HomeNalar PolitikDjarot dan Kebijakan Larangan Motor

Djarot dan Kebijakan Larangan Motor

Kecil Besar

Hanya tinggal dua bulan, Gubernur Djarot Saiful Hidayat memimpin Jakarta. Namun waktu yang sempit itu tak menghalanginya untuk memberlakukan kebijakan pembatasan sepeda motor di beberapa kawasan Jakarta. Apa maksud di belakangnya?


PinterPolitik.com

 

[dropcap size=big]”T[/dropcap]ujuannya untuk mendorong mereka (pengendara) naik kendaraan umum. Kedua, untuk mengurangi kemacetan ketika pembangunan besar-besaran.” Itulah alasan yang dikemukakan Djarot kala ditodong penjelasan tentang kebijakan pembatasan sepeda motor di ibu kota.

Hingga detik ini, kebijakan bersifat ‘diskriminasi’ itu belum resmi diberlakukan. Kabarnya, selain masih dalam tahap pengkajian oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta, uji coba diberlakukan terlebih dulu pada 11 September -13 Oktober 2017 mendatang di beberapa ruas jalan Jakarta. Semua dilakukan untuk melihat keberhasilan kebijakan ini.

Sepertinya Djarot sama sekali tak mengetahui jika wacana pembatasan sepeda motor ini sudah berulang kali dikeluarkan oleh beberapa Gubernur Jakarta terdahulu. Mulai dari Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Sutiyoso, hingga Soerjadi Soedirja, semua berakhir dengan kegagalan. Kebijakan serupa ‘dicopot’ karena mengundang protes besar dari sebagian besar pengguna motor dan tak efektif melenyapkan macet. Lalu mengapa Djarot masih terus mempertahankan kebijakan ini di masa akhir jabatannya?

Kebijakan Larangan Motor

Sudah Gagal, Mengapa Terus Dipaksakan?

Kebijakan yang terasa sangat dipaksakan ini jelas tak memperkirakan dan menghitung faktor hilangnya akses dan pendapatan ojek, jasa kurir, dan kesulitan para pekerja yang bekerja di daerah di mana motor dilarang melintas di Jakarta. Pemerintah DKI Jakarta mengganggap pemberlakukan ini merupakan solusi atas masalah yang sebenarnya diciptakannya sendiri, padahal kebijakan ini hanya melahirkan masalah baru.

Kemacetan dan kesemrawutan jalan di Jakarta, tak dibarengi dengan penyediaan transportasi publik yang memadai. Bahkan hingga kini wacana penambahan armada Transjakarta masih dalam tahap ‘pertimbangan’ alih-alih dipastikan. Bila tujuan pemerintah ingin mengurangi volume kendaraan dan mengganti dengan angkutan umum bukankah jauh lebih efektif jika melarang mobil dan berganti bus?

Namun, Djarot seakan tak melihat kemungkinan tersebut. Usahanya hanya terfokus pada pelarangan motor untuk melintas tanpa menggantinya dengan transportasi publik. Djarot bahkan bersikeras mempertahankan kebijakan ini dengan menyerahkan draf peraturan tentang larangan sepeda motor kepada Gubernur DKI Jakarta terpilih selanjutnya, Anies Baswedan. Pria berkumis ini menambahkan jika gubernur selanjutnya akan mengatur arus pertambahan dan pengurangan motor dan mobil yang terus menerus terjadi.

Baca juga :  Three Kingdoms of PSI?

Ironisnya, pembatasan sepeda motor yang dikeluarkan Djarot juga beriringan dengan pernyataannya melarang mobil ‘pedesaan’ melintas di Jakarta. Ia menilai mobil pedesaan tidak akan cocok berada di Jakarta, “Kita kan tidak ada desa. Kalau itu bisa dikaji, tapi sepertinya tidak cocok,” ungkapnya.

Yang dimaksud dengan mobil pedesaan adalah mobil dengan mesin ber-cc kecil. Mobil yang kerap dibanderol harga murah ini memang didesain untuk melintas di jalan yang terjal, dan menurut Djarot, mobil jenis itu tak efisien dengan kondisi jalanan di Jakarta.

Sebagai gantinya, Djarot memberi lampu hijau secara halus kepada mobil-mobil ber-cc tinggi yang memiliki harga minimal Rp. 100 juta ke atas, untuk diperbolehkan memasuki Jakarta. Salah satu mobil yang memasuki kualifikasi tersebut adalah mobil Wuling asal Tiongkok, yang pabriknya baru saja diresmikan di Cikarang, Jawa Barat bulan Juli lalu.

Jusuf Kalla dan Aher (foto: Antara)

Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pada Juli lalu bahkan datang langsung ke Cikarang untuk membuka peresmiannya. Mobil Wuling ini memang seakan disiapkan untuk memerangi dominasi mobil buatan Jepang di jalanan ibu kota. Apakah Djarot menerima ‘pesanan’ ini hingga kebijakan ‘diskriminasi’ terhadap motor dirancang?

Dulang Untung Di Waktu ‘Nanggung’?

Mobil Wuling menempati cc yang tinggi, yakni sekitar 1800 cc. Ia kerap digadang sebagai mobil ber-cc tinggi yang terjangkau. Pada kenyataannya, mobil ini tak memiliki perbedaan harga yang signifikan atau lebih murah dengan jenis mobil ber-cc tinggi yang dikeluarkan Jepang, Wuling dibanderol dengan harga mulai dari Rp. 120 juta hingga Rp. 160 juta, sementara mobil keluaran Jepang berkisar di angka Rp. 170 juta hingga Rp. 300 juta.

Kebijakan pembatasan motor ini bisa saja dalih untuk membuka akses pembelian mobil Wuling yang baru ‘disambut’ oleh Aher dan Jusuf Kalla. Kehadiran mobil ini memang akan memberi nuansa tersendiri bagi pasar otomotif Indonesia yang saat ini masih dikuasai Jepang.

Baca juga :  Strategi “Gajah” Kaesang masuk Pesantren ?

Di sisi yang lain, Farhan, modeler Studi Pembatasan Kendaraan Motor mengungkapkan perhitungannya jika kebijakan pembatasan sepeda motor diberlakukan. Ia menilai pemerintah akan berhemat sekitar Rp. 1,944 miliar perhari atau Rp. 600 miliar pertahun. “Diperkirakan pada tahun 2035 (pemerintah) bisa untung mencapai Rp. 7,7 triliun,” jelasnya.

Keuntungan tersebut diperoleh dari Biaya Operasi Kendaraan (BOK) yang dihemat jika kebijakan pembatasan motor dilaksanakan. BOK adalah seluruh biaya yang dikeluarkan kendaraan per satuan panjang jalan, menurut Farhan, komponen biaya BOK mencakup konsumsi BBM, biaya perawatan, serta depresiasi kendaraan.

Djarot (foto: istimewa)

Namun Budi Hartanto Suseno selaku konsultan yang ditunjuk Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek mengatakan, kebijakan pembatasan motor hanya akan menghasilkan keuntungan yang tinggi jika tak hanya diberlakukan di Jakarta, tetapi juga kawasan Jabodetabek. Katanya, jika pemberlakuan pembatasan motor terjadi juga di banyak ruas jalan di Jabodetabek, efeknya memang akan menimbulkan macro economic  yang luar biasa.

“Seperti yang sudah kami sampaikan, pemberlakuan pembatasan motor akan menimbulkan keuntungan terhadap waktu, kecepatan, dan biaya perjalanan. Bila semua dituangkan dalam biaya dan secara makro, memang kebijakan pembatasan motor itu menguntungkan,” jelasnya. Di sisi lain, kebijakan ini juga tidak akan memberikan keuntungan yang berarti apabila hanya diberlakukan di jalan raya Sudirman dan Rasuna Said saja.

Bukan hal yang salah jika pemerintah hendak mencari untung dari pemberlakuan pembatasan motor di ruas jalanan Jakarta, namun bila tidak dilakukan secara menyeluruh di wilayah Jabodetabek maka usaha tersebut akan sia-sia belaka. Keuntungannya pun ternyata baru bisa dirasakan setelah kebijakan berjalan dua dekade, lagi pula apa pemerintah sanggup dan mampu melakukan pelarangan di seluruh jalan Jabodetabek?

Jika bukan keuntungan dan proyek ‘pesanan atasan’, maka untuk apa kebijakan pembatasan motor ini diberlakukan? Untuk siapa? Tentu saja jawabannya bukan untuk masyarakat kecil dan tak mampu bukan? Berikan pendapatmu. (Berbagai Sumber/ A27)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....