HomeNalar PolitikDuel "Suhu" Intel: BG vs Suripto?

Duel “Suhu” Intel: BG vs Suripto?

Kecil Besar

Audio ini dibuat dengan teknologi AI.

Politik kerap terlihat sebagai panggung terbuka, padahal ada strategi ala klandestin. Peran dua legenda intel terkait dinamika politik dinilai menarik untuk diperhatikan.


PinterPolitik.com

Politik kerap dipandang hanya dari sisi pragmatis: perebutan kursi, distribusi kekuasaan, atau manuver elite untuk mempertahankan pengaruh.

Namun, di balik panggung utama yang tampak di layar publik, ada lapisan lain yang jarang disadari: keterhubungan erat antara politik dan dunia intelijen. Banyak pengamat meyakini relasi ini ibarat jaring halus yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat menentukan arah permainan politik.

Di Indonesia, dua nama tokoh intelijen kerap disebut dalam kaitannya dengan partai politik besar: Suripto, eks intel BAKIN yang pernah berperan di masa awal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), serta Budi Gunawan (BG), mantan ajudan Megawati Soekarnoputri yang kemudian menjabat Kepala BIN dan sering dikaitkan dengan PDI Perjuangan (PDI-P).

Keduanya diyakini sejumlah pengamat sebagai figur intel yang meninggalkan jejak dalam dinamika politik, meski dengan cara yang berbeda.

Lantas, bagaimana ceritanya?

17560442750584173374768195128420

Suhu-suhu Intel?

Suripto, seorang perwira intelijen yang lama berkarier di BAKIN, disebut sejumlah peneliti politik sebagai figur unik ketika bergabung dengan Partai Keadilan (PK) di awal reformasi. PK yang kemudian bertransformasi menjadi PKS dikenal sebagai partai berbasis gerakan tarbiyah kampus dengan orientasi dakwah Islam. Kehadiran Suripto, yang berasal dari latar belakang intelijen negara, diyakini memberi warna baru dalam tubuh partai ini.

Menurut berbagai kajian, peran Suripto dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, dari aspek legitimasi politik. Di masa awal, PKS kerap menghadapi sorotan kontroversial. Suripto, dengan pengalamannya di intelijen, disebut berfungsi sebagai jembatan yang membuat partai ini lebih dapat diterima dalam konteks nasional.

Baca juga :  Balada Negeri Ormek

Kedua, dari aspek strategi organisasi. Ia dinilai membawa kultur intelijen ke partai: disiplin ketat, kerahasiaan, dan kemampuan membaca situasi politik. Banyak pengamat menyebut bahwa pola kerja PKS yang terstruktur, rapi, dan ideologis tidak lepas dari pengaruh ini.

Ketiga, dari sisi jejaring. Suripto dikenal memiliki hubungan luas dengan kalangan militer, birokrasi, dan intelijen, dirinya sendirinpunya pengalaman sebagai intel di tiga zaman politik (Orla, Orba, Reformasi). Jaringan ini disebut memberi PKS peluang untuk membuka akses politik, sesuatu yang krusial bagi partai baru.

Dengan demikian, meski kini namanya tidak lagi banyak muncul di panggung politik, Suripto diyakini meninggalkan jejak intelijen yang berpengaruh pada DNA PKS di masa pertumbuhannya.
Berbeda dengan Suripto, Budi Gunawan memiliki cerita yang lebih aktual dan sering muncul dalam diskursus politik kontemporer. Ia dikenal luas sebagai ajudan Megawati Soekarnoputri pada periode 1999–2004. Kedekatan ini oleh sejumlah pengamat disebut sebagai fondasi hubungan erat antara BG dan PDI-P.

Meskipun bukan kader partai, BG tetap ditempatkan sebagai figur penting di orbit politik Megawati, dan pada masanya, juga terkait Jokowi. Penugasan strategis datang pada 2016 ketika ia dipercaya menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Banyak pihak menilai, penunjukan ini menunjukkan pentingnya sosok yang loyal dan memiliki pengalaman intelijen dalam menjaga stabilitas politik.

Selama menjabat, BG disebut memainkan peran signifikan dalam menjaga komunikasi antara tokoh dan partai politik. Hubungannya dengan Megawati kini juga diyakini tetap erat, bahkan sejumlah pihak menyebut BG termasuk salah satu figur yang berperan mendorong terjadinya pertemuan bersejarah antara Megawati dan Presiden Prabowo Subianto (beberapa waktu silam)—momen yang menandai babak baru dalam lanskap politik Indonesia.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Kisah BG memperlihatkan bagaimana figur intelijen, meski tidak berposisi sebagai politisi partai, dapat memiliki pengaruh yang besar di belakang layar.

17560449285276372623910165106349

Legenda Intelijen dan Politik

Dalam konteks strategi, partai politik kerap disebut membutuhkan figur dengan latar belakang intelijen manuver-manuver politik.

Dalam teori organisasi, keberhasilan sebuah entitas (partai politik khususnya) sangat dipengaruhi oleh kemampuannya mengelola informasi. Partai politik, yang berfungsi mendapatkan dan mempertahankan pengaruh, membutuhkan informasi untuk memahami lawan, membaca opini publik, dan menjaga stabilitas internal.

Pengalaman intelijen seperti yang dimiliki Suripto maupun BG dinilai memberi nilai tambah. Seorang intel terbiasa bekerja dengan kerahasiaan, membaca pola, serta mengantisipasi langkah lawan—semua ini sangat relevan dengan kebutuhan partai politik.

Dalam literatur teori elit (seperti yang dikemukakan Vilfredo Pareto atau Gaetano Mosca), elite politik selalu membutuhkan figur yang memahami mekanisme kekuasaan di balik layar. Intelijen, dengan kapasitasnya, kerap dipandang mampu menjalankan fungsi tersebut: melindungi, mengarahkan, sekaligus menjaga kesinambungan kekuasaan.

Kisah sosok-sosok intelijen Suripto dan Budi Gunawan menjadi cerita menarik yang mungkin esensial dalam politik Indonesia. Sejumlah pengamat meyakini bahwa politik bukan hanya soal pertunjukan publik yang ditonton masyarakat, tetapi juga mencakup ruang belakang layar yang penuh strategi dan kalkulasi.

Suripto diyakini meninggalkan jejak intelijen pada fase awal PKS hingga saat ini, sementara Budi Gunawan disebut berperan dalam menjaga kesinambungan dan komunikasi politik di orbit PDI-P. Kedua figur ini kerap disebut menjadi contoh bagaimana pengalaman intelijen dapat terintegrasi dalam dunia politik, baik secara langsung maupun tidak langsung. (D74)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa? 

Bongkar Deep State Dapur MBG?

Kepala BGN yang baru, Nanik Sudaryati Deyang krianya mewarisi lebih dari sekadar jabatan, mulai dari ekosistem kepentingan yang telah mengakar hingga probabilitas deep state di balik dapur MBG. Mengapa demikian?

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Jika Ahok jadi Ketua KPK

Andai jika orang yang suka bicara dengan tajam dan blak-blakan diminta untuk menjadi ketua KPK. Apa yang sebenarnya akan berubah, dan apa yang justru tidak bisa berubah sama sekali?

Khofifah dan Jebakan “Bebek Songkem”?

Khofifah pimpin Jatim nyaris tanpa sorotan, beda jauh dari gubernur Jawa lain yang ramai. Sengaja merunduk atau memang melemah? 

Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian "agak baik" untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.

More Stories

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing

Balada Negeri Ormek

Indonesia memiliki satu keunikan politik: banyak politisi dan pejabatnya lahir dari organisasi mahasiswa. Mengapa kondisi ini bisa terjadi?