HomeNalar PolitikGolkar Berguncang?

Golkar Berguncang?

Kecil Besar

Penetapan Setya Novanto sebagai tersangka dalam kasus e-KTP, membuat Golkar maupun DPR berguncang. Akankah ia dilungsurkan dari dua jabatannya tersebut?


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]D[/dropcap]ampak dari penetapan Setya Novanto (Setnov) sebagai tersangka dalam kasus KTP elektronik (e-KTP) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mengguncang dua lembaga yaitu DPR dan Partai Golkar. Usai penetapan itu, kabarnya DPP Partai Golkar langsung mengeluarkan arahan ke seluruh pengurus DPD hingga ke akar rumput.

“Kami langsung memberikan arahan kepada seluruh DPD agar meneruskan kepada konstituen. Intinya, jangan sampai bergolak di akar rumput,” kata seorang sumber dari Partai Golkar, di Jakarta, Senin (17/7). Menurutnya, penetapan KPK terhadap ketua partainya tersebut sangat berdampak di daerah.

“Pasti berpengaruh. Karena itu, tak perlu menunggu menunggu, kami langsung minta para kader untuk terjun langsung ke masyarakat. Istilahnya, konstituen sudah langsung teriak-teriak, mereka ingin datang ke Jakarta, demo ke KPK. Kami di pusat bilang, tak perlulah. Tenangkan mereka,” katanya.

Ia juga mengungkapkan kalau sejumlah pengurus DPD Golkar juga langsung merespons. “Mereka telah menenangkan kader Golkar lewat telepon. Pengurus di daerah akan berkonsolidasi guna memberi masukan kepada pengurus DPP Golkar ihwal ditetapkannya Ketua Umum Golkar, Setya Novanto. Kami menunggu proses hukum. Kami yakin Golkar bisa keluar dari tekanan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie menyatakan dirinya sepakat tidak menggelar musyawarah nasional luar biasa untuk mengantikan Setnov. “Sepakat tidak ada satupun munaslub. Kita berharap tetap memberikan wewenang penuh untuk melakukan tugas-tugas sesuai dengan adanya keputusan-keputusan munas yang lalu,” kata Aburizal, seusai melakukan pertemuan tertutup bersama Setnov dan pengurus DPP Golkar di kediamannya, di Jakarta, Selasa (18/7) malam.

Ia yakin, jajaran Partai Golkar sampai yang paling bawah akan setuju dengan keputusan pada rapat pleno Golkar. Salah satu dari tujuh putusan pada rapat pleno adalah tidak menggelar munaslub. Ia juga berharap jajaran Golkar tetap solid hingga di daerah, tidak terpecah belah dengan pendapat sendiri.

Baca juga :  BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

“Saya yakin dengan langkah ini, Partai Golkar yang tengah mendapat suatu musibah tetap solid, (sehingga) dapat mencapai tujuan-tujuannya dengan hasil lebih baik pada pemilu legislatif yang akan datang dan pilkada-pilkada yang lain,” terangnya. Begitupun mengenai penetapan Setnov sebagai tersangka, tidak akan mempengaruhi kinerja partai. Sebab, jika berhalangan menjalankan tugas sebagai ketua umum, bisa diserahkan kepada Ketua Harian DPP Golkar Nurdin Halid dan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham.

Hal yang sama juga dikatakan Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Golkar Yorrys Raweyai, menurutnya dampak pada elektabilitas partai bukan hanya karena kasus Setnov. Karena ada juga kader lain yang juga tersandung masalah, namun semua itu merupakan konsekuensi dan dibahas di internal partai.

“Itu konsekuensi, itu sudah kami pikirkan, dan itulah yang kami selalu bicarakan rapat ke dalam. Bahwa ada implikasi politik terhadap elektabilitas, ya bukan hanya dia (Setnov), tapi kan banyak sekali kader-kader Golkar yang kena masalah sekarang ini. Itu pasti,” katanya juga seusai mengikuti pertemuan di rumah Aburizal Bakrie. Namun ia juga menepis kalau Golkar mempertahankan Setnov.

Yorrys menegaskan, Golkar tidak tinggal diam jika Setnov harus ditahan karena kasusnya. Namun selama masih berstatus tersangka, Golkar meminta semua pihak menghormati asas praduga tak bersalah. “Kan kita menganut asas praduga tak bersalah. Ini kan proses hukum masih panjang,” lanjutnya, sambil menambahkan kalau DPP Golkar juga belum membahas kemungkinan akan adanya penahanan Setnov.

(Suara Pembaruan)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...