HomeNalar PolitikDi Balik Ziarah Para Politisi

Di Balik Ziarah Para Politisi

Kecil Besar

Musim pemilu kerap menjadi masa di mana para politisi banyak melakukan ziarah ke makam para pendahulu.


PinterPolitik.com

[dropcap]M[/dropcap]enjelang Pemilihan Umum 2019, para calon politisi banyak yang berziarah ke makam keramat. Beberapa makam keramat yang dikunjungi oleh para calon politisi adalah makam para tokoh politik di masa lalu dan ulama-ulama. Ziarah ke makam-makam keramat ini biasanya dilakukan oleh para politisi bersamaan dengan kunjungan mereka ke pesantren-pesantren.

Calon presiden petahana nomor urut 01 Joko Widodo misalnya sempat berziarah ke makam Sultan Banten dan makam para mantan presiden Republik Indonesia Soekarno dan Gus Dur. Selain itu, ia juga melakukan ziarah ke makam salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari bersama Gus Sholah dan Yenny Wahid.

Hal serupa dilakukan oleh Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. Ia misalnya diberitakan berziarah ke makam Soekarno, Gus Dur, Sunan Ampel, dan salah satu pendiri NU KHR. As’ad Syamsul Arifin.

Praktik serupa sebenarnya dilakukan oleh para calon anggota legislatif. Ziarah makam seolah menjadi ritual wajib para caleg ini dari pemilu ke pemilu.

Dari beberapa ziarah menjelang pemilu yang dilakukan oleh para aktor politik di atas, dapat dipertanyakan apakah ziarah ke makam para tokoh penting di masa lalu merupakan hal penting dalam berpolitik? Dan apakah para aktor politik tersebut benar-benar akan meneladani nilai yang dijunjung para tokoh yang diziarahi ataukah hanya ingin memenangkan golongan pengikut dari para tokoh yang diziarahi?

Intervensi Adiluhung

Masyarakat Indonesia pada dasarnya memang memiliki nilai moral yang tinggi terhadap makam atau kuburan, terutama makam dari tokoh-tokoh penting masyarakat.  Alasan para politisi berziarah ke makam tokoh-tokoh keramat beberapa di antaranya adalah untuk berdoa dan seolah-olah meminta restu.

Selain itu, alasan lain yang umum dilontarkan mereka adalah untuk mengenang, meneladani, dan menghormati pahlawan bangsa. Seperti yang dilakukan Jokowi ketika berziarah ke makam Gus Dur misalnya, yang mana ia pernah mengakui bahwa ia memang meneladani nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan, keagamaan, dan toleransi dari sosok Gus Dur.

Henri Chambert-Loir menulis dalam “The Potent Dead: Ancestors, Saints and Heroes in Contemporary Indonesia” bahwa bagi masyarakat Indonesia tokoh-tokoh penting dan suci yang telah meninggal seolah-olah memiliki kekuatan untuk membimbing dan tidak ada pemimpin yang aman jika berjalan tanpa restunya.

Berdasarkan hal tersebut, terlihat bahwa hal-hal rohaniah atau adiluhung masih diyakini memiliki intervensi terhadap hal-hal jasmani, yakni orang yang masih hidup. Dalam fenomena ini, para tokoh keramat yang diziarahi diyakini dapat memberi restu para aktor politik yang menggelanggang di tahun politik ini.

Baca juga :  Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Mengenai penghormatan terhadap para tokoh, Chambert-Loir dan Claude Gulillot mengatakan bahwa hal itu adalah ‘jembatan penghubung’ antara yang masih hidup dengan yang sudah mati dan berada di alam yang tidak bisa dijangkau.

Penghormatan ini dibutuhkan oleh manusia, yang mana manusia memang membutuhkan hal-hal rohaniah demi membimbingnya dalam kehidupan yang penuh dengan misteri, dan ini dapat mengandalkan orang yang telah mendahuluinya.

Hal ini secara tidak langsung menunjukkan masih adanya kontrak sosial adiluhung yang terjadi. Kontrak sosial yang dimaksud di sini sedikit berbeda dengan pemahaman mengenai kontrak sosial yang biasanya diketahui. Teori kontrak sosial dari Jean-Jacques Rousseau, misalnya, yang biasanya dipahami dengan kehendak umum (general will) yang bermuara pada demokrasi.

Namun Rousseau juga memasukkan konsep teologis dalam teori kontrak sosialnya. Intervensi adiluhung masih memiliki peran dalam kontrak sosial. Rousseau berusaha untuk memperbaiki masalah ketergantungan pribadi dengan menjadikan politik sebagai tiruan dari yang adiluhung, rohani, atau ilahiah. Hal itu akan membuat manusia bergantung pada hukum alam yang bersifat abadi, yang merupakan refleksi dari ketentuan adiluhung.

Jika dikaitkan kembali dengan fenomena para aktor politik yang ramai-ramai berziarah menjelang pemilihan, dapat dilihat bahwa mereka masih menyadari akan adanya hal-hal ilahiah, dan itu akan memengaruhi politiknya. Yang adiluhung seolah-olah ‘menyertai’ politik yang terjadi di masa kini.

Ziarah Demi Legitimasi Politik?

Pada dasarnya ziarah merupakan hal yang lumrah dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Namun, jika hal ini dilakukan di tahun politik dan dilakukan oleh para aktor politik, hal ini menjadi suatu fenomena yang disorot dan perlu ditelaah apa motif terselubung di baliknya.

Menurut Henri Chambert-Loir dan Claude Gillot, ziarah kubur tidak hanya terkait dengan ibadah dan perilaku agama. Menurut mereka, ziarah kubur juga memiliki unsur sosial-politik. Hal ini terutama terkait dengan makam tokoh dan bagian dari golongan mana yang menjadi tujuan ziarah.

Baca juga :  Menyikap Tubir Milbus

Hal serupa diungkapkan dalam tesis milik Daniel C. Harris dari Northern Illinois University. Dalam tesis tersebut disebutkan bahwa tradisi ziarah menjadi bagian dari praktik kooptasi politik dengan tujuan untuk mendapatkan legitimasi politik dan membentuk identitas nasional.Jika diperhatikan, memang ada pola dalam kunjungan makam yang dilakukan oleh para politisi. Tokoh agama menjadi sosok yang paling lazim menjadi target ziarah para aktor politik tersebut.

Makam para ulama sangat dihormati dan sering menjadi sasaran kunjungan ziarah para politisi. Sudah menjadi hal umum jika para calon pemimpin daerah dan negara yang bertarung dalam Pemilu sering datang ke pesantren-pesantren dan berziarah ke makam para ulama.

Dengan melakukan ziarah, sebenarnya dapat dikatakan pula telah melakukan politik praktis. Gus Dur yang semasa hidup juga memang sering melakukan ziarah pernah mengakui bahwa dengan berziarah, si penziarah dapat ‘berkomunikasi’ dengan yang diziarahi. Kedatangan Gus Dur ketika berziarah membuat orang-orang yang menghormati makam keramat yang didatangi juga menghormati Gus Dur, karena ia menghormati makam itu.

Hal itu tampaknya dapat dimasukan kembali ke dalam fenomena ziarah makam keramat yang dilakukan oleh para politisi sekarang ini. Mereka melakukan ini setiap menjelang pemilihan, dan perlu dipertanyakan apakah tujuan utama mereka adalah murni untuk ‘berkomunikasi’ dengan yang diziarahi ataukah untuk memperoleh dukungan dari pengikut tokoh yang diziarahi.

Maka dari itu, menjadi sesuatu yang tidak mengherankan jika banyak politisi yang berkunjung ke makam-makam tokoh NU. NU yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia dapat dikatakan sudah memiliki akar kuat dalam dunia politik di Indonesia, dengan jumlah pengikutnya yang lebih dari 83 juta orang pada tahun 2016.

Dapat dipikirkan dan direfleksikan bahwa di samping untuk memenuhi kebutuhan spiritual para politisi dan sebagai penghormatan, ziarah ke makam keramat dapat menjadi suatu aksi politis untuk memperoleh suara para pengikut atau warga daerah yang mengeramatkan tokoh yang diziarahi.

Kondisi tersebut sejalan dengan pendapat Harris bahwa ziarah telah dikooptasi secara politik oleh para aktor politik tersebut. Terlihat bahwa ada semacam upaya untuk menciptakan legitimasi dengan kunjungan-kunjungan ke makam keramat tersebut.

Lalu seperti apakah dampak dari ziarah para aktor-aktor politik ini? Apakah para leluhur tersebut akan memberikan restu kepada aktor-aktor tersebut? Tampaknya jawaban dari pertanyaan apakah aksi ini benar-benar berdampak demikian dapat terjawab setelah 17 April nanti. (D44)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Hakim sudah membaca putusannya. Tapi jauh sebelum itu, publik sudah selesai bersidang di kepala masing-masing.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

More Stories

Menimbang Efek FPI Bagi Prabowo

Front Pembela Islam (FPI) yang selama ini selalu mengkritik pemerintahan Joko Widodo, menganggapnya pemimpin zalim dan dekat dengan kubu oposisi malah tidak akan diberi...

Ketika Prabowo Umumkan Calon Menteri

Prabowo Subianto sudah mengumumkan nama-nama petinggi partai di koalisinya yang akan dipilih sebagai menteri dalam kabinet yang akan ia buat jika terpilih dalam Pilpres...

Hologram Ala Jokowi-Ma’ruf

Joko Widodo-Ma’ruf Amin menggunakan cara kampanye yang unik, yaitu menggunakan teknologi hologram 3D dari sosok mereka. Dalam bentuk 3D, mereka menjelaskan program-program mereka bahkan...