positif terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Bagaimana tidak? PSI terlanjur dikenal dengan brand sebagai partai yang...

Puan-AHY, Duet Dua Dinasti

Di tengah ramainya spekulasi tentang komposisi pasangan kandidat calon presiden (capres), wacana duet Puan Maharani dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dapat menjadi kejutan politik...

Kartini dan Suara Ibu Indonesia

Suara Raden Ajeng Kartini adalah suara perlawanan. Melawan tradisi yang sudah mengakar, menentang apa yang dianggap tabu yang hanya mengenal perempuan berkutat antara dapur,...

More Stories

Kartini dan Suara Ibu Indonesia

Suara Raden Ajeng Kartini adalah suara perlawanan. Melawan tradisi yang sudah mengakar, menentang apa yang dianggap tabu yang hanya mengenal perempuan berkutat antara dapur,...

Tradisi Politik Baru ala Jokowi?

Peristiwa ketika Presiden Jokowi menanyakan para menterinya yang ingin maju di pilpres ditafsirkan sebagai tekad RI-1 untuk membawa kultur baru dalam suksesi kepemimpinan nasional 2024. Lantas,...

Puan-AHY, Duet Dua Dinasti

Di tengah ramainya spekulasi tentang komposisi pasangan kandidat calon presiden (capres), wacana duet Puan Maharani dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dapat menjadi kejutan politik...