HomeNalar PolitikHabib Rizieq Bukan Jawaban Kita?

Habib Rizieq Bukan Jawaban Kita?

Kecil Besar

Tidak sedikit pihak yang menyebutkan ramainya penyambutan kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS) merupakan indikasi bahwa masyarakat memandangnya sebagai sosok yang dapat membawa perubahan. Namun, mungkinkah harapan tersebut berasal dari ilusi pengaruh HRS?


PinterPolitik.com

Bagi para penikmat olahraga sepak bola, khususnya mereka yang mengikuti setiap pertandingan klub raksasa asal Jerman, Bayern Munchen, pasti masih teringat fenomena fantastis pada 22 September 2015 lalu. Kala itu, Munchen tengah tertinggal satu gol dari Wolfsburg di babak pertama. Untuk menambah daya gedor, Robert Lewandowski dimasukkan untuk menggantikan gelandang Thiago Alcantara pada menit ke-46.

Luar biasanya, kehadiran stiker tim nasional (timnas) Polandia tersebut benar-benar mengubah alur permainan secara dramatis. Bagaimana tidak? Tidak hanya membalas gol Wolfsburg, Lewandowski bahkan mencatatkan lima gol hanya dalam waktu 8 menit 59 detik. Fantastis. Benar-benar seorang supersub.

Menariknya, fenomena supersub tersebut tampaknya tidak hanya terjadi di dunia sepak bola, melainkan juga di dunia politik. Pada 1 Februari 1979 lalu, lima juta rakyat Iran menyambut kedatangan Ayatollah Ruhollah Khomeini setelah diasingkan selama 14 tahun. Tidak hanya disambut secara sensasional, kedatangan Khomeini juga menjadi sosok vital yang mengubah tatanan politik Iran saat itu.

Kala itu, Perdana Menteri (PM) Iran, Shahpur Bakhtiar melakukan berbagai hal untuk menjegal aktivitas politik Khomeini. Namun, pada akhirnya semua upaya itu gagal dan pada Juli 1979, Bakhtiar terpaksa melarikan diri ke Prancis setelah Pengadilan Revolusi Iran menjatuhkan vonis mati terhadap dirinya.

Pada 10 November lalu, penyambutan meriah Habib Rizieq Shihab (HRS) setelah 3,5 tahun menetap di Arab Saudi banyak dikaitkan dengan penyambutan fenomenal Khomeini pada tahun 1979 lalu. Selain itu, HRS juga disebut-sebut akan menjadi sosok yang membawa perubahan bagi tatanan politik di tanah air.

Saat ini, situasi politik memang disebut stagnan. Rendahnya penyerapan aspirasi publik semakin terasa, khususnya pada pengesahan revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan UU Cipta Lapangan Kerja. Apalagi, dengan besarnya koalisi pemerintah, trias politika disebut tidak bekerja semestinya karena Parlemen seolah seiya sekata dengan eksekutif.

Lantas, mungkinkah HRS akan mengulangi fenomena Khomeini? Atau justru itu hanyalah harapan yang terlampau tinggi?

Ilusi Pengaruh?

Rolf Dobelli dalam bukunya The Art of Thinking Clearly mungkin akan membantu kita memahami mengapa HRS dapat dipandang sebagai sosok yang membawa perubahan. Di sana, Dobelli memperkenalkan konsep menarik yang menjawab mengapa kognisi manusia dapat membuat penilaian, yakni contrast effect.

Contrast effect memungkinkan kognisi manusia untuk mengenali perbedaan antar objek. Alhasil, manusia dapat memberi penilaian, misalnya menyebut objek A lebih halus atau lebih kasar, dengan cara membandingkannya dengan objek B dan objek-objek lainnya.

Menurut Dobelli, tanpa adanya contrast effect, strategi marketing, seperti pemberian diskon tidak akan dapat berhasil. Pasalnya, jika manusia tidak mampu mengenali perbedaan, benda seharga Rp 50 ribu yang diberi diskon menjadi Rp 25 ribu tidak akan dilihat memiliki pertambahan nilai.

Baca juga :  Prabowo's Coffee Theory

Pemberian diskon sendiri, memang merupakan strategi marketing yang memanfaatkan contrast effect, agar konsumen tergugah untuk membeli suatu produk karena menilai harganya menjadi lebih murah.

Pada kasus HRS, contrast effect sepertinya telah terjadi. Mengacu pada kondisi politik saat ini, di mana partai politik (parpol) dirasa hanya menyuarakan suara masyarakat untuk kepentingan elektoral, publik akan membandingkannya dengan HRS yang selama ini dinilai garang dalam mengkritik kekuasaan.

Apalagi, dengan situasi oposisi saat ini yang dilihat begitu tumpul karena tidak sebanding dengan kekuatan koalisi pemerintah, jelas membuat publik merasa โ€œfrustrasiโ€. Masuknya Prabowo Subianto ke dalam koalisi pemerintahan juga telah membuat publik kecewa. Pasalnya, ia dan parpolnya digadang-gadang akan menjadi oposisi kuat yang dapat memenuhi tugas check and balances.

Selain faktor contrast effect, ada satu faktor lagi yang sepertinya membuat HRS dinilai sebagai sosok yang begitu vital, yakni pengaruhnya dinilai begitu besar. Mengenai hal tersebut, sepertinya kita dapat memperdebatkannya dengan serius. Pasalnya, terdapat analisis yang menyebutkan bahwa pengaruh HRS sebenarnya tidak sebesar yang dibayangkan publik selama ini.

Pemerhati politik komunitas Arab di Indonesia, Ahmad Syarif Syechbubakr memberikan pandangan menarik terkait hal tersebut. Menurutnya, memang benar HRS dan Front Pembela Islam (FPI) begitu populer dan berpengaruh di Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Sumatera.

Akan tetapi, apabila bergeser ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, HRS dan FPI disebut kalah populer dari kiai, ulama, dan habaib yang berafiliasi ke Nahdlatul Ulama (NU). Lanjutnya, secara nasional, NU dan Muhammadiyah masih terlalu kuat pengaruhnya dibandingkan organisasi Islam manapun.

Konteks tersebut tentu akan semakin terasa apabila kita berbicara di wilayah Indonesia Tengah dan Timur yang penduduknya tidak beragama Islam.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin dalam wawancaranya bersama PinterPolitik juga menyebutkan bahwa HRS dan FPI sebenarnya sadar akan pengaruh mereka yang hanya berkutat di daerah Jakarta dan sekitarnya. Oleh karenanya, itu membuat HRS berencana melakukan safari revolusi akhlak ke seluruh Indonesia, yang disebut Ujang sebagai upaya untuk memperluas pengaruhnya.

Di sini, kita mungkin dapat menyimpulkan bahwa persepsi yang menyebut HRS sebagai sosok pembawa perubahan ataupun persepsi terkait dirinya yang begitu berpengaruh, tampaknya terbentuk karena pemberitaan masif di media-media nasional.

Selain faktor pengaruh yang sebenarnya tidak begitu besar, terdapat satu lagi alasan yang dapat membantah asumsi bahwa HRS akan membawa politik tanah air ke arah yang lebih baik.

Mengakibatkan Pembusukan Politik?

Francis Fukuyama dalam bukunya Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment memberikan evaluasi menarik terkait praktik demokrasi saat ini. Menurutnya, sejak tahun 2000-an telah terjadi tren balik demokrasi. Ini tidak hanya terjadi karena adanya negara yang kembali menjadi otoriter atau mulai mengarah ke sana, melainkan juga karena masifnya politik identitas yang disebut Fukuyama telah mengakibatkan pembusukan demokrasi.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Buku itu sendiri ditujukan Fukuyama sebagai respons atas kemenangan mengejutkan Donald Trump dalam Pilpres Amerika Serikat (AS) pada 2016 lalu. Ia begitu tidak menyangka, bagaimana mungkin sosok yang mempromosikan nasionalisme populis tersebut justru memimpin negara demokratis sebesar AS.

Menariknya, dalam buku tersebut Fukuyama mengungkit kasus mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama atau Ahok sebagai salah contoh bangkitnya politik identitas dan polarisasi politik di kalangan Islam. Sebagaimana diketahui, HRS bersama FPI adalah pihak yang begitu berpengaruh dalam kasus tersebut.

Ujang Komarudin juga memberikan penjelasan yang senada dengan Fukuyama. Menurutnya, di satu sisi memang harus diakui bahwa HRS telah membangkitkan kesadaran politik, khususnya kelompok Islam di tanah air. Akan tetapi, di sisi lain, narasi yang dibawa oleh Imam Besar FPI tersebut memiliki konsekuensi negatif karena memperdalam polarisasi politik.

Artinya, jika HRS terus konsisten dengan narasinya selama ini, bukan tidak mungkin, pembusukan politik yang disebut Fukuyama telah terjadi di AS juga akan menimpa Indonesia. Apalagi, seperti yang ditegaskan oleh Ujang, reformasi sebenarnya belum membuat Indonesia benar-benar mengaplikasikan demokrasi. Tegasnya, saat ini kita hanya menerapkan demokrasi prosedural (demokrasi iliberal).

Selain faktor rentannya narasi HRS membawa pada polarisasi politik, terdapat pula kejenuhan publik atas narasi-narasi yang membawa politik identitas. Apalagi, kerumunan yang diakibatkan HRS beberapa waktu yang lalu telah menjadi sasaran kejengkelan publik yang telah lelah akibat pandemi Covid-19 yang tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Komentar Panglima TNI Hadi Tjahjanto terkait akan menindak segala bentuk ancaman, ataupun komentar terbaru Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman yang menyebut FPI sebaiknya dibubarkan, jelas menunjukkan terdapat adanya โ€œperingatanโ€ keras tersendiri.

Menariknya, baru-baru ini Ketua Umum DPP FPI, Ahmad Shobri Lubis menginfokan safari revolusi akhlak yang akan dilakukan HRS akan ditunda sampai situasi kembali normal. Penundaan sendiri akibat HRS mengalami kelelahan karena baru kembali dari Arab Saudi dan langsung beraktivitas menghadiri serangkaian acara.

Namun, melihat meningkatnya resistensi dari publik maupun otoritas, tampaknya penundaan tersebut adalah evaluasi dari kondisi yang dinilai tidak kondusif. TNI bahkan turun gunung untuk menurunkan baliho HRS baru-baru ini. Tapi tentunya asumsi tersebut masih terbuka untuk diperdebatkan.

Kita nantikan saja bagaimana kelanjutan aktivitas HRS ke depannya. Apakah Ia akan mengulang sejarah fenomenal Khomeini, hanya waktu yang dapat menjawabnya. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...